
Pagi hari di kediaman Nawang Wulan. Perempuan itu sedang menatap lekat suaminya sambil meraba wajah makhluk itu. Sejak pertama membuka mata tadi, ia merasa ada yang tak biasa dari raut wajah pria itu. Mata kemerahannya jadi makin merah dan wajahnya sepucat kapas.
"Kau sakit? " tanya nya memastikan.
Bayu tak menjawab. Ia menggenggam tangan Wulan yang sedang memegang pipinya.
"Sudah berapa lama aku disini? "
Wulan menautkan alisnya sambil mengingat ataupun menghitung.
"Sudah hampir seratus hari, apa sudah waktunya?"
"Belum, masih ada beberapa hari lagi, " Tersenyum sambil mengusap tangan kecil yang di genggamnya.
Wulan langsung menghela nafasnya. Waktu terasa begitu cepat saat Bayu disisi nya. Padahal perasaan baru beberapa hari yang lalu saat pria itu muncul tiba-tiba dalam kamarnya. Sekarang ternyata sudah hampir seratus hari.
Itu artinya tak lama lagi Bayu harus kembali meninggalkannya. Makhluk itu harus mengisi daya di kediamannya selama seratus hari supaya bisa kali ke dunia istrinya lagi.
Begitulah siklus hidup Bayu, seratus hari di dunia Wulan, seratus hari di dunianya. Jika ia memaksa tetap berada di samping Wulan padahal kekuatannya sudah tidak ada, maka dia akan lenyap dengan sendirinya dan tidak akan bisa kembali lagi.
"Cepat sekali, padahal aku masih ingin bersamamu. " Kalimat itu hampir selalu di ucapkan Wulan di saat-saat menjelang suaminya pergi.
"Yah mau bagaimana lagi? sudah waktunya, " jawab Bayu menguatkan istrinya.
"Aku juga sebenarnya enggan pergi, apalagi sekarang ini putri kita sedang memasuki fase baru dalam hidupnya. Aku merasa dia sangat membutuhkan ku. "
"Hmm." Wulan membenarkan.
"Harusnya kau memang tetap disini, aku takut menghadapi hal-hal buruk yang mungkin terjadi pada putri kita. "
"Tidak akan ada hal buruk, sayang. Semuanya akan baik-baik saja." Tersenyum sambil mengacak puncak kepala Wulan. Senyum yang terlihat sangat di paksakan.
__ADS_1
"Dan kalaupun ada, aku yakin kalian semua bisa melewatinya."
Ucapan Bayu ditanggapi Wulan dengan senyuman. Ia tahu makhluk itu hanya sedang berusaha menenangkannya.
Sebenarnya Wulan sudah sangat terbiasa di tinggal oleh Bayu. Saat Bayu harus pergi, wanita itu menganggap suaminya hanya sedang merantau. Tapi kali ini entah kenapa rasanya berbeda, bahkan sebelum Bayu pergi saja dia sudah merasa begitu kehilangan.
"Sudahlah, jangan di pikirkan lagi," ucap Bayu karena melihat wajah Wulan yang masih saja murung, meski coba di tutupi dengan senyuman tapi tetap saja raut sedih itu masih terpancar dari wajah lembutnya.
Wulan akhirnya mengangguk. Meski kerap merasa kalau hidupnya itu menyedihkan tapi mau bagaimana lagi, toh itu sudah jadi pilihannya. Dia sendiri yang memutuskan menikah dengan makhluk itu tak peduli seluruh dunia menentang. Jari sekarang apapun resikonya ya harus di hadapi.
"Ya sudah ayo keluar, Senja dan bibi pasti sudah menunggumu. " Bayu beranjak lalu menggandeng tangan Wulan keluar dari kamar. Ucapannya benar, Senja dan Bibi Fatma memang sudah menunggu di meja makan dan sedikit heran karena tidak bisanya Wulan terlambat begini.
"Pagi, Ayah, ibu, " sapa Senja melihat penampakan keduanya. Beruntung mereka segera datang karena Senja tadi sempat berniat hendak menjemput ke kamar.
"Pagi Senja," jawab keduanya bersamaan.
"Apa ibu sakit, tumben ibu lambat
"Iya, Wulan. Bibi pikir kau sakit, Bibi baru akan menyuruh senja menjemputmu tadi. " Bibi Fatma menambahkan.
"Tidak, Bibi. Aku baik-baik saja. Aku hanya terlambat bangun tadi. " Seperti biasa Wulan mengambilkan sarapan pagi untuk Senja. Putri manjanya itu belum mau sarapan kalau belum di ambilkan oleh ibunya.
"Ini makananmu, makanlah, "
"Ibu benar-benar baik-baik saja? " Senja masih saja tidak yakin, terlebih raut wajah ibunya pagi ini memang agak sedikit berbeda.
"iya, Ibu baik-baik saja. Ayahmu yang sepertinya mulai sakit. "
"Benarkah? " Saking fokusnya pada sang ibu, Senja sampai tidak begitu memperhatikan Ayahnya.
Gadis itu kemudian memperhatikan dengan seksama Ayah tampannya yang pagi ini memang terlihat berbeda. Wajah pucat dan mata merahnya memberi jawaban untuk Senja.
__ADS_1
"Apa Ayah sudah mau pergi? " Pertanyaan yang sama yang di lontarkan oleh Wulan tadi. Mereka semua sudah faham ciri-cirinya.
"Eum sepertinya begitu, Ayah merasa sudah mulai melemah ... tapi kau tenang saja, Ayah masih punya kekuatan untuk beberapa hari ke depan. "
Selera makan Senja mendadak lenyap mendengar jawaban Ayahnya. Ada perasaan takut yang tiba-tiba datang.
Apa yang ada di pikiran Senja sama persis dengan pikiran ibunya. Senja ingin di saat-saat seperti ini Ayah tetap bersamanya. Karena Senja yakin akan banyak membutuhkan suport dan bantuan dari sang Ayah.
"Kau sendiri masih sehat kan, Senja? " tanya Nawang Wulan yang seketika mengingatkan Senja kalau sewaktu-waktu dia juga harus pergi.
Gadis itu tertunduk membayangkan saat ia harus pergi nanti, itu pasti akan terasa sangat berat, tak hanya baginya tapi juga bagi Dirga.
"Senja? " panggil Wulan karena gadis itu tak kunjung menjawab, dan malah termenung.
"Aku? Eh itu aku, aku masih sehat, Ibu, " jawab Senja gugup.
"Baguslah, ibu tidak ingin kalian pergi bersaamaan, itu pasti akan terasa sangat berat bagi ibu. "
Senja yang memang sudah sedih menjadi makin sedih mendengar ibunya bicara begitu. Memang sangat sulit bagi seorang Nawang Wulan jika harus di tinggalkan oleh suami dan anaknya secara bersamaan. Senja cukup bisa merasakan itu.
"Ibu tenang saja, aku masih sehat. Belum akan pergi dalam waktu dekat. " Senja tersenyum berusaha menenangkan ibunya kendati persis seperti Bayu tadi, dia sendiri pun tak tenang. Bayangan kalau harus berpisah dengan Dirga langsung memenuhi ruang pikirnya saat ini.
Wulan tersenyum tipis. Merasa sedikit lega karena setidaknya keduanya tidak harus pergi bersamaan.
"Sudahlah, kalian jangan sedih begitu, Bayu bahkan masih disini kenapa kalian sudah semurung itu? " Nenek yang melihat cucu dan keponakannya tampak murung mencoba menghibur. Bukan untuk menyepelekan rasa kehilangan yang di rasa keduanya, bukan. Hanya untuk sekedar menghibur supaya keduanya tidak terlalu larut dalam pikiran masing-masing.
"Nenek, benar. Aku kan belum benar-benar pergi. Ayolah, jangan sedih-sedih begitu. Setidaknya kalian harus tetap tersenyum sampai aku
pergi. " Bayu menatap Senja kemudian menggenggam tangan Wulan sebagai bentuk suport untuk keduanya.
Suport berhasil keduanya tampak tersenyum meski tetap saja tak mampu mencairkan suasana. Makan pagi yang biasanya ceria kini terasa hampa, seolah semua penghuninya sedang di rundung duka.
__ADS_1