Pacarku Setengah Manusia

Pacarku Setengah Manusia
Energi positif


__ADS_3

Dirgantara Noza Sanjaya, pria bermata tajam dengan pesona wajah rupawan bak dewa dalam cerita mitologi nampak berjalan terburu-buru menuruni anak tangga rumah mewahnya.


Bahkan saking terburu-buru nya pria itu berjalan sambil mengenakkan jas nya. Dirga ingin cepat sampai di kantor, menyelesaikan semua pekerjaannya lalu kemudian menemani Senja jalan-jalan. Karena sesuai janjinya Dirga akan sebisa mungkin menghabiskan waktu bersama Senja sebelum gadis itu pergi.


Sebenarnya kalau menuruti kata hati, Dirga ingin libur saja beberapa hari ini supaya bisa punya waktu lebih banyak bersama Senja, namun tuntutan pekerjaan membuatnya tak bisa melakukan itu. Terlebih dia adalah pimpinan perusahan yang otomatis akan sangat berpengaruh bagi perusahaan yang di pimpin nya.


Jadi untuk mensiasati itu semua, Dirga berusaha datang lebih awal agar bisa pulang lebih awal juga.


Namun sayang, niatnya untuk buru-buru sampai di kantor harus terganggu oleh panggilan ibunya.


"Dirga..!" sang Ibu yang sedang di dapur menyiapkan sarapan pagi heran melihat putranya berjalan terburu-buru. Ia bahkan tidak singgah ke dapur dulu untuk sarapan. Ia merasa hubungannya dengan Dirga akhir-akhir ini sedikit membaik, jadi tentu saja dia tidak akan menahan diri untuk bertanya.


Dirga yang mendengar panggilan ibunya sontak langsung menghentikan langkahnya. Sambil menghela nafas karena yakin kalau ibunya pasti akan mem-buang-buang waktunya, namun meski begitu Dirga tetap berusaha menjawab.


"Ya, Bu? " jawabnya sambil menoleh.


"Cepat sekali berangkatnya, kau tidak mau sarapan dulu? " Melati bertanya sambil mengaduk ginseng panas yang sedianya akan ia suguhkan untuk putranya.


"Tidak, Bu. Aku sedang terburu-buru. "


"Benarkah? Apa bukan karena kau sedang menghindari ibu? "


Pertanyaan ibu sukses membuat kening Dirga berkerut. Mau tak mau ia mendekati ibunya di ruang makan.


"Memangnya kenapa aku harus menghindari ibu?" tanyanya heran karena menurutnya hubungannya dengan ibu sedikit membaik pasca insiden Senja yang di tuduh mendorong Melati. Dirga tidak tahu kalau ternyata ibunya sudah mengetahui kalau ia membohonginya dan masih tetap berhubungan dengan Senja.


"Karena kau takut kebohongan mu terungkap barangkali. " Sarkas Melati yang membuat Dirga jadi makin heran.


"Kebohongan? "


"Ya, kebohonganmu kalau ternyata waktu itu kau hanya berpura-pura simpati pada ibu dan kau juga ternyata masih berhubungan dengan gadis aneh itukan? "


Dari mana ibu tahu kalau aku sudah membohonginya?


Hela nafas berat Dirga kembali terdengar. Pagi-pagi begini pria itu sudah di paksa menghirup dan mengeluarkan nafas dlaam-dalam.


"Maaf, Bu. Aku tidak bermaksud membohongi ibu. Aku hanya---"


"Hanya apa? hanya ingin tetap bersama gadis mengerikan itu sampai kau harus berbohong pada ibu? "


Benarkan dugaan Dirga. Sang ibu pasti hanya akan membuang-buang waktunya, dan tak hanya itu, wanita itu juga merusak semangat paginya.


"Ibu juga membohongiku kan? " tanyanya tanpa bermaksud menghakimi ibunya.


"Apa maksudmu? "


"Ibu juga membohongi ku dengan pura-pura terjatuh lalu menuduh Senja yang menyerang ibu kan? " Dirga memperjelas maksudnya meski yakin kalau sang ibu pasti sudah paham maksud kalimatnya tadi.

__ADS_1


"Dirga !" Tak terima dirinya justru menjadi tertuduh Melati membentak Dirga dengan suara nyaringnya.


"Kenapa kau jadi sekurang ajar ini pada Ibu?"


"Tapi memang kenyataannya begitu kan, Bu? Ibu juga membohongiku. Kita berdua sama-sama berbohong."


"Tapi ibu berbohong demi kebaikanmu, Nak."


"Sudahlah, Bu. Jangan bicara soal kebaikanku. Ibu tidak akan paham. Kalau ibu paham ibu pasti tidak akan begini. " Jengah adalah hal yang akan selalu di rasa Dirga setiap berdebat dengan ibunya. Perdebatan yang selalu berujung pada pertengkaran. Selalu saja begitu tapi ibunya tetap saja tidak mau mengerti.


"Lalu kau mau ibu melakukan apa, Dirga?" tanya Melati di antara kekecewaannya terhadap putra tunggalnya. Wanita itu bersikap seolah-olah dia yang tersakiti oleh putranya. Padahal--- akh entahlah !


"Ibu tidak harus melakukan apapun. Ibu hanya perlu diam dan membiarkan aku bahagia dengan senja, itu saja... Apa itu sangat sulit bagi ibu?"


"Dirga !" Bentakan kedua kembali terdengar. Kali ini bahkan membuat penghuni rumah yang lain terkejut si buatnya.


"Hey ada apa ini. Kenapa sepagi ini kalian sudah ribut? " Damar yang baru terbangun dan baru beranjak meninggalkan kamar terkejut mendengar istrinya berteriak.


Melati tak menjawab. Perempuan itu tengah sibuk menetralkan dadanya yang bergemuruh.


Sementara Dirga memilih beranjak dari situasi menyebalkan itu.


"Tanya saja pada istri Ayah, " ucapnya sambil berlalu.


"Dirga... " tegur Damar deni mendengar putranya menyebut Melati 'istri ayah' tentu itu adalah ucapan yang sangat tidak enak di dengar karena biar bagaiamana pun Melati itukan ibunya.


"Aku buru-buru, Ayah. Maaf aku harus pergi. " Usai mengatakan itu Dirga benar-benar kabur dari hadapan orang tuanya. Dirga bukannya tidak sadar kalau dia sudah berlaku tidak sopan pada ibunya. Tapi terkadang pria itu memang terbakar emosi pada sang ibu yang tak jua mau mengerti. Toh Dirga bukan lagi anak kecil yang harus selalu di atur-atur kan?


Setelah berhasil kabur Dirga langsung tancap gas menuju kantornya. Namun sebelum itu pria itu terlebih dahulu menghubungi gadis pemilik iris merah.


"Senja kau sudah bangun kak? " tanyanya melalui sambungan telepon.


"Tentu, kalau belum mana mungkin aku bisa menjawab telepon mu. "


"Hehe." Lihatlah, baru saja hatinya di buat kesal karena ulah sang ibu, tapi pria rupawan itu langsung bisa tersenyum kembali begitu mendengar suara Senja. Dasar Senja, selalu saja bisa merubah suasana hatinya.


"Baguslah kau sudah bangun. Aku ingin menemuimu dulu sebelum ke kantor. "


"Tapi kantor mu kan tidak melewati rumahku? Apa kau tidak akan terlambat ke kantor kalau harus singgah dulu? "


"Tak apa, aku akan putar arah nanti. Kau tunggu saja di depan rumah. Nanti kalau sudah sampai aku telepon lagi. " Pesan Dirga sembari memasang sabuk pengaman. Bersiap hendak melajukan kendaraannya.


Meski perjalanan akan memerlukan waktu lebih lama tapi Dirga tidak peduli yang penting dia bisa bertemu Senja untuk menyembuhkan mood nya yang sempat di kacaukan oleh sang Ibu. Di samping itu Dirga juga ingin melihat kondisi gadis itu


Entah berapa lama dalam perjalanan akhirnya Dirga sampai di kediaman Senja. Gadis itu sudah duduk manis di beranda rumah karena sesaat sebelum sampai tadi Dirga sudah terlebih dahulu menghubunginya.


Meski sepertinya belum mandi karena masih memakai piyama, Senja tetap terlihat mempesona. Walaupun wajah pucat pasi dan mata merahnya membuatnya jadi sedikit menyeramkan.

__ADS_1


"Kenapa pagi-pagi kesini? " Karena Dirga memang tidak pernah bertandang pada pagi hari, tentu membuat Senja menjadi heran.


"Tidak ada, aku hanya ingin melihat kondisimu. Apa kau tidur nyenyak tadi malam? " tangan Dirga terulur mengusap kepala Senja.


"Hmm, " Senja mengangguk menutupi kebohongannya karena sebenarnya ia sama sekali tidak tidur tadi malam. Rasa sakit membuat netranya sulit terpejam.


"Maaf meninggalkanmu saat kau sudah tidur. Aku ingin membangunkanmu tapi takut mengganggu."


"Tidak apa, " jawab cepat Senja sambil menggeleng.


"Lagipula juga aku yang menyuruh mu menemanimu sampai tertidur kan. "


"Iya sih ... lalu bagaimana sekarang, apa kau merasa jauh lebih baik? " Dirga pikir setelah beristirahat semalaman kondisi Senja akan sedikit membaik.


"Tidak akan lebih baik, Dirga. Semakin dekat waktunya maka aku akan merasa semakin lemah dan sakit? "


Dirga menatap iba kekasihnya yang seperti tengah berjuang melawan maut.


"Seandainya ada yang bisa ku lakukan untukmu. " Kalimat itu kalau tidak salah pernah ia ucapkan kemarin.


"Sudahlah, jangan bicara begitu terus. Kau sudah melakukan yang terbaik. " Tersenyum dengan bibir dan wajah pucat nya.


"Sebenarnya aku ingin cuti beberapa hari ini, aku ingin menemani, tapi---"


"Kau tidak perlu melakukan itu. " potong Senja cepat menolak niatan Dirga.


"Kau harus tetap bekerja. Toh kita masih punya waktu sepulang kau kerja. "


"Hmm, nanti aku akan langsung kesini. Aku akan membawamu keliling kota. " Dirga meraih tangan Senja lalu meremas-remaa tangan dingin itu. Dirga tak lagi peduli kalaupun tangannya harus beku karena terlalu lama memegang tangan Senja.


"Aku akan menunggumu. Sekarang pergilah, sudah siang. Nanti kau terlambat. "


"Aku memang sudah terlambat. Tapi kau tenang saja, tidak akan ada yang memarahiku, aku kan bos. "


"Kau ini, pergilah cepat. Aku akan lanjut istirahat. Aku merasa lelah. " Senja meringis menampilkan ekspresi kesakitan supaya Dirga segera pergi. Senja tidak mau mengganggu waktu kerja Dirga.


"Baiklah kalau begitu, istirahat lah. " Benar kan, Kalau Senja sudah mengeluh sakit ataupun lelah mana mungkin Dirga tega menahannya.


Pria itu beranjak sambil memperhatikan sekeliling.


"Ibu dan nenek dimana? "


"Di taman belakang. Mau ku panggilkan? " Senja berpikir mungkin Dirga akan sejenak menyapa ibu dan neneknya. Gadis itu tidak tahu apa yang sebenarnya ada di kepala Dirga.


"Oh, tidak usah.Bilang saja pada mereka kalau aku sedang terburu-buru jadi tidak sempat masuk."


"Baiklah, nanti ku sampaikan, " ucap Senja seraya ikut beranjak. Ia ingin mengantar Dirga sampai masuk mobil, tapi pria itu melarangnya.

__ADS_1


"Tidak usah di antar kau disini saja, " perintahnya sambil kembali celingukan lalu kemudian mengecup kepala dan kening Senja. Dan tak hanya itu pria tampan itu juga megecup lembut bibir Senja. Untuk alasan itulah dia tadi bertanya dimana nenek dan ibu. Dirga tidak mau aksinya terlihat oleh mereka.


Untuk alasan itu jugalah dia rela berputar arah dan membuat perjalanan nya jadi lebih jauh. Selain untuk melihat kondisi Senja tentu saja juga untuk mencuri ciuman dari gadis itu. Karena itu bisa memberi energi yang sangat positif bagi Dirga untuk membakar kembali semangat nya yang sudah sempat di padamkan oleh sang ibu tadi.


__ADS_2