Pacarku Setengah Manusia

Pacarku Setengah Manusia
Tak canggung lagi


__ADS_3

Tak perlu lama menunggu, Bayu dan Wulan sudah sampai di gazebo. Wulan seperti biasa tampil sederhana namun tak menutupi kecantikannya, sedangkan Bayu tampak gagah dengan kaca mata hitam yang membingkai iris merahnya.


Makhluk itu memang kerap memakai kaca mata kalau penampakannya sudah mulai berubah. Berbeda dengan Senja yang hanya di bagian pupilnya saja yang berwarna merah sementara kelopak matanya hanya sedikit kemerahan, sedangkan Bayu kalau sudah mulai melemah pasti hampir keseluruhan matanya berwarna merah. Itulah yang membuat makhluk itu menutupinya.


"Kalian sudah dari tadi? " begitu sampai Wulan langsung berinisiatif membuka obrolan. Ia sedikit banyak sudah bisa menduga kalau suasana mungkin akan sedikit canggung mengingat suaminya yang cenderung dingin dan jarang mau bicara dengan orang lain.


"Lumayan, Bu, " jawab Senja.


"Oh ya, apa Ibu mau air kelapa? "


"Iya, Bibi. Apa mau air kelapa, biar aku pesankan?" Dirga ikut menawarkan, hanya untuk sekedar berbasa-basi tentunya.


"Tidak, tidak. Ibu sedang tidak ingin minum air kelapa, " tolak Wulan secara halus.


"Tadinya kami hanya ingin jalan-jalan saja ke pantai, mumpung Ayahmu masih dirumah ... Eh tapi malah bertemu kalian, ya sudah sekalian bergabung saja. " Wulan menatap suaminya meminta pembenaran atas kalimatnya dan sang suami langsung mengangguk mengiyakan.


"Ngomong-ngomong apa kami mengganggu?" pertanyaan konyol itu tak di sangka-sangka keluar dari lisan Bayu, si makhluk yang biasanya selalu serius.


"Oh tidak, Paman. Tentu saja tidak. " Dirga buru-buru menjawab


"Kami juga hanya sekedar duduk-duduk disini, ya kan, Senja? "


"Iya." Senja langsung membenarkan.


"Selama Ayah tidak membuat kami merasa tidak nyaman maka itu tidak bisa di bilang mengganggu. "


"Jadi kalau Ayah membuat kalian jadi tidak nyaman, apa kau akan langsung mengusir Ayah?" canda Bayu menanggapi ucapan putrinya yang lebih mirip sebuah ancaman.


"Tentu, " jawab Senja langsung yang membuat semuanya jadi tersenyum. Suasana canggung yang sempat di perkirakan Wulan ternyata tidak terbukti.


"Oh ya, Dirga bagaimana kabar orang tuamu? lama sekali tidak berjumpa dengan mereka?"


"Baik, Bi. Mereka semua baik, " sahut Damar yang mulai merasa tidak nyaman saat Wulan menyinggung soal orang tuanya. Bukan apa-apa, ia tahu pernah terjadi sesuatu di antara mereka. Dan ia takut itu akan membuat suasana menjadi canggung.

__ADS_1


"Lalu tanggapan mereka terhadap Senja? " kali ini Bayu yang bertanya. Pertanyaan yang langsung membuat air muka Dirga berubah.


"Eum itu, mereka, mereka--"


"Tidak apa, Dirga. Bicara saja terus terang. " Melihat Dirga yang mulai gugup Wulan berusaha menenangkan. Ia tahu jawaban Dirga mungkin akan sedikit mengecewakan, itulah sebabnya pria itu agak sedikit ragu ingin menjawab.


"Eum tanggapan mereka agak sedikit kurang baik, Paman. Bibi ... tapi aku yakin bisa membuat mereka menerima Senja." Dirga terlihat begitu berhati-hati saat menjelaskan.


"Tentu, kau harus bekerja keras untuk itu, aku yakin pasti tidak akan mudah. "


"Ayaah, ayolah, berhenti membahas itu, Ayah membuatnya jdi tidak nyaman. " Senja yang melihat Dirga mulai tidak nyaman berusaha mengingatkan sang Ayah. Meski sebenarnya dugaannya salah, Dirga bukannya tidak nyaman, tapi lebih ke-segan.


"Tidak apa, Senja. Tidak apa. Pada akhirnya mereka tetap harus tahu kan? " Dan benar saja, Dirga menolak pembelaan Senja karena dia memang merasa baik-baik saja, meski awalnya canggung tapi pada akhirnya pria itu sadar kalau hal itu mau tidak mau tetap harus di bicarakan.


"Dirga benar, Nak." Bahkan si ibu cantik pun turut andil membenarkan


"Biar bagaimanapun hal ini tetap harus di diskusikan, tidak bisa terus di hindari. Soalnya ini menyangkut hubungan kalian kedepannya."


Sikap Nawang Wulan yang hangat dan selalu bisa menenangkan membuat Dirga teringat akan kedua orang tuanya. Sebelumnya ibunya juga seperti itu, tapi sekarang Dirga merasa kalau keduanya sangat sulit di ajak bicara baik-baik. Ujung-ujungnya selalu saja berdebat. Mungkin kalau mereka bisa lebih santai dalam menyikapi masalah ini hubungannya tidak akan serenggang sekarang. Hanya saja, masalah ini memang terlalu sulit untuk di bawa santai.


"Kalau ibumu bagaimana, Dirga. Apa sudah tahu juga? " Bayu samudra, entah kenapa kali ini jadi banyak bicara.


"Kalau soal itu aku tidak pasti, Paman. Tapi ibu belum ada bicara soal itu, jadi kemungkinan besar belum tahu. "


"Kalau memang belum tahu, berarti Ayahmu hebat, bisa menyimpan rahasia selama puluhan tahun. Bahkan di depan istrinya." Kali ini Bayu bahkan tak segan memuji, padahal dulu Damar pernah menjadi orang yang sangat ia benci.


"Ayahku memang tidak banyak bicara, apalagi jika itu sifatnya rahasia, dia pasti akan berusaha menjaganya," ucap Damar menganggapi pujian calon mertuanya. Ia merasa sikap Bayu juga jadi semakin hangat membuatnya tidak perlu lagi merasa canggung.


"Kami percaya itu, kami cukup mengenal Ayahmu dulu. Dia orang yang sangat baik. " Wulan membenarkan.


"Dan kalaupun saat ini mereka memang belum bisa merestui kalian, kami juga cukup maklum. Setiap orang tua pasti ingin yang terbaik untuk anaknya ... yah walaupun anak ibu juga tidak buruk, hanya sedikit berbeda, " sambung Wulan lagi dengan kalimat-kalimatnya yang selalu saja bijak.


Dirga benar-benar di buat terkagum-kagum dengan keluarga ini. Hubungan mereka sangat dekat dan saling mendukung satu sama lain. Siapa sangka kalau pemimpin keluarga bijak ini adalah seorang--- Aku sudahlah tidak usah di bahas.

__ADS_1


"Benar, Bi. Mereka hanya belum bisa menerima. Tapi aku yakin pada akhirnya pasti bisa, " kata Dirga mantap membuat kedua orang tua Wulan yakin kalau pria tampan itu memang sangat menyayangi putri mereka.


"Sebenarnya ada satu lagi yang ingin kami sampaikan. " Wulan kembali bicara setelah sebelumnya mengangguk membenarkan ucapan Dirga. Sebenarnya dia belum akan membicarakan soal ini sekarang, tapi karena sudah terlanjur bertemu ya sudah sekalian saja, pikir Wulan.


"Oh silahkan, Bibi, " sahut Damar mempersilahkan. Berhadapan dengan keluarga Senja yang sangat hangat membuat Dirgantara juga mau tidak mau harus mengimbanginya. Meski itu jauh dari sikap aslinya yang cenderung dingin laksana gunung es.


"Ini soal Ayahnya Senja." Wulan menatap suaminya dan yang ditatap langsung mengangguk memberi persetujuan Wulan untuk bicara.


"Kau pasti sudah tahu kan kalau Ayahnya Senja tidak bisa berlama-lama di dunia manusia? "


"Iya, Bi. Senja pernah cerita soal itu. "


"Setiap seratus hari sekali atau setiap kondisinya melemah dia harus kembali ke asalnya."


Damar mengangguk-angguk menyimak penjelasan Wulan, sementara Senja sejak tadi hanya memilih di dan membiarkan ibu bijaknya saja yang menjelaskan tentang segala sesuatunya.


"Dan sekarang kondisi nya sudah mulai melemah ... seperti yang kau lihat wajahnya jadi makin pucat dan matanya juga makin merah. "


"Apa itu artinya paman sudah harus kembali, Bibi?" tebak Dirga sesuai dengan yang di maksud Wulan.


"Ya, itu artinya----"


"Dirga.. " Sebelum Wulan sempat melanjutkan penjelasannya, Senja tiba-tiba memotong. Ia memanggil Dirga dengan tatapan terfokus pada satu arah. Wajahnya juga langsung berubah serius.


"Kenapa, Senja? " Dirga dan ibu tentu heran dengan ekpresi Senja.


"Bukankah itu Ayah dan ibumu?"


"Hah? "


Dirga, Ibu dan juga Ayah yang sama-sama terkejut langsung menoleh mengikuti pandangan Senja. Dan ketiganya langsung melongo melihat apa yang di katakan Senja memang benar adanya.


Di depan sana, berjarak beberapa meter dari gazebo tempat mereka berkumpul. Damar dan Melati tampak sedang berjalan pelan menyusuri bibir pantai

__ADS_1


__ADS_2