
"Apa yang Bibi bicarakan, senja bukan anak manusia? lalu dia anak siapa? "
Pertanyaan atau keterkejutan Queen membuat Melati sontak menutup mulutnya. Ia baru sadar kalau telah kelepasan bicara. Padahal ia sudah berjanji pada Damar untuk menjaga rahasia itu. Tapi kebenciannya akan sosok Senja membuatnya tanpa sadar membeberkan rahasia besar gadis itu.
"Eh itu, anu, maksud Bibi---" Melati menggaruk kepalanya yang tak gatal. Bingung harus menjawab apa.
"Katakan, Bi. Maksud Bibi Senja bukan anak manusia itu apa?"
"Eum Bibi hanya asal bicara, Queen." Meringis menutupi rasa gugupnya.
"Mungkin saking bencinya Bibi pada Senja jadi Bibi sampai menganggap dia itu anak iblis, " imbuh Melati lagi dengan maksud untuk semakin meyakinkan Queen bahwa dia memang hanya asal bicara. Namun sayang gadis berbelah dagu di depannya tidak percaya begitu saja. Ia sudah terlanjur menangkap sinyal-sinyal aneh dari gestur Melati.
"Benarkah? tapi Bibi tadi dengan sangat sadar bilang kalau Senja bukan anak manusia? Aku yakin Bibi tidak asal bicara. "
Otak cerdas Queen bekerja di saat yang tepat. Kalau Bibi Mel mengatakan Senja anak iblis mungkin dia masih maklum karena saking bencinya Bibi Mel pada gadis itu. Namun soal 'Bukan anak manusia' Queen yakin bukan tanpa sebab Bibi mengatakan itu.
Melati semakin tersudut dengan pertanyaan Queenzi. Bingung antara akan menjawab atau tidak. Di satu sisi dia sangat ingin bercerita, tapi di sisi lain ia takut suaminya marah kalau ia membongkar rahasia ini. Sebab ia sudah berjanji untuk tidak akan buka suara.
"Bibi, ayolah. katakan yanga sebenarnya. Kenapa Bibi menyebut Senja bukan anak manusia? "
Sejak awal melihat Senja, baik Queen, Melati atau siapapun pasti akan merasa aneh dengan penampakan gadis itu. Bagi orang yang tidak kenal kebanyakan menganggap kalau Senja hanya mengalami kelainan genetik sehingga membuat matanya lain dari manusia normal.
Awalnya Queen pun berpikir demikian, tapi semakin kesini dia semakin melihat keanehan Senja. Tapi tentu Queen tidak pernah berpikir kalau Senja bukan anak manusia. Sama seperti Dirga dulu sebelum tahu kebenarannya, Queen pun tak percaya dan bahkan tak pernah mengenal hal-hal di luar nalar seperti itu.
Namun ucapan Bibi Mel yang mengatakan kalau Senja bukan anak manusia membuat gadis itu berpikir keras. Ia kembali merujuk pada semua keanehan yang di miliki Senja.
"Eum begini, Queen. Sebenarnya---" Merasa sudah kepalang tanggung. Melati akhirnya berencana membeberkan semuanya.
"Eum Senja itu sebenarnya memang bukan anak manusia ... Bayu samudra ayahnya adalah makhluk astral yang konon berasal dari Kerajaan gaib di dasar laut. " Akhirnya terbongkar juga rahasia itu. Begitulah adanya, jika salah satu orang sudah membongkar nya, tidak perlu menunggu lama, yang lain pasti akan segera tahu juga.
Queenzi menautkan alisnya. Reaksinya sama persis dengan reaksi Dirga ataupun Melati saat mengetahui kebenaran itu.
__ADS_1
"Makhluk astral? kerajaan gaib di dasar laut?"
Queen mengulang dua kalimat itu dengan nada heran. Kalimat yang jujur baru pertama kali di dengarnya.
"Iya, Queen. Memang kedengarannya tidak masuk akal. Tapi itulah kenyataannya. Bayu itu bukan manusia, jadi otomatis Senja juga bukan anak manusia. "
Untuk beberapa saat Queen terus saja melongo dengan keheranannya. Tapi kemudian kenyataan memaksa otaknya untuk melihat realiita yang ada, tentang semua keanehan Senja.
Gadis itu akhirnya mengangguk-angguk.
"Baiklah, Bibi. Aku percaya dan aku paham sekarang kenapa Senja dan Ayahnya terlihat begitu aneh ... Dan soal mimpi yang tempo hari pernah ku ceritakan pada Bibi, aku jadi berpikir kalau itu sebenarnya bukan mimpi. "
"Benar, Queen. Bayu itu mahkluk astral. Dia bisa datang dan pergi dengan sangat mudah. Dan konon makhluk seperti dia juga bisa masuk ke alam bawah sadar seseorang. " Melati membenarkan asumsi Queenzi.
"Sebenarnya waktu itu Bibi ingin menjelaskan, tapi Bibi masih ragu."
"Tidak apa, Bi. Yang penting sekarang aku sudah tahu. " Meski merasa terlambat mengetahui, tapi Queen senang akhirnya tahu juga.
"Entahlah Queen. Bibi juga bingung. Sudah banyak cara yang kita pakai untuk memisahkan mereka tapi hasilnya tetap saja sama. Dirga tetap tak bisa lepas dari gadis itu. "
Queen dapat melihat dengan jelas raut kecewa yang terpancar dari wajah cantik itu. Ia paham betul apa yang di rasakan Melati, sebab gadis itu merasakan yang bahkan lebih menyakitkan.
"Bibi tenang saja, pasti ada caranya. " Queen mencoba menenangkan kendati ia sendiri tak tenang.
"Untuk saat ini jujur Bibi tidak punya cara apapun, apa kau punya? "
Queen tak langsung menjawab. Bola matanya nampak berputar mengiringi kinerja otaknya yang sedang mencari cara.
"Yang kita hadapi ini bukan manusia, Bibi. "
"Benar, lalu? " Perempuan paruh baya yang masih terlihat cantik itu seolah tak sabar ingin mendengar usulan Queen.
__ADS_1
"Mungkin kita harus mencari cara lain untuk memisahkan mereka, " jawab Queen sembari otaknya terus berfikir.
"Maksudnya? "
"Mungkin kita harus bertanya pada orang yang biasa berhadapan dengan makhluk-makhluk seperti mereka. "
"Hah, memangnya ada orang yang biasa menangani makhluk seperti mereka. Bibi bahkan tidak tahu. Mengetahui kalau ternyata ada makhluk seperti mereka saja sudah cukup aneh bagi Bibi. " Melati menggelengkan kepalanya seolah mengekspresikan bahwa semua yang ia ketahui perihal Bayu dan Senja benar-benar di luar nalar dan loginya.
"Aku juga tak pasti, Bibi. Tapi setauhu ku biasanya ada orang yang memang punya kemampuan untuk itu. "
"Benarkah? "
"Hmm, " angguk Queen menjawab keraguan Melati. Harus di akui, kinerja otak Queen memang cukup bagus. Dia bisa langsung terpikirkan hal itu di saat yang lain bahkan tak terlintas sama sekali.
"Tapi dimana kita harus mencarinya. Kita bahkan tak tahu siapa orangnya?"
"Bibi tenang saja, biar aku yang akan mencarinya. Nanti kalau sudah ketemu aku akan langsung memberitahu Bibi."
Tak cukup lega dengan jawaban Queen, Melati memilih membuang nafasnya. Perempuan itu benar-benar gusar. Ia takut kalau Dirga benar-benar tak bisa lagi di pisahkan dari gadis yang menurutnya sangat mengerikan itu.
Melati kemudian menyeruput minuman nya hanya untuk sekedar menetralkan rasa tidak karuan yang ia rasakan hari ini. Kenyataan yang ada benar-benar membuatnya tak habis pikir. Putra tercintanya terjebak dalam kubangan cinta makhluk antah-barantah yang entah jenis apa.
Sebenarnya cukup bisa di maklumi kenapa Melati cukup menentang hubungan Dirga dan Senja. Dirga adalah putra kebanggaan dan satu-satunya. Tentu ia sangat berharap Dirga bisa mendapatkan gadis yang sempurna di matanya. Cantik, baik, berpendidikan, berkelas, berasal dari keluarga terhormat dan berada. Itulah gambaran gadis yang di inginkan Melati sebagai pendamping Dirga. Tapi kenyataannya putra semata wayang nya malah berhubungan dengan---
Akh sudahlah. Melati bahkan sangat benci setiap harus mengingat soal itu.
"Baiklah, Queen. Kau atur saja semuanya. Bibi percaya padamu. Bibi sangat berharap Dirga bisa lepas dari gadis aneh itu, " ujarnya karena dia memang benar-benar tak tahu lagi harus berbuat apa.
"Baik, Bibi. Bibi tenang saja. "
Sejujurnya Queen di juga tak cukup paham dengan hal-hal di luar nalar yang baru di bahasnya. Tapi ambisinya yang cukup besar untuk bisa mendapatkan kembali Dirgantara Sanjaya membuat gadis itu rela melakukan apapun.
__ADS_1
Setelah ini, dia pasti akan lebih giat lagi berjuang.