Pacarku Setengah Manusia

Pacarku Setengah Manusia
Kembali menghangat


__ADS_3

Satu minggu kemudian atau sepuluh hari pasca tragedi berdarah di pesisir pantai. Kondisi Dirgantara, Melati ataupun Queen sudah semakin membaik. Dirga bahkan sudah mulai bekerja. Jenuh rasanya terus berdiam diri di rumah tanpa melakukan apa-apa. Terlebih bayangan Senja terus saja memenuhi ruang pikirnya membuat pria itu menjadi semakin suntuk.


Dengan menyibukkan diri di kantor Dirga berharap bisa sedikit mengalihkan kinerja otaknya agar tidak melulu memikirkan Senja.


Sementara Melati, sampai saat ini masih di hantui rasa bersalah karena secara tidak langsung telah menyebabkan putranya berada di ambang kematian. Seandainya waktu itu Dirga tidak selamat, pasti Melati bisa gila karena di cekam rasa bersalah.


Apa yang ia saksikan tempo hari benar-benar sudah membuka mata dan hatinya bahwa putranya memang sangat menyayangi Senja. Dia bahkan rela mati untuk gadis itu. Dan kalau sudah begitu, memangnya apalagi yang bisa di lakukan nya selain pasrah menerima keputusan sang putra jika memang Senja adalah pilihannya.


Wanita itu tidak ingin lagi terjadi hal-hal buruk akibat dari penolakannya terhadap hubungan Dirga dan Senja. Yang terpenting bagi nya saat ini adalah Dirga bahagia, itu saja.


Melati bahkan berniat untuk kembali ke rumah nya di negri kincir angin sana. Selain untuk melanjutkan pengobatan terhadap tulang punggungnya yang masih bermasalah, wanita itu juga tidak ingin lagi mengganggu segala urusan Dirga.


"Ibu serius? " tanya Dirga saat ibunya menyampaikan niatnya untuk kembali ke rumah mereka di luar sana.


"Hm, " Melati mengangguk sambil mengunyah makanan nya. Mereka sedang makan malam saat ini. Dan Melati menggunakan kesempatan itu untuk menyampaikan niatnya.


"Apa tidak sebaiknya menunggu sampai ibu benar-benar pulih?"


"Justru ibu pulang karena ingin melanjutkan pengobatan. Ibu rasa teknologi disana jauh lebih baik, " jawabnya tanpa bermaksud meremehkan teknologi medis di tanah asalnya.


"Lagipula Ayahmu juga harus bekerja kan. Dia sudah terlalu lama cuti. " Melati menatap suaminya meminta pria itu membenarkan alasanya.


"Iya, Nak. Ayah sudah rindu masuk ke kantor lagi." Damar menambahkan. Ia juga sepemikiran dengan Melati kalau lebih baik kembali ke rumah mereka sendiri dan melanjutkan hidup disana.


Sama seperti Dirga, Damar yang awalnya sangat marah saat mengetahui istrinya ikut terlibat dalam rencana buruk Queen akhirnya melembutkan hatinya dan memaafkan perempuan itu. Terlebih ia juga sudah minta maaf dan berjanji tidak akan mengulanginya lagi.


"Ayah sudah tua, Yah. Jangan terlalu lelah bekerja. Nikmati masa tua Ayah dengan santai tanpa harus di bebani pekerjaan. "


"Hey, kau jangan meremehkan Ayah." Tak Terima dirinya di anggap sudah renta, Damar pun buru-buru menyela.


"Umur Ayah boleh tua, tapi tubuh Ayah masih sangat fit. Ayah masih sanggup walaupun harus lembur sampai berhari-hari. "


"Iya, iya baiklah." Dirga tersenyum mendengar ke-konyolan Ayahnya. Pun dengan Melati. Wanita itu juga tersenyum senang melihat suami dan anaknya kembali bisa berguarau. Satu hal yang sudah lama tidak di lihat nya. Suasana makan malam kali ini di rasa lebih hangat dari biasanya. Dirga dan Damar pun merasakan hal yang sama.


"Kapan rencananya ibu mau pulang?"

__ADS_1


"Besok siang. Ayahnya sudah pesan tiketnya."


"Baiklah, kalian harus baik-baik disana. Jaga kesehatan. Jangan terlalu sibuk bekerja."


Melati dan Damar saling pandang. Putranya benar-benar sudah kembali seperti semula. Ia bahkan sudah mau menunjukan kepeduliannya.


"Tentu, Nak. Kau juga harus jaga diri. Apalagi kau tinggal sendirian disini."


"Benar kata ibumu. Kau yang seharusnya jaga diri." Damar menyetujui kalimat istrinya.


"Dan kalau menurut Ayah, akan lebih baik kalau ada yang menemanimu di rumah sebesar ini."


Dirgantara tersenyum. Cukup paham maksud Ayahnya. Pria itu pasti menginginkan ia segera menikah.


"Ayah tenang saja. Nanti kalau Senja sudah kembali, dia yang akan menemani ku disini." Dirga menjeda ucapannya lalu menatap serius kedua orang tuanya.


"Nanti saat Senja kembali, aku akan langsung menikahinya. Ayah, ibu." Dirga yang secara tidak langsung sedang meminta restu dari kedua orang tuanya menatap penuh harap.


Damar dan Melati kembali saling pandang. Jujur mereka terkejut dengan ucapan putranya. Tapi kemudian cukup bisa memaklumi. Putranya sudah mengorbankan nyawanya untuk gadis itu. Cinta keduanya sudah tidak perlu di ragukan lagi, lalu apalagi yang di tunggu. Sepertinya pernikahan memang jawaban paling tepat sebagai pelabuhan terakhir cinta mereka.


"Baiklah, Nak. Kami menyetujui apapun keputusanmu. Yang terpenting bagi kami sekarang adalah kau bahagia dan kau baik-baik saja."


Damar menganggguk-angguk menyetujui ucapan sang istri.


"Kalau kau sudah mantap untuk menikah dengan Senja berarti kau juga harus siap menerima segala kekuarangan ataupun kelainannya, " sambung Damar memberikan wejangan.


"Tentu, Ayah semuanya sudah ku pikirkan matang-matang." Binar bahagia jelas terpancar dari wajah Dirga mendapat restu dari kedua orang tua. Khususnya dari ibu yang selama ini sangat menentangnya. Dan binar bahagia itu tentu juga dapat di lihat oleh kedua orang di depannya.


"Oh ya Dirga. Sampaikan salam maaf ibu untuk Senja dan orang tuanya ya. Ibu sangat menyesal sudah bersikap tidak baik pada mereka, khususnya Senja."


"Tentu, Bu. Mereka itu baik. Mereka pasti memaafkan ibu."


Ketiganya lalu sama-sama tersenyum. Cukup bahagia karena kehangatan keluarga mereka kembali tercipta.


Usai makan malam Damar beserta anak istrinya bercengkrama di ruang tengah. Yah anggap saja sebagai acara kumpul keluarga sebelum keduanya pergi besok.

__ADS_1


Dan sambil mengobrol ringan Damar membuka ponselnya karena kebetulan ada pesan masuk. Namun raut wajah Dirga langsung berubah begitu membaca pesan itu. Pria itu bahkan sampai menghela nafasnya.


"Dirga, bisakah kita bertemu? aku ingin meminta maaf secara langsung padamu."


Begitulah isi pesan tersebut yang ternyata dari Queen.


Dengan cekatan Dirga membalas.


"Tidak perlu. "


"Dan tolong setelah ini, jangan pernah berdiri di tempat yang bisa aku lihat."


"Karena aku tidak ingin melihatmu lagi, sampai kapanpun !"


Usai mengirimkan jawaban beruntun itu, Dirga langsung memblokir nomor Queen. Dirga sudah benar-benar tidak ingin lagi berinteraksi dengan gadis itu. Di samping itu Dirga juga takut kalau Queen akan kembali membuat rencana buruk saat bertemu dengannya.


Demi memenuhi keinginan Leon yang sudah sangat menolongnya, Dirga rela melapangkan hatinya untuk tidak membalas perbuatan Queen. Tapi untuk memaafkan gadis itu, jujur Dirga belum bisa. Dan yang ia harap akan saat ini adalah tidak lagi melihat Queen di akhir sisa hidupnya.


"Bu, " Dirga memanggil ibunya tengah menatap layar kaca.


"Ya, "


"Bisa aku minta tolong?"


Sang ibu meangguk-angguk


"Tentu, selama ibu bisa menolong. "


"Tolong jangan pernah berhubungan lagi dengan Queen. Aku tidak ingin dia meracuni pikiran ibu lagi."


Melati tersenyum. Ia paham, putranya pasti takut kalau ia kembali bersekongkol dengan gadis itu.


"Tenang saja, Dirga. Ibu tidak akan berhubungan lagi dengannya. Lagipula ibu juga akan segera pergi dari sini kan?"


Dirgantara mengangguk. Ia percaya kalau ibunya pasti akan memegang ucapannya. Bahkan tanpa sepengetahuan Dirga, Melati juga sudah memberi ultimatum pada Queen agar tidak lagi mengganggu Dirga dan juga hubungannya dengan Senja.

__ADS_1


Dirga juga akan mengambil sikap tegas dengan memutuskan hubungan kerja dengan gadis itu. Tak peduli seberapa besar kerugian yang harus di tanggung, Dirga akan menghadapinya, yang penting dia tidak lagi bertemu dengan Queenzi Arandita


__ADS_2