
Dering alarm dari ponsel Queen mengejutkan gadis itu dan membuatnya sontak langsung tetjaga dari tidur nya.
Seperti orang pingsan yang baru mendapatkan kembali kesadarannya, Queen celingukan menatap kesana-kemari.
Seingat gadis itu tadi malam ia bermimpi di datangi Ayahnya Senja. Meskipun hanya lewat mimpi, tapi semua terasa begitu nyata. Queen masih ingat betul bagaimana Bayu dengan wajah yang sangat menyeramkan tau-tau sudah berada di kamarnya. Ucapan Batu untuk tidak mengganggu hubungan Senja dan Dirga juga masih terngiang di telinga.
"Apa benar itu hanya mimpi? tapi kenapa aku merasa seperti nyata, " Gadis itu bergumam sendiri sambil memegangi tengkuknya yang tiba-tiba dingin.
"Kenapa Ayahnya Senja bisa jadi menyeramkan begitu ya? persis seperti Senja saat sedang mengamuk, apa memang semua keturunan mereka berwajah menyeramkan?" Kembali Queen bertanya pada dirinya sendiri.
"Hiii," Sambil bergidik ngeri Queen kemudian beranjak membersihkan diri. Hari ini ia ada meteeng pagi dengan kliennya, jadi harus segera berangkat.
Namun sialnya saat sedang meteeng pun gadis itu tidak bisa terlalu fokus. Ia terus saja terbayang wajah Bayu yang menyeramkan dan juga ancamannya. Meskipun ia sudah berusaha meyakini bahwa itu hanya mimpi, namun nalarnya menolak menerima, sebab semua memang terasa begitu nyata.
Aku harus menyampaikan ini pada Bibi, Mel. Yah kalaupun benar ini hanya mimpi tapi kenapa tiba-tiba aku bisa memimpikan Ayahnya Senja. Padahal aku sedang tidak memikirkannya sama sekali.
Di sela-sela meteeng nya Queen berbicara dalam hati.
Dan gadis itu langsung mewujudkan niatnya begitu pekerjaannya selesai. Ia meminta waktu Melati untuk menemuinya siang ini. Beruntung wanita itu langsung mengiyakan karena ia memang punya banyak waktu senggang selama disini.
***
"Bibi, Mel. maaf membuatmu menunggu. Jalanan lumayan macet tadi. " Begitu sampai di tempat yang sudah di janjikan, Queen langsung meminta maaf karena ternyata ia terlambat datang. Sebenarnya tidak juga terlambat, hanya mungkin Bibi Mel yang datang terlalu cepat, maklumlah, wanita itu kan tidak punya kesibukan khusus.
"Tidak masalah, Queen. Bibi juga baru datang," jawab Melati sambil meletakkan ponselnya, karena ia memang menunggu sambil memainkan ponsel tadi.
"Bibi ada yang ingin ku sampaikan. " Tepat disaat Queen mengatakan itu, pelayan datang membawa pesanan mereka yang memang sudah di pesan sebelum Queen datang.
__ADS_1
"Kita makan dulu ya, setelah itu baru kita ngobrol, " tukas Melati yang membuat Queen menunda cerita yang sudah sangat ingin disampaikannya.
Melati memang tidak suka bicara serius saat makan. Menurutnya itu pasti akan mengganggu selara makannya. Dan ia yakin betul kalau yang akan di sampaikan Queen pasti hal penting.
Dan meskipun biasanya ia adalah orang dengan rasa penasaran cukup tinggi, tapi entah kenapa kali ini dia seolah tidak begitu penasaran. Atau mungkin juga karena sudah terlalu lapar, entahlah.
"Baiklah, sekarang coba ceritakan ada apa kau ingin bertemu Bibi? " selesai makan barulah Melati mempersilahkan Queen bicara dan selama makan mereka hanya bicara hal-hal remeh saja.
"Eum ini soal Ayahnya Senja, Bibi. "
"Uhuk-uhuk.. " Melati yang sedang minum usai menyudahi makannya langsung tersedak mendengar ucapan Queen.
"Bibi kenapa? "
"Oh, tidak. Tidak ada, Bibi hanya tersedak. "
"Oh ya kau tadi ingin bicara soal Bayu kan? katakan ada apa dengan Bayu? " Sambil bertanya Melati menebak-nebak dalam hati tentang apa yang akan di bicarakan Quennzi.
"Eum sebenarnya ini hanya soal mimpi, Bibi. "
"Mimpi? "
"Iya, Bi. Aku mimpi di datangi Ayahnya Senja, tapi anehnya mimpi itu seperti nyata. "
"Oh ya, memangnya kau mimpi apa? "
Queen lantas menceritakan semua mimpinya dari awal hingga akhir tanpa ada satupun bagian yang terlewat sementara Melati menyimak dengan seksama.
__ADS_1
"Aku benar-benar merasa seperti bukan mimpi, Bibi. Tapi nyatanya begitu aku bangun Bayu sudah tidak ada. "
Melati tidak terlalu heran dengan penjelasan Queen karena setannya makhluk seperti Bayu memang bisa mendatangi orang namun orang itu sedang berada antara sadar dan tidak.
Bibir Melati sangat gatal rasanya ingin menceritakan tentang siapa Bayu yang sebenarnya, tapi ia sudah kadung berjanji pada suaminya untuk tidak akan bicara pada siapapun. Meskipun Melati yakin kalau sampai Queen tahu itu justru akan semakin membantunya menghadapi keluarga Bayu sekaligus menentang hubungan putra-putri mereka.
"Bi, Bibi kenapa diam? " Melihat Melati yang hanya terdiam membuat Queen menegurnya.
"Tidak ada, Queen. Bibi hanya heran saja, kenapa mimpimu bisa selalu seperti nyata. Dan kalaupun itu nyata, bagaimana bisa Bayu tiba-tiba sudah berada d kamarmu? " jawaban Melati seolah menggiring rasa penasaran Queen tentang sosok Bayu.
"Itulah yang aku herankan, Bi. Wajah Ayahnya Senja saat sedang marah sama persis dengan wajah Senja kalau sedang mengamuk, dan menurut ku Bayu bahkan lebih parah dan lebih mengerikan. Dua benar-benar bukan seperti manusia, Bi."
Tentu saja, bkarena Bayu memang bukan manusia
" Ya, Bibi pun kadang merasa begitu,, setiap melihat mata Senja, bibi merasa kalau itu bukan mata manusia. "
"Hm, " Queen m ngangguk membenarkan.
"Tapi kalau buka manusia jadi dia itu apa? " Seolah bertanya pada dirinya sendiri, Queen mulai terlihat berpikir. Gadis yang hidup di era milenial itu tentu tidak mau berpikir tentang hal-hal gaib di luar nalar. Baginya hal semacam itu tidak pernah ada.
"Coba kau cari tahu betul-betul tentang mereka, Queen. Sejak dulu Bibi juga merasa kalau keluarga mereka itu aneh. " Lagi-lagi Melati menggiring opini Queenzi ke arah yang sebenarnya tentang siapa Bayu. Ia terus memancing rasa penasaran gadis itu.
"Tentu, Bibi. Pasti akan ku cari tahu."
Seringai tipis muncul dari bibir Melati. Ia memang sangat ingin Queen tahu tentang siapa Bayu, tapi dia tidak mau mengatakan secara langsung sebab kalau suaminya tahu, iya yakin itu pasti akan jadi malapetaka besar untuk rumah tangganya.
Setelah Queen tahu maka mereka bisa bekerja sama lebih solid lagi untuk memisahkan Senja dan Dirga. Mereka akan sama-sama mencari tahu bagaimana menangkal atau menaklukan makhluk seperti Bayu. Karena Melati yakin dia tidak akan bisa mengahadapi nya. Dan Queen adalah orang yang di anggap paling tepat untuk membantunya.
__ADS_1