Pacarku Setengah Manusia

Pacarku Setengah Manusia
Tentang restu orang tua


__ADS_3

"Senja, kau dimana? "


Senja mengernyitkan kedua alisnya heran. Sepagi ini Dirga meneleponnya dan menanyakan dia dimana.


"Tentu saja dirumah. Ini masih pagi, Dirga. Memangnya aku mau kemana-mana pagi-pagi begini? "


"Ooh, kupikir kau sedang dipantai, " jawab Dirga dari dalam mobilnya. Begitu masuk kedalam mobil tadi, pria tampan itu memang langsung menghubungi Senja.


"Aku sedang dijalan mau kekantor. Kalau kau dipantai aku mau singgah menemuimu. Tapi kalau kau dirumah aku tidak bisa, arahnya berbeda dan terlalu jauh, aku bisa makin terlambat nanti. "


Senja makin merasa aneh dengan penuturan Dirga.


"Ada apa memangnya, kau terdengar seperti sedang khawatir? " Sesuatu yang lain dari biasanya tentu akan menimbulkan tanya. Pun dengan Dirga. Dia ingin bertemu dengan Senja sepagi ini tentu mengundang tanya dari gadis bermata kemerahan itu.


"Aku tidak bisa bicara di telepon, Senja ... nanti siang saja ya sambil kita makan siang, nanti akan ku ceritakan padamu."


Di tempatnya Senja menganguguk-angguk paham. Mungkin ini memang sesuatu yang penting sampai Dirga tidak bisa membicarakannya lewat telepon, pikir Senja.


"Baiklah, kirim saja lokasinya nanti aku datang. Tapi jangn di tempat yang dulu, aku tidak mau bertemu lagi dengan gadis aneh itu. "


Durga tersenyum. Ia tahu betul yang di maksud Senja pasti Queen. Apa gadis itu cemburu pada Queen? kalau benar begitu tentu itu sesuatu yang sangat membanggakan bagi Dirga.


"Iya, baiklah. Aku akan memesan tempat khusus untuk makan siang nanti ... aku akan menyuruh supir menjemputmu, kau tunggu saja dirumah."


"Hah supirmu? " Senja mengulang kalimat Dirga.


"Tidak, tidak. Aku kan tidak kenal supirmu, aku diantar supirku saja. "


Awalnya Dirga heran karena Senja menolak tawarannya, tapi setelah berfikir sejenak membuat pria itu tahu alasannya.


'Benar, Senja kan tidak terbiasa dengan orang asing. Pasti di merasa tidak nyaman dengan supirku nanti. '


"Baiklah, Senja. Kau datang dengan supirmu saja juga tidak apa. Nanti aku share lokasinya."


"Oke, " jawab Senja singkat. Namun meski singkat ternyata cukup mampu membuat pria diseberang sana menarik ujung bibirnya. Baginya suara Senja barusan sangat renyah dan enak di dengar.


"Ya sudah, aku kekantor dulu ya, kita ketemu nanti siang. "


"Baiklah, " sahut Senja yang lagi-lagi membuat Dirga tersenyum. Akh entahlah, mendengar suaranya saja sudah membuat ia sebahagia ini.


"Bay sayaang. " Kali ini Dirga bicara sambil menutup mulutnya, tak ingin supir nya mendengar rayuan mautnya.


"Bay." Wajah Senja merah padam saat mengatakan itu. Rayuan maut Durga benar-benar sukses membuatnya tak bisa berkata lagi. Ia buru-buru mematikan teleponnya dan menyembunyikan wajahnya di bawah bantal.


Sementara di seberang sana pria pemilik nama Dirgantara Noza Sanjaya tersenyum. Ia tahu gadisnya sekarang pasti sedang tersipu, terbaca dari suaranya yang sedikit bergetar tadi.


***


Seperti janjinya Dirga memesan sebuah tempat khusus untuknya dan Senja makan siang. Ia memilih lantai atas sebuah resort dan melarang orang lain memesan tempat itu. Atau katakanlah dia memboking satu lantai khusus untuk makan siangnya. Luar biasa bukan?


"Kau sengaja memesan tempat ini? " tanya Senja karena melihat tak ada siapapun disana kecuali mereka.


"Hmm spesial untukmu? " Dirga menarik sebuah kursi untuk Senja yang baru saja datang. Tapi anehnya dia tidak menarik kursi di depannya atau yang bersebrangan dengan meja, melainkan mendekatkan kursi itu dengan kursinya. Entah apa maksud pria itu.


Senja mendudukan badannya sambil tersenyum.


"Tidak harus seperti itu juga, Dirga. Aku hanya tidak ingin bertemu dengan gadis itu, bukan berarti aku tidak ingin bertemu dengan semua orang. " Senja tahu Dirga pasti harus merogoh kocek dalam-dalam untuk memesan tempat ini. Gadis itu jadi merasa tidak enak hati.


"Tidak masalah, yang penting kau nyaman. " Tangan Dirga terulur mengusap kepala Senja. Gadis yang saat ini sudah menjadi candu terberatnya.


"Baiklah, tapi lain kali tak perlu seperti ini." Begitulah Senja. Sangat sederhana. Kalau gadis lain pasti senang di perlakukan semanis itu tapi gadis dengan iris merah itu justru merasa segan dan tak enak hati.


"Hmm." Kali ini tangan Dirga berpindah ke pipi mulus Senja. Mengusapnya lembut sebelum akhirnya dia ikut duduk disamping Senja.


"Oh ya, Dirga. Kau bilang ada yang ingin kau sampaikan. Cepat katakan. Tadi pagi suaramu terdengar menghawatirkan, ada apa? "


Dirga tersenyum. Gadis di depannya begitu terburu-buru. Padahal dia sendiri sempat sesaat lupa akan tujuannya mengajak Senja makan siang. Entahlah, melihat Senja saja terkadang bisa membuat Dirga lupa segalanya.


"Baiklah, kita bicara sambil makan ya, " pintanya karena kebetulan pesanan mereka sudah datang.

__ADS_1


Sebelum memulai acara makan ataupun obrolannya, Dirga terlebih dahulu membasahi kerongkongan nya dengan segelas air dingin.


"Aku dengar kau ada masalah di pantai kemarin, apa itu benar? " Dirga memulau suapan pertamanya.


Senja yang juga sudah mulai mengunyah spontan mendongak.


"Kau tahu? "


"Hmm, ada yang memberitahu ku. "


"Aku curiga padamu,


selalu tahu tentangku. Atau jangan-jangan kau memata-matai ku? "


Dirga tergelak


"Tidak, Senja. Aku hanya kebetulan tau saja," tersenyum melihat Senja yang merengut karena merasa di mata-matai.


"Apa yang mereka lakukan, aku yakin kau tidak akan menyerang mereka kalau bukan mereka yang memulai."


Senja terdiam sesaat. Langsung teringat hal menjijikan yang di lakukan dua orang pria tak di kenalnya kemarin. Gadis itu laku menggelengkan kepalanya.


"Kau pasti tidak ingin mendengarnya. "


"Kenapa memangnya ... ayolah, Senja. Kau membuatku penasaran saja. Apa mereka kurang ajar padamu? "


Senja menghela nafasnya kemudia mengangguk. Dengan berat hati ia akhirnya bercerita juga.


"Mereka berpura-pura menabrakku lalu me*emas bagian dada dan bo*ong ku. "


"Apa !"


Keterkejutan yang sama yang pernah di perlihatkan oleh orang tua Senja. Tentu saja, Dirga adalah orang yang sangat menyayangi Senja setelah orang tuanya. Wajar saja kalau ia juga terkejut dan bahkan tak terima.


Keduanya lantas kompak menghentikan aktifitas makannya. Seperti kehilangan selera makan karena obrolan yang dianggap menjijikan sekaligus menyebalkan


'Aku bahkan belum pernah menyentuhnya' ucapnya tapi tentu saja hanya didalam hati.


"Menyesal aku tidak ada disitu saat kejadian. Kalau ada kan aku bisa membantumu memberi pelajaran pada mereka, "


"Tidak perlu, Dirga. Aku bisa mengatasi mereka walaupun hanya seorang diri. Aku yakin mereka pasti sudah jera sekarang. " Senja memberanikan diri mengusap tangan Dirga yang masih terkepal.


"Sudahlah, tidak usah di bahas lagi. Aku jijik setiap harus mengingat itu, " sambung Senja lagi


Dirga membuka kepalan tangannya lalu menggengam tangan Senja yang baru saja mengusap tangannya.


"Ya sudah, tidak perlu mengingatnya lagi, tapi---" Dirga baru ingat kalau apa yang akan di sampaikannya ternyata ada hibungannya dengan kejadian itu.


"Tapi kenapa? "


Dirga menghela nafasnya sesaat sebelum bicara.


"Kau ingat tidak waktu kejadian itu ada perempuan yang memperhatikan mu?" Menyesal harus membuat Senja kembali mengingat itu, tapi mau bagaimana lagi, nyatanya apa yang akan di sampaikan oleh Dirga memang ada hubungannya dengan hal itu.


"Maksud mu? "


"Pada saat kau sedang menghajar dua orang itu, apa ada perempuan yang memperhatikanmu? " Dirga memperjelas maksudnya. Memaksa Senja mengingat kembali kejadian menjijikan yang sebenarnya sudah tak ingin di ingatnya.


Pandangan Senja menerawang. Ingatan nya ia fokuskan untuk merekam kembali peristiwa kemarin.


"Sepertinya ada, perempuan paruh baya, tapi masih sangat cantik, dia berada tak jauh dari tempatku menghajar para ba*jingan itu, dan kalau tidak salah dia memang terus memperhatikan ku. Tapi karena aku sedang sangat marah jadi aku tidak begitu mempedulikannya, " Senja menjelaskan secara detail tentang perempuan yang di maksud Dirga.


"Apa kau tahu siapa perempuan itu? "


"Tidak, memangnya siapa? " menggeleng cepat karena wanita itu memang sangat asing baginya.


"Dia ... ibuku. "


Deg ! Hampir saja Senja terlonjak mendengar itu. Ia terkejut bukan main. Tak menyangka wanita yang kemarin dia intimidasi dengan tatapan matanya ternyaata adalah ibunda Dirga.

__ADS_1


"Di--dia ibumu? " tanyanya terbata karena di dera rasa tidak percaya.


"Hmm, " Dirga mengangguk membenarkan.


"Dan dari ibu lah aku tahu kejadian itu. "


Wajah Senja langsung panik, pasalnya kemarin Ibunda Dirga melihatnya mengamuk seperti singa lapar.


"Apa ibumu tahu kalau aku--"


"Itulah masalahnya, Senja. " Dirga mempererat genggaman tangannya. Ia yakin apa yang akan di ucapkannya pasti akan membuat Senja makin panik.


"Ibuku tahu kalau kau itu kekasihku. Aku sendiri pun heran, padahal aku belum memberitahunya. Entah darimana dia tahu. "


Dan benar saja, Senja menunduk lemas. Sudah dia duga, Ibunda Dirga pasti tahu, kalau tidak mana mungkin dia menceritakan soal ini pada putranya.


"Lalu apa komentarnya tentangku, pasti buruk kan? pasti dia melarangmu dekat dengan ku kan?" tebaknya secara beruntun. Gadis itu langsung merasa down karena tidak bisa memberi kesan baik pada pertemuan pertamanya dengan ibu Dirga.


"Dia hanya salah paham. Ibu tidak tahu alasan mu menyerang mereka ... Aku belum menjelaskan apapun pada ibu. Aku sedang berusaha mencari alasan yang pas. Kau tenang saja, aku pasti bisa mengatasinya. " Kali ini Dirga yang berusaha menenangkan, ia mengusap lembut punggung tangan Senja.


Senja menghela nafasnya.


"Aku tidak tau kalau itu ibumu. Kalau aku tahu aku pasti akan menahan diri untuk tidak mengamuk di depannya."


"Hust sudahlah. " Dirga melepaskan genggamannya. Memberikan segelas air pada Senja lalu merangkulnya setelah memastikan gadis itu minum beberapa teguk. Dirga membawa Senja ke dalam dekapannya.


"Kau tidak sepenuhnya salah. Hanya saja ibuku berada di waktu yang tidak tepat saat melihatmu."


"Apa ibumu mengatakan aku seperti hantu? "


"Tidak, tenanglah. Ibuku hanya bilang kalau wajahmu sedikit aneh, " jawab Dirga bohong tentunya karena ibunya bahkan mengatakan kalau Senja seperti iblis.


"Tapi aku masih penasaran darimana ibumu tahu kalau kita ada hubungan? " tanya Senja lagi masih dalam dekapan Dirga. Rasanya sangat nyaman dan cukup menenangkan berada dalam pelukan pria hangat itu.


"Aku juga sampai sekarang bingung darimana ibu tahu. Ibu tidak mau mengatakannya padaku ... tapi kau tenang saja, aku akan mencari tahu soal itu. "


Senja diam. Tak tahu lagi harus berkata apa. Perasaan takut kalau orang tua Dirga tidak akan menyukai nya kini semakin menjadi.


"Tenanglah, tidak apa-apa. Aku pasti bisa membuat mereka menerimamu." Mendengar hela nafas Senja yang terasa berat Dirga tahu kalau gadis itu pasti sedang di dera perasaan khawatir yang berlebihan.


"Benarkah? " Senja mendongak


"Tentu, percayakan saja padaku, " sambil menghadiahkan satu kecupan manis si kening Senja yang kebetulan tepat berada di bawah bibirnya.


Sebenarnya Dirga sendiri bingung bagaimana menjelaskan kepada orang tuanya. Tapi dia tidak mungkin menunjukannya di depan Senja. Dia tidak ingin Senja jadi ikut-ikutan bingung. Sedangkan saat ini saja gadis itu sudah sangat khawatir.


Dirga mempererat dekapannya. Kalau tadi hanya sebelah tangannya yang memeluk Senja. Kali ini kedua tangannya menangkup Senja erat-erat. Dan tak di sangka, Senja juga membalas pelukan itu. Iya melingkarkan tangannya ke pinggang Dirga.


Dirgantara, pria dengan kemampuan menahan diri yang sangat buruk tentu menjadi berpikir yang tidak-tidak merasakan gerakan tangan Senja.


Alih-alih membuang pikiran kotor itu jauh-jauh, pria berahang kokoh itu juatru benar-benar mengekspektasikan nya. Ia melepaskan pelukannya lalu memegang kedua pipi Senja.


Memberi satu kecupan lagi di kening gadis itu. Dan tentu saja tak hanya kening, tapi setelah menatap pupil kemerahan itu sesaat kecupan Dirga turun ke kedua mata, hidung dan target utamanya adalah benda kenyal berwarna dusty pink.


Benda yang kerap membuatnya melayang-layang itu di hisapnya perlahan sambil tangannya merayap keleher jenjang Senja. Tapi baru benerapa detik menikmati aksinya, Senja tiba-tiba menarik bibirnya. melepaskan perpaduan diantara keduanya.


"kenapa, Senja? " tentu saja Dirga heran karena tak biasanya Senja menarik diri.


"Apa tidak sakit? aku takut badanmu sakit-sakit lagi."


Dirgantara tersenyum semanis mungkin.


"Memang sakit setelahnya, tapi tidak apa, lama-lama juga aku akan terbiasa ... lagi pula rasa sakit nya kalah jauh di banding rasa nikmatnya"


"kau ini, " Senja meringis malu mendengar jawaban konyol Dirga, apalagi pria itu mengatakannya sambil mengedipkan sebelah matanya, membuat Senja jadi mati kutu dan hanya bisa tersenyum malu. Senyum yang di artikan Dirga agar segera melanjutkan aksinya.


Pria yang boleh di bilang mesum itu, kembali menyambar bibir ranum Senja, menyesapnya dengan lebih kuat tanpa peduli dimna mereka berada.


Mereka sejenak melupakan tentang masalah yang baru saja mereka bicarakan. Tentang restu orang tua Dirga yang kemungkinan besar akan sulit di dapatkan.

__ADS_1


__ADS_2