
Pasca inseden yang terjadi antara Senja dan Quennzi, gadis berbelah dagu itu menjadi penasaran dan bertanya-tanya tentang siapa Senja. Gadis yang menurutnya memiliki tatapan menakutkan.
Queen mulai menggali informasi seputar Senja. Ia bertanya pada orang-orang yang mungkin mengenal Senja. Tapi sayang Queen tidake mendapat begitu banyak info. Setiap orang yang di tanya selalu menjawab kalau mereka tak begitu tahu perihal Senja karena keluarga Senja yang cenderung menutup diri dari lingkup sekitar.
Satu-satunya info yang di dapat adalah kalau gadis itu suka sekali berselancar di pantai. Hampir tiap hari Senja menghabiakan waktu sorenya di pantai.
Mengetahui itu, Queen langsung bergerak cepat dengan langsung mendatangi pantai. Ia sengaja memakai masker dan jaket longgar supaya Senja tidak mengenali wajahnya.
Queen menunggu dengan gusar di salah satu gazebo. Ia memperhatikan setiap orang yang lalu lalang keluar ataupun masuk area pantai.
Senyumnya mengembang di balik masker saat indra penglihatannya menangkap sosok gadis yang datang dengan membawa papan selancar. Bola matanya terus bergerak mengikuti pergerakan Senja.
Sampai gadis itu turun kelaut dan memulai antaraksinya. Pandangan Queen tak pernah berpindah. Ada rasa kagum sekaligus heran melihat gadis itu dengan sangat beraninya meliuk-liuk di antara gulungan ombak. Tanpa takut sama sekali ombak akan menelannya.
Di bibir pantai, Queen melihat beberapa orang nampak antusias menonton atraksi Senja seolah sedang menonton pertunjukan akrobat.
Queen mendekati gerombolan orang-orang itu.
"Wah kau hebat sekali, Senja. " Seseoarng berteriak kagum saat Senja berhasil menaklukan ombak besar. Queen sendiri di buat tercengang. Ombak yang baru saja datang memang cukup besar. Para pengunjung bahkan beringsut mundur takut terbawa kuatnya ombak.
Namun gadis yang sedang meliuk-liuk disana tampak sangat santai menghadapinya. Terbukti kalau dia memang peselancar hebat dan sudah sangat berpengalaman.
"Namanya Senja? " tanya Queen pada salah satu pengunjung wanita. Berpura-pura belum tahu nama gadis itu.
"Iya, " orang yang di tanya menjawab singkat.
"Kau tahu dia siapa? "
"Maksudmu?" pertanyaan aneh Queen membuat yang di tanya bingung.
"Maksudku apa kau tahu dimana dia tinggal, atau seperti apa dia? " Queen memperjelas maksudnya yang justru membuat orang itu tercengang heran.
__ADS_1
'Siapa gadis ini, baru kenal sudah bertanya yang aneh-aneh. '
Wanita itu menggeleng
"Aku tidak tahu, aku hanya tahu dia suka berselancar. Selebihnya aku tidak tahu. "
Queen mendesah. Jawaban yang sama yang ia dapat dari orang-orang.
'Kemana lagi aku harus mencari info.' Queen memutar otaknya mencari cara mengorek keterangan perihal Senja.
"Tolong, tolong, " Jeritan minta tolong membuyarkan fokus otak Queen yang tengah fokus berpikir.
Seorang anak kecil berumur sekitar sembilan tahun hanyut terbawa ombak besar yang baru saja menepi. Sepertinya anak itu terlalu dekat saat bermain air, sehingga saat ombak besar datang dia tidak sempat menjauh.
Anak itu terombang-ambing di antara riak air. Semua orang panik melihatnya. Terlebih ibu dari anak itu. Ia sampai berteriak histeris. Namun tak ada yang berani menolong mengingat ombak yang terus saja menepi.
Senja yang sedang berselancar dan melihat kejadian itu langsung bergerak cepat mendekati anak itu. Sambil berselancar ia berhasil menyambar tubuh kecil itu, namun sayang bersamaan dengan itu ombak besar datang dan menghantam mereka berdua. Tubuh mereka seketika lenyanp di telan ombak besar.
Dua menit, tiga menit, bahkan sampai sepuluh menit kedua orang yang sedang bertarung melawan maut tak kunjung nampak. Wajah-wajah cemas kian kentara.
Untung saja di menit berikutnya tampak seorang gadis muncul ke permukaan sambil membopong bocah kecil yang sepertinya sudah tak sadarkan diri.
Gadis yang tak lain adalah Senja itu berjalan santai melintasi genangan air yang merendam hampir separuh bagian tubuhnya.
Wajah-wajah cemas berubah binar bahagia. Terlebih saat Senja sudah benar-benar keluar dari air. Ia langsung meletakkan anak itu di atas pasir dan menekan bagian dadanya. Sampai beberapa kali tekanan anak itu akhirnya memuntahkan air dari mulutnya.
"Uhuk-uhuk." Anak itu tersadar bebarenagn dengan air yang ia kelaurkan dari perutnya. Ia memandang sekeliling dengan raut yang masih bingung dan syok. Sang ibu langsung memeluk sembari menangis sejadi-jadinya. Merasa bersalah karena lalai menjaga anaknya sekaligus merasa bersyukur karena anaknya selamat.
"Sebaiknya cepat bawa berobat. Sepertinya anak ini meminum banyak air, " usul seorang pria melihat kondisi anak itu yang masih sangat lemah.
"Benar, cepat bawa ke rumah sakit." Senja yang mengetahui betul kondisi anak itu ikut menyarankan
__ADS_1
Di bantu beberapa orang, anak itu di bawa menuju mobil untuk seterusnya di bawa ke rumah sakit terdekat.
"Terimakasih sudah menolong anakku. Aku berhutang nyawa padamu, " Sang ibu tak lupa mengahaturkan terimakasih sebelum benar-benar pergi.
"Tak masalah, yang penting anak itu selamat, " sahut Senja tak ingin membuat si ibu merasa berhutang budi.
Semua orang yang ada di situ kagum sekaligus heran pada Senja. Dia bisa menyelamatkan anak itu tanpa bantuan apapun. Ia bahkan tak memakai pelampung atau pelindung apapun.
Rasa kagum sekaligua heran juga di rasa oleh gadis bermasker yang sejak tadi tak pernah luput memperhatikan. Padahal tadi ia berpikir Senja dan anak itu akan hilang di telan ombak dan baru akan di temukan beberapa hari kemudian dalam keadaan tak bernyawa. Sungguh sebuah pikiran yang kotor.
Untungnya pikiran buruk itu tak menjadi nyata. Senja berhasil menyelamatkan anak itu dan dia sendiri pun selamat. Bahkan masih segar bugar sepeti baru keluar dari pemandian air hangat.
Tapi tentu saja hal aneh itu semakin mengundang tanya dari Queen. Gadis yang memang sejak awal sudah penasaran menjadi semakin penasaran.
'Sehebat itukah dia sampai bisa selamat dengan mudah dari laut yang sudah menelannya.'
Kerumunan orang yang berkumpul menyaksikan adegan menegangkan tadi perlahan membubarkan diri. Pun dengan sang dewa penyelamat hari ini, gadis itu juga menyudahi aksi selancarnya karena papan selancarnya pun sudah hilang terbawa ombak.
Gadis itu berjalan di bawah tatapan seoarng gadis bermasker. Dan seolah sadar sejak tadi dirinya beradaa dalam pengawasan gadis itu, pada jarak beberapa langkah Senja berhenti lalu menoleh pada Queen. Tatapan matanya menyiratkan ketidak sukaan karena sejak tadi terus di perhatikan.
Gadis pemilik iris merah itu menghunuskan tatapan tajam dengan pupil kemerahan yang cukup mengerikan membuat gadis bermasker langsung menelan ludahnya sambil beringsut dua langkah ke belakang.
Selesai mengintimidasi dengan tatapan iblisnya, Senja kembali melangkah santai meninggalkan Queen yang gemetar ketakutan di tempatnya.
'Ya Tuhan tatapannya kenapa mengerikan sekali.' Gadis itu langsung teringat mata-mata merah milik iblis yang pernah di tontonya di film-film horor. Ya, semenyeramkan itulah tatapan Senja. Bahkan mungkin lebih seram dari itu.
Seharusnya mungkin Senja tidak menunjukan wajah angkernya itu karena tentu saja itu akan semakin membuat Queen penasaran. Tapi ya begitulah Senja. Gadis yang bermasalah dengan kontrol emosi itu tidak bisa diam saja saat merasa ada orang yang membuatnya merasa tidak nyaman. Ia marah saat ada orang yang diam-diam terus memperhatikannya.
Untung saja dia bisa menahan diri untuk tidak langsung menyerang si gadis bermasker. Ia hanya menunjukan amarahnya lewat tatapan mata. Meski itu saja sudah cukup mampu membuat yang melihat melongo tak percaya.
Jangan lupa dukungannya semua.. tinggalkan jejak kalian sebagai apresiasi buat author supaya makin semangat nulisnya
__ADS_1