Pacarku Setengah Manusia

Pacarku Setengah Manusia
Operasi plastik


__ADS_3

"Ini tidak masuk akal. Benar-benar tidak akal." Sepanjang perjalanan pulang dari pantai hingga sampai ke rumah, Melati tak henti-hentinya melontarkan ketidak-percayaan nya akan sosok Bayu dan Wulan.


Perempuan yang sebenarnya juga masih terlihat cantik meski di usia yang sudah beranjak senja itu terus berfikir bagaimana bisa seseorang seolah tidak mengalami penuaan.


"Perawatan macam apa yang mereka lakukan sampai membuat mereka jadi awet muda begitu?" ucapnya lagi sambil menghempaskan badannya di sofa mewah di ruang tengah. Mereka baru saja sampai di rumah.


"Mungkin mereka memakai produk kecantikan yang sangat bagus ataupun perawatan yang cukup mahal, sehingga membantu mereka terhindar dari penuaan."


Di sampingnya Damar sang suami mencoba memberi jawaban, kendati ia sendiri tak yakin dengan jawabannya.


Pria berkarisma itu kemudian beranjak ke dapur dan mengambil kan segelas air dingin untuk istrinya. Ia yakin tenggorokan istrinya pasti kering karena hampir sepanjang jalan tadi Melati terus saja meracau.


"Minumlah, kau tampak syok sekali sejak tadi."


"Bagaimana tidak syok sayaang ... Wulan dan Bayu itu kan seumuran kita, tapi kenapa penampilan mereka terlihat jauh lebih muda dari kita? " Melati menerima gelas pemberian Damar lalu meneguknya dengan cepat hingga hampir tandas. Sepertinya tenggorokannya memang benar-benar kering.


"Yah seperti yang ku bilang tadi, mungkin mereka melakukan perawatan mahal. " Damar ikut menghemoaskan badannya di samping sang istri


"Lalu aku tidak? " Langsung protes dengan jawaban suaminya.


"Perawatan mahal jenis apa yang belum ku lakukan? semuanya sudah kan? bahkan yang harganya termahal dan terbaik juga sudah pernah aku lakukan, tapi tetap saja tak bisa membuatku terlihat muda seperti mereka. " Melati terus saja nyerocos membuat Damar hanya meringis menyadari kalau jawabannya tadi ternyata kurang tepat.


Sebenarnya pria itu juga terkejut, tapi jauh lebih bisa menguasai diri, terlebih karena menyadari siapa Bayu dan Wulan.


"Ya sudah lah sayang, tidak usah terlalu di pikirkan. Kau juga masih terlihat muda dan cantik." Ungkapan Damar tentu bukan cuma sekedar ingin menghibur Melati, tapi pada kenyataannya istrinya itu memang masih sangat cantik. Meski tetap saja tidak bisa di bandingkan dengan Wulan.


"Kau tidak perlu menghibur ku, " sahutnya ketus


"Kau juga pasti heran kan kenapa mereka bisa seperti itu? "


"Iya aku memang sempat heran tadi, tapi ya sudahlah, untuk apa terlalu di pikirkan ... Dan kalaupun benar Wulan terlihat lebih muda darimu, tapi di mataku kau tetap yang tercantik. " Damar mengusap puncak kepala istrinya. Ia tau betul bagaimana perasaan wanita itu saat ini. Pasti ada semacam iri yang tiba-tiba muncul melihat orang yang pernah sangat di cintai oleh suaminya ternyata tetap terlihat muda dan cantik meski sudah beranjak tua.


Melati pasti takut kalau Damar akan jatuh cinta lagi melihat penampakan Wulan yang seperti itu. Itulah sebabnya Damar berusaha meyakinkan istrinya dengan di bumbui dengan sedikit rayuan tentunya, supaya istri cantiknya itu terhibur dan tidak terus tertekan memikirkan kejadian yang memang cukup langka itu.


Namun alih-alih terhibur, Melati justru mencibir rayuan Damar.


"Ciih, malah merayu ku, " cibirnya dengan wajah semakin masam.


"Aku sedang tidak ingin di rayu, Sayang. Aku butuh jawaban kenapa mereka bisa seperti


itu?"

__ADS_1


"Ya aku mana tahu, Sayang. Kenapa kau meminta jawaban dariku? Aku kan tidak pernah berinteraksi dengan mereka. " Memang pertanyaan Melati agak sedikit aneh, kenapa pula dia harus membebankan pertanyaan yang sulit dijawab itu pada suaminya.


"Tapi kau kan dulu pernah dekat dengan mereka? " perempuan itu tetap saja ngotot.


"Ya tapi itukan dulu. Lagipula walaupun dekat tapi aku tidak pernah benar-benar tahu tentang mereka." Damar mulai was-was. Ia takut Melati akan mengkorek lebih dalam tentang Bayu dan Wulan yang akhirnya membuat ia salah bicara.


"Hm baiklah kalau begitu, aku akan cari tahu sendiri kenapa mereka bisa tetap awet muda seperti itu. Rahasia apa yang mereka pakai. "


"Ya Tuhan, Mel. Untuk apa kau repot-repot melakukannya. Buang-buang waktu saja ... kalau memang mereka tetap awet muda ya biarkan saja, itu urusan mereka. Kau juga tetap awet muda di mataku."


"Tapi ini aneh, Damar. " Nada suara Melati mulai meninggi. Ia bahkan menyebutkan langsung nama suaminya. Pertanda kalau wanita itu mulai tersulut amarah. Perempuan memang selalu begitu. Saat ia kesal akan suatu hal, pasti pasangannya lah yang akan menjadi korban kekesalannya.


"Dari dulu aku selalu merasa ada yang aneh dengan mereka, khususnya Bayu. "


Damar langsung menoleh, kecurigaan Melati membuatnya semakin was-was.


"Aneh apanya? " tanyanya pura-pura tak tahu


"Ya aneh saja, wajah nya itu, kadang aku melihatnya agak sedikit ngeri. "


"Ck itu hanya perasaan mu saja. Bayu sama saja seperti kita, dia hanya tidak banyak bicara ... Dan soal awet muda-nya, aku yakin karena mereka melakukan perwataan khusus. " Damar mulai jengah, pria itu bahkan berpikir untuk segera mengakhiri sesi perdebatan ini. Namun Melati memperpanjang cerita dengan mengucapkan kalimat yang sangat konyol


"Kalau begitu kita juga harus melakukan perawatan khusus. Atau kalau perlu kita juga harus melakukan operasi plastik supaya bisa terlihat muda seperti mereka. "


"Iya, operasi plastik bisa membuat seseorang jadi terlihat lebih cantik dan tampan serta awet muda."


"Mel, ayolah, jangan konyol. Untuk apa melakukan operasi segala, aku tidak mau !"


"Untuk apa kau bilang? Ya supaya tetap cantik dan awet muda lah, kau juga supaya tetap tampan seperti Bayu. "


Perdebatan tak bisa lagi di hindarkan. Melati benar-benar sudah terobsesi ingin seperti Bayu dan Wulan.


Damar menghela nafasnya. Ide konyol istrinya yang mendadak minta operasi plastik benar-benar membuatnya sesak nafas. Meski ia punya kekayaan melimpah ruah dan konon tidak akan habis tujuh generasi, tapi melakukan operasi plastik hanya untuk mempercantik atau mempertampan diri adalah hal yang tidak pernah terlintas di benaknya. Pria itu terlalu sederhana untuk punya pikiran seperti itu.


"Mel, menjadi tua adalah keniscayaan. Semua orang pasti akan menua. Kita tidak perlu melakukan tindakan se-ekstrim itu hanya untuk menolak penuaan." Kali ini Damar mencoba menurun intonasinya, berharap bisa menyadarkan sang istri.


"Oh ya, lalu mereka? mereka juga menolak tua kan makanya melakukan tindakan yang menurutmu ekstrim itu? "


"Ya, ya biarkan saja. Itu kan urusan mereka bukan urusan kita. " Sepertinya percuma saja Damar bicara lemah lembut, toh Melati tetap ngotot pada pendiriannya.


"Ya tapi aku ingin seperti merekaa.Damar !" Lihatlah dia bahkan menjerit yang membuat emosi Damar jadi ikut naik.

__ADS_1


"Pokoknya aku tidak mau tahu, kita harus operasi supaya bisa seperti mereka !"


"Mel ! Kenapa kau jadi pembangkang begitu? Aku kan sudah bilang tidak perlu operasi !" Suara Damar tak kalah kencang. Membuktikan kalau keduanya memang sedang berada di tegangan tinggi sekarang


"Lagipula percuma, mau operasi seperti apapun kita tetap tidak akan bisa seperti mereka !"


"Kenapa memangnya? "


"Karena mereka itu---" Damar tidak berani melanjutkan kalimat nya. Ia langsung tersadar kalau sudah kelewat jauh berbicara. Harusnya ia tidak terpancing oleh pertanyaan istrinya. Tapi suara lantang istrinya yang lebih mirip bentakan sejak tadi memang cukup menguji kesabarannya. Membuatnya ikut terpancing amarah dan hampir saja keceplosan mengatakan sesuatu yang seharusnya tidak boleh di katakan.


"Mereka kenapa? ada apa dengan mereka? kenapa kau tidak jadi bicara? " Tentu saja kalimatnya yang menggantung memantik tanya dari sang istri.


"Tidak ada, lupakan, " jawabnya cepat sambil mengusap wajahnya. Menyesal karena sudah terprovokasi.


"Tidak ada apanya, jelas-jelas kau tadi mau mengatakan sesuatu. Kau pasti tahu sesuatu tentang mereka kan? "


"Tidak, aku tidak tahu apa pun tentang mereka." Masih tetap bersalih sambil membuang pandangannya, takut Melati bisa membaca kebohongannya.


"Damar, ayolah, " Melati mencoba melembutkan suara nya. Tentu saja agar Damar mau buka suara.


"Sejak awal bertemu Bayu dan Wulan dulu, aku selalu merasa ada yang aneh dengan mereka. Dan entah kenapa sekarang aku merasa kau tahu sesuatu tentang mereka dan kau menyembunyikannya dariku selama ini. "


Damar menggeleng cepat sambil berusaha tersenyum. Sekali lagi supaya ekspresi kebohongannya tidak terbaca, meski tetap saja Melati mencium aroma kebohongan itu, karena memang suaminya bukan tipikal orang yang suka berbohong.


"Tidak, sayang. Aku benar-benar tidak tahu apa-apa tentang mereka. Bagiku mereka itu ya sama saja seperti kita. "


Dan meski Damar sudah coba merayu dengan memanggil sayang, tapi tetap saja Melati tak percaya. Yang ada wanita itu justru jadi makin marah pada Damar.


"Baiklah, kalau kau memang tidak mau bicara ... mulai sekarang aku juga tidak mau bicara padamu. "


Usai mengatakan kalimat ancaman itu Melati beranjak meninggalkan Damar. Tatapan matanya mengisyaratkan kemarahan yang tidak main-main.


"Sayang jangan begitu, aku memang tidak


tahu. " Damar ikut beranjak sambil berusaha memegang lengan Melati namun langsung di tepis oleh pemilik lengan. Perempuan highclass itu bahkan langsung berjalan cepat menuju kamar.


"Mel, sayang, " panggil Damar namun tak di indahkan oleh Melati. Ia terus saja berjalan membuat Damar hanya bisa menghela nafasnya.


Setelah ini dia tidak tahu bagaimana harus menghadapi istrinya dengan menyembunyikan kebohongan yang sudah mulai terendus. Apakah dia bisa terus menyembunyikan rahasia besar itu?


Bersambung

__ADS_1


Hay semua, apa kabar? aku mau ngasih tau nih kalau selain novel ini, aku juga udah merilis novel baru yang berjudul "AKU BUKAN PEMBUNUH." ceritanya di jamin gak kalah seru deh dari novel² aku yang lain. Dan kali ini bukan tentang cinta beda dunia yaa.. yang ini lain dari yg sudah-sudah.


Jangan lupa mampir di novel baru aku yaa, dan jangn lupa dukungannya, terimakasih


__ADS_2