
"Queen mana, Ayah? "
Cakrawala Leonil Aksa berjalan mendekati Ayahnya yang tengah bersiap menikmati santap malam di rumah bernuansa klasik milik mereka.
"Queen?" Sang Ayah mengulang kata itu dengan nada heran. Queen kan bukan anggota keluarga mereka. Jadi dia tidak harus selalu berkumpul dengan mereka saat waktu makan kan?
"Iya, biasanya dia selalu datang saat jam makan?tumben sekarang btidak ada?" Leon menarik salah satu kursi yang berseberangan dengan Ayahnya.
"Ooh, " Rimba mengangguk-angguk seolah baru paham maksud putranya.
"Sepertinya dia sudah tidak akan mengganggu waktu makan kita lagi?"
"Kenapa? " Leon mulai menuangkan makanan ke dalam piringnya.
"Dia sudah pulang? "
Rimba menjawab dengan begitu santai tapi entah kenapa terdengar begitu mengejutkan di telinga Leon.
"Pulang? "
"Hmm, " angguk Rimba
"Kenapa, apa kau rindu padanya? "
Ejekan Rimba entah kenapa membuat Leonil sedikit salah tingkah. Namun pria blasteran tionghoa dan timur tengah itu segera menyembunyikan nya dengan cibiran.
"Ciih yang benar saja, memangnya siapa dia sampai harus ku rindukan?" tukasnya menyembunyikan perasaan aneh yang tiba-tiba bersarang.
"Biasanya kan dia selalu mengganggu kita, kalau dia sudah pulang apa mungkin dia sudah menyerah? "
"Dia tidak menyerah, justru Ayah yang menyerah karena dia terus memaksa. "
"Maksud Ayah, Ayah sudah memberi tahu Queen bagaiamana cara menaklukan makhluk itu? " tanya Leon mencoba mengambil kesimpulan dari jawaban Ayahnya.
"Yaah, Ayah tidak punya pilihan lain." Rimba menjawab sambil menghela nafasnya.
"Tapi entah kenapa Ayah sedikit menyesal sekarang, " ucapnya lagi dengan tarikan nafas yang kian berat seolah apa yang sudah ia lakukan untuk Queen adalah sebuah kesalahan.
"Menyesal, kenapa? " Menurut Leon ucapan Ayahnya agak sedikit aneh. Dia sendiri yang memberi tahu, kenapa sekarang malah menyesal?
Rimba terdiam seolah tidak tahu harus menjawab apa. Pria itu merasa terlalu rumit kalau harus di jelaskan.
"Eum Leon, bisakah Ayah meminta tolong padamu? "
__ADS_1
Leon yang tengah tertunduk menikmati makanannya sontak mendongak mendengar permintaan sang Ayah. Minta tolong? Ayahnya bahkan belum menjawab kenapa ia merasa menyesal. Tapi kenapa sekarang malah minta tolong? pikir Leon
"Soal? "
Sebelum menjawab Rimba terlebih dahulu menyudahi makan malamnya. Di samping karena ia memang sudah kenyang, pria itu merasa pembicaraan serius tidak bisa atau tidak etis kalau di sampaikan sambil mengunyah makanan.
"Tolong gagalkan rencana Queen? "
"Hah? " Tentu saja Leon terkejut di buatnya.
"Maksud Ayah? "
"Tolong cegah Queen melaksanakan niatnya untuk merebut kembali kekasihnya, " jawab Rimba memperjelas maksudnya meski ia yakin sebenarnya Leon juga sudah cukup mengerti maksudnya.
Merasa ada yang aneh dengan sang Ayah yang tiba-tiba bicara cukup serius. Leon juga memilih menyudahi makan malamnya.
"Kenapa harus di cegah, Ayah. Biarkan saja dia berusaha mendapatkan apa yang ingin di dapatkannya. "
"Tapi Ayah merasa tindakan itu tidak benar, Nak. Gadis secantik Queen tidak harus melakukan hal sebodoh itu hanya untuk mengejar seorang pria. Dan lagi itu juga terlalu berbahaya untuknya sendiri. "
Leonil terdiam. Sebenarnya ia tak begitu paham tentang rencana apa yang sebenarnya akan di jalankan Queen. Tapi entah kenapa pria itu tidak tertarik untuk bertanya. Baginya apapun yang di lakukan Queen itu bukan urusannya. Meski ia sependapat dengan sang Ayah kalau gadis se cantik Queen tidak harus melakukan hal bodoh itu. Tapi sekali lagi Leon membentengi hatinya dengan kalimat 'itu bukan urusanku.'
"Biarkan saja, Ayah. Toh itu juga sudah jadi kemauannya. Dia bahkan sampai sejauh itu berusaha, jadi menurutku ya sudah, biarkan saja. Toh kalau memang ada resikonya, dia juga pasti sudah tahu kan?" Terang-terangan Leon menolak permintaan sang Ayah.
"Ada banyak nama yang akan terseret. "
"Maksud Ayah? " Leon merasa sejak tadi kalimat Ayahnya banyak mengandung teka-teki. Ia yang awalnya tidak peduli lama-laman jadi tertarik juga.
Rimba sendiri tak langsung menjawab. Sejak dulu ia sudah bertekad untuk mengubur rahasia itu dan tidak akan memberi tahu pada siapapun kecuali orang-orang yang memang sudah tahu. Tapi kali ini nampaknya pria itu berubah pikiran. Ia merasa putranya sudah harus tahu.
"Akan Ayah ceritakan sebuah kejadian di masalalu, tapi kau harus percaya dan harus bisa menjaga rahasia itu? "
Demi membunuh rasa penasaran nya, Leon langsung mengangguk mengiyakan.
Rimba kemudian menceritakan secara detail semua kejadian di masa lalu tentang ia, Bayu Wulan, Damar dan melati. Tak ketinggalan juga soal belati emas yang membuatnya hampir mati di tangan Bayu.
Rimba menceritakan secara gamblang apa yang pernah terjadi di antara mereka. Dan ceritanya yang berkaitan erat dengan hal mistis yang tak logis membuat putranya hampir mati karena di serang badai terkejut juga keheranan yang datang secara bersamaan.
Ia tidak ingin mempercayai cerita Ayahnya dan menganggap cerita itu hanya omong kosong belaka. Namun karena sejak awal Rimba sudah menegaskan dan meminta ia untuk percaya, maka mau tidak mau dan percaya tidak percaya Leon akhirnya meyakini bahwa apa yang di ceritakan oleh sang Ayah memang benar adanya.
Huft..Menutupi rasa terkejut dan juga heran-nya Leon berulang kali menarik nafasnya.
"Sekarang kau sudah tahu kan kenapa pada awalnya Ayah bersedia menolong Queen namun kemudian menyesal? karena Ayah dari kekasih Queen itu teman Ayah. Sedangkan orang yang merebut kekasih Queen adalah putri dari orang yang pernah sangat Ayah perjuangkan." Cukup membingungkan memang kalimat Rimba, tapi bagi orang yang pernah mendengar kisahnya pasti akan paham. Seperti Leon yang pada akhirnya mengangguk-angguk memahami.
__ADS_1
"Kalau rencana Queen berhasil maka Senja tidak akan pernah kembali lagi ke dunia ini. Tapi kalau rencananya gagal. Maka dia sendiri bisa celaka atau bahkan mati," jelas Rimba lagi yang kembali membuat Leonil mengangguk-anggukkan kepalanya.
"Lalu apa yang harus aku lakukan, Ayah? "
"Seperti yang Ayah bilang tadi. Gagalkan rencana Queen. " Tegas Rimba sekali lagi
"Tapi bagaimana caranya? Queen kan sudah pulang? "
"Susul dia ke sana. "
"Apa? " Leon sungguh tak percaya pada perintah ayahnya baru saja.
"Aku harus jauh-jauh menyusul dia kesana hanya untuk menggagalkan rencananya, yang benar saja Ayah? " Jujur saja, Leon memang sempat terkesima oleh cerita ayahnya tadi. Tapi untuk membantunya sampai sejauh itu, tentu ia tidak akan mau.
"Iya, Leon. Mau bagaimana lagi. Kau harus segera kesana sebelum Queen benar-benar menjalankan rencananya. "
"Maaf, Ayah. Aku tidak bisa. " Tolak Loen tetap pada keputusannya. Bukan bermaksud membangkang pada sang Ayah, namun Leon merasa kalau semua itu bukan tanggung jawabnya.
"Aku sangat simpati dengan cerita masa lalu Ayah, tapi maaf aku benar-benar tidak bisa membantu. Lagipula itu bukan urusanku kan?"
Rimba menghela nafasnya. Bukan hal yang mengejutkan kalau putranya menolak. Rimba tahu Leon memang punya kepedulian yang sangat tipis untuk orang lain. Terlebih jika itu tidak ada hubungannya sama sekali dengan dirinya.
"Memang bukan urusanmu, tapi apa salahnya menolong. Setidaknya demi Queen, teman masa kecilmu. Ayah hanya tidak mau Queen mengalami hal yang sama seperti Ayah. Ia kalau dia selamat, kalau tidak? " Meski tahu seperti apa putranya, tapi Rimba masih tetap berusaha. Entahlah, dia hanya tidak ingin sesuatu menimpa mereka semua.
"Ayolah, Ayah. Untuk apa menolong. Queen sendiri yang menginginkan itu kan? dan kalau soal teman-teman yang Ayah sebutkan tadi, bukankah aku tidak mengenal mereka? jadi kenapa aku harus menolong. Lagipun aku banyak pekerjaan disini. Mana mungkin ku tinggal begitu saja. " Panjang lebar Leon menyampaikan keberatannya soal perintah sang Ayah. Karena memang sekali lagi, dia merasa tidak punya tanggung jawab untuk itu.
"Kalau soal pekerjaan kau bisa menyerahkannya pada orang kepercayaan mu. Atau Ayah mungkin juga bisa membantu. Lagipula ini tidak akan memakan waktu lama, Leon."
Leon nampak berpikir sejenak lalu kemudian menggeleng.
"Tetap tidak bisa, Ayah. Semua itu bukan urusanku. Dan bukan tanggung jawabku juga. Biarlah itu jadi urusan Queen dengan mereka. Atau setidaknya biarkan Queen mencobanya." Sebenarnya alasan Leon cukup bisa di terima. Toh memang Queen sendiri yang ingin menjerumuskan diri dalam bahaya. Dan tentang Wulan, Senja atau siapapun itu, bukankah Leon tidak mengenal mereka. Jadi cukup bisa di maklumi kalau dia tidak peduli.
Namun berbeda dengan Rimba. Pria itu merasa sangat menyesal telah memberi tahu Queen. Seharusnya dia tidak menolongnya dan membiarkan gadis itu menyerah dengan sendirinya.
Apakah harus dia sendiri yang datang kesana? tidak-tidak. Rimba langsung menggelengkan kepalanya. Dia sudah berjanji untuk tak lagi datang ke tempat itu. Tempat yang menorehkan banyak luka baginya.
Tapi Rimba juga tidak mungkin membiarkan Queen menjalankan rencananya. Sebab itu akan berbahaya bagi mereka semua. Dan kalau sampai itu terjadi, Rimba pasti akan sangat merasa bersalah.
Rimba kini benar-benar tak tahu harus berbuat apa. Putra semata wayangnya sudah menegaskan kalau ia tak mau menolong. Pria itu bahkan kini lebih memilih beranjak dari pada harus terus mendengar desakan Ayahnya.
Meski jujur saja Leonil merasa iba kepada Queen yang sampai seperti orang gila mengejar cinta yang sudah bukan lagi miliknya.
Leonil merasa Queen terlalu berharga untuk melakukan itu. Tapi mau bagaimana lagi, jika itu memang sudah menjadi kemauan nya, ia bisa apa? Lagipula benar yang di bilangnya tadi, itu semua bukan urusannya.
__ADS_1
Jadi menurut Leon, menolak perintah Ayahnya adalah langkah paling benar yang di ambilnya. Meski harus di akui, semua cerita ayahnya tadi dan juga kegilaan Queen sangat menyita ruang pikirnya saat ini.