Pacarku Setengah Manusia

Pacarku Setengah Manusia
Lolongan kesakitan


__ADS_3

Ada banyak hal di rasakan Senja saat ini. Tentang sakit yang makin menyiksa dan menguras habis seluruh energinya, tentang Dirga yang tak kunjung datang dan juga tentang orang-orang yang sudah mengetahui siapa dirinya. Semua rasa itu berbaur menjadi satu menciptakan perasaan sakit, cemas dan dan juga ketakutan yang bergabung menyiksa gadis bernetra merah itu.


Namun sayang tak ada yang bisa di lakukannya selain merintih menahan sakit sambil terus memegangi dadanya. Ia ingin langsung menenggelamkan diri sekarang juga. Tapi berhubung Dirga belum datang dan di situ juga masih ada Arya, maka Senja sebisa mungkin menunda waktunya.


Ia tentu tidak ingin Arya melihat dengan mata kepalanya sendiri saat gadis itu tenggelam di telan lautan. Meski mungkin Arya sudah menaruh curiga padanya, tapi tetap saja Senja tak ingin terang-terangan menunjukan identitasnya.


Tapi rasa sakit ini kian menggerogoti dirinya. Matanya bahkan sudah setengah terpejam menahan sakit yang kian merajam. Rintihan dan bahkan lolongan kesakitan juga terus terdengar membuat Arya yang berada disitu jadi bingung harus melakukan apa.


"Senja, katakan apa yang harus aku lakukan, katakan bagaimana caranya aku harus menolongmu?" tanya Arya masih dengan suara yang bergetar. Ia benar-benar merasa ngeri sekaligus kasihan melihat Senja, tapi dia tak tahu bagaimana cara menolongnya.


Sebenarnya sejak Senja melolong dan semakin menunjukan wajah mengerikannya tadi, Arya sudah sangat ingin kabur dari situ. Sumpah Demi apapun pria itu ngeri melihatnya. Terlebih suasana yang memang sudah mulai gelap menambah kesan seram yang kian terasa. Nyali Arya langsung menciut seketika. Tapi demi mengingat kalau Senja itu adalah temannya, maka sebisa mungkin ia berusaha memberanikan diri.


"To--tolong cari Dirga. Aku bu-butuh dia sekarang." terbata-bata Senja mengucapkan kalimat itu. Mulutnya terasa semakin kelu untuk bicara.


"Dirga?" gumam Arya seolah baru teringat nama itu.


Benar, Arya juga berpikir kalau Senja butuh pertolongan. Dan orang yang dia anggap paling tahu kondisi Senja tentulah Dirga.


Sial, kenapa tidak kepikiran dari tadi. Bathin Arya mengutuk kebodohannya sendiri.


Pria berkulit sawo matang itu lantas mengambil ponselnya lalau menghubungi Dirgantara. Tapi sama seperti tadi, Dirga tetap tidak bisa di hubungi.


"****, kemana kau bodoh, ayolah Senja membutuhkanmu. " Sambil mengumpat Arya berusaha sekali lagi menghubungi Dirga tapi nihil, pria itu memang tidak bisa di hubungi. Entah apa yang sebenarnya terjadi pada Dirga. Disaat Senja benar-benar membutuhkannya dia justru tidak ada.


"Dirga tidak bisa di hubungi, Senja. Bagaimana ini? atau kita ke rumah sakit saja? "


Senja langsung menggeleng lemah. Jangankan ke rumah sakit, bahkan ke rumahnya sendiri pun dia tidak ingin sekarang. Karena yang dia butuhkan hanyalah Dirga


"Cari dia. "


"Hah, lalu kau bagaimana? mana mungkin aku meninggalkanmu?" Meski cukup ngeri melihat penampakan Senja, tapi tetap saja Arya merasa tidak mungkin meninggalkan Senja sendirian dalam kondisi seperti ini.

__ADS_1


"Aku tidak apa-apa, pergilah. A-aku mohon cari Dirga. "


Perintah Senja membuat Arya makin gusar. Ia benar-benar bingung sekarang antara harus pergi atau tetap disini. Tapi seandainya disini pun dia tetap tidak bisa melakukan apa-apa karena memang dia tidak tahu cara menolong Senja.


"Baiklah, Senja. Aku akan mencari Dirga." Setelah berpikir dalam waktu sesingkat-singkatnya Arya akhirnya mengambil keputusan itu.


"Aku akan meminta seseorang untuk menemanimu. "


"Jangan! " cegah Senja langsung. Ia ingin Arya mencari Dirga juga karena ia tidak ingin Arya melihat langsung seandainya ia memang harus tenggelam sebelum Dirga datang.


"Jangan biarkan siapapun datang kemari selain Dirga. "


"Tapi kenapa, Senja. Kau butuh pertolongan." Arya makin tidak mengerti. Benar-benar tidak mengerti.


"Aku tidak ingin ada yang melihatku seperti ini, aku tidak mau mereka tahu kalau aku bukan-------"


Senja tak berani melanjutkan kalimat nya. Ia bahkan merasa bodoh karena baru saja kelepasan mengatakan itu. Arya pasti jadi makin curiga padanya. Senja sendiri tidak tahu kenapa ia hampir kelepasan membeberkan identitasnya. Mungkin karena keadaan yang makin menyiksanya sementara Arya terus saja bertanya.


"Aryaa," Senja benar-benar sudah tak tahan. Isak tangis nya pecah seiring rasa yang kian menyerang.


"Tolong cari Dirga, waktuku sudah tidak bnyak lagii.." Sambil menangis gadis berpupil merah itu mengatakannya. Arya di anggap nya terlalu banyak bertanya. Meskipun wajar saja karena memang Arya tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi dengan Senja.


"Baiklah, baiklah. Aku akan cari Dirga. Bertahanlah. Aku akan datang secepatnya." Demi melihat kondisi Senja yang kian mengerikan. Arya bergegas pergi dari situ.


Meski berbagai pertanyaan muncul di benaknya tentang siapa Senja sebenarnya, terlebih gadis itu baru saja mengatakan kalau dia bukan---, bukan apa, apa mungkin bukan manusia seperti yang di tuduhkan orang-orang tadi?


Arya menggeleng kan kepalanya sambil terus berlari di antara keremangam malam yang mulai menyapa. Suasana pantai saat ini benar-benar terasa angker baginya.


Arya tidak tahu sama sekali kalau selepas ia meninggalkan Senja ternyata ada dua orang pria yang diam-diam mendekati gadis itu. Kedua pria itu memang sejak tadi menunggu Arya pergi.Seandainya Arya tidak juga pergi, mereka bahkan berencana melenyapkan pria berkulit sawo matang itu.


Pria berjaket hitam yang tadi menabarak Senja dan pria yang mengatakan kalau Senja bukan manusia, keduanya berjalan terburu-buru mendekati pohon nyiur paling ujung tempat Senja terbaring lemah.

__ADS_1


Salah satu di antaranya menggenggam sebuah sebuah belati emas.


"Hay cantik kita bertemu lagi, " Sapa salah satunya begitu sampai di hadapan Senja.


"Si-siapa kalian? " Senja terkejut bukan main melihat ada orang lain yang mendekatinya. Padahal ia sudah berpesan pada Arya agar tak seorangpun mendekat.


"Hey kau tidak ingat pada kami?" Teman dari si pria berjaket angkat bicara. Ia memperhatikan Senja dengan seksama.


"Kau memang benar-benar bukan manusia rupanya, " ucapnya lagi melihat Senja yang semakin mengerikan. Tapi keduanya sepertinya tidak takut sedikitpun melihat penampakan Senja.


Senja sendiri begitu memperhatikan dengan teliti kedua pria itu langsung teringat kalau keduanya adalah orang yang menabrak dan merundungnya tadi. Seketika pikiran buruk mulai menderanya. Mau apa mereka kesini?


"Iya benar. Aku tidak menyangka kalau hantu itu benar-benar ada. " Pria berjaket membenarkan asumsi temannya.


"Ma- mau apa kalian? " tanya Senja lagi. Ia benar-benar merasa takut sekarang. Ia yakin kedua pria ini pasti bermaksud tidak baik padanya. Senja bingung bagaiamana cara menghadapai mereka sementara ia sudah tidak punya kekuatan sedikitpun.


"Mau melenyapkan mu hantu cantik. " Pria berjaket menjawab pertanyaan Senja sembari memperlihatkan belati emas yang langsung membuat Senja gemetar ketakutan. Ia tahu betul kalau terkena belati itu maka ia akan langsung lenyap dan tak bisa kembali lagi.


"Sudah jangan banyak bicara, cepat lenyapkan dia. " Pria satu lagi memberi aba-aba kepada pria berjaket untuk tak membuang-buang waktu. Dan mendengar komando dari rekannya, pria berjaket langsung mendekati Senja.


"Jangan, jangan. Aku mohon. " Senja menghiba meminta pria itu menghentikan aksinya.Tapi tentu saja tidak di indahkan oleh kedua pria itu.


Dia bahkan semakin mendekat sambil mengacungkan senjatanya. Pria itu mendorong tubuh Senja terlebih dahulu sebelum menghunus kan belati itu ke dada Senja.


Jleb !


Belati itu tepat mengenai dada Senja karena memang gadis itu sudah tak punya kekuatan lagi untuk menepis. Darah segar langsung keluar dari bekas tancapan itu


"Aaakkkhh.. " Lolongan kesakitan Senja terdengar cukup kencang memecah kesunyian malam. Lolongan yang terdengar sangat mengerikan. Dan entah kenapa tiba-tiba membuat pria itu ketakutan. Padahal mereka tadi terlihat begitu berani. Tapi setelah Senja melolong panjang nyali mereka jadi menciut seketika. Terlebih suasana pantai yang dirasa mereka mendadak berubah menyeramkan.


"Cepat tikam sekali lagi. Nona itu bilang harus dua kali supaya gadis ini bisa cepat mati. " Teman dari pria berjaket kembali memberi ultimatum. Tak di pungkiri ia juga tiba-tiba merasa takut. Untuk itulah dia meminta temannya agar secepatnya menyelesaikan pekerjaan mereka. Supaya mereka juga bisa segera pergi dari tempat ini

__ADS_1


Pria berjaket mengangguk. Meski dengan tangan gemetar karena mulai di serang rasa takut, pria itu kembali menghunuskan senjatanya.


__ADS_2