Pacarku Setengah Manusia

Pacarku Setengah Manusia
Lolongan panjang


__ADS_3

Satu jam setelah makan malam.


Dirga membawa Senja ke tempat yang jauh dari keramaian. Dia ingin menenangkan Senja. Gadis itu nampak kacau sekali tadi.


Dirga ingin memperbaiki suasana hati Senja dengan membawanya ke tempat yang sunyi, dan pantai menjadi tempat yang langsung singgah di ingatanya saat dia berfikir akan kemana.


Saat ini ia dan Senja sudah berada disana. Di pohon nyiur paling ujung. Dirga sengaja membawa Senja ketempat ini karena menurutnya tempat ini sangat pas untuk menyendiri, di samping karena tempat ini juga merupakan tempat favorit mereka.


Suara deburan ombak di keheningan malam terasa begitu menenangkan. Pendar cahaya dari lampu pantai di tambah cahaya bulan yang malam ini kebetulan sedang bulat sempurna menjadi penerangan bagi mereka.


"Kau baik-baik saja kan? " Dirga memperhatikan Senja dengan seksama. Gadis itu tak bersuara sejak tadi. Saat dalam perjalanan kemari pun Senja hanya diam mematung. Dirga tahu Senja sedang berusaha menguasai diri, terlihat dari mata merahnya yang masih saja menyala.


Dan pria itu sengaja membiarkan Senja dengan marahnya, ia tak ingin buru-buru bicara karena takut gadis itu akan semakin hilang kendali.


"Senja," panggilnya lagi karena Senja masih tetap diam.


Senja akhirnya menggeleng


"Aku tidak baik-baik saja, aku kesal sekali sekarang, Dirga. "


"Tidak apa, tenanglah, " Tangan Dirga bergerak mengusap puncak kepala Senja.


"Orang tuamu pasti ngeri melihatku, setelah ini pasti mereka akan melarang mu dekat dengan ku."


"Hust jangan sembarang menyimpulkan. Aku yakin mereka tidak seperti itu. Mereka hanya terkejut, nanti biar aku yang menjelaskan, aku yakin mereka pasti paham."


Kalimat bijak Dirga di tanggapi Senja dengan tatapan dingin.


"Kau hanya sedang menghiburku kan? kau sendiri juga takut dengan reaksi mereka nanti kan?"


"Tidak Senja, mereka itu orang tuaku. Aku tahu mereka tidak akan membenci orang tanpa sebab. "


"Apa, tanpa sebab? " Senja mengulang ucapan Dirga dengan intonasi yang mulai meninggi.


"Sebabnya sudah jelas kan? mereka dengan jelas melihatku berubah wujud tadi. Ibumu bahkan sudah dua kali melihatnya."


"Aku tahu, Senja. Tapi kau tenang saja, aku sudah punya alasan yang tepat untuk itu." Mengusap pundak Senja, mulai khawatir melihat amarah Senja yang belum juga mereda.


"Aku benci dengan diriku sendiri ! aku benci karena tidak pernah bisa menguasai diri ! aku benci semua yang ada padaku !" setengah teriak Senja mengucapkan kalimat itu. Gadis berambut sebahu itu lantas bangkit lalu berlari ke bibir pantai.

__ADS_1


Dirga yang kaget dengan sikap Senja langsung berusaha mengejar.


"Aaaakkkhh...!" Senja menjerit sekencang-kencangnya. Jeritanya bahkan tak mampu di redam oleh gemuruh ombak. Dan bersamaan dengan itu, suasana nampak jadi mencekam. Binatang malam nampak berterbangan seolah takut mendengar teriakan Senja. Lolongan anjing liar pun turut terdengar seakan-akan turut merasakan kesedihan ataupun kemarahan Senja.


Dirga yang berhasil menyusul Senja langsung menghentikan langkahnya demi mendengar teriakan Senja yang benar-benar mirip lolongan srigala yang kesakitan. Pria tampan itu gemetar di tempatnya. Terlebih suasana yang juga mendadak berubah seram. Dan entah kenapa, ombak laut juga dirasa Dirga jadi makin besar.


"Aaakkkhhh..! " teriakan kedua kembali terdengar. Bahkan kali ini lebih panjang dari sebelumnya. Senja menjatuhkan dirinya dan menggunakan lututnya sebagai tumpuan, kedua tangannya mencengkeram butiran pasir dengan sekuat tenaga.


"Aaakkkhhh..!" untuk ketiga kalianya Senja menjerit. Gadis setengah manusia itu sudah nyaris menyerupai biantang yang terluka. Dan sepersekian detik setelahnya ombak laut tiba-tiba mengganas. Deburannya bahkan cukup jelas terdengar.


Byuur.. Senja yang tepat berada di bibir pantai basah kuyup tertampar ombak, tubuhnya juga ikut terseret beberapa centi saking besarnya ombak.


Melihat itu, Dirga yang sedari tadi di buat terpaku oleh lolongan Senja jadi langsung tersadar. Pria itu bergerak cepat memeluk Senja yang makin terseret. Tapi Senja seolah tak peduli, gadis itu masih terus saja melolong seolah hendak mengeluarkan segala sesak di dadanya.


"Senja, cukup Senja." Dirga menyerat paksa tubuh Senja agar tak semakin terbawa ombak. Setelah benar-benar menepi dan aman dari jangkauan ombak, Dirga memeluk gadis yang hatinya tengah terluka itu.


"Senja, tenanglah. Aku mohon jangan seperti ini." Hati Dirga ikut hancur melihat kekasihnya terpuruk begitu.


Pria berdada bidang itu mengangkat wajah Senja yang terus tertunduk. Namun saat kepala Senja terangkat, Dirga justru di buat terkejut bahkan sampi beringsut ke belakang.


Wajah Senja sangat mengerikan. Berkali-kali lipat lebih mengerikan dari biasanya. Meski di antara keremangan malam, tapi Dirga bisa melihat dengan jelas bagaimana wajah Senja berubah semerah darah. Matanya yang biasanya kemerahan sekarang berubah putih dengan bola mata di bagian tengah merah menyala. Di tambah lagi rambutnya yang terurai kedepan menutupi pipi, membuatnya jadi makin menakutkan.


"Oh, ti--tidak, aku hanya terkejut. " Berusaha sebisa mungkin menutupi gugup


"Tidak masalah kalau kau takut. Aku memang menakutkan, wajar kalau semua orang takut padaku ... Aku memang menakutkaaaan !"


Pada kalimat terakhirnya Senja melafalkannya dengan sangat kencang, persis seperti lolongan panjangnya tadi.


Dirga yang tadi sempat gugup kini berubah iba melihat gadis itu seolah tengah mengutuk nasibnya sendiri.


"Tidak, Senja. Kau tidak menakutkan. " ucapnya seraya kembali memeluk Senja.


"Tenang lah, tenang. Aku mohon jangan seperti ini"


"Aku memang menakutkan, aku seperti iblis, aku muak dengan diriku sendiri, hiks, hiks. " Isakan Senja mulai terdengar. Tangis yang sedari tadi ia pendam akhirnya pecah juga. kenyataan getir yang selama ini selalu coba ia terima kini mencapai puncaknya dan membuatnya tak kuasa lagi membendung.


"Husstt, jangan bicara begitu. Tidak baik membenci diri sendiri, itu saja sama kau membenci takdir."


"Aku memang membenci takdirku, " kali ini suara Senja terdengar lirih namun justru terasa begitu menyayat.

__ADS_1


"Tidak, Senja. Kau tidak boleh membenci takdir. Kau harus bisa berdamai dengan keadaan, tak peduli seburuk apapun kanyataan. " Entah darimana Dirga mendapat kata-kata bijak itu, semua seolah keluar begitu saja dari lisannya. Mungkin karena melihat kondisi Senja membuatnya jadi terbawa suasana.


"Lagipula aku tetap menerimamu, aku tetap mencintaimu walau seperti apapun wujud mu. "


"Kau tidak takut padaku? " Senja mendongak menatap Dirga yang masih setia memeluknya.


"Tidak sama sekali. Aku menyayangimu, mana mungkin aku takut melihatmu. "


"Benarkah? " Suara Senja mulai terdengar stabil seiring amarahnya yang kian mereda.


"Hmm," Dirga mengangguk pasti.


"sudahlah jangan sedih lagi. " tangannya kembali mengusap puncak kepala Senja.


"Dan tolong jangan seperti ini lagi, jangan menenggelamkan diri lagi, kau membuat ku takut."


"Kau takut padaku, kau bilang tadi tidak takut padaku? "


Dirga tersenyum semanis mungkin.


"Aku bukan takut padamu, tapi aku takut kehilanganmu. Kalau tadi kau benar-benar terseret ombak bagaimana?"


"Hihihi, " Lihatlah gadis yang baru saja mengamuk dan membuat takut semua makhluk sekarang sudah bisa tertawa. Terbukti kalau Dirga memang selalau bisa meredakan amarahnya.


"Walaupun aku terseret ombak, aku tidak akan kenapa-napa, Dirga. Kau lupa siapa aku? Aku ini cucu penguasa laut. Mana mungkin laut bisa menenggelamkanku. "


Dirga mengangguk-angguk.


"Benar, kau kan cucu penguasa laut, terkadang aku lupa siapa dirimu. " Hal-hal di luar logika yang selama ini sempat tak di percaya kini seolah memaksanya untuk bisa menerima


Senja menatap Dirga serius, gadis itu tiba-tiba teringat peristiwa makan malam tadi. Peristiwa yang membuat dia akhirnya mengamuk dan membenci takdir hidupnya.


"Maaf soal makan malam tadi, aku sudah mengacaukan semuanya, " ucapnya sambil tertunduk. Menyesal karena lagi-lagi tak bisa menahan diri.


"Sudahlah, jangan mengingat itu lagi. Semuanya sudah terjadi. Kau tidak perlu mengkhawatirkan apapun lagi. Semuanya akan baik-baik saja. " Dirga terus berusaha meyakinkan, kendati dirinya sendiri sebenarnya tak yakin.


"Bajumu basah semua, ayo pulang dan segera ganti bajumu. " Dirga membimbing Senja untuk berdiri. Keduanya lalu berjalan bersama menuju mobil.


Suasana pantai sudah sangat sunyi. Mungkin karena lolongan panjang Senja tadi yang juga di iringin lolongan anjing liar membuat semua orang yang masih berada di pantai gegas pergi secepat mungkin.

__ADS_1


Suara lolongan seperti itu memang kadang terjadi, kalaupun bukan suara Senja, mungkin suara makhluk lain yang juga penghuni laut. Dan kalau suara menyeramkan itu sudah terdengar, siapapun yang mendengar nya pasti memilih kabur sejauh mungkin.


__ADS_2