
"Dari mana, sayang? Kenapa baru pulang?"
Damar menginterogasi istrinya yang baru saja sampai di rumah.
"Maaf, Sayang. Aku keasyikan belanja tadi sampai lupa waktu." Melati menjawab sembari meletakkan beberapa paperbag di atas meja ruang tengah tempat Damar sedang bersantai. Ralat bukan bersantai, tapi lebih tepatnya menunggu. Menunggu istrinya yang sudah pergi dari siang tapi sampai sore belum juga pulang.
Padahal setelah dari kantor Dirga, Damar buru-buru pulang karena takut Melati sudah sampai terlebih dahulu. Tapi nyatanya perempuan itu malah baru sampai beberapa jam kemudian.
Damar hanya menggeleng-gelangkan kepalanya. Tak sedikitpun tertarik untuk bertanya apa saja yang di beli istrinya. Wanita itu memang suka belanja, jadi bukan hal yang aneh bagi Damar melihatnya pulang dengan banyak bawaan.
"Queen tolong bawa masuk barang barang Bibi tadi. " Teriakan Melati sempat membuat sang suami memicing heran. Sudah sebanyak ini ternyata masih ada lagi? Bathinnya namun lagi-lagi hanya bisa menggelengkan kepalanya saat melihat Queen masuk membawa beberapa paperbag lagi.
Damar yang tadinya sempat mencurigai kalau istrinya sedang merencanakan sesuatu dengan Queen menjadi sedikit lega karena kedua wanita yang sama-sama hobi belanja itu ternyata hanya sedang menyalurkan hobinya.
Meski tetap saja sebelah hatinya tetap yakin kalau ada yang sedang Queen rencanakan untuk memisahkan Dirga dan Senja.
Damar bukannya ingin menduga-duga ataupun berburuk sangka pada Queen, tapi melihat betapa gilanya gadis itu mengejar Dirga, Damar yakin dia belum akan menyerah begitu saja. Pasti dia masih akan terus mencari bcara agar ia bisa mewujudkan mimpinya.
"Letakkan di sini saja. " Perintah Melati lagi setelah Queen sampai di hadapan mereka.
Queen tanpa banyak bicara langsung menuruti kemauan Melati. Ia sedang berusaha merebut hati perempuan itu supaya bisa mempermudah jalannya mendapatkan Dirga, jadi apa pun perintahnya pasti akan Queen lakukan.
__ADS_1
"Baik, Bibi. Tapi aku akan langsung pulang. Aku masih ada urusan, " pamit Queen usai mengerjakan perintah Melati. Sepertinya gadis itu merasa tidak nyaman dengan Damar yang memperhatikannya dengan pandangan penuh tanda tanya. Queen bahkan tak berani bertatapan terlalu lama dengan pria itu. Ia hanya tersenyum sesaat lalu menganggukan kepalanya.
"Sore, Paman." sapanya hanya untuk sekedar berbasa-basi.
Tapin reaksi dingin Damar membuat nyali Queen langsung menciut. Pria itu hanya mengangguk pelan dan tanpa tersenyum sama sekali.
"Baiklah.Bibi juga akan langsung mandi." Melati mengambil beberapa paperbag lalu membawanya naik ke kamar sementara Queen langsung keluar dari rumah besar itu.
Namun langkah Queen terhenti saat ia telah sampai di depan mobilnya dan bersiap hendak membuka pintu mobil.
"Tunggu."
Teriakan Damar membuat gadis itu langsung menoleh.
"Aku tidak tahu apa yang sedang kau rencanakan," ucap Damar langsung tanpa basa-basi.
"Tapi apapun itu aku mohon berhentilah. Jangan mengganggu hubungan Dirga dan Senja lagi. "
Deg ! Ultimatum Damar seperti sebuah sebuah ledakan dasyat di dada Queen yang langsung meluluh lantakan hatinya. Damar secara tidak langsung memberi sinyal kalau ia menyetujui hubungan Dirga dengan gadis aneh itu. Queen terkejut bukan main. Terlebih Damar juga bisa menebak kalau dia merencanakan sesuatu untuk gadis itu.
"Aku hanya berusaha mempertahankan apa yang seharusnya jadi milikku, Paman. Lagipula apa Paman rela Dirga berhubungan dengan makhluk itu? "
__ADS_1
Damar tersenyum tipis. Ia merasa ucapan Queen barusan sangatlah konyol. Bisa-bisanya dia mengklaim kalau Dirga itu miliknya.
"Biarkan Dirga menentukan siapa yang berhak memilikinya. Dan selama dia bahagia maka aku akan menerima siapapun yang menjadi pilihannya. "
"Tapi, Paman---"
"Queen.. " Damar langsung memotong. Tak memberi kesempatan gadis itu bicara.
"Jangan membutakan diri untuk sesuatu yang sudah jelas terlihat. Dirga lebih memilih Senja, itu kenyataan nya dan kau harus bisa menerima itu. " Tanpa bermaksud mematahkan semangat Queen ataupun menyakiti hatinya. Tapi Damar hanya ingin gadis itu bisa menerima kenyataan. Ia tak ingin Queen jadi seperti dirinya yang bodoh dulu. Mengejar Wulan meski sudah jelas-jelas Wulan lebih memilih orang lain.
"Jadi Paman mohon berhentilah. Jangan membahayakan dirimu sendiri. Kau tidak tahu dengan siapa kau berhadapan."
Membahayakan? Apa Paman Damar tahu apa yang sedang ku rencanakan? Apa Bibi Melati memberi tahu rencanaku?
Queen tidak menanggapi ucapan Damar, namun hatinya sibuk menerka-nerka. Queen tentu tidak tahu kalau Damar pernah berada di posisinya dan bahkan nyaris mati karena kegilaannya.
"Tapi aku belum kalah, Paman. Jadi biarkan aku tetap berusaha. "
Lagi, Damar hanya mampu tersenyum tipis mendengar kalimat pantang menyerah Queen. Sekali lagi dia pernah merasa sama persis seperti Queen. Punya jiwa pantang menyerah yang cukup tinggi. Namun akhirnya ia sadar kalau itu bukanlah semangat pantang menyerah, melainkan suatu kebodohan.
"Ya sudah terserah kau saja. Paman hanya mengingatkan." Merasa percuma bicara dengan gadis keras kepala ini, Damar akhirnya menyerah.
__ADS_1
"Tapi yang jelas jangan menyeret istriku ke dalam masalahmu. Kalau kau memang ingin berusaha maka berusahalah sendiri. Tapi hati-hati, kita tidak pernah tahu dengan siapa kita berhadapan." Sekali lagi Damar menegaskan kalimat itu. Dia tidak tahu kalau Queen sudah mengetahui tentang siapa Bayu dan Senja sebenarnya. Damar tidak tahu kalau istrinya telah mengingkari amanahnya.
Usai berkata begitu Damar memilih pergi. Setidaknya dia sudah berusaha mengingatkan. Kalau gadis itu tetap bersikukuh, yah itu terserah dia.