
"Bibi Mel. " Queenzi berlari kecil menghampiri ibunda Dirga di sudut ruangan sebuah resort.
Tadi pagi Bibi Mel memintanya untuk bertemu, katanya ada yang mau di bicarakan.
Melati langsung tersenyum melihat mantan kekasih putranya datang.
"Duduklah, Queen. Kita ngobrol sambil makan ya, Bibi sudah pesankan makanan untukmu susuai pesananmu tadi. "
"Baik, Bi. " Queen duduk sambil meletakkan tas branded nya.
"Dirga belum datang, Bi? " tanya Melati karena tak melihat sosok tinggi tampan itu. Padahal tadi di telepon Bibi Mel bilang akan mengundang Dirga juga.
"Belum, dia bilang akan sedikit terlambat tadi. Makanlah dulu. " Melati menyodorkan pesanan Queen.
"Kau harus bisa mendapatkan Dirga, Queen. Bibi benar-benar tidak mau kalau gadis aneh itu yang jadi pendamping Dirga, " Titah Bibi Mel sambil memulai suapan pertamanya.
Queen tersenyum sambil mengunyah makanannya. Iya yakin kalau rencananya kemarin malam pasti berhasil. Terbukti Bibi Mel semakin menunjukan sikap antipatinya terhadap Senja.
'Kerja pelayan di resort kemarin benar-benar bagus, " bathin Queen.
"Tentu Bibi. Aku juga sangat menginginkan itu, tapi tentu saja aku butuh bantuan Bibi. Dirga sepertinya lumayan sulit di taklukan. Gadis aneh itu benar-benar sudah berhasil merayunya. "
"Kau tenang saja, Bibi ada di pihakmu dan Bibi akan memberi dukungan penuh untukmu." Melati terlihat begitu bersemangat. Dia bahkan mengepalkan tangan sebagai bentuk dukungannya.
"Kalo begitu Bibi harus terus meyakinkan Dirga kalau gadis aneh itu tidak baik untuknya." Queen merasa senang bukan kepalang melihat Bibi Mel yang terang-terangan mendukungnya. Meski itu tetap saja tidak bisa di jadikan jaminan kalau Dirga akan menerimanya kembali.
"Kau tenang saja, Queen. Bibi sudah melakukannya. Ayahnya Dirga bahkan juga tidak menyetujui hubungan mereka. "
"Benarkah? " antusis Queen. Matanya langsung berbinar mendengar itu.
"Hmm," Bibi Mel mengangguk sambil meneguk minuman dingin dari gelasnya.
"Pokoknya bagaimana pun kau harus bisa memisahkan mereka. Bibi tidak sudi berbesan dengan mantan kekasih suami Bibi. "
Queen membelalakan matanya.
"Mantan, maksud Bibi? "
Bibi Mel agak sesikiit malu harus mengatakannya, tapi pada akhirnya informasi itu terucap juga dari lisannya.
"Eum sebenarnya ini agak konyol, tapi ya begitulah. Ibunya Senja itu mantan kekasih Ayahnya Dirga. "
Queen yang baru saja menyudahi sesi makan siangnya makin terkaget-kaget di buatnya. Matanya makin membulat sempurna.
"Benarkah, Bibi? " tanyanya tak percaya.
"Hmm, itu sebabnya Bibi tidak ingin mereka bersatu. Bibi tidak mau kisah yang sudah terkubur lama itu terungkit lagi. "
Melati mengangguk-angguk sambil menyeringai. Rasanya seperti mendapatkan doorprize mendengar berita mengejutkan itu.
__ADS_1
Melati yakin langkahnya untuk kembali mendapatkan Dirga makin terbuka lebar. Kebencian ibunya Dirga terhadap gadis aneh itu seperti sudah mendarah daging. Dan itu tentu akan semakin mempermudah langkahnya.
"Bibi tenang saja, mari sama-sama kita pastikan kalau kisah lama itu tak akan terjadi lagi. " Queen merasa berada diatas angin sekarang. Meski sekali lagi, fakta itu tetap tidak bisa menjamin apa pun, tapi gadis itu sudah terlanjur senang bukan kepalang.
Dan kebahagiaan Queen jadi semakin lengkap saat mendengar suara orang yang sangat di harapkannya.
"Ibu."
Meski belum melihat wujudnya nya karena posisi Queen yang membelakangi, tapi gadis itu yakin kalau suara barusan adalah milik Dirga.
Dan benar saja, beberapa detik kemudian pemilik suara bariton itu sudah ada di hadapannya.
"Queen, kau disini juga? " Dirga tentu saja terkejut melihat Queen. Ia pikir hanya akan makan berdua dengan ibunya saja, tak menyangka kalau ternyata gadis itu juga ada disitu.
"Iya, Dirga, " jawab Queen sambil tersenyum ramah.
"Ibu yang mengundangnya? " Dirga yakin bukan kebetulan Queenzi berada disini. Pria itu mulai mencium bau-bau persekongkolan di antara keduanya.
"Iya, Dirga. Ibu pikir akan lebih seru kalau kita makan bertiga, jadi lebih ramai. " Si ibu cantik meringis.
"Ohya ini makanan mu, makanlah. Ibu dan Queen sudah makan duluan tadi. "
Dirga melirik sekilas piring yang di sodorkan ibunya. Isinya ternyata adalah makanan favoritnya. Tapi entah kenapa kali ini makanan itu tidak terlihat menggoda seperti biasanya. Dirga seperti sudah kehilangan selera makannya.
Tapi demi menghargai perasaan sang ibu, Dirga akhirnya menyantap juga hidangan itu. Ia tidak mungkin mengabaikan ibunya. Terlebih kemarin ia sempat berdebat sengit dengan orang tua perempuannya itu. Suasana di rumahnya bahkan masih canggung sampai sekarang.
Dirga mencoba berpikir positif. Mungkin makan siang kali ini adalah usaha ibunya untuk kembali menormalkan keadaan. Dirga cukup mengerti itu.
"Enak kan? ibu sengaja memesankan makanan kesukaan mu. "
"Iya, Bu. Terimakasih. "
Dirga menyudahi makan siangnya setelah beberapa kali suapan.
"Tapi sepertinya aku tidak bisa berlama-lama. Aku harus kembali kekantor. Ada meteeng lanjutan nanti. "
"Hey kenapa terburu-buru sekali, kau bahkan baru datang. " Ucapan Dirga langsung mendapat penolakan tegas dari sang ibu.
"Tapi aku harus bekerja, Bu. "
"Ibu, tau. Tapi jam makan siang masih cukup lama, " Ibu melirik arlojinya.
"Kau masih punya waktu beberpaa menit lagi, santai saja. "
Dirga kembali menghela nafasnya. Ibunya benar-benar menyudutkan nya. Tapi sekali lagi dia tidak punya pilihan lain selain tetap bertahan disini.
"Oh ya, Dirga. Bagaimana pekerjaanmu di kantor, lancar kan? " Pertanyaan itu muncul dari bibir Queen seksi Queen. Gadis itu sedang berusaha berbasa-basi.
"Lancar." Singkat, padat dan tepat. Itulah jawaban Dirga. Ia tidak ingin ikut berbasa-basi.
__ADS_1
"Oh baguslah, aku dengar tempo hari ada sedang ada masalah? "
Dirga tersenyum masam.
"Itu sudah lama sekali Queen, kenapa baru bertanya sekarang? " Ketus sekali ucapan Dirga, namun tetap tak membuat Queenzi menyerah.
"Benarkah, aku bahkan baru tahu," Queenzi meringis membela diri. Perkataan Dirga cukup menyudutkan tapi untung saja dia bisa menjawabnya, apalagi si ibu cantik di depannya juga ikut membela.
"Ibu juga baru dengar, Nak. masalah apa memangnya? "
"Bukan masalah besar, Bu. Tenang saja. " Dirga mengibaskan sebelah tangannya. Jawaban yang sama pernah ia lontarkan saat ayahnya juga menanyakan hal yang sama.
"Lagipula juga sudah teratasi."
"Tentu, Ibu percaya kemampuanmu. Kau kan pebisnis hendal. Iya kan Queen? " Melati menataap Queen, persekongkolan kembali dimulai. keduanya seperti sedang bekerjasama menaklukan Dirga.
"Betul, Bibi. Kemampuan Dirga sudah tidak di ragukan lagi. "
Demi Tuhan Dirga jengah sekali mendengar keduanya berceloteh. Ingin rasanya ia kabur saat ini juga. Tapi lagi-lagi keberadaan ibu mengurung niatnya.
"Oh ya, Queen. Ayahmu kan juga pebisnis hebat. Siapa tahu kalian bisa bekerja sama. "
'Ya ampun ibu, ide gila apa lagi ini? ' Dirga berontak dalam hati.
"Oh tentu, Bibi. Itu bisa di atur. Ayahku pasti juga sangat senang kalau bisa bekerjasama dengan Dirga."
Dirga memaksakan diri tersenyum. Kedua perempuan cantik di hadapannya benar-benar menguji kesabarannya.
"Tidak masalah, aku bekerjasama dengan siapapun selama itu menguntungkan bagiku." Entah itu sarkas atau apa namanya, tapi yang jelas Dirga mengucapkan itu sambil sedikit menyeriangi. Berharap kaum hawa di depannya peka akan sikapnya.
Tapi nihil. Mereka berdua tetap saja tak merasa bersalah karena telah memjebak Dirga. Dan bahkan tak peduli dengan mimik wajah Dirga yang nampak kurang ramah.
Karena tak tahan dan waktu yang juga semakin bergulir. Dirga akhirnya memutuskan untuk pergi.
"Maaf, Ibu dan juga Queen, aku benar-benar harus kembali ke kantor, " ucapnya sembari beranjak.
Ibu dan Queen saling pandang.
"Baiklah, kalau memang begitu. Ibu juga ada janji dengan Ayah." Ibu juga ikut beranjak.
"Kau ajak Queen sekalian ya, Queen bilang mau ke kantor Ayahnya."
"Memangnya dia tidak bawa mobil? " Dirga langsung menunjukan keberatan-nya
"Tidak, dia bilang mobilnya sedang di perbaiki ... sudah ajak saja, lagipula kalian satu arah kan?"
"Iya, iya baiklah. " Tak kuasa menolak pemaksaan ibunya. Dirga akhirnya menyetujui. Dan di sampaingnya Quenzi tersenyum senang.
Bibi Mel benar-benar cerdas, pikir Melati. Pantas saja tadi dia menyuruhnya untuk tidak membawa mobil, rupanya ini rencananya.
__ADS_1
Melati bersorak dalam hati, tak peduli dengan ekspresi kesal Dirga yang terus saja menekuk mukanya.