
Hari ini Dirga mendapat kabar tak mengenakkan dari gadis bermata merah. Gadis itu bilang kalau energinya sudah benar-benar menipis dan harus segera pergi. Dan yang membuat Dirga makin gusar adalah karena Senja bilang bahwa malam nanti dia akan pergi. Itu berarti ini adalah hari terakhirnya bersama gadis itu.
Senja ingin menghabiskan sisa waktu yang tersisa bersama Dirga. Hanya bersama Dirga. Duduk berdua di bawah pohon nyiur tepi pantai sambil menunggu malam datang. Itu saja yang di inginkan Senja.
Gadis itu bahkan sudah berpamitan pada ibu dan neneknya. Meski waktu kepergiannya masih tersisa beberapa jam lagi tapi gadis itu sudah pamit dari rumah sejak sore hari. Ya, sekali lagi Senja ingin menghabiskan waktu yang tersisa hanya bersama Dirga.
Keduanya sudah membuat janji akan bertemu sore nanti. Sebenarnya begitu Senja bilang harus pergi nanti malam, Dirga ingin langsung meninggalkan kantor dan menemani gadis itu. Tapi berhubung ada beberapa pekerjaan yang tidak bisa di tunda membuat pria itu tak punya pilihan selain menyelesaikannya terlebih dahulu.
Dengan hati tak menentu, pria itu berusaha tetap profesional menyelesaikan semua urusannya sambil terus melihat penunjuk waktu tentunya.
Sementara Senja, gadis itu datang lebih awal. Sekitar pukul empat dia sudah berada di pantai. Senja menutupi wajah mengerikannya dengan memakai topi bulat yang berukuran cukup lebar. Ia berjalan lemah sambil tertunduk menuju pohon nyiur paling ujung lalu duduk tenang disana menunggu Dirga datang.
Namun ketenangan Senja terusik karena sampai pukul lima lebih tiga puluh menit sore Dirga belum juga datang. Padahal pria itu sudah berjanji untuk datang secepatnya.
Mungkin dia masih sibuk, Senja berusaha menenangkan diri dengan kalimat itu. Ia berusaha menghubungi Dirga tapi pria itu menolak semua panggilan dan hanya meminta meninggalkan pesan suara. Lagi-lagi Senja berusaha memaklumi kalau Dirga memang terbiasa menolak panggilan saat sedang ada rapat penting. Mungkin saat ini dia sedang rapat, pikir Senja.
Meaki tetap saja didalam hatinya mulai cemas tapi Senja tetap setia menanti. Sambil menahan rasa sakitt, lemah dan juga terbakar di sekujur tubuhnya gadis itu tetap menunggu kedatangan Dirga.
Namun saat waktu menunjukan pukul enam sore dan Dirga belum juga datang, kesabaran Senja sudah benar-benar terkikis seiring energinya yang juga kian menipis. Gadis itu merasa ada yang tidak beres. Kalau memang Dirga akan terlambat datang dia pasti menghubungi, tapi ini tidak sama sekali. Bahkan di hubungi pun tidak bisa.
"Dimana kau Dirga?" gumamnya lemah dengan wajah yang kian memerah.
Akhirnya meski dengan kondisi yang sangat lemah, Senja memutuskan untuk mencari Dirga. Ia takut sesuatu yang buruk menimpa pria itu. Karena yang ia tahu Dirga hampir tidak pernah mengingkari janjinya saat akan bertemu. Terlebih ini adalah pertemuan terakhir mereka sebelum Senja pergi. Tapi kenapa Dirga malah belum datang?
Sama seperti saat datang tadi, Senja juga berjalan lemah sambil tertunduk. Ia tak memperhatikan orang-orang yang di lewati nya. Dan mungkin karena terus menunduk membuat Senja jadi menabrak seseorang. Atau orang itu yang sengaja menabrak senja, entahlah. Yang jelas Senja bertuburkan dengan seorang pria berbadan besar yang langsung membuat Senja terjatuh.
Entah karena bentrokan yang cukup keras atau karena kondisinya yang sangat lemah, Senja menjadi tidak bisa mengendalikan diri. Ia terjatuh dengan posisi terduduk. Topi yang di kenakannya terlepas sehingga memperlihatkan wajahnya yang mengerikan dengan mata merah menyala dan kulit pucat pasi seperti mayat yang sudah tiga hari belum di makamkan.
"Maaf, aku tidak sengaja," kata pria yang menabrak Senja.
"Apa kau baik-baik saja? " ucap pria itu lagi sambil membungkuk bermaksud membantu Senja berdiri namun uluran tangannya langsung di tolak oleh Senja.
Senja ingin berdiri sendiri dan segera mengambil topinya untuk kembali menutupi wajahnya agar orang-orang tak curiga. Tapi terlambat, orang yang menabrak Senja sudah keburu melihat penampakan Senja yang mengerikan itu.
"Hey kenapa dengan wajahmu? kenapa pucat sekali, dan matamu kenapa bisa merah begitu?" Pria itu berkata dengan cukup keras sehingga menarik perhatian orang-orang membuat Senja ahirnya jadi pusat perhatian.
"Iya betul. Wajahnya kenapa mengerikan begitu. Kau ini orang atau bukan sih? " salah seorang di antara mereka berkata dengan cukup lancang. Untung saja Senja tidak marah di bilang begitu.
Alih-alih marah, Senja justru jadi panik bukan main. Orang-orang sudah melihat wajahnya. Tentu gadis itu takut mereka mencurigai siapa dirinya.
__ADS_1
"Tentu saja mengerikan," Di antara kepanikan Senja dan orang-orang yang bergumam tak jelas mengomentarai keanehan gadis itu, sebuah suara tiba-tiba terdengar.
"Dia itu bukan manusia, makanya wajahnya mengerikan begitu."
Ucapan orang tak di kenal itu tentu membuat orang-orang menjadi makin heran dan suasana jadi makin tak mengenakan bagi Senja.
"Hah bukan manusia, lalu dia itu apa? " tanya salah seorang
"Apa mungkin dia hantu, atau alien?" Yang lainnya menimpali sambil bergidik ngeri.
Senja kini menjadi tontoanan orang-orang karena wajahnya yang mengerikan.
"Kalau memang dia hantu tangkap saja. Jangan sampai dia membuat kegaduhan disini. "
"Iya benar. Hantu mana boleh berbaur dengan manusia. "
Ternyata bukan hanya satu, atau dua orang. Beberapa orang juga ikut berkomentar pedas sambil terus mengerumini Senja membuat gadis itu tak mampu berbuat apa-apa selain menunduk lemah menerima hujatan mereka.
Ingin rasanya ia mengamuk dan membungkam mulut mereka, tapi Senja tak ingin hal itu justru membuat mereka yakin kalau dia memang bukan manusia. Di samping itu, Senja juga merasa tidak punya kekuatan lagi untuk menyerang. Bahkan membawa tubuhnya saja saat ini sudah cukup kesulitan.
Sementara Senja berjibaku dengan rasa malu, sekaligus sakitnya. Seseorang yang tadi mengatakan kalau Senja bukan manusia nampak tersenyum mengeluarkan seringai nya. Sepertinya orang atau pria itu sengaja mempermalukan Senja di depan orang banyak. Tapi darimana dia tahu kalau Senja bukan manusia ? entahlah.
"Pergi kau hantu, tempatmu bukan disini. Pergi kau. " ucapan itu terus mereka gaungkan secara berulang ulang.
Senja yang sudah seperti maling yang tertangkap basah hanya mampu menutupi wajahnya menggunakan lengan untuk menghindar dari lemparan itu. Seharusnya Senja pergi saja dari situ dan mengabaikan orang-orang itu. Namun entah kenapa kondisinya kini makin melemah. Bahkan untuk berdiri saja ia sudah tidak sanggup.
Air mata Senja mulai mengalir. Ia merasakan malu dan sakit yang luar biasa secara bersamaan membuatnya tak kuasa menahan tangis. Namun anehnya orang-orang ini tak juga berhenti. Mereka terus saja menghujani Senja dengan lemparan dan hujatan.
"Hey ada apa ini? " saat Senja sudah merasa sangat tidak berdaya. Seseorang datang menerobos kerumunan itu. Ia terkejut bukan main melihat Senja sedang jadi tontonan warga dan di lempari baru seperti pencuri yang tertangkap basah.
"Senja? " ucap seseorang yang ternyata adalah Arya itu sambil mendekat.
"Hey hentikan ! Apa yang kalian lakukan? " Teriak Arya menghardik orang-orang itu. Arya membungkuk melindungi Senja dari lemparan batu-batu kecil.
"Dia ini hantu, kami sedang berusaha mengusir hantu. " Salah seorang menjawab.
"Hantu? " tentu saja itu yang keluar dari mulut Arya. Mana mungkin ia percaya kalau Senja itu hantu.
"Iya, lihat saja wajahnya. Sangat mengerikan. Persis seperti hantu. "
__ADS_1
"Hey jaga mulutmu. Dia ini temanku. Dia bukan hantu. " Arya beranjak sambil berteriak menyampaikan keberantannya atas tindakan bosoh orang-orang itu.
"Dia seperti itu karena punya kelainan genetik. Paham kalian !" Bentaknya lagi lalu kemudian membantu Senja berdiri.
"Benarkah, tapi wajahnya aneh sakeli." Hujatan itu kembali terdengar namun kali ini di iringi keraguan demi mendengar penjelasan Arya.
"Iya, jadi sebaiknya kalian bubar semua. Berhenti mempermalukan orang seperti itu. " Usai berkata begitu, Arya kembali membantu Senja untuk beranjak.
"Ayo Senja, ku bantu berdiri. Kita pergi dari disni." Tanpa menunggu persetujuan Senja, Arya langsung memapah tubuh gadis itu. Namun Arya juga di buat terkejut saat kulit mereka bersentuhan. Kulit Senja ternyata sangat dingin tak ubahnya es.
Untuk sesaat Arya teringat tuduhan orang-orang tadi yang menganggap Senja hantu. Apa mungkin? Akh, Arya langsung menggelengkan kepalanya membuang pikiran buruk tentang Senja.
Ini bukan saatnya memikirkan soal itu. Senja harus segera di bawa pergi dari sini. Pikir Arya menenangkan pikirannya dari prasangka buruk.
Bersamaan dengan di bawa nya Senja pergi, orang-orang pun mulai membubarkan diri. Meski tetap saja masih ada yang bergumam tak jelas soal keanehan wajahnya Senja. Sepertinya mereka tidak begitu percaya dengan penjelasan Arya. Tapi siapa peduli, yang penting mereka sudah membubarkan diri dan tidak lagi merundung Senja.
"Arya, bawa aku kesana. " Saat Arya bermaksud mengantar Senja pulang, gadis itu justru meminta di antar ke pohon kelapa paling ujung.
"Untuk apa kesana? apa tidak sebaiknya ku antar kau pulang, kondisimu sangat lemah, Senja," Meski tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi, tapi Arya memang merasa kalau Senja sangat lemah. Tapi pria itu berpikir mungkin Senja sedang sakit.
"Tidak, aku mau kesana saja. Tolong antar aku kesana. Aku ingin istirahat disana. "
"Tapi ini sudah hampir gelap, Senja. Lagipula kau juga sedang sakit kan? "
"Arya, tolonglah. Antar aku kesana. " Dengan nafas terengah-engah Senja mengabaikan protes Arya sambil memegangi dadanya yang seperti terbakar hebat.
Melihat itu tentu membuat Arya semakin bingung. Senja seperti sedang sangat kesakitan tapi menolak untuk di antar pulang.
Alhasil karena Senja terus memaksanya untuk di antar ke pohon nyiur paling ujung, Arya akhirnya menuruti kemauan Senja. Ia memapah gadis itu karena kondisinya yang memang sudah sangat lemah. Dan kalau boleh jujur rasanya tangan Arya sudah hampir beku karena terus menempel pada kulit Senja yang sedingin salju.
Sampai di tempat yang di maksud Senja, Arya langsung mendudukkan gadis itu disana. Masih dengan satu pertanyaan kenapa Senja bisa seperti ini.
"Senja sebenarnya kau kenapa, kau terlihat kesakitan begitu? "
Namun bukannya menjawab Senja malah mengeluarkan lolongan panjang yang membuat Arya jadi makin panik.
"Aaakkhh, " Senja melolong panjang sambil memegangi dadanya. Dan dengan penampakan yang mengerikan seperti itu Senja tak ubahnya seperti seokor binatang yang sedang terluka. Arya bahkan sampai bergidik ngeri di buatnya. Ia seperti melihat sosok lain dari Senja yang selama ini dia kenali.
"Ya, Tuhan Senja. K--kau kenapa? " Dengan suara bergetar karena di dera perasaan panik dan juga ngeri yang datang bersamaan, Arya kembali mempertanyakan kondisi Senja tapi tetap tak mendapat jawaban dari gadis itu selain dari rintih kesakitan yang kian terdengar.
__ADS_1