Pacarku Setengah Manusia

Pacarku Setengah Manusia
Tentang mistis


__ADS_3

"Ok baiklah, sepertinya Leon tidak mengenalimu, Queen. Kalau kau sendiri bagaimana?"


Queenzi yang sedang berusaha bersikap ramah mendadak bingung ditanya seperti itu. Jujur saja tujuannya kemari hanya untuk menemui Rimba, dan kalau soal Rimba punya anak dan siapa anaknya tentu saja Queen tidak peduli soal itu.


"Eum aku--" Queen tampak bingung harus menjawab apa.


"Oh ya ampun kalian benar-benar tidak saling mengenal? Kalian itu berteman waktu kecil dulu."


Rimba kembali memaksa keduanya untuk mengingat.


"Leon, Queen ini teman masa kecilmu sewaktu kita masih tinggal di kota xx," Rimba menyebutkan nama kota tempat tinggal mereka dulu sebelum pindah ke luar negara.


Queen dan Leon sama-sama mengerutkan alisnya mencoba mengumpulkan kembali ingatan tentang satu sama lain dan bibir tipis Leon nampak sedikit tersenyum saat ingatannya sudah bisa menangkap memori tentang Queenzi.


"Yah, aku ingat Ayah. Dia ini anak cengeng yang sering menangis kalau mainannya ku rusak. "


Tak terima di bilang cengeng. Queen yang juga sudah mengingat siapa Leon ikut bersuara.


"Iya aku juga sudah ingat. Dia ini anak nakal yang suka merusak mainan ku, " ucapanya sambil merengut. Queen baru ingat kalau Leon adalah teman kecilnya setelah Dirga pindah ke luar negri, sayangnya tak cukup lama berteman Leon juga harus pindah jauh dari Queenzi. Itulah sebabnya dia tak bisa langsung mengenali sosok Leonil.


Rimba yang mendengar jawaban jujur Queen langsung tertawa.


"Nah baguslah kalau kalian sudah ingat. Siapa tahu kedepannya kalian bisa berteman akrab seperti dulu. "


Baik Queen maupun Leon tidak ada yang menyahut. Terlebih Queen, dia sama sekali tidak tertarik untuk menanggapi karena tujuannya kesini hanya untuk mencari Rimba, bukan Leon atau siapa pun.


"Ohiya, Nak. Apa kau sudah makan siang? " Karena kedua bocah di depannya sepertinya masih merasa asing, Rimba memutuskan untuk mengganti topik supaya suasana tidak jadi canggung.


"Maaf Ayah sudah makan duluan dengan Queen tadi, Ayah pikir kau tidak akan pulang. "


"Tidak apa, Ayah. Baguslah kalau Ayah sudah makan. Sepertinya aku juga tidak bisa lama-lama. Aku sedang sangat sibuk hari ini. "


"Hey kau tetap bisa makan di rumah kan, kami akan menemanimu." cegah Rimba melihat putranya sudah bangkit dan siap pergi.


"Tidak, Ayah. Aku makan di jalan saja. Ayah lanjutkan saja urusan Ayah dengan gadis itu. " Masih enggan menyebut nama Queen.


Leon tahu pasti bukan tanpa alasan Queen jauh-jauh datang kemari. Pasti dia ada perlu dengan Ayahnya dan ia sama sekali tak tertarik untuk mencampuri urusan mereka.


"Baiklah kalau begitu. Toh kita masih bisa makan malam bersama nanti. "


"Hmm, " Angguk Leon menanggapi kemauan sang Ayah. Sekali lagi, hubungan keduanya memang cukup dekat.


Sebelum pergi Leon sempat menatap sekilas pada Queen. Meski tatapannya datar tanpa ekspresi namun tetap di balas senyuman oleh Queen. Terlepas dari segala sisi buruknya, Queen memang sebenarnya gadis yang sangat ramah dan humble.


***


Selepas Leon pergi Queenzi kembali pada tujuan utamanya menemui Rimba. Namun ia terlebih dahulu meminta Rimba melanjutkan ceritanya yang bahkan belum sempat di mulai tadi.


"Maaf, Paman. Bisakah Paman lanjutkan cerita pan tadi. Tentang kenapa Paman bisa terlihat urusan dengan Bayu samudra? "


Rimba membuang nafasnya. Cerita masalalu yang terbilang sangat menyakitkan akan kembali ia kuak sekarang. Tentu itu bukan hal yang mudah baginya.


"Tidak banyak yang bisa aku ceritakan, Queen. Tapi yang jelas dulu aku pernah berusaha memisahkan Bayu samudra dan Nawang Wulan ... namun tidak berhasil karena kekuatan cinta mereka yang cukup besar. " Rimba menjeda ucapannya sambil matanya menerawang. Sementara Queen tampak serius mendengarkan dan tidak berusaha menyela


"Meski aku sudah mencoba cara yang menurutku paling ampuh, tapi tetap saja usaha ku gagal. "


Queen mengangguk membenarkan. Kalau usaha Rimba berhasil tentu saat ini Bayu dan Wulan tidak bisa bersama.


"Jadi kalau kau fikir aku bisa membantumu, sepertinya kau datang pada orang yang salah. Karena aku bahkan tidak bisa berhasil dulu, " lanjut Rimba lagi tanpa bermaksud menolak kemauan Queenzi.

__ADS_1


Queenzi sendiri langsung membuang nafasnya. Jawaban yang sangat tidak ingin dia dengar justru keluar dari lisan Rimba.


"Tapi setidaknya, Paman beritahu caranya. Biar aku akan mencobanya, siapa tahu aku berhasil." Masih belum menyerah Queen mencoba membujuk Rimba.


"Berhadapan dengan makhluk seperti itu tidaklah mudah, Queen ... resikonya tinggi. Aku bahkan hampir mati waktu itu. "


"Aku tidak peduli, Paman. Apapun akan ku hadapi asalkan Dirga kembali padaku. "


Rimba menggeleng-gelengkan kepalanya. Di satu sisi heran, tapi juga memaklumi. Seseorang yang sudah terlanjur cinta memang biasanya buta pada realita. Dia sendiri pernah mengalami itu.


"Queen, Queen. Paman rasa gadis se cantikmu tidak harus berkorban sejauh itu hanya untuk cinta. Kalau memang orang yang kau suka sudah memilih orang lain ya sudah, itu berarti dia sudah tidak menginginkan mu. "


"Paman.. " Queenzi merengut sebab Rimba bukannya membantunya malah justru mematahkan semangatnya.


"Kenapa, aku benar kan? untuk apa kau terus mengejarnya kalau dia sendiri sudah tidak mau"


"Tapi aku sangat menyayanginya, Paman. Mana mungkin semudah itu merelaknnya."


Rimba kembali menggelengkan kepalanya. Tak habis fikir dengan sikap keras kepala Queen.


"Kau pasti bisa, kau hanya belum mencobanya. Jadi mulai sekarang cobalah untuk melupakan pria itu. Lambat laun kau pasti bisa. " Rimba mengatakan itu sebab sekali lagi ia sudah pernah mengalaminya. Pria se-usianya tentu sudah cukup banyak makan asam garam kehidupan


"Tapi, Paman---"


"Sudahlah, Queen. Tidak perlu membuang waktumu. Lagipula Paman juga tidak bisa membantumu. " Sebelum Queen kembali merengek Rimba sudah terlebih dahulu mengultimatum gadis itu membuatnya langsung terdiam seketika.


"Maaf, Queen. Ini sudah waktunya istirahat siang. Jadi Paamn juga harus istirahat. Kau mau tetap disini atau---? " Rimba sengaja mengantung kalimatnya meminta Queen mencerna sendiri maksudnya. Sebenarnya ia miris melihat kisah Queen yang hampir mirip kisahnya dulu. Rimba bukannya tidak mau menolong, tapi dia tidak ingin Queen mengalami nasib yang sama sepertinya.


"Baiklah, Paman. Sepertinya aku juga harus istirahat. " Queen bukan gadis yang bodoh. Tentu saja dia paham kalau Paman Rimba baru saja mengusirnya.


"Tapi bolehkah aku kemari lagi nanti malam?"


"Baiklah, kau boleh kesini lagi. Tapi keputusan Paman tetap sama."


"Tidak masalah, Paman. Aku hanya ingin makan malam dengan Paman dan Leon," dalih Queenzi yang tentu saja merupakan suatu kebohongan. Mana mungkin dia jauh-jauh datang kemari hanya untuk makan malam.


***


Sore hari menjelang malam. Leon kembali ke kediamannya. Ia di sambut sanga Ayah yang kebetulan sedang duduk di beranda depan.


"Sore, Ayah. Apa tamu Ayah sudah pulang?" tanya Leon karena melihat Ayahnya seorang diri.


"Ya, sudah pulang sejak tadi. Dia bukan hanya tamu Ayah, tapi juga teman masa kecilmu."


"Tapi dia kesini ada perlu dengan Ayah kan? itu berarti dia tamu Ayah. " Leon bicara sambil mendudukan badannya di kursi samping ayahnya. Mengobrol ringan dengan sang Ayah sebelum akhirnya masuk untuk membersihkan diri. Begitulah kebiasaan sorenya sepulang kerja.


"Apa kau tidak penasaran kenapa dia mencari Ayah? "


"Tidak," Leon menggeleng cepat.


"Bukankah itu bukan urusanku? "


"Ya benar, tapi apa kau juga yakin tidak mau berteman lagi dengannya?" Entahlah maksud Ayah menanyakan itu, tapi Leon memang tidak tertarik sedikitpun untuk berteman dengan Queen. Lagipula dia itu hanya teman masa kecil kan?


"Tidak perlu, Ayah. Toh dia hanya sebentar disini kan? nanti kalau urusannya dengan Ayah sudah selesai dia pasti akan langsung pulang."


"Kau ini. " Rimba menggeleng-gelengkan kepalanya. Sikap dingin putranya benar-benar di luar batas.


"Kalau sikapmu begini terus kapan kau mau dapat pasangan. Mau sampai kapan kau terus menyendiri, Nak."

__ADS_1


Kalau Ayahnya sudah mulai bicara soal pasangan atau kekasih, Leonil lebih memilih bungkam dan menanggapinya dengan sedikit tersenyum. Ayahnya sudah terlalu sering membahas itu. Dia bahkan sudah bosan mendengarnya. Tapi kalau memang hatinya belum tergerak untuk mencari kekasih mau bagaimana lagi?


Semenjak kekasihnya berkhianat dan lebih memilih menikah dengan pria lain, semenjak saat itu pula Leon memutuskan untuk sendiri. Dia tidak tertarik untuk mencari pengganti gadis itu. Bahkan setelah bertahun-tahun berlalu, hatinya tetap saja beku.


"Kenapa memangnya, Ayah. Ayah juga sendiri kan? "


"Dasar bodoh." Umpat Rimba yang justru membuat putranya tertawa.


"Mana bisa di samakan. Setidaknya Ayah sudah pernah beristri kan? "


"Iya, Ayah. Aku tahu. Pada saatnya nanti aku pasti akan beristri. " itulah jurus terakhir yang sering di pakai Leon untuk menyudahi obrolan menyebalkan perihal istri ataupun pasangan.


"Tapi ngomong-ngomong bisakah kita bahas soal lain? Seperti soal tamu Ayah tadi siang misalnya?" Menurut Leon ketimbang terus membicarakan soal istri, akan lebih baik kalau ia mengalihkannya pada topik lain. Meski itu sangat tidak penting untuknya.


"Bukannya tadi kau bilang tidak mau tahu? "


Leonil tersenyum.


"Sekarang aku mahu tahu, Ayah, " jawabnya yang di sambut cibiran oleh sang Ayah. Kedekatan Ayah dan anak ini memang patut di tiru. Meski tak ada sosok perempuan yang menghangatkan rumah mereka, tapi kedekatan mereka membuat suasana selalu hangat.


"Kasihan, Queen. " Rimba memulai ceritanya dengan menaruh simpati tentang Queenzi yang tentu saja memantik tanya dari sang putra.


"Apa yang perlu di kasihani, Ayah. Sepertinya dia baik-baik saja. "


"Yah tampak dari luar, tapi sepertinya hatinya sangat terluka. "


"Terluka? "


Loen sontak memicingkan matanya. Kenapa Ayah tahu di sedang terluka, apa dia datang kesini untuk mencurahkan isi hatinya. Ish konyol sekali. kurang lebih itulah yang ada di pikiran Loen mendengar kata 'terluka'


"Yah, dia mencintai seseorang dengan termaat sangat. Tapi sayang orang itu justru lebih memilih orang lain. Ya sama seperti kisah mu lah. "


"Ayah berhenti membahas soal itu. " Loen memang paling tidak suka kalau ada yang mengungkit soal masa lalu nyadengan mantan kekasih, bahkan Ayahnya sekalipun.


"Tapi memang kenyataan, begitu. Jadi kau pasti paham kan bagaimana suasana hatinya sekarang? "


"Iya, iya baiklah. " Leon mengibaskan tangannya ke udara. Ia sengaja mengalihkan topik supaya Ayahnya tjdak membahas soal gadis masa lalunya malah ternyata masih membahasnya juga.


"Lalu apa hubungannya dengan Ayah, memang Ayah pakar spesialis pengobatan luka hati?" Sarkasme Leon membuat Ayahnya tersenyum.


"Queen menganggap Ayah bisa membantunya, karena orang yang merebut kekasihnya merupakan makhluk mistis. "


"Hah, apa yang Ayah bicarakan? " Cakrawala Leonil Aksa adalah satu dari sekian banyak orang yang tidak percaya pada mistis. Apalagi cerita Ayahnya barusan, akh sangat konyol dan sangat tidak bisa di percaya.


"Ayah tahu dari dulu kau tidak percaya pada hal-hal yang berbau mistis. Tapi percayalah, Nak. Hal-hal semacam itu ada. Ayah bahkan pernah mengalaminya sendiri, " terang Rimba yang cukup maklum kalau anknya tidak serta-merta percaya.


"Ck Ayah ingin aku percaya kalau ada makhluk mistis yang bisa berebut kekasih dengan manusia? ayolah Ayah, jangan konyol. "


"Leon ini benar adanya, Nak. Itulah sebabnya Queen jauh-jauh datang kemari untuk meminta tolong pada Ayah. Kau kan tahu dulu Ayah itu pencinta dunia mistis jadi Queen berpikir kalau Ayah bisa menolongnya."


Bukannya semakin percaya dengan ucapan sang Ayah, Leon malah terlihat semakin merasa kalau Ayahnya sedang bicara omong kosong. Ia memang tahu kalau Ayahnya pecinta mistis, tapi tetap saja baginya makhluk mistis itu tidak ada.


Dan ekspresi ketidak-percayaannya terbaca jelas oleh orang tuanya.


"Begini saja, Leon. Kalau kau memang tidak percaya, kau boleh tanya langsung pada Queen. Nanti malam dia akan kemari lagi. Dia ingin makan malam bersama kita. "


Leon terperangah. Tak menyangkan tamu jauh Ayahnya sangat hobi makan bersama dengan mereka. Setelah tadi siang, nanti malam pun dia akan makan bersama?


Leon yang awalnya hanya iseng bertanya soal Queen mendadak jadi penasaran dengan gadis itu. Terlebih mendengar cerita Ayahnya yang di luar nalar. Leon tak yakin gadis se-modern Queen bisa percaya hal-hal aneh begitu. Gadis itu bahkan mengalaminya sendiri? akh sungguh tidak masuk akal.

__ADS_1


__ADS_2