Pacarku Setengah Manusia

Pacarku Setengah Manusia
Fakta mengejutkan


__ADS_3

Sudah dua hari Queenzi berada di negri tempat Rimba dan putranya bermukim. Negri yang berada jauh dari negri-nya sendiri. Gadis yang sedang dalam misi mencari bantuan itu tak putus asa meski Rimba sejak awal sudah menegaskan kalau ia tidak bisa membantunya.


Tujuan Queenzi kemari memang untuk meminta pertolongan Rimba, jadi gadis itu bertekad bagaiamanapun caranya ia harus bisa membuat Rimba bicara. Terlebih bibi Mel juga sudah berulang kali menanyakan soal itu. Wanita itu juga sudah tidak sabar ingin cepat mendapatkan cara yang paling ampuh untuk memisahkan Senja dan juga putranya.


Dan hari ini untuk ke sekian kalinya ia kembali menemui Rimba untuk kembali membujuk pria itu. Untung saja Rimba tetap bersikap ramah padanya. Meski ia menolak membantu Queen, namun ia tak pernah menolak jika gadis itu datang ataupun ingin bertemu dengannya.


"Paman, maaf mengganggumu lagi. " Queenzi menyapa hangat pria berwajah oriental yang tengah menyiram tanaman di halaman depan rumahnya. Halaman cukup luas yang di tumbuh berbagai tanaman buah dalam pot-pot besar. Sepertinya Rimba benar-benar menikmati masa tua dengan kesederhanaan dan ketenangan


Terkejut dengan kedatangan Queen pagi-pagi begini, Rimba langsung melihat penunjuk waktu di pergelangan tangannya.


Bahkan sepagi ini gadis ini sudah sampai kemari? Benar-benar pantang menyerah kau, Nak. Batinnya saat melihat jarum jam baru menunjukan pukul tujuh lebih beberapa menit.


Namun meski begitu, meski Queen kerap datang di luar dugaannya, Rimba tidak pernah merasa terganggu. Dan kalau boleh jujur dia bahkan senang Queen rajin bertandang ke rumahnya.


"Queen, kau datang lagi? "


"Hehe, iya. Paman.Semoga paman tidak bosan." Queenzi meringis kikuk. Sebenarnya ia juga tidak mau mengganggu Rimba terus, tapi sekali lagi gadis itu sudah bertekad harus bisa mendapatkan bantuan dari Rimba.


"Tidak, tidak masalah bagi paman. Paman malah senang jadi punya teman ngobrol ... Oh ya apa kau sudah sarapan? kalau belum kau bisa bergabung dengan Leon di dalam. Dia juga sedang breakfast


Lihatlah, alih-alih marah ataupun menunjukan rasa tidak suka-nya, Rimba justru menawarkan Queen untuk breakfast bersama dengan putranya.


"Sudah, Paman. Terimakasih. Aku sudah breakfast di hotel tadi, " tolak Queenzi dengan sopan. Ya dalam rangka meluluhkan hati Rimba agar ia mau menolongnya, Queen memang mau tidak mau hrus bersikap sopan, meski itu sedikit di luar tabiat aslinya.


"Aku kesini hanya untuk yaah ... Paman pasti sudah tau lah? "


Rimba tersenyum tipis sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Kau belum menyerah juga rupanya, tapi maaf Queen. Jawaban Paman tetap sama. Paman tetap tak bisa menolongmu. "


"Paman, ayolah, " Queen mengatupkan kedua tangannya sebagai bentuk permohonan.


"Queen berhentilah memohon untuk hal yang sia-sia." Tegas Rimba keberatan Queen sampai memohon-mohon padanya.


"Aku belum mencobanya, Paman. Mana mungkin bisa di bilang sia-sia. "


"Tidak perlu mencoba, itu terlalu berbahaya untukmu. Dan lagi kalaupun kau berhasil, belum tentu juga kekasihmu mau kembali padamu."


"Pamaan, ayolah. Jangan mematahkan semangat ku." Rengekan Queen mulai terdengar karena ucapan Rimba yang terkesan sangat meremehkannya. Namun Rimba sendiri bukannya simpati malah justru mencibir tingkah bodoh gadis itu


"Kau tidak harus bersemangat begitu untuk sesuatu yang sudah bukan lagi milikmu. "


"Tapi---"


"Gadis bodoh !" ucapan Queen terpenggal oleh suara Leon yang tiba-tiba sudah mendekat.


"Kau masih belum menyerah rupanya? " ejek nya sama persis dengan ucapan sang Ayah.


Queen langsung merengut mendengar ejekan pria usil itu.


"Aku tidak akan menyerah sampai aku bisa mendapatkannya."

__ADS_1


"Dasar bodoh. Kau terlalu pantang menyerah untuk hal yang salah. "


"Hay berhenti menyebutku bodoh, " Bentak Queen yang mulai kesal karena terus di kata-katai oleh Leon.


"Memang kau bodoh. Aku yakin usaha mu pasti tidak akan berhasil. Aku berdoa untuk itu."


"Leon..! Teriaknya kencang. Queen merasa Leon sudah benar-benar keterlaluan. Namun pria yang di panggil Leon justru tersenyum senang karena berhasil membuat Queen jengkel. Dari dulu sampai sekarang hobinya memang membuat Queen kesal, karena baginya Queen terlihat menggemaskan kalau sedang kesal.


Tangan Queen terulur hendak memukul lengan Leon, namun pria itu cepat menghindar dan berlari menuju mobilnya.


Rimba yang melihat tingkah dua anak manusia itu hanya tersenyum. Ada rasa senang tersendiri karena melihat keduanya sudah kembali dekat, terbukti putranya sudah mau menggoda Queen lagi. Tidak seperti di awal yang tampak sangat dingin dan tidak peduli sama sekali pada sosok Queen.


Semantara Queen meski masih kesal namun kembali pada tujuannya. Ia kembali mendekati Rimba, namun baru akan bicara, Leonil aksa sudah kembali mengacaukan nya.


"Tin, Tiiin. " Suara klakson mobilnya yang cukup kencang bahkan membuat Queen terlonjak.


"Jangan terlalu berambisi, Queen. Nanti kau bisa gilaa. " Sambil berlalu dari hadapan Queen dan Rimba, Leon masih menyempatkan diri untuk kembali menyejek Queen. Pria itu berteriak kencang dari dalam mobilnya yang tentu saja membuat Queen jadi makin jengkel dan mengumpat tidak karuan. Namun tentu saja hanya di dalam hati, mana mungkin ia berani marah-marah di depan Rimba.


"Paman lihatlah putramu, menjengkelkan sekali," ujarnya dengan harapan Rimba akan membelanya. Tapi di luar dugaan pria itu malah membenarkan putranya.


"Bukankah dia benar?" jawab Rimba membuat Queen langsung menghela nafasnya.


"Harus di buktikan dulu baru tahu benar atau tidaknya ... Dan untuk membuktikannya aku perlu bantuan Paman." Queen kembali membujuk. Jiwa pantang menyerahnya memang patut di acungi jempol.


"Dan jawaban Paman masih tetap sama seperti tadi." Rimba berpindah dari satu tamanan ke tanaman lain dengan selang air yang terus menyala dan Queen dengan setia mengekor setiap pergerakan pria itu.


"Paman, ayolah. Aku ingin menyelamatkan dia dari makhluk itu. "


"Tidak perlu, Queen ... Dia pasti tahu apa resikonya berhubungan dengan makhluk seperti itu. Kalau dia tetap mau ya sudah, kenapa harus kau yang pusing memikirkannya." Rimba tetap pada keputusannya, kendati Queen terus saja memaksanya.


"Bibi Mel? " Rimba mengulang nama yang baru saja di sebut Queen.


"Iya, Paman. Bibi Mel itu nama ibunya Dirga, kekasihku. Nama lengkapnya Melati. "


"Melati? " Kembali Rimba mengulang nama yang di sebut Queen. Rasanya nama itu tak asing baginya.


"Kenapa, Paman. Jangan-jangan Paman juga mengenal orang tua Dirga. Mereka juga pernah tinggal di sana, dan kata Ayahku Ayahnya Dirga itu pengusaha yang sangat sukses pada masanya."


"Siapa namanya? " Penjelasan panjang lebar Queen semakin memantik rasa penasaran Rimba. Benar kata Queen, Ia lahir dan di besarkan di negri ataupun kota itu, banyak orang yang di kenalnya dan siapa tahu salah satunya adalah orang yang Queen maksud.


"Damar, Paman."


Mata Rimba membulat sempurna mendengar nama itu. Nama yang sangat familiar di telinganya.


"Damar sanjaya? " ulangnya tak percaya.


"Iya benar. Tuh kan sudah ku duga paman pasti mengenalnya. " Queenzi tentu saja sangat gembira karena Rimba ternyata mengenali orang-orang yang berada dalam kubangan masalahnya.


Rimba yang baru saja di hantam badai terkejut yang luar biasa langsung menghentikan aktifitasnya. Keterkejutan yang sama seperti saat mendengar nama Bayu dan Wulan.


Merasa perlu bicara lebih serius, Rimba membawa Queen duduk di kursi taman di bawah sebuah pohon buah yang cukup rindang karena tidak di tanam dalam pot.

__ADS_1


"Jadi kekasihmu itu anaknya Damar dan Melati?" tanyanya mengambil kesimpulan yang memang sudah pasti.


"Iya, Paman. Apa Paman dulunya mengenal mereka.?"


"Hmm, dia teman kuliah Paman dulu, " angguk Rimba membenarkan.


"Jadi anaknya Wulan dan Bayu berhubungan dengan anaknya Damar dan Melati? " Sekali lagi mengambil kesimpulan yang ternyata juga sudah pasti.


"Iya, Paman. " Queen sendiri di buat bingung dengan reaksi Rimba. Raut wajahnya menggambarkan keterkejutan yang luar biasa seolah pernah terjadi sesuatu di antara semua nama yang ia sebut tadi.


"Ya Tuhan, Drama macam apa ini? "


"Kenapa, Paman? " tanya Queen mendengar Rimba menyebut kata 'drama'. Gadis itu semakin yakin kalau mereka semua pernah terikat dalam satu cerita di masalalu.


"Tidak, tidak ada. Paman hanya tak habis pikir bagaimana semua kebetulan ini bisa terjadi?"


"Kebetulan apa? "


Rimba langsung menoleh dan tersadar kalau Queen sepertinya belum tahu tentang cerita Damar yang pernah jatuh cinta pada Nawang Wulan.


"Bukan apa-apa Queen, itu hanya cerita masa lalu" Rimba memilih menutupi soal itu dan memilih menanyakan hal lain supaya Queezi tidak terpancing untuk mengorek kisah lama itu.


"Lalu bagaimana reaksi Damar dan Melati mengetahui putranya berhubungan dengan makhluk itu? "


"Sudah bisa di tebak, Paman. Mereka menentang keras. Mana mungkin ada orang tua yang membiarkan putranya berhubungan dengan makhluk mengerikan seperti itu. Ibunya Dirga bahkan menyuruhku mencari siapa saja yang bisa membantunya memisahkan mereka, itulah sebabnya aku jauh-jauh datang kemari. "


Rimba mengangguk-anggukan kepalanya. Sudah bisa menduga bagaimana reaksi Damar dan Melati. Dan ia sendiripun cukup maklum kalau mereka bersikap demikian. Sungguh sebuah permasalahan yang cukup rumit.


"Jadi bagaimana, Paman mau kan membantuku.? Ini bukan hanya demi aku, tapi juga Dirga dan kedua orang tuanya. " Sekali lagi Queen berusaha membujuk. Ia merasa mendapat angin segar setelah tahu kebenaran tentang masalalu para orang tua itu.


Rimba tak langsung menyahut. Ia nampak sedang berpikir keras. Ada berbagai pertanyaan muncul di benaknya.


Menolong Queen berarti memisahkan hubungan antara anak Wulan dan anak Damar.


Ia kasihan pada Damar dan istrinya karena putranya harus jatuh cinta pada makhluk antah barantah yang notabene pernah menjadi rivalnya. Dan Wulan bahkan pernah sangat di cintainya dulu.


Namun tak dapat di pungkiri kalau ia juga kasihan pada Wulan dan putrinya. Terlebih putrinya, meskipun Rimba tak mengenalinya tapi ia yakin gadis itu juga tidak mau terlahir berbeda. Seandainya bisa memilih ia pasti ingin punya orang tua yang normal layaknya manusia.


Ia ingin menolong Damar tapi juga tidak ingin mengusik kebahagiaan Wulan dan putrinya.


"Paman.. "


Melihat Rimba yang justru termenung membuat Queen kembali bertanya.


"Paman mau kan menolongku? " tatapan menghiba gadis itu membuat ia akhirnya mengangguk. Sebenarnya bukan hanya tatapan Queen yang membuat Rimba berubah pikiran. Nama-nama yang ia sebutkan tadi lah yang membuat hatinya tergerak untuk menolong.


Entah niatnya untuk menolong benar ataupun salah, Rimba hanya ingin memberi kesempatan untuk Queen, Damar dan juga Melati tentunya. Damar itu teman baiknya, Rimba merasa terpanggil untuk menolongnya.


"Baiklah Queen, Paman akan membantumu. Tapi apapun resikonya kau harus siap menanggungnya. Termasuk jika kau gagal. "


"Iya, Paman. Setidaknya biarkan aku mencobanya. Dan soal resiko aku sudah sangat siap menanggungnya. " Queenzi begitu optimis meski Rimba pernah bilang kalau resikonya adalah kematian.

__ADS_1


Gadis yang telah di butakan oleh cinta itu tersenyum senang. Sedangkan pria berwajah oriental di sampingnya tersenyum bimbang.


Fakta mengejutkan yang baru saja di dengarnya benar-benar menyita ruang pikirnya.


__ADS_2