Pacarku Setengah Manusia

Pacarku Setengah Manusia
Cakrawala Leonil Aksa


__ADS_3

"Queen, bangun Queen. " Dirga menepuk-nepuk pundak Queen cemas.


Kondisi Queen yang cukup mengerikan dengan bekas cakaran yang cukup dalam di kedua pipinya membuat Leon panik sekaligus ngeri. Belum lagi darah yang keluar dari mulut hidung dan juga telinganya yang kian membuat kondisi gadis itu kian memprihatinkan.


Queen di tak bergeming, tentu saja. Ia kehilangan kesadaran nya sejak hampir satu jam yang lalu. Dan sama seperti Dirga, denyut nadi dan jantungnya pun nyaris tak lagi terasa.


"Makhluk itu benar-benar menyiksa gadis ini rupanya, " gumam pria berdarah blasteran itu, tak menyangka kalau amukan Bayu benar-benar mengerikan.


"Harusnya kau tidak cari masalah dengan makhluk seperti itu, Queen. "


Leon bertindak sigap dengan membawa gadis itu ke rumah sakit, namun kondisi Queen yang hanya tertutup oleh selimut membuat pria itu ragu.


Apa kata mereka kalau aku membawa Queen hanya dengan memakai selimut. Mereka pasti akan berpikir yang bukan-bukan, fikir Leon.


Pria itu tanpak menimbang-nimbang. Tapi karena kondisi Queen yang sudah cukup parah membuat Leon tak punya waktu untuk berpikir terlalu lama. Alhasil dia melakukan apa yang sempat terlintas di kepalanya. Memakaikan baju untuk gadis itu.


"Maaf, Queen, " ucapnya merasa bersalah karena melihat tubuh tanpa busana Queen tanpa izin dari pemiliknya. Tapi Leon tak punya pilihan lain. Meski dengan perasaan tidak karu-karuan pria itu berhasil juga memakaikan baju untuk gadis yang tubuhnya sangat indah itu. Kendati harus menelan ludah berkali-kali sambil membuang pikiran kotor yang menganggu kepalanya.


Queen akhirnya berhasil di evakuasi ke rumah sakit terdekat dan segera mendapat pertolongan. Raut cemas Leon tetap tak memudar meski gadis itu sudah di tangani oleh pihak medis. Kondisi Queen yang memang sangat kritis membuatnya takut terjadi sesuatu yang buruk dengan gadis itu.


Tugas Leon sudah selesai seharusnya. Ia sudah menggagalkan rencana Queen, dan bahkan sudah membawa gadis itu ke rumah sakit.


Seharusnya kalau pria itu mau. Ia bisa pulang sekarang juga ke negrinya karena memang sudah tidak ada lagi yang harus di urus disini. Tapi entah kenapa sebelah hatinya berkata kalau dia masih harus disini dan memastikan semuanya baik-baik saja. Baik itu Dirga, Melati dan terutama Queen.


Leon merasa dia tetap harus disini sampai memastikan kalau semuanya selamat atau jika kemungkinan buruknya mereka harus----


Leon sendiri tidak tahu kenapa dia harus melakukan itu.


Sambil menunggu keadaan membaik, Leon menyempatkan diri datang ke pantai tempat tragedi tak masuk akal itu terjadi. Pria itu tersenyum tipis memperhatikan hamparan laut yang maha luas yang ada di depannya.


Dulu sewaktu kecil Leon ingat Ayah dan ibunya pernah beberapa kali membawanya kesini. Pantai ini memang cukup indah sejak dulu. Siapa pun pasti akan betah berlama-lama meski hanya berdiam diri menatap ombak.


Seperti yang sedang Leonil lakukan saat ini. Pria itu mematung menatap lautan tanpa sedikitpun bergeming. Semilir angin sore membuatnya nyaman dan enggan beranjak.


Jujur saja, ada semacam perasaan heran tersendiri yang sampai sekarang tak ia mengerti. Ia rela datang jauh-jauh dari negrinya ke tempat ini hanya untuk menolong orang-orang yang sejatinya tidak ia kenali. Padahal ia bukan aktifis kemanusiaan. Jiwa kemanusiaan nya bahkan boleh di bilang sangat tipis mengingat sikapnya yang sangat dingin dan jarang sekali mau membantu orang.


Tapi entah kenapa tiba-tiba ia tertarik dengan perintah Ayahnya dan mau menolong orang-orang yang sangat asing baginya. Terkecuali Queen. Atau jangan-jangan ia melakukannya karena Queen? entahlah, hanya Leon yang tahu.


"Selamat sore, "


Leon yang sedang menikmati kesendiriannya dengan sedikit perasaan bingung yang mewarnai mendadak di kejutkan oleh suara lembut milik seseorang.


"Kau? " pria itu terkejut saat menoleh dan mendapati wajah ayu milik Nawang Wulan. Wanita itu memang terbiasa datang ke pantai saat anak dan suaminya sedang tak ada. Dan kebetulan kali ini dia melihat Leon, orang yang sudah sangat menolong Senja


"Hmm, masih mengingat ku kan? " Nawang Wulan tersenyum ramah.


"Tentu, baru tadi malam kita bertemu. Mana mungkin aku lupa. "


"Baguslah, beruntung kita bertemu lagi, aku belum sempat mengucapkan terimaksih tadi malam. "

__ADS_1


Gantian Leon yang tersenyum. Tapi tentu tidak selebar senyum Nawang Wulan karena Leon memang sebenarnya bukan pria yang ramah.


"Jangan membuatku merasa menjadi pahlawan, kau bahkan tidak tahu kenapa aku menolong." jujur Leon memang tidak suka kalau ada orang yang mengucapkan terimakasih padanya, karena menurutnya itu terlalu basa-basi.


"Karena perintah dari Ayahmu kan?" tebak Wulan.


"Hm, lalu apa kau tahu kenapa Ayahku menyuruhku kemari? "


Wulan nampak berpikir sejenak lalu kemudian menggeleng.


"Kenapa memangnya? "


Sebelum menjawab Leon terlebih dahulu menghela nafasnya. Seolah apa yang akan di ceritakan nya adalah hal yang sangat berat.


"Kalau kau sedikit jeli," pria itu memulai penjelasannya.


"Harusnya kau sudah bisa menebak kalau secara tidak langsung Ayahku lah yang menyebabkan semua kekacauan ini. "


"Maksudmu? "


Leon menoleh menatap wajah di sampingnya. Wajah yang masih membuatnya heran karena wajah itu tak termakan usia.


"Queen datang pada Ayahku dan meminta tolong padanya agar memberi tahu bagaimana caranya melenyapkan Senja."


"Lalu? "


Lagi, ucapan Leon membuat Wulan berpikir keras. Lalu tak lama perempuan itu mengangguk-angguk.


Benar, kalau Rimba tidak memberi tahu caranya pasti Queen tidak akan merencakan akn hal mengerikan tadi malam. Hal yang akhirnya membahayakan banyak orang.


"Kau sudah paham kan?" tanya Leon melihat Wulan mengangguk-anggukan kepalanya.


"Jadi secara tidak langsung Ayahku lah yang menyebabkan semua ini terjadi. "


"Lalu kenapa dia mengirim mu?" Suara Wulan yang tadinya lembut berubah datar dan bahkan ketus mengingat Rimba di masa lalu ataupun sekarang.


"Karena dia merasa menyesal setelah memberi tahu Queen. Ia tidak mau kebodohan yang dulu pernah di lakukannya terulang lagi. " pandangan Leon menerawang mereka ulang pembicaraan nya dengan sang Ayah tempo hari.


"Ia juga tahu itu sangat beresiko baik bagi Queen ataupun Senja sendiri ... Itulah sebabnya Ayah ingin aku menggagalkan rencana Queen. Tapi sayangnya aku sedikit terlambat. Senja sudah terlanjur terkena belati emas."


Wulan terdiam. Ia tak tahu harus menjawab apa untuk penjelasan panjang lebar Leon. Di satu sisi ia sangat benci mengingat Rimba lah yang sebenarnya mengatur strategi buruk itu. Tapi di sisi lain ia juga senang karena pada akhirnya pria itu mengirim putranya untuk menolong.


"Ayahku meminta maaf untuk semua itu. " Leon menatap Wulan yang terdiam tanpa kata.


"Juga untuk kesalahannya di masa lalu."


Mendengar itu barulah Wulan menoleh. Peristiwa yang sudah lama terpendam itu kini kembali bersarang di ingatan. Meski ia sudah berusaha melupakannya tapi tetap saja setiap hal itu singgah di ingatan pasti akan sedikit menimbulkan nyeri di hati.


Namun permintaan maaf dari Rimba meski tidak secara langsung dan juga putranya yang rela datang jauh-jauh untuk menolong membuat Wulan mau tidak mau melapangkan hatinya. Toh biar bagaiamana pun suami dan anaknya baik-baik saja sekarang dan mereka masih bisa berkumpul di kemudian hari.

__ADS_1


"Lupakan." Akhirnya hanya kata itu yang terucap dari Wulan sebagai gambaran bahwa ia mungkin sudah memaafkan.


"Ayahku pasti senang mendengarnya. " Tak di pungkiri Leonil juga dapat menangkap sinyal kalau Wulan telah berdamai dengan masa lalu nya. Terlihat dari wajahnya yang tidak menggambarkan kebencian.


"Salut untuk cinta luar biasa yang kalian miliki," sambung pria itu lagi yang kali ini sukses membuat senyum Wulan benar-benar mengembang.


"Ayahmu juga pernah punya cinta yang luar biasa, tapi sayang caranya salah."


Leon tak tertarik untuk menjawab ucapan konyol Wulan. Ia lebih memilih menanggapinya dengan senyuman. Senyum yang tidak setipis biasanya.


"Oh ya, kalau boleh tahu siapa namamu ... sejak tadi kita berbincang dan kau bahkan sudah sangat menolongku tapi aku tidak tahu nama mu?"


Leon langsung memicingkan kedua matanya.


Hey, apa perempuan ini sedang mengajak ku berkenalan? batinnya heran tapi tak urung menjawab juga.


"Leon, " jawabnya singkat.


"Baiklah Leon, kau sudah tahu namaku kan?"


Leon melirik Wulan sekilas. Dalam hati membenarkan kenapa Ayahnya bisa jatuh cinta pada perempuan ini. Karena di samping sangat cantik, Wulan juga sangat lembut dan ramah.


"Yah aku sudah tahu namamu. Aku hanya bingung harus memanggilmu apa ... Kau terlalu muda untuk di panggil Bibi. "


Kalimat konyol Leon membuat Wulan terkekeh geli. Ia tidak menyangka putranya Rimba ternyata jauh lebih humble dari pada Ayahnya. Sungguh tebakan yang salah, karena Cakrawala Leonil Aksa sebenarnya tidak se-humble yang Wulan kira. Entahlah, akhir-akhir ini Loen sendiri merasa ada yang aneh dengannya.


"Tapi kau tetap harus memanggilmu Bibi, umurku tidak semuda yang kau bayangkan. Aku bahkan mungkin lebih tua dari Ayahmu. "


Loen hanya tersenyum. Sama seperti pendapat Wulan tentangnya. Ia juga beranggapan sama tentang Wulan. Perempuan ini sangat menyenangkan di ajak bicara. Hanya saja yang membuatnya heran, kenapa perempuan secantik itu harus menikah dengan makhluk antah-barantah? akh sudahlah. Ketimbang pusing memikirkan hal itu Leon lebih memilih bertanya soal lain.


"Oh ya bagaimana kabar Dirga, apa masih kritis?"


Mendengar nama Dirga membuat raut wajah Wulan berubah.


"Yah, begitulah. Dia belum bisa melewati masa kritis nya." Wulan mendapat kabar itu dari Arya.


"Aku ikut prihatin untuk Dirga, semoga dia lekas sembuh. Aku tidak mau semuanya menjadi sia-sia. "


Satu lagi hal aneh yang nampak dari sosok Leon. Ia jarang dan bahkan hampir tidak pernah mendoakan orang lain. Tapi kali ini dia melakukannya untuk orang yang sekali lagi, tidak di kenalnya.


Wulan langsung menoleh dengan perasaan haru. Ucapan Leon benar-benar membuatnya trenyuh. Bersyukur sekali rasanya Tuhan mengirimkan malaikat sebaik Leon untuknya dan untuk keluarganya.


"Leon atau siapapun namamu. Terimakasih untuk semua yang sudah kau lakukan ... Dan tolong sampaikan pada Ayahmu kalau aku sudah memaafkannya."


Sungguh seorang Leon yang biasanya berjiwa antagonis dengan sikap dingin dan tidak peduli nya kini merasa merasa begitu tersentuh dengan kalimat lembut Nawang Wulan.


Pria itu mengangguk lalu tersenyum.


"Sama-sama ... Bibi. "

__ADS_1


__ADS_2