Pacarku Setengah Manusia

Pacarku Setengah Manusia
Lama tak bertemu


__ADS_3

"Apa yang harus kita lakukan, apa sebaiknya kita menghindar? " tanya Senja dengan wajah panik. Entahlah semenjak kejadian di resort tempo hari ia jadi takut bertemu orang tua Dirga.


"Tidak perlu, Senja. Untuk apa menghindar? biar bagaimanapun kita tetap harus menghadapi mereka. Tugas kita sekarang adalah meluluhkan hati mereka, bukan menghindari, " Dirga berusaha memberi penjelasan sekaligus menenangkan.


"Dirga benar, Nak." Nawang Wulan menambahkan.


"Kau harus berusaha membuat mereka menyukaimu, "


"Tapi aku takut, Bu. Sejak awal mereka memang sudah tidak menyukaiku. "


"Tenanglah, kan ada aku. " Tanpa ragu Dirga meraih tangan Senja dan menggenggamnya erat. Pria itu bahkan sudah tak lagi segan meski ada orang tua Senja di hadapannya.


Dan kedua orang tua Senja pun tidak menunjukan keberatan sedikitpun atas sikap Dirga. Keduanya bahkan tersenyum, mereka semakin yakin kalau Dirga memang benar-benar serius dan tulus pada putri mereka.


"Hmm, seperti yang pernah Ayah bilang, kau harus berjuang, Senja." Sang Ayah ikut menyemangati bahkan sambil mengepalkan tangannya.


Senja yang awalnya panik perlahan mulai tenang. Dukungan dari orang-orang terdekatnya benar-benar mampu menguatkannya.


"Ayo, temui mereka, " ajak Dirga namun Senja tak berani mengiyakan. Ia memandang wajah Ayah dan ibunya meminta saran.


"Pergilah, temui mereka dan bersikaplah selembut mungkin, " petuah sang ibu dengan bijaknya dan di tambah dengan anggukan dari Ayahnya membuat gadis itu memutuskan untuk menerima ajakan Dirga.


"Baiklah, Ayo. "


Keduanya sudah beranjak dan baru akan melangkah mendekati Damar dan Melati, namun pergerakan mereka sontak terhenti karena orang yang akan di dekati malah justru sudah mendekat terlebih dahulu.


"Aya, Ibu. Mereka kemari, sepertinya mereka melihat kita terlebih dulu, " ujar Senja dengan wajah yang kembali terlihat panik.


"Oh ya? " Wulan yang tadi berusaha menenangkan pun mendadak ikut panik. Jujur sebenarnya ia belum siap bertemu dengan Damar dan Melati.


"Ya sudah biarkan saja, mereka sudah terlanjur melihat kita, jadi tidak bisa menghindar sekarang," tukas Bayu Samudra. Berbeda dengan istrinya makhluk itu tetap terlihat tenang.


Akhirnya mereka pasrah menunggu sampai Damar dan Melati benar-benar mendekat, lagipula mau menghindar pun sudah tidak ada waktu lagi.


"Ayah, Ibu, " sapa Dirga begitu orang tuanya sampai di hadapan mereka.


Tak lupa Senja pun berusaha menyapa dan memaksakan diri bersikap sopan.

__ADS_1


"Sore, Paman. Bibi. " Gadis itu mengangguk hormat namun hanya di tanggapi dengan senyuman setipis tisu dari kedua orang tua Damar.


"Kau disini juga rupanya, " tanya Melati pada putra semata wayangnya. Sebenarnya sesuai dengan rencana awal mereka, keduanya sepakat untuk tidak akan menyapa Senja kalau bertemu di pantai ini. Mereka akan berpura-pura tidak melihat, namun karena Senja bersama dengan putra mereka, jadi mau tidak mau kedua pasutri itu mendekat juga. Tentu bukan karena ingin menyapa Senja, melainkan karena putra mereka.


"Iya, Ibu. Aku sedang bersama Senja, " jawab Damar yang entah kenapa juga mendadak gugup.


Kedua orang tua Dirga tak menanggapi ucapan putranya karena fokus mereka terganggu oleh dua orang yang duduk di gazebo. Keduanya memperhatikan dengan seksama secara bergantian.


Sejujurnya baik Bayu maupun Wulan risih di perhatikan secara intens begitu. Namun mereka memaklumi kalau Damar dan Melati mungkin hanya sedang berusaha mengenali.


Dan benar saja, setelah beberapa saat memperhatikan Melati akhirnya buka suara.


"Kalian? aku seperti tidak asing dengan wajah kalian?" ternyata perempuan paruh baya itu belum sepenuhnya bisa mengingat siapa mereka.


"Benar, seperti pernah bertemu tapi kapan dan dimana?" ingatan Damar juga sepertinya tidak bisa mengingat cukup baik. Maklumlah, mereka sudah puluhan tahun tidak bertemu.


"Hay, Damar dan juga Melati. Kalian masih ingat kami? " Wulan tersenyum dan berusaha bersikap seramah mungkin. Namun suaminya belum bisa melakukan hal yang sama. Makhluk itu lebih memilih diam.


Damar dan Melati makin tercengang karena Wulan dengan mudah bisa mengingat mereka sementara keduanya kesulitan untuk mengingat.


Damar yang mengetahui kalau kedua orang tuanya tidak bisa mengenali orang tau Wulan berusaha membantu.


Duar ! seperti tersambar petir di siang bolong Damar dan Melati mendengarnya. Keduanya terkejut bukan main, bahkan saking terkejutnya sampai tidak bisa berkata-kata. Mereka melongo untuk beberapa saat.


"O-orang tua Senja, maksudmu mereka ini----" terbata-bata Melati berucap saking tidak percaya-nya.


"Benar, Melati. Aku Wulan, dan ini suamiku Bayu. Kami orang tuanya Senja. "


Melati dan Damar benar-benar seperti tersengat aliran listrik mendengarnya. Mereka sangat terkejut bukan karena bertemu dengan Wulan dan Bayu, melainkan karena wajah Wulan dan Bayu yang masih sama seperti yang dulu. Tidak ada tanda-tanda penuaan sedikitpun.


"Ba-bagaimana bisa? " Lagi, Melati tergagap di buatnya.


"Kalian benar Wulan dan Bayu? " kali ini Damar yang buka suara setelah sebelumnya juga tercengang tak bisa berkata-kata.


kenapa mereka masih terlihat muda sekali, masih persis seperti yang dulu


"Benar, Ayah. Mereka benar Paman Bayu dan Bibi Wulan, orang tuanya Senja." Dirga tahu betul apa yang orang tuanya pikir saat ini. Mereka pasti terkejut melihat orang yang seharusnya seumuran dengan mereka namun terlihat masih sangat muda.

__ADS_1


Dan bukan hanya Dirga, Wulan dan Bayu pun cukup paham akan keterkejutan mereka. Sayangnya mereka tidak mungkin menjelaskan alasannya.


"Kalian apa kabar, sudah cukup lama ya kita tidak pernah bertemu?" Wulan terus saja berusaha mencair kan keadaan yang mendadak beku. Dia juga menyenggol lengan Bayu memberi isyarat pada makhluk itu agar bersikap lebih ramah.


Tapi Bayu tetaplah Bayu. Ia paham kode dari Wulan, tapi tetap saja dia kesulitan melakukan. Makhluk itu bahkan tidak tahu apa yang harus di ucapkannya untuk sekedar berbasa-basi. Alhasil makhluk itu hanya mampu tersenyum pada Damar dan Melati. Tapi percayalah, senyum itu sudah cukup lumayan dari pada tidak sama sekali.


"Baik, kabar kami baik. " Damar yang menjawab sementara Melati masih saja terlihat kaget atau lebih tepatnya heran.


Bagaimana bisa mereka tidak menua sama sekali. Perawatan jenis apa yang mereka pakai sampai bisa menolak tua begitu


Kurang lebih itulah yang ada di pikiran Melati sekarang.


"Mari silahkan duduk, " Melihat Damar dan Melati hanya berdiri saja di hadapan mereka, Wulan pun berinisiatif. Mestinya sendiri merasa cukup canggung, tapi tetap bisa bersikap biasa saja.


"Iya, Ayah. Duduklah, " Dirga cukup tangkas membantu Wulan mencairkan keadaan. Berbeda sekali dengan Senja dan Ayahnya yang lebih banyak diam. Keduanya memang payah untuk urusan basa-basi.


Damar bingung harus menjawab apa, ia tidak mungkin mengiyakan tawaran Wulan, terlebih melihat istrinya yang mulai menunjukan raut tidak bersahabat-nya.


"Oh iya, terimakasih. Tapi maaf kami sedang buru-buru, kami ada acara mendadak ... ya kan sayang? " Meminta pembenaran istrinya dan beruntung sang istri pun langsung tanggap kerena sebenarnya dia sendiri pun ingin cepat-cepat pergi dari sini.


Sepertinya kedua pasutri itu belum siap untuk bertemu dengan orang tua Senja. Atau mungkin belum siap menerima kenyataan kalau keduanya ternyata menolak tua.


"Oh iya, kami ada perlu sekarang. Jadi maaf tidak bisa bergabung bersama kalian, " ujar Melati sambil sekali lagi memperhatikan wajah Wulan yang masih seperti gadis


"Ayo sayang, " Perempuan yang sebenarnya juga masih sangat cantik itu kemudian menarik lengan suaminya untuk segera pergi. Mereka bahkan tidak menunggu tanggapan Wulan terlebih dahulu.


"Loh Ayah ibu. Kenapa buru-buru sekali? " Dirga yang tadinya berharap pertemuan tak sengaja ini bisa menjembatani hubungannya dengan Senja, di buat kecewa karena orang tuanya lebih memilih pergi.


Mereka bahkan tak menghiraukan ucapan putranya. Yang ada di pikiran mereka sekarang adalah pergi sejauh mungkin agar bisa sejenak menenangkan diri akibat syok yang berlebihan atas pertemuan ini.


"Biar, Dirga. Biarkan mereka pergi. " Wulan mencegah Dirga yang ingin mengejar orang tuanya.


"Mereka pasti syok dan juga heran melihat kami. Mereka juga pastinya belum siap untuk bertemu kami, jadi biarkan mereka menenangkan diri dulu."


"Benar, Dirga." Bayu yang sejak tadi membisu kali ini tanpa di duga-duga ikut angkat bicara.


"Biarkan saja dulu mereka pergi. Memaksa mereka bergabung di saat seperti ini memang kurang tepat. Kita semua sama-sama belum siap bertemu. "

__ADS_1


Dirga akhirnya menurut dan membiarkan orang taunya pergi. Tidak tau apa yang di pikirkan orang tuanya sekarang, tapi Dirga yakin setelah ini hubungannya dengan Senja pasti akan jadi lebih sulit


__ADS_2