Pacarku Setengah Manusia

Pacarku Setengah Manusia
Khawatir


__ADS_3

"Bibi, apa kita bisa bertemu nanti malam? " tanya Queen pada Melati melalui sambungan telefon.


"Hmm nanti malam ya?" Melati tampak berfikir


"Sepertinya tidak bisa, Queen. Bibi ada acara nanti malam, " jawab Melati akhirnya setelah berusaha mengingat.


"Benarkah, padahal aku ingin sekali ngobrol dengan Bibi. "


"Menyesal tidak bisa menemanimu, Queen. Tapi mau bagaimana lagi, Bibi sudah ada janji. "


"Eum kalau aku boleh tahu Bibi ada janji dengan siapa, sepertinya penting sekali?"


Melati tampak terdiam. Ia ingin memjawab tapi takut jawabannya membuat Queen terluka.


"Maaf kalau aku lancang, Bibi. Kalo Bibi keberatan Bibi tidak perlu menjawab, " ucap Queen karena Melati tak kunjung menjawab. Gadis itu berfikir mungkin Bibi Mel enggan menjawabnya.


"Bukan begitu, Queen. Bibi hanya takut jawaban Bibi membuatmu terluka. "


"Memangnya kenapa, Bibi? " ucapan Melati tentu membuat Queen jadi makin heran.


"Eum sebenarnya Bibi ada janji makan malam di luar dengan Dirga dan Ayahnya ... Kami juga mengundang ... Senja. "


"Senja? " Queenzi kaget bukan kepalang.


'Bukankah Bibi Mel sudah tahu bagaimana Senja, tapi kenapa masih mau mengundang gadis itu makan malam?'


"Iya, Queen. Sebenarnya bukan Bibi yang menggu ndang, tapi Ayahnya Dirga. Dia penasaran pada gadis itu. Dia ingin membuktikan apakah omongan Bibi tentangnya itu benar. " Seolah memdengar suara hati Queen, Melati buru-buru menjelaskan.


"Ooh, " Di tempatnya Queen mengangguk-angguk. Meski awalnya cukup kesal mendengar Dirga dan keluarganya mengundang Senja untuk makan malam, tapi pada akhirnya gadis itu tersenyum sambil menyeringai.


"Kalau boleh tahu dimana kalian akan makan malam? " dengan hati-hati Queen menanyakan itu. Ia takut Bibi Mel marah dan menganggap nya terlalu ingin tahu. Tapi di luar dugaan perempuan yang selalu tampil modis itu tersenyum. Ia tidak marah sama sekali. Ia bahkan langsung memberikan alamat yang di minta Queen tanpa rasa ragu dan curiga sedikitpun.


"Baiklah, Bibi. Kalain lanjutkan saja rencana makan malamnya. Kita bisa bertemu lain


waktu, " ujar Queen setelah Ibunda Dirga menyebut nama salah satu Resort mewah di kota ini.


"Kau tidak apa-apa kan Queen? " Melati merasa sangat tidak enak hati. Ia tahu bagaimana gadis bernama Queen masih sangat menyayangi putranya.

__ADS_1


"Tidak, Bi. Aku baik-baik saja. Aku justru setuju kalau kalian mau makan malam bersama, supaya Ayahnya Dirga tahu seperti apa Senja itu. " Entah apa yang terbersit di benak Queen. Padahal tadi dadanya seperti mau meledak mendengar rencana makan malam keluarga Dirga, tapi sekarang dia justru mendukung rencana itu.


"Kau memang bijaksana, Queen, " puji Melati mendengar kebesaran hati Queen.


"Padahal Bibi berharap kau yang akan jadi menantu Bibi, bukan gadis aneh itu. " Kalau tidak salah Bibi Mel juga sudah pernah mengucapkan kalimat itu.


"Berdoa saja, nak. Semoga Ayahnya Dirga tidak menyukai gadis itu."


" Iya, Bibi. "Lagi-lagi Queen tersenyum sambil menyeriangai


'Dan aku bukan hanya akan berdoa, tapi juga berusaha. '


Merasa tidak ada lagi yang perlu di bicarakan, Queen akhirnya memutus sambungan teleponnya setelah sebelumnya berpamitan dengan Bibi Mel.


Gadis yang sedang berada di dalam kamarnya itu bergegas bangkit. Ia kemudian berdiri melihat keluar jendela kaca. Sesekali keningnya nampak berkerut seperti orang yang sedang berpikir keras.


"Senja, kau benar-benar cari masalah denganku. " Gadis itu bergumam sendiri sambil pandangannya tetap lurus menatap kedepan.


***


Sementara di tempat lain, Senja tengah menunggu sambil berdebar tak menentu. Ada rasa gugup yang langsung menyerang setelah tadi pagi Dirgantara mengutarakan niatnya untuk mengajak gadis itu makan malam.


"Santai saja, Senja. Kau hanya perlu lebih banyak tersenyum, " tulis Dirga melalui pesan singkatnya.


"Dan kalau boleh aku meminta, tolong jangan menunjukan wajah tidak bersahabat mu ... seandainya nanti ada hal yang membuatmu tidak nyaman, aku berharap kau tetap bisa mengendalikan amarahmu."


Membaca pesan itu, Senja rasanya jadi makin terbebani. Dirga sepertinya ingin ia bersikap manis di depan orang tuanya.


Wajar saja, Senja juga bisa memaklumi itu. Dirga tentu tidak ingin orang tuanya menilai buruk tentang kekasihnya.


Cuma masalahnya, apa Senja bisa bersikap biasa saja, ramah dan banyak tersenyum? sementara kenyataannya dia adalah gadis berwajah tegang yang jarang tersenyum. Hanya di depan orang tua nya dan Dirga lah gadis itu nampak sering menarik ujung bibirnya


Senja benar-benar di buat bingung. Untung saja sore harinya setelah pulang dari butik, sang ibu Nawang Wulan ikut menenangkan. Ia memberi saran pada Senja untuk bersikap tenang . Wanita itu juga membantu memilih pakaian yang pas untuk di pakai Senja nanti malam. Tak lupa dia juga membantu memoles wajah cantik Senja agar terlihat jauh lebih cantik.


Meski sebenarnya dia sendiri pun merasa cukup was-was, tapi Wulan sebisa mungkin tidak menunjukannya di depan Senja. Ia tidak ingin putrinya jadi makin gugup. Namun berbeda dengan Bayu samudra, makhluk tampan itu sepertinya tidak bisa menutupi rasa khawatirnya. Terlihat dari raut wajahnya yang nampak tegang.


"Ada apa, Bayu? " Wulan mendekati suaminya yang sedang berdiri di taman belakang.

__ADS_1


"Sejak pulang dari butik tadi ku lihat kau agak sedikit berbeda? "


"Entahlah, tiba-tiba aku merasa khawatir. "


"Apa ini soal Senja? " tebak Wulan.


"Hmm, " Bayu mengangguk


"Dia akan bertemu dengan orang tuan Dirga ... Aku tidak menyangka hubungan mereka berjalan secepat ini. "


"Bukankah itu bagus? " Sebenarnya Wulan juga khawatir, tapi kekhawatiran Bayu di rasanya terlihat berbeda.


"Seharusnya, tapi entah kenapa aku merasa akan ada yang mengganggu hubungan mereka. "


"Benarkah, siapa? " Wulan mulai paham kenapa Bayu sebegitu khawatirnya.


"Aku tak pasti, tapi sepertinya ini akan jadi batu sandungan buat mereka. " Mata merah itu melirik perempuan cantik disampingnya.


Firasat Bayu bukanlah tanpa alasan, mengingat bahwa putri mereka tidaklah seperti manusia pada umumnya, sementara Dirga, untuk ukuran seorang manusia dia nyaris sempurna. Apa mereka bisa bersatu? itu yang ada di pikiran Bayu sekarang. Dia lupa kalau dia dan Wulan bahkan jauh lebih berbeda.


Wulan menghela nafasnya. Bukan bermaksud mengesampingkan kekhawatiran Bayu, tapi Wulan meyakini bahwa setiap hubungan pasti akan melewati masa sulit sebelum akhirnya sampai pada puncak bahagia.


Perempuan berwajah lembut itu mendekatkan diri persis di samping suaminya. Memangkas jarak di antara mereka. Suaminya yang biasanya garang dan beringas ternyata sekarang sedang dalam fase melow. Wulan merasa perlu untuk menghiburnya.


"Setiap hubungan pasti ada rintangannya, Bayu, " ucapnya lembut sembari menyandarkan kepalanya di pundak Bayu.


"Kau ingatkan apa yang sudah kita lalui untuk sampai di titik ini? kau ingat betapa susahnya kita melewati semuanya? "


Bayu mengangguk.


"Tapi nyatanya kita bisa melewatinya kan? " sambung Wulan yang lagi-lagi di tanggapi Bayu dengan anggukan.


"Begitu juga dengan mereka ... pastinya akan ada rintangan yang harus di lewati, tapi kalau memeng hubungan mereka kokoh, aku yakin mereka pasti bisa melewati semuanya."


Ucapan Wulan kali ini sukses membuat Bayu menarik ujang bibirnya. Makhluk itu sangat setuju dengan ucapan istrinya.


"Kau benar, Sayang. Mari kita lihat seberapa kokoh hubungan mereka, " Tangan Bayu bergerak merangkul pundak Wulan.

__ADS_1


"Dan mari sama-sama berharap yang terbaik untuk mereka, " imbuh Wulan sambil mendongak menatap makhluk yang sudah puluhan tahun menjadi suaminya itu.


Keduanya lalu sama-sama tersenyum. Menyembunyikan rasa khawatir yang tetap saja membersamai.


__ADS_2