
Hari ini adalah hari ke empat puluh semenjak kepergian Senja, pria bermata tajam yang di tinggalkannya sudah hampir tak kuasa menahan rindu.
Hampir tiap sore jika tidak lembur pria itu selalu menyempatkan diri datang ke pantai. Yah hanya untuk sekedar menikmati semilir angin dan membunuh rindu yang menggebu.
Empat puluh hari penantiannya terasa sangat lama. Apalagi kalau ia harus menunggu sampai bertahun-tahun seperti Wulan dulu, mungkin pria itu sudah gila.
"Huuft..! Hembusan nafasnya yang terdengar cukup berat menggambarkan betapa ia sesak di rajam rindu yang tak berkesudahan.
Pandangannya menerawang, menerobos hamparan laut maha luas dengan gulungan ombak yang terus bergulung ke arahnya. Berharap di antara ombak itu ada gadis peselancar yang melambaikan tangan padanya.
Tapi nihil ! Sampai matanya pedih karena menatap satu titik dalam waktu yang cukup lama, netranya tak juga menangkap apa yang di carinya.
"Mungkin memang belum waktunya dia kembali," gumam pria yang ketampanan nya tak masuk akal itu.
"Tapi sampai kapan? Ia bilang hanya satu purnama atau lebih, tapi kenapa sampai sekarang belum pulang juga."
Membuang rasa jenuh dan juga rindunya, Dirga mencoba melebur nya dengan berjalan pelan menyusuri bibir pantai. Ia sengaja melepaskan sepatu nya dan menggulung sedikit celananya agar bisa langsung merasakan dinginnya air laut yang menampar kakinya.
Berada di tepi laut meski tanpa melakukan apapun akan tetap memberi ketenangan. Apalagi kalau kamu mencoba berjalan seperti Dirga. Rasanya sangat nyaman meski dalam suasana hati yang tak aman.
Entah sudah berapa meter melangkah, Dirga mendadak menghentikan gerak kakinya. Netrranya secara tak sengaja menangkap dua orang sangat familiar di matanya.
"Nayra, Arya? Sedang apa mereka disini?" Dengan perasaan heran, Dirga bergegas menghampiri keduanya.
"Hey kalian berdua," Ucapan Dirga sontak membuat keduanya menoleh.
"Dirga, "
"Pak Dirga, " ucap keduanya secara bersamaan.
"Kalian sedang apa, kenapa bisa berdua'an disini, jangan bilang kalau tidak sengaja bertemu?"
Seperti pencuri yang tertangkap basah, keduanya hanya meringis menanggapi interogasi Dirga. Dan itu tentu membuat pria itu jadi makin heran. Melihat gestur Arya dan Nayra. Entah kenapa Dirga merasa ada yang aneh.
"Atau jangan-jangan Kalian sudah---" Dirga tidak melanjutkan kalimat nya meminta yang bersangkutan sendiri yang menyimpulkan.
"Iya Dirga, kami sudah bersama, " Seolah tahu apa yang ada di benak Dirga, Arya langsung membenarkan. Ia bahkan merangkul pundak Nayra sebagai bukti kalau keduanya memang telah menjadi sepasang kekasih. Dan sekertarus Dirga pun tak menampik sama sekali. Malah tersenyum mengiyakan.
"Benarkah? sejak kapan? "
__ADS_1
"Baru saja, sekitar sebulan atau lebih. " jawab Arya
"Wah, wah, wah, sepertinya aku ketinggalan berita. Kenapa kau tidak memberi tahuku? "
"Waktu itu aku ingin memberi-tahumu. Tapi tidak jadi karena kejadian malam itu. Lalu setelahnya kau sakit. Jadi ya aku belum sempat bilang sampai sekarang. "
Dirga mengangguk-angguk. Cukup paham apa yang di maksud Arya ataupun alasan pria itu.
"Tak apa. Aku ikut senang untuk kalian. "
"Hm, " Arya mengangguk sedangkan Nayra hanya tersenyum menanggapi. Sepertinya gadis itu sedikit gugup karena yang ada di hadapannya adalah bos besarnya.
"Kau sendiri bagaimana, apa masih menunggu?"
"Yah begitulah. " Hanya itu jawaban Dirga.
Arya memang sudah mengetahui siapa Senja dan juga Ayahnya. Kejadian ganjil malam itu benar-benar mengundang tanya baginya. Dan setelah kondisi Dirga mulai membaik, pria itu membunuh rasa penasarannya dengan mendesak sepupunya itu untuk bicara. Dirga sendiri tidak punya pilihan lain selain berterus terang. Karena Arya memang sedikit banyak sudah mencurigai hal itu.
Bahkan mungkin tak hanya Arya. Rumor tentang Senja yang bukan anak manusia memang sedang hangat di bicarakan. Tapi Dirga memutuskan untuk tidak ambil pusing soal itu. Sebab memikirkan Senja yang tak kunjung datang saja sudah cukup menyita ruang pikirnya.
"Aku hampir tidak percaya kau melakukan itu. Aku benar-benar salut padamu. " Arya menyampaikan kekagumannya pada sosok yang rela mati demi kekasihnya itu namun yang di sanjung hanya tersenyum samar menanggapi nya.
"Itulah yang membuatku heran. Sampai sekarang dia belum juga pulang. "
"Sabar, mungkin sebentar lagi. " Melihat Dirga yang nampak suram, Arya berusaha memberi dukungan.
"Ya mudah-mudahan ... Ya sudah lanjutkan acara kalian. Aku mau jalan lagi. " Dirgantara mulai beranjak sambil menepuk pundak Arya. Sementara Arya hanya mengangguk. Rasa tidak percaya masih saja menggelayuti hatinya melihat sepupunya yang dulu seorang pemain cinta kini berubah menjadi pengabdi cinta.
Keheranan yang sama juga di tampilkan oleh Nayra. Gadis itu juga rupanya sudah mendengar desas desus tentang Senja. Dan heran melihat bos besarnya masih tetap setia meskipun tahu Senja itu siapa.
***
Matahari makin menggelincir ke ujung samudra, namun Dirgantara masih enggan beranjak dari tempatnya. Tempat paling historis bagi ia dan Senja saat ini menjadi pelepas rindunya. Pria itu duduk termenung disana. Sampai gak sadar kalau malam mulai menjelang.
Arya dan Nayra yang baru saja melihat matahari terbenam dan sekalian makan malam di resto sekitar di buat heran karena Dirga ternyata juga belum pulang. Keduanya masih melihat mobil Dirga di area parkir. Itu artinya pria itu masih di sekitar pantai. Padahal suasana sudah sangat sepi dan di parkir bahkan hanya menyisakan kendaraannya saja.
Merasa khawatir, Arya akhirnya menanyakan nya langsung pada pria itu.
"Kau belum pulang? " tanyanya melalui salah satu apliaksi pesan berwarna hijau.
__ADS_1
"Belum, aku masih ingin disini. " Pertanyaan Arya langsung mendapat jawaban.
"Tapi sudah gelap, Dirga. Untuk apa kau sendirian disini? "
"Tidak ada, aku hanya ingin sendiri saja. "
Arya menghela nafasnya sambil mengangguk-angguk. Mencoba memahami mungkin Dirga sedang sangat merindukan Senja dan ingin melebur rindunya meski tanpa kehadiran orang yang di rindu. Agak sedikit aneh memang, tapi ya sudahlah. Mungkin memang begitu tabiat orang kalau sudah di mabuk rindu.
"Baiklah, Hati-hati, " tulis Arya akhirnya karena tidak mau mengganggu ketenangan Dirga.
Dirga sendiri langsung meletakan ponselnya dan kembali menyandarkan punggungnya di kursi kayu di bawah pohon nyiur paling ujung. Tidak ada yang di lakukannya, hanya duduk mematung memandang lautan yang mulai di selimuti kegelapan.
Beruntung tak lama kemudian bola raksasa pengganti sang surya mulai muncul di ujung samudra.
Dirgantara tersenyum melihat bola dunia berwarna jingga itu. Rupanya malam ini bulan purnama. Kegelapan yang tadi sempat tercipta berubah temaram oleh sinar bulan yang nampak bulat sempurna. Indah sekali
Dan percayalah berada di tepi laut seorang diri pada saat bulan purnama itu memberikan sensasi yang berbeda. Ada semacam kenyamanan yang jarang kita dapatkan di tempat-tempat lain. Dan itu juga yang di rasakan Dirga malam ini. Meski di balut rindu yang menggebu, tapi suasana saat ini cukup membuatnya nyaman dan tenang. Bahkan saking tenangnya membuat Dirga tanpa sadar terlelap.
Seperti orang yang kehilangan tempat tinggal, Dirgantara terlelap sendirian di kesunyian malam.
Malam semakin merayap, namun pria di bawah pohon nyiur masih cukup nyaman dalam lena-nya.
Namun sayang kenyamanannya mulai terusik saat hembusan angin yang cukup kuat menerpa tubuhnya. Dingin yang mulai menusuk tulang membuat pria itu terjaga.
Dirga mengerjapkan matanya mencoba mencari kesadaran. Dan saat menatap ke sekeliling Dirga baru sadar kalau ia masih berada di tepi pantai.
Dirga melihat penunjuk waktu pada ponselnya dan terkejut saat menyadari waktu sudah menunjukan pukul sebelas lebih empat puluh menit. Itu berarti dia sudah cukup lama tertidur sendirian di tempat ini.
Dirga kembali melihat ke sekeliling. Tentu saja sunyi senyap seolah tak ada kehidupan. Hanya suara debur ombak dan lolongan binatang malam yang terdengar sangat memilukan sekaligus menyeramkan.
Dirga meraba tengkuknya yang mendadak terasa dingin seiring lolongan binatang malam yang terus terdengar. Ada perasaan aneh yang tiba-tiba menyergap. Dan Karena merasa tidak nyaman pria itu akhirnya memutuskan untuk beranjak.
Ia berjalan pelan melewati hamparan pasir di tepi pantai. Namun lagi-lagi perasaan tak nyaman itu kembali muncul. Dirga merasa ada orang yang sedang memperhatikan nya saat ini dan pria itu juga merasa ada yang membuntuti langkahnya.
Namun saat menoleh ke belakang, Dirga tak menemukan siapapun bahkan seekor binatang pun.
Pria itu mempercepat langkahnya tapi si penguntit yang tidak jelas wujudnya juga ikut melaju. Suara binatang malam dan tengkuknya yang semakin dingin membuat perasaan Dirga jadi makin aneh.
Meski ia sudah biasa berinteraksi dengan makhluk dari dunia lain, tapi tetap saja suasana saat ini membuatnya merasa sedikit seram.
__ADS_1