
"Selamat malam semua? " Queenzi dengan kepercayaan dirinya yang cukup tinggi kembali hadir di tengah-tengah keluarga Rimba dan hendak ikut makan malam bersama.
Mengesampingkan rasa malunya yang seolah mengemis meminta pertolongan Rimba, gadis itu kembali berusaha membujuk Rimba dengan berpura-pura ikut makan malam. Entahlah kenapa dia harus melakukan hal konyol itu. Sebesar itukah rasa cintanya untuk Dirga sampai ia rela melakukan semua itu? Hanya Queenzi yang tahu.
Tidak ada yang menyahut. Loen hanya menoleh sesaat sedangkan Rimba hanya tersenyum.
"Kau benar-benar datang? " tanya Rimba yang sudah memulai makan malamnya. Pun dengan Leon. Ia bahkan hampir menghabiskan isi piringnya. Keduanya memang tidak punya janji khusus dengan Queen. Jadi mereka merasa tidak perlu menunggu gadis itu.
"Tentu, Paman. Apa aku boleh bergabung? " Queen yang masih berdiri beberapa meter dari meja makan meminta izin.
"Hmm kemarilah. Kau sudah ada disini tentu saja boleh bergabung. " Meski Rimba mengatakan tidak bisa menolong Queen, tapi pria setengah tua yang tetap kelihatan bersih dan segar itu tidak sedikitpun menunjukan antipati nya. Yang ada dia justru miris melihat Queen sampai se-begitunya memperjuangkan cinta yang bukan lagi miliknya.
Mendapat persetujuan, Queen dengan senangnya mendekat dan menarik salah satu kursi di samping Leon. Namun ekspresi Leon masih sama seperti tadi. Hanya melirik sesaat.
"Makanlah, kami sudah hampir selesai. " Rimba menyuapkan suapan terakhirnya kedalam mulut sedangkan Leon menjauhkan piring lalu menyeka mulutnya dengan tissu pertanda kalau ia telah menyudahi makan malamnya.
"Eh tidak apa, Paman. Aku juga tidak terlalu lapar." Entah memang tidak lapar atau tidak ingin makan sendirian, Queen memilih menolak tawaran Rimba
"Jangan sungkan, Queen. Kau sudah sampai disini. Jadi kau juga harus makan. Leon akan menemanimu. "
"Hah--? "
Leon yang sedang minum sontak membelalakan matanya. Cukup terkejut dengan ucapan sang Ayah. Untung saja tidak sampai tersedak.
"Ya, Ayah ada perlu sebentar. Jadi tolong kau temani Queen, yaa. " Rimba mempertegas maksudnya yang tentu membuat Queen dan Leon bingung.
"Tapi aku kesini ingin mencari, Paman. Aku ingin membahas soal tadi siang, Paman, " protes Queen.
"Aku juga ada perlu, Ayah. " Loen ikut-ikutan menolak. Ia bingung kenapa Ayahnya seolah sedang mendekatkanya dengan Queen. Padahalkan Queen tidak ada urusan dengannya.
"Sudah temani saja. " Tatapan tegas Rimba yang mengultimatum putra tinggalnya membuatnya tak punya pilihan lain selain menuruti kemauan sanga Ayah. Pria dengan perpaduan wajah asia dan timur Tengah itu hanya bisa menghela nafasnya.
"Kita bahas soal itu besok saja, Queen. Sekarang kalian mengobrol saja dulu. Kalian itu kan teman masa kecil. Kenapa sekarang jadi tidak kenal begitu?" Entah apa maksud Rimba menyuruh mereka bertemann kembali. Apakah teman masa kecil harus selalu jadi teman juga saat sudah dewasa?
"Oh ya, Queen." Rimba menatap serius gadis itu.
"Tentang tujuannu kemari, Paman sudah memberi tahunya pada Leon. Paman harap kau tidak keberatan kalau Leon tahu. Dia itu anak Paman, jadi Paman pikir tidak masalah kalau dia tahu. Lagipula Paman tidak ingin dia jadi penasaran dan menduga-duga tentang tujuan mu datang kemari. "
Hah penasaran? Leon mengerutkan alisnya, heran kenapa Ayahnya bisa berkata begitu.
Memangnya siapa yang penasaran?
Sementara Queen hanya mengangguk pasrah. Sudah terlanjur di ceritakan, mau bagaimana lagi. Mau marah pun percuma. Kalau dia marah justru akan semakin sulit baginya mendapatkan pertolongan Rimba.
"Iya, Paman. Tidak apa-apa. " Hanya itu yang bisa di ucapkan gadis itu. Meski ia kesal karena Leon jadi tahu kalau ia adalah gadis menyedihkan yang kehilangan cintanya.
"Kalau begitu kalian lanjut berbincang saja. Paman mau keluar sebentar .. Oh ya jangan lupa makan ya. " Kembali menyuruh Queenzi makan malam.
"Tapi Paman pasti menolongku kan?" tanya Queenzi seolah sedang memberi persyaratan kalau dia mau berbincang dengan Leon asalkan Rimba mau membantunya.
"Kita bahas soal itu besok ya.. " Jawaban yang sangat tidak mengenakkan bagi Queen. Tapi sekali lagi gadis itu tak punya pilihan lain selain menerima.
Akhirnya setelah Rimba benar-benar keluar Queen mengambil sedikit sekali makanan lalu menguyahnya tanpa selera.
"Kalau tidak suka tidak usah makan. " Loen yang bisa menangkap gestur kesal Queen saaat menyantap makanannya menjadi tergerak untuk bicara.
Queen langsung menoleh. Tak yakin kalau pria di sampingnya yang baru saja bicara. Tapi kalau bukan dia siapa lagi?
"Ayahmu yang menyuruh makan, " sahutnya sedikit ketus
"Ayah kan sudah pergi. Dia juga tidak akan mengintip mu benar-benar makan atau tidak."
Mendengar kalimat Leon yang juga cukup ketus dan juga sarkas Queen langsung meletakkan sendoknya. Bibirnya mengerucut sambil melirik kesal pada pria dingin di sampingnya.
__ADS_1
Leon bukannya tidak sadar kalau Queen sedang menatapnya dengan pandangan kesal. Tapi ia justru tersenyum tipis. Senang sekali melihat gadis itu kesal. Dulu saat kecil kalau Queen belum menangis, Leon belum akan berhenti menggodanya. Namun meski begitu Leon sangat senang berteman dengan Queen. Pun sebaliknya. Meski setiap bertemu sering terjadi pertengkaran kecil, tapi mereka tetap dekat satu sama lain.
Namun setelah berpisah komunikasi mereka terputus. Mungkin itulah yang membuat mereka terlihat canggung sekarang.
"Dari dulu kau tidak pernah berubah. Selalu saja menyebalkan, " gerutu Queen masih dengan pandangan kesal. Kenapa juga harus makhluk menyebalkan ini yang ada di depannya sekarang. Padahalkan dia sama sekali tidak ada urusan dengannya. Dia hanya butuh Rimba, ataupun pertolongan Rimba, itu saja.
"Kau juga tidak pernah berubah. Tetap cengeng dan suka merajuk. Bodoh lagi. "
"Hah, apa kau bilang? " Queen tidak percaya kalau Leon baru saja mengatakannya bodoh.
"Kenapa, memang benar kan kau bodoh ? kalau kau pintar mana mungkin kau sampai datang kemari hanya untuk memperjuangkan pria yang sudah tak mau lagi padamu. "
"Hey jaga bicaramu !" Mengetahui kalau Rimba memberi tahu Leon soal masalahnya saja sudah cukup membuat Queen kesal. Apalagi kalau Leon sampai lancang mencampuri urusannya. Tentu gadis itu jadi makin murka.
"Apa, aku benar kan? untuk apa memperjuangkan orang yang sudah tidak mau di perjuangkan. Buang-buang waktu saja !"
"Kau---" Queen mengepalkan tangannya geram. Ingin rasanya dia menampar mulut pria yang bicara seenaknya saja itu. Tapi dia masih berusaha menahan diri. Ia sadar disini dia sedang berusaha mendapatkan bantuan dari seseorang. Kalau dia membuat masalah. Bukan tidak mungkin usahanya jauh-jauh datang kesini akan jadi sia-sia.
Alhasil gadis itu hanya mempu memendam rasa kesalnya sambil beberapa kali berusaha mengehela nafas.
Sedangkan Leon bukannya merasa bersalah karena sudah membuat gadis itu kesal malah justru tersenyum. Ia tahu ucapannya memang lancang. Tapi ia hanya ingin menguji apakah gadis berbelah dagu itu masih pemarah seperti dulu. Dan Leon sudah menemukan jawabannya. Baginya gadis itu tidak banyak berubah. Masih tetap pemarah, suka merajuk dan ... cantik.
"Maaf."
Setelah beberapa menit dan membiarkan gadis itu melebur rasa kesal nya. Leon baru meminta maaf. Persis sama seperti dulu. Kalau Queen sudah menangis dia baru berhenti dan minta maaf.
Queen tak menjawab. Ia memilih membuang mukanya. Sebenarnya ia tahu kalau Leon memang sengaja membuatnya kesal. Dan parahnya dia selalu saja terpancing.
"Kenapa kau melakukannya? "
"Apa? " tanya Queen tidak mengerti. Rasa kesalnya sudah mulai berkurang.
"Kenapa kau sampai segila itu mengejarnya? bahkan sampai jauh-jauh kemari? "
"Cih cinta. " Gantian Leon yang mencibir.
"Kenapa? kau tidak pernah jatuh cinta kan makanya tidak pernah tau rasanya. "
Leon langsung membuang pandangannya. Bicara soal cinta membuatnya langsung teringat pada mantan kekasih yang telah mengkhianati nya. Akh sudahlah. Leon menggelengkan kepala bermaksud mengusir bayangan menyebalkan yang tiba-tiba bersarang.
"Ayahku bilang, yang merebut kekasihmu itu bukan manusia. Apa itu betul? " Ketimbang membicarakan soal cinta yang baginya sangat menyebalkan, Leon memilih membicarakan hal lain. Hal yang dari kemarin sempat mengganggu pikirannya.
"Ya begitulah. Ayahmu pasti sudah menceritakan semuanya kan? " Sudah kepalang tanggung, pikir Queen di. Leon juga sudah tahu semua nya kan, jadi untuk apa lagi di tutup-tutupi.
"Maksudnya bukan manusia itu bagaimana. Apa dia monster, atau alien begitu?"
Queen langsung menoleh. Sedikit heran karena Leon sepertinya lebih percaya tentang alien ataupun monster ketimbang hantu dan sejenisnya. Nyatanya pria itu tadi tidak menanyakan 'apa dia itu hantu?'
Queenzi menarik nafasnya sebelum bicara.
"Ayah gadis itu bukan keturunan manusia. Konon katanya dia berasal dari istana gaib di bawah laut? "
Bagaimana reaksi Leon? tentu saja sudah bisa di tebak. Melongo tidak percaya. Seperti sedang mendengar cerita dongeng yang sering kali tak masuk akal.
"Kerajan gaib di bawah laut? " Kalimat itu entah sadar atau tidak keluar dari lisanya.
"Hmm, memang sulit di percaya. Tapi itulah kenyatannya, " jawab Queen apa adanya. Dia tidak terlalu memaksa Leon untuk percaya karena nyatanya semua itu memang sulit di percaya.
"Apa wujudnya sama seperti kita? "
"Ya.Dia berbaur dengan kehidupan manusia dan bahkan menikah dengan manusia. Anak dari pernikahannya itulah yang sekarang merebut kekasihku. "
Leon menggaruk-garuk kepalanya. Semakin tidak mengerti. Makhluk antah barantah bisa menikah dengan manusia?
__ADS_1
"Dari mana kau tahu kalau dia itu bukan manusia?" Leon terus berusaha membunuh rasa penasarannya.
"Awalnya aku juga tidak tahu. Walaupun merasa sangat aneh dengan penampilan dan sikap gadis itu. Tapi aku tidak pernah berpikir kalau dia bukan manusia ... sampai kemudian seseorang memberitahuku kalau dia bukan manusia seutuhnya. Atau katakanlah dia setengah manusia."
"Tungggu, tunggu. Tadi kau bilang dia sama seperti kita. Tapi barusan kau bilang kalau penampilan dan sikap gadis itu aneh?"
"Tentu saja tidak benar-benar sama. Matanya merah, apalagi kalau sedang marah, bisa seperti bara api. Kulitnya cenderung pucat dan dia sangat mudah marah, kalau mengamuk bisa menghancurkan apa saja. " Queen bicara sambil membayangkan wajah mengerikan Senja dan juga Ayahnya.
"Bagi orang yang tidak tahu mungkin akan mengira kalau dia mengalami kelainan genetik. Orang tidak akan pernah menyangka kalau dia itu bukan manusia. Kecuali orang-orang yang memang sudah tahu." Lanjut Queen lagi. Ia sudah bisa bicara cukup santai dengan Leon. Bahkan sudah bisa menjelaskan panjang lebar begitu. Sepertinya keduanya sudah tidak canggung lagi. Leon juga sudah tidak membuatnya kesal lagi. Dia bicara dan bertanya secara baik-baik.
"Memangnya banyak yang tahu? dan dia bisa tetap berbaur disana meski banyak yang sudah tahu? "
"Tidak banyak, hanya segelintir orang. Dan mereka merahasiakan itu. "
Leonil mengangguk-angguk mencoba mempercayai meski baginya tetap saja tak masuk akal.
"Kalau dia menyeramkan seperti ceritamu, kenapa kekasihmu bisa jatuh cinta padanya?" Bagi Leon cerita Queen ini adalah cerita paling aneh yang pernah di dengarnya, membuat rasa penasarannya tak terbendung dan igin terus bertanya. Padahal biasanya dia adalah pria yang jarang peduli urusan orang. Apalagi bertanya sampai se detail itu. Tidak, itu tidak pernah terjadi sebelumnya.
"Dia memang menyeramkan, tapi terlepas dari itu semua dia itu sebenarnya sangat cantik. " Sekali lagi meski dengan berat hati, Queen harus mengakui kalau Senja memang cantik. Cukup cantik malah.
"Menyeramkan tapi cantik? " Lagi kalimat Queen memantik rasa penasaran Leon
"Ya begitulah, pokoknya kalau tidak melihatnya sendiri pasti akan sangat sulit untuk percaya."
"Yah, memang sulit di percaya.Aku bahkan belum sepenuhnya percaya." Leon sama sekali tidak bermaksud menganggap cerita Queen hanyalah omong kosong, namun jujur saja ia tidak bisa segampang itu percaya.
"Akh sudahlah Leon. Jangan membahas soal itu lagi. Aku juga sebenarnya tidak ingin bercerita. " Queen kembali menunjukan kekesalannya. Menceritakan sesuatu yang menyebalkan memang membuat kita terbawa emosi karena mau tidak mau harus kembali mengingat hal menyebalkan itu.
Tapi Leonil justru senang melihatnya. Terlebih saat gadis itu mulai mau menyebut namanya. Entah kenapa Leon suka saja mendengarnya.
Leonil tersenyum melihat Queen yang sudah kembali ke mode awal. Meski tadi dia sempat berubah serius, tapi lama-lama kembali juga pada sifat aslinya. Mudah kesal. Dan entah kenapa Leon suka melihat itu.
"Kau tidak jadi makan?" Leon mencoba bertanya hal lain supaya gadis di depannya tak lagi kesal. Meski ia suka melihatnya tapi kasihan juga melihat gadis itu terus-terusan kesal.
"Tidak, aku sedang tidak selera makan."
"Ooh, kalau begitu boleh aku bertanya satu hal lagi? "
Queenzi menoleh dengan pandangan heran. Bukankah tadi pria ini sangat lancang dan blak-blakan, kenapa sekarang jadi sopan begini?
"Apa?"
"Kenapa kau berpikir kalau Ayahku bisa menolongmu?"
Queen nampak berpikir sejenak sebelum menjawab.
"Apa kau tidak tahu kalau Ayahmu pecinta dunia mistis? "
Pertanyaan balik dari Queen membuat Leonil berpikir sambil mengingat. Lalu sesaat kemudian dia mengangguk-angguk.
"Benar, dulu Ayahku sering bercerita soal hal-hal aneh yang menurutku tidak masuk akal. Aku bahkan sangat tidak percaya, tapi sekarang sepertinya Ayah sudah tidak pernah membahas soal itu lagi. "
"Iya, Ayahmu juga bilang kalau sudah tidak berkecimpung di dunia itu lagi ... tapi aku yakin dia pasti masih mengingat bagaimana cara mengatasi makhluk-makhluk itu."
Senyum mengejek langsung tersungging dari bibir Leon. Tak menyangka kalau gadis secantik Queen sampai segila itu mencintai seseorang.
"Kau yakin sekali dan ambisius sekali. Seperti tidak ada orang lain lagi di dunia ini. Atau memang sudah tidak ada lagi yang mau denganmu? "
"Leoon, jangan mulai lagi, " rengek Queen yang mendengar Leon kembali mengejeknya. Rengekan yang membuat Leon tersenyum tipis sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. Pria tampan itu tidak habis pikir dengan sikap Queen.
Leon juga pernah mengalami hal yang sama seperti gadis itu. Tapi dia tidak segila itu memperjuangkan cintanya. Dia cenderung pasrah dan membiarkan orang yang di sayangnya pergi dengan yang lain. Meski sampe sekarang dia belum bisa melupakan orang itu, tapi Leon sama sekali tidak berusaha untuk mendapatkannya kembali, sedangkan Queen mengejar cintanya seperti orang yang kehilangan akal.
Leon tidak menyangka teman masa kecilnya sekarang berubah menjadi gadis ambisius yang memperjuangkan segala cara hanya untuk cinta yang sejatinya sudah bukan lagi miliknya.
__ADS_1