
Pagi ini Dirga merasa ada yang aneh dengan kedua orang tuanya. Ralat, bukan kedua orang tuanya melainkan hanya ibunya. Orang tua perempuannya itu memasang wajah tidak bersahabat saat menyiapkan sarapan pagi untuk mereka.
Bahkan saat Dirga menyapanya, sang ibu hanya menjawab dengan kata "hmm". Dan yang membuat kening Dirga makin berkerut adalah Ibunya ternyata juga bersikap tidak ramah pada Ayahnya. Padahal berkali-kali Ayah mencoba mengajaknya bicara, tapi jawaban ibu hanya sebatas gerakan kepala antara mengangguk dan menggeleng.
Kalau hanya marah pada nya saja, tentu Dirga tidak terlalu terkejut, karena akhir-akhir ini sikap kedua orang tuanya memang cenderung dingin. Pria yang ketampanannya tidak masuk akal itu cukup paham kenapa mereka bersikap demikian.
Namun jika Ibu juga bersikap dingin pada Ayah tentu Dirga merasa ada yang aneh.
" Ibu baik-baik saja? "
Ketimbang mati karena rasa penasaran, Dirga memutuskan untuk bertanya. Meski jawaban yang di dapat justru membuatnya makin heran.
"Ya, secara harfiah. "
"Apa ini masih tentang Senja, Bu? " tanyanya memastikan dan sangat yakin kalau jawabannya benar.
"Ya, seperti yang kau tahu. Semua masalah yang akhir-akhir ini sering terjadi itu semua karena Senja. Senja yang membuat hubungan kita semua jadi seperti ini ... Itulah sebabnya Ibu selalu memintamu untuk menjauhi gadis aneh itu. Tapi sayangnya kau tidak pernah
mengerti. "
Dirga memilih diam dan tidak menanggapi ocehan Ibunya. Namun hela nafasnya yang terdengar berat cukup menggambarkan betapa ia jengah dengan tingkah Ibunya. Bahkan masih sepagi ini, perempuan paruh baya itu sudah mencari masalah.
"Aku berangkat dulu, Ibu, Ayah, " sebelum racauan ibunya kian bertambah panjang dan sebelum rahang Dirga juga ikut menegang, pria rupawan itu memilih undur diri.
"Kau selalu saja kabur saat Ibumu tengah
bicara." Suara Ibu kian meninggi, tak terima di tinggalnya begitu saja oleh putranya.
"Maaf, Bu. Tapi aku tidak ingin berdebat. Hari bahkan baru di mulai tapi ibu sudah merusak suasana pagiku. "
"Apa kau bilang !"
"Mel sudahlah, " jeritan Melati coba di redam oleh sang suami namun itu justru membuat wanita itu kian terbakar emosi. Kendati tak menyahut, tapi tatapan matanya pada Damar seolah seperti belati tajam yang siap mencongkel kornea milik pria itu.
Sedangkan Dirgantara lagi-lagi hanya bisa menghela nafasnya, heran kenapa baik Ayah ataupun ibunya akhir-akhir ini suka sekali memakai nada tinggi saat bicara.
Berangkat kerja dengan perasaan kesal tentu sangatlah tidak nyaman. Meski Dirga sudah mencoba menetralisir perasaan tak nyaman itu dengan kepulan asap yang keluar dari mulutnya, namun tetap saja ia merasa seperti ada bongkahan batu besar yang saat ini menghimpit dadanya.
"Akh sial !" umpatnya sambil memukul kemudi mobil lalu kemudian membuang secara asal putung rokok yang masih tersisa setengah bagian. Pria itu sebenarnya memang bukan perokok aktif, hanya sesekali saat benar-benar ingin atau saat suasana hatinya sedang tidak baik, barulah ia melebur nya dengan lintingan tembakau itu.
Namun sayangnya benda yang jadi candu hampir sebagian pria di muka bumi itu pagi ini tak cukup mampu membantunya.
Ia merasa muak karena entah sejak kapan suasana paginya selalu di rusak oleh hal-hal yang menyebalkan. Mungkin benar semua itu memang berawal karenanya. Karena dia yang tetap nekat berhubungan dengan Senja padahal kedua orang tuanya sudah dengan tegas menolak. Tapi mau bagaimana lagi, nyatanya dia memang sudah tergila-gila pada pemilik pupil merah itu dan tak kuasa menjauhi nya.
Pagi hari yang seharusnya di mulai dengan energi positif malah sekarang selalu berubah jadi moment memuakkan. Dirga bahkan berpikir kedepannya ia tak ingin lagi sarapan pagi di rumah. Begitu keluar dari kamar langsung on the way ke kantor. Sepertinya itu lebih efektif untuk menghindari bentrokan antara ia dan orang tuanya.
__ADS_1
Ngomong-ngomong soal sarapan, Dirga tiba-tiba teringat kalau ia belum sempat sarapan tadi, bahkan seteguk air pun belum sempat ia minum. Ginseng panas yang biasanya selalu menghangatkan suasana paginya. Kali ini tak sempat ia nikmati.
Rasa ingin menghangatkan perut dan juga tenggorokannya memaksa pria itu menepikan mobilnya. Ia ingin breakfast di luar saja. Meski itu jauh dari kebiasannya tapi mau bagaimana lagi, terpaksa.
Mobil sudah menepi di depan resorts khusus penyedia breakfas dan pria maskulin itu sudah bersiap keluar, namun getar ponsel menjeda pergeraknanya.
"Selamat pagi, Dirgantara. "
"Sebelum berangkat jangan lupa sarapan ya. "
Dirga memicingkan matanya sambil tersenyum.
Manis sekali, bathinnya sambil terus memandangi pesan dari gadis bermata merah karena tidak biasanya gadis itu mengirim chat se-manus itu. Dan percaya atau tidak, suasana hatinya yang tadi sangat kacau mendadak jadi sangat tentram. Begitulah Senja, selalu saja bisa menjadi moodbooster bagi Dirga meski hanya dengan pesan singkat dan simple.
"Pagi juga, Senja. Aku baru akan sarapan. "
Balasan terkirim, dan Dirga ingin mengetik pesan berikutnya. Ia ingin mengajak Senja breakfast berdua karena kebetulan dia akan makan di luar. Sepertinya cukup menyenangkan bisa menikmati sarapan pagi berdua dengan orang tersayang.
Dirga sudah selesai mengetik dan bersiap hendak mengirim pesan, namun niatnya urung terlaksana. Tiba-tiba pria itu menyadari satu hal. Kalau bertemu Senja pagi ini bisa-bisa ia akan sangat terlambat pergi ke kantor, sedangkan ini saja sudah cukup terlambat, apalagi kalau sampai bertemu Senja. Dirga sadar tidak akan bisa menahan diri untuk berlama-lama dengan gadis itu. Waktu beberapa menit pasti tidak akan cukup baginya.
Pria dengan pahatan wajah bak titisan dewa itu akhirnya menghapus kembali pesannya.
Meski ia sangat ingin bertemu Senja pagi ini, tapi ia harus bisa profesional. Tidak mau meninggalkan pekerjaan seenaknya saja, apalagi hari ini ada meteeng penting.
"Kau juga jangan lupa sarapan ya? "
Tidak bisa bertemu Senja pagi ini, Dirga tak kehilangan akal, masih ada waktu luang saat ia pulang kerja nanti. Toh biasanya juga seperti itu.
Akhirnya Dirga memutuskan untuk breakfast sendirian. Menikmati ginseng hangat dan sepotong roti bakar sambil menatap lalu lalang kendaraan dari balik dinding kaca. Tapi percayalah, hanya tatapannya saja yang melihat ke luar, sementara pikirannya melanglang buana entah kemana. Masih saja sikap orang tuanya yang mengganggu ruang pikirnya. Sampai kapan mereka akan menentang hubungannya dengan Senja?
Pertanyaan itu dengan setia menemani sarapan paginya kali ini. Sampai kemudian pesan dari Nayra memaksa ia menyudahi lamunan dan juga sesi breakfast nya. Sang sekertaris humble itu menanyakan keberadaan Dirga dan berapa lama lagi Dirga akan sampai ke kantor.
Mereka memang ada meeting di luar pagi ini dan Nayra bilang kliennya sudah menunggu.
Dirga melirk penunjuk waktu di pergelangan tangannya dan menyadari kalau dia sudah sangat terlambat dan akan lebih terlambat lagi kalau harus ke kantor terlebih dahulu karena tempat meeting nya memang berlawanan arah dengan kantornya. Alhasil pria itu memutuskan untuk langsung ke lokasi dan menyuruh Nayra menyusul.
Kalau bukan karena ada meteeng penting pagi ini, pasti Dirga akan menunda waktu kerjanya. Moodnya benar-benar sudah di buat berantakan oleh orang tuanya, terutama ibunya. Untung saja Senja tadi sudah berhasil menetralisir kesal di dada pria itu. Meski tetap saja bongkahan besar itu masih saja betah berlama-lama di dada, tapi setidaknya janjinya untuk bertemu Senja sore nanti membuat hari-nya jadi lebih bersinergi.
Tapi sayang energi positif yang di salurkan Senja tak bisa bertahan lama. Saat melihat siapa rekan meteeng nya pagi ini, Mood Dirga yang sudah sedikit membaik kembali jadi berantakan. Bahkan kali ini jadi hancur berkeping-keping.
"Queen..? "
Tak menyangka sama sekali kalau orang yang akan dia temui adalah orang yang sangat tidak ingin di lihatnya.
"Pagi, Dirga ... jangan terkejut begitu, seperti tidak pernah melihatku saja. Atau kau terpesona dengan kecantikanku? "
__ADS_1
Tanpa mempedulikan keterkejutan Dirga, Queenzi justru menunjukan sikap narsisme-nya yang membuat Dirga langsung mencibir kesal.
"Kenapa Nayra tidak bilang kalau yang akan ku temui adalah kau?"
"Mana ku tahu, " jawab Queen santai sambil mengangkat bahunya.
."Pasti kau menyuruhnya untuk tidak memberi-tahuku kan? "
"Jangan berburuk sangka, Dirga. Aku tidak melakukan itu, lagipula kau mana boleh pilih-pilih begitu. Kau harus profesional. Siapapun rekan bisnismu yang penting dia menguntungkan bagimu kan? "
Ocehan Queen membuat Dirga langsung membuang pandangannya.
Ya Tuhan, apalagi ini.
"Kau benar, selama kau menguntungkan maka aku harus tetap profesional. " Akhirnya meski dengan dada bergemuruh Dirga melontarkan kalimat itu.
"Baiklah karena kita sudah bertemu, maka sebaiknya kita langsung mulai saja, lebih cepat selesai lebih baik," sarkas Dirga namun tetap tak menyamarkan senyum di wajah Queenzi.
"Santai dulu Dirga, jangan terburu-buru. Sekertaris mu bahkan belum sampai, sekertaris ku juga, lalu apa yang akan kita bahas?"
Ya benar, meski sekesal apapun dia pada Queen, tapi Dirga tak punya pilihan lain selain menunggu, ya, menunggu dengan orang yang sangat mengganggu.
"Apa maumu?" Intonasi Dirga melonjak naik, tatapannya juga seperti pisau yang baru di asah, tapi gadis berambut kecoklatan di depannya tak sedikitpun gentar.
"Aku mau bekerjasama denganmu," jawab Queen lugas.
"Dan kau tidak bisa menolak karena aku menjanjikan keuntungan yang sangat besar untuk perusahaan mu. "
"Queen, " Dirga menyebutkan nama itu setelah menghembuakan nafasnya dengan kasar, melonggarkan dadanya yang terasa sesak.
"Kenapa kau belum juga menyerah? "
"Kenapa aku harus menyerah? " Queen balik bertanya. Kali ini ekspresinya berubah serius
"Aku belum kalah, jadi kenapa aku harus menyerah? dan kalaupun aku sudah kalah, aku akan tetap mencoba dan mencobanya lagi sampai aku memenangkan hatimu. "
"Queen---"
"Dirga, aku tahu kau hanya sedang kecewa padaku. " Queenzi tak memberi kesempatan Dirga untuk bicara.
"Kau hanya sedang marah padaku, aku tahu itu ... Aku pasti akan menunggu sampai marahmu hilang. "
Oh ya Tuhan, Dirga membuang pandangannya dan seperti biasa di iringi dengan helaan nafas berat. Entah mimpi buruk apa ia tadi malam sampai sepagi ini sudah harus mengalami banyak hal yang sangat tidak mengenakan.
Setelah tadi ketenangannya di obark-abrik oleh ibunya, sekarang malah justru di hancur leburkan oleh orang yang seharusnya sudah menjadi masa lalunya.
__ADS_1
Sungguh pagi yang indah bagi Dirga. Ya, indah dan penuh amarah.