
Hari ini Queenzi kembali ke tanah airnya dengan perasaan berbunga. Misi nya untuk mencari bantuan telah membuahkan hasil. Rimba sudah mau buka suara dan memberi tahu bagaimana cara menaklukan Senja. Meski Rimba berkata kalau rencana itu bisa gagal, tapi setidaknya Queen sudah tahu caranya.
Sekembalinya dari tempat Rimba, Queen tidak langsung pulang ke rumahnya. Ia terlebih dahulu bertemu dengan Melati. Sepertinya gadis itu sudah tidak sabar ingin memberi tahu caranya.
Sama halnya dengan Queen, Melati juga begitu senang saat mendapat kabar kalau Queen telah kembali. Ia begitu antusias dan tidak sabar juga ingin mendengar ceritanya. Kedua wanita yang saat ini berada dalam satu misi itu sepakat untuk bertemu saat jam makan siang. Belum tepat sebenarnya kalau di sebut jam makan siang karena waktu baru menunjukan pukul sebelas. Tapi siapa peduli, yang jelas mereka ingin bertemu secepatnya.
Sementara Damar, begitu istrinya minta izin untuk makan siang di luar bersama temanya, Pria berkarisma itu juga mengambil kesempatan itu menemui putranya.
"Ayah, ada apa kemari? " Damar yang sedang berkutat dengan pekerjaannya tentu saja kaget melihat Ayahnya yang muncul tiba-tiba. Meski ini bukan kali pertama Ayahnya datang ke kantornya, tapi tetap saja pria dengan bnyak kelebihan itu merasa heran.
"Tentu saja ada perlu denganmu. Ada yang ingin Ayah bicarakan. " Tanpa di minta Damar langsung mendudukkan badannya di sofa panjang di depan dinding kaca.
Mendengar itu Dirga segera menyudahi aktifitasnya dan beranjak menghampiri sang Ayah.
"Soal apa, Ayah? " Kalau dulu saat pertama kali Ayahnya bertandang kemari, Damar merasa sedikit tegang. Namun kali ini pria itu cukup terlihat santai. Mungkin karena sekarang Ayahnya berada di pihaknya.
"Soal kekasihmu yang aneh itu. "
"Hah? " Dirga sontak menautkan alisnya. Heran kenapa Ayah menyebut Senja dengan kalimat sarkas begitu.
"Kenapa Ayah bicara begitu, bukankah Ayah sudah merestui hubungan kami? "
"Ya benar, justru karena Ayah sudah menyetujuinya makanya Ayah bertanya soal gadis itu ... Apa hubungan kalian baik-baik saja?"
Pertanyaan sang Ayah tentu membuat Dirga semakin bingung. Sebenarnya apa yang ingin Ayahnya sampaikan.
"Baik, hubungan kami baik-baik saja. " Sambil mengangguk-anggukan kepalanya.
"Memangnya ada apa, Ayah? "
Damar menghela nafasnya kemudian menyandarkan badannya di sofa mewah yang di dudukinya.
"Sebenarnya ini bukan hanya soal Senja, tapi juga soal ibumu ... tadi secara tidak sengaja Ayah mendengar ibumu membuat janji bertemu dengan Queen. Entah kenapa Ayah merasa mereka merencanakan sesuatau untuk mengganggu hubungan kalian. "
"Benarkah? "
"Hmm sepertinya begitu, " angguk Damar membenarkan.
"Ayah juga sebenarnya tidak ingin berburuk sangka, apalagi terhadap ibumu sendiri. Tapi mengingat dia begitu membenci Senja, Ayah jadi berpikir apa mungkin dia dan Queen sedang bersekongkol untuk merencanakan sesuatu."
"Bisa jadi, Ayah. Queen kan juga sangat membenci Senja. Dia sangat berambisi untuk membuatku kembali padanya." Sependapat dengan sang Ayah, Dirga juga menyampaikan asumsinya.
__ADS_1
"Apa sejauh ini dia sudah melakukan sesuatu?" Tanpa bermaksud mencampuri urusan putranya, tapi Damar hanya tidak ingin hubungan putranya degan orang yang di sayanginya menjadi kacau karenan gangguan dari pihak lain.
"Yah sudah beberapa kali dia coba melakukannya, " jawab Dirga sembari mengingat kejadian di pantai saat Queen dan ibu coba menjebak Senja.
"Tapi Ayah tenang saja, aku dan Senja bisa mengatasi nya. "
"Baiklah, Ayah percaya padamu. Tapi kau tetap harus hati-hati. Queen dan ibu sepertinya tidak akan menyerah begitu saja." Damar berpesan demikian tentu bukan karena sedang mengadu domba antara Dirga dan ibunya. Bukan juga sedang berusaha berhianat dari sang istri. Sekali lagi dia hanya ingin membiarkan putranya bahagia dengan siapapun pilihannya. Seandainya bisa ia bahkan ingin membuat istrinya juga menyetujuinya. Namun sayangnya wanita itu terlalu egois untuk mengalah demi putra semata wayang mereka.
"Aku tahu, Ayah. Ayah tenang saja, " jawab Dirga mematahkan ke-khawatiran sang Ayah. Dalam hati pria berpostur tinggi tegap itu merasa sangat senang karena kini Ayahnya benar-benar menunjukan persetujuannya.
"Baguslah kalau begitu. Ohya bagaimana kabar Senja sekarang? Ayah sudah lama tak melihatnya. "
"Eum Senja sedang tidak baik-baik saja, Ayah." Awalnya Dirga agak sedikit ragu ingin memberi tahu kondisi Senja yang sebenarnya. Tapi karena melihat Ayahnya yang sudah sangat respect terhadap gadis itu membuat Dirga tak lagi urung untuk bicara.
"Maksudmu dia sedang sakit? "
"Ya begitulah. "
"Sakit apa dan sudah di bawa berobat atau belum?"
Dirga tersenyum getir. Sepertinya Ayahnya lupa siapa Senja.
"Hah, dasar laut? "
Damar menanggapi keterkejutan sang Ayah dengan anggukan kepala.
Jujur saja untuk sesaat kalimat itu terasa begitu aneh bagi Damar, namun saat ia teringat siapa Senja sebenarnya. Pria karismatik itu akhirnya mengerti.
"Jadi dia juga seperti Ayahnya, kalau sudah sakit harus kembali ke laut? harus bersemedi dulu untuk mengisi kembali energinya? "
"Ya, Ayah. Senja sama persis dengan Ayahnya. Bedanya waktu semedinya lebih singkat dari ayahnya. "
"Ooh.. " Damar mengangguk-angguk.
"Berapa lama dia bersemedi? setahu Ayah dulu Bayu cukup lama meninggalkan Wulan sampai ia bisa kembali lagi ke dunia ini. " Ingatan Damar sontak langsung tertuju pada saat dimana Wulan harus merasakan kesedihan yang mendalam karen berpisah dari Bayu untuk waktu yang cukup lama.
"Kalau senja sekitar satu purnama atau lebih Ayah. Sedangkan Ayahnya siklus hidupnya terbagi menjadi dua. Seratus hari di dunia kita, seratus hari di dunia asalnya."
"Jadi setiap seratus hari sekali Bayu harus kembali ke asalnya, dan akan kembali seratus hari kemudian? "
"Ya kurang lebih begitu. " Damar membenarkan kesimpulan yang di ambil oleh ayahnya.
__ADS_1
"Kasihan Wulan. Pasti kesepian selama Bayu tidak ada. "
Ucapan sang Ayah membuat Dirga sedikit terkejut. Terlebih ayahnya mengatakan itu dengan ekspresi yang sedikit berbeda.
"Eum Ayah boleh aku menanyakan sesuatu?"
Damar yang sedang kepikiran Wulan langsung menoleh.
"Tentang? "
Dirga memperhatikan ayahnya sambil meringis. Ada sedikit ragu yang tersirat. Takut ayahnya tersinggung dengan pertanyaannya. Tapi dia merasa hubungannya dengan Ayah sedang cukup baik akhir-akhir ini, jadi Ayah pasti tidak akan marah. Fikir Dirga.
"Ayah jawab jujur ya, apa Ayah masih punya perasaan pada bibi Wulan? "
"Apa? " Damar langsung memalingkan wajahnya mendengar pertanyaan putranya. Gambaran wajahnya sulit di artikan.
"Pertanyaan bodoh macam apa itu. Tentu saja tidak," jawabnya sekali lagi dengan ekspresi yang tidak terbaca oleh Dirga.
"Benarkah, tapi tadi Ayah bilang kasihan."
"Hanya sekedar kasihan, Dirga. Bukan berarti masih sayang. Lagipula Ayah kan sudah ada ibumu. " Damar berusaha meyakinkan putranya dari pikiran bodoh yang bersarang. Ia memang pernah sangat mencintai Wulan dulu. Tapi itu dulu. Sekarang tentu saja perasaan itu sudah tak lagi ada. Kalaupun ada pasti akan langsung ia bunuh secepatnya. Ia tak ingin lagi mencintai orang yang tidak semestinya.
"Ooh baguslah. Aku pikir Ayah masih ada perasaan untuk bibi Wulan. " Sebenarnya Dirga tidak ada maksud apa-apa. Bukan juga sedang mengejek Ayahnya. Dia hanya ingin tahu saja. Dan itu cukup antara dia dan Ayah saja.
"Dasar bodoh! mana mungkin Ayah masih suka. Lagipula Wulan juga tidak akan mau sama Ayah."
"Jadi kalau Bibi Wulan mau Ayah juga mau? " Pertanyaan itu timbul begitu saja mendengar jawaban spontan ayahnya yang sepertinya tidak sadar saat berkata begitu.
"Hah? " Damar menatap putranya mendengar pertanyaan konyolnya. Sepertinya Damar sadar kalau ia telah terjebak olehh ucapannya sendiri.
"Tentu saja tidak ... Akh sudah lah jangan membahas soal itu lagi." Damar mengibaskan tangannya meminta Dirga berhenti bicara omong kosong itu karena menurutnya itu sangat tidak penting.
Terlepas dari bagaiamana perasaannya pada Wulan saat ini, biarlah hanya dia sendiri yang tahu.
"Kau pikirkan saja hubungamu yang rumit itu."
Dirga tersenyum melihat ekspresi salah tingkah Ayahnya. Ia jadi merasa bersalah karena telah mengejek orang tuanya itu. Namun entah kenapa Dirga dapat menangkap sedikit sinyal kalau ayahnya---akh sudahlah Lupakan. Dirga membuang jauh-jauh pikiran kotornya.
Benar kata Ayahnya tadi. Saat ini ia hanya perlu memikirkan tentang hubungannya dengan Senja. Bersiap untuk segala kemungkinan. Waspada terhadap gangguan dari luar khususnya dari ibu dan Melati.
Namun terlepas dari semua itu, Dirga tetap merasa senang karena sekarang Ayahnya telah benar-benar mendukungnya.
__ADS_1