
"Senja ku sudah pulang? " Wulan cukup terkejut saat pagi ini melihat putrinya sudah berada di ruang makan.
"Sudah, Bu. " Senja tersenyum ramah
"Kapan kau pulang, kenapa tidak membangunkan ibu? "
"Tadi malam, Bu. Tapi sudah sangat larut jadi tidak membangunkan Ibu. Lagipula kata nenek ibu sedang tidak enak badan ... Ibu sakit?"
Wulan menggeleng pelan sambil mengambilkan sarapan pagi untuk putrinya. Kebiasaan yang selalu di lakukannya saat Senja sedang di rumah.
"Tidak, hanya sedikit lelah saja, mungkin karena terlalu capek di butik."
"Tapi muka ibu pucat sekali? Ibu yakin tidak apa-apa?" Senja memerhatikan dengan seksama wajah ibunya yang kali ini memang tampak lain dari biasanya.
"Iya, Nenek sudah menyuruh ibumu berobat tapi dia menolaknya." Fatma selalu orang paling tua di situ ikut buka suara. Sebenarnya ia juga cukup khawatir dengan keadaan Wulan. Tapi keponakannya itu malah menganggapnya biasa saja.
"Tidak apa, kalian tenang saja. Aku hanya perlu beristirahat. Besok juga sudah pulih. "
Senja dan nenek akhirnya mengangguk-angguk. Meski tetap saja keduanya merasa khawatir melihat Wulan yang terlihat pucat dan lemah.
Selesai makan Senja menemani ibunya ke butik. Padahal baik nenek ataupun Senja sudah mengingatkan Wulan untuk beristirahat saja di rumah. Tapi wanita itu tetap keras kepala dan menolaknya.
Bahkan sampai di butik Wulan sudah langsung di sibukkan dengan beberapa klien yang memesan berbagai gaun. Baik itu gaun pernikahan, pesta ataupun acara-acara tertentu. Butik Wulan memang sudah cukup ternama di kota ini. Desain nya terkenal unik, mewah dan rapi.
Sampai menjelang tengah hari wanita paruh baya itu masih berkutat dengan pekerjaannya. Padahal ia bisa menyerahkan tugas itu pada karyawannya, tapi Wulan memang sudah terbiasa turun tangan langsung.
"Istirahat dulu, Bu. Sudah siang. " Senja menghampiri sang ibu di ruang kerjanya.
"Ya, Senja. Sebentar lagi. "
"Ayolah, Bu. Ini sudah waktunya istirahat. Lagi pula ibu sedang tidak enak badan kan. Jangan terlalu memaksakan diri. "
Mendengar protes Senja yang memang benar adanya membuat Wulan yang sedang menggambar desain akhirnya beranjak. Namun saat mencoba berdiri mendadak Wulan merasa sangat pusing dan pandangannya berkunang-kunang. Wanita itu memegangi kepalanya yang terasa sangat berat.
"Ibu kenapa, Bu? " tanya Senja melihat ibu memegangi kepalanya.
__ADS_1
"Entahlah, Tiba-tiba pusing sekali. "
"Ya sudah kita pulang sekarang saja, biar ibu bisa istirahat di rumah. " Senja berjalan mendekati ibunya bermaksud hendak membantu perempuan itu berjalan. Namun seebelum sampai sang ibu sudah keburu ambruk. Wulan kehilangan kesadarannya dan terjatuh di atas meja kerjanya.
"Ibu ! ibu, ibu kenapa?" Panik Senja sambil mengguncang tubuh ibunya, tapi perempuan itu tak bergeming. Suhu badannya cukup tinggi membuat Senja makin khawatir. Tanpa berpikir lama gadis itu langsung membawa ibunya ke rumah sakit.
Wulan tak sadarkan diri selama satu jam lebih, tapi anehnya Dokter mengatakan kalau wanita itu tak apa-apa, hanya kelelahan saja. Persis seperti yang di tuturkan Wulan pagi tadi.
"Setelah ini ibumu harus cukup beristirahat. Usahakan agar tidak melakukan aktifitas yang melelahkan." Pesan Dokter muda itu yang di tanggapi Senja dengan anggukan kepala.
Gadis itu kemudian menghampiri ibunya yang baru saja siuman.
"Ibu baik-baik saja kan, apa masih pusing?"
Wulan yang masih terbaring lemah menggeleng pelan.
"Tidak, Nak. Ibu sudah tidak apa-apa. Tadi entah kenapa tiba-tiba pusing sekali. "
"Kata dokter ibu kelelahan. Ibu harus banyak istirahat. Kan sudah ku bilang tadi untuk istirahat di rumah saja, tapi ibu keras kepala. " Kesal Senja pada ibunya yang terus menganggap kalau dirinya baik-baik saja. Padahal nyatanya sedang tidak sehat.
Sementara Wulan hanya tersenyum mendengar omelan putrinya.
"Ya sudah tidak apa-apa. Ayo pulang, kata dokter ibu bisa langsung pulang. Tidak perlu di rawat."
Wulan mengangguk. Beruntung ia sakit saat Senja sudah pulang. Jadi ada yang bisa menjaganya. Seandainya anak dan suaminya sedang sama-sama tidak di rumah tentu akan semakin menyedihkan bagi Wulan.
Senja membawa ibunya pulang dan membiarkan orang tua perempuannya itu istirahat di rumah. Entah karena pengaruh obat atau karena memang sangat lelah Wulan akhirnya terlelap sampai sore hari.
Namun anehnya setelah bangun tidur Wulan justru merasa badannya semakin lelah. Perempuan itu mendadak ingin mencari angin segar di laut.
"Senja ! Senja !" panggilnya pada putri kesayangannya.
Senja yang sedang berada di ruang tengah buru-buru mendekat. Gadis itu memang sengaja tidak jauh-jauh dari ibunya. Berjaga-jaga kalau sang ibu terbangun dan membutuhkan sesuatu.
"Ya, Bu."
__ADS_1
"Antar ibu ke laut, Nak. Ibu ingin kelaut."
"Tapi ibu kan sedang sakit? " Tentu saja Senja tidak bermaksud menolak permintaan ibunya. Ia hanya khawatir pada kesehatan sang ibu.
"Tidak apa, ibu sudah tidak pusing lagi. Hanya masih sedikit lemas. "
"Ibu yakin? " Senja masih saja ragu.
"Iya ibu sedang rindu pada ayahmu. "
Mendengar itu barulah Senja mengangguk. Gadis itu bahkan beranggapan kalau sakitnya ibu mungkin karena terlalu memikirkan Ayahnya. Maklumlah mereka kan sudah lama tidak bertemu. Meski biasanya tidak seperti ini tapi Senja beranggapan mungkin ibunya sedang lemah hati dan juga fisiknya.
Sampai di laut Wulan tidak melakukan apapun. Hanya berdiri di bibir pantai memandangi lautan. Senja yang berada di sampingnya merasa iba pada sang ibu. Ia tentu betul bagaimana perasaan ibunya.
"Tenang, Bu. Sebentar lagi kan Ayah pulang."
"Yah, Mudah-mudahan, " jawabnya mengamini ucapan sang putri. perempuan itu laku menghela nafasnya dalam-dalam. Hela nafas yang membuat putrinya menoleh.
Senja yang berdiri tepat di samping sang ibu diam-diam memperhatikan raut wajah perempuan itu. Meski tak berucap tapi entah kenapa Senja tahu kalau ada yang sedang di pikirkan oleh ibunya.
"Apa yang sedang ibu fikirkan. apa ada yang sedang mengganggu pikiran ibu? " Ketimbang menduga-duga tidak jelas, Senja lebih memilih bertanya langsung.
"Tidak ada. Ibu tidak sedang memikirkan apapun. Hanya sedang rindu pada ayahmu, " jawabnya menyembunyikan kebenaran.
Wulan memang terlihat baik-baik saja dari luar. Tapi siapa yang tahu kalau hatinya sedang banyak menyimpan masalah.
Semenjak adanya rumor kalau Senja dan Ayahnya bukan manusia Wulan menjadi khawatir. Orang-orang mulai mencurigainya dan selalu melihatnya dengan pandangan aneh. setiap pergi ke manapun, pasti selalu saja ada orang yang melihatnya dengan pandangan mengintimidasi. Seolah mereka berkata 'Oh ini orang yang suaminya bukan manusia?'
Wulan sudah berusaha mengabaikan, tapi terkadang pandangan-pandangan tidak bersahabat itu tetap saja mengganggunya. Ia tidak tahu sampai kapan ia bisa terus menyembunyikan identitas suaminya.
Dan satu hal lagi yang makin membuatnya gelisah akhir-akhir ini. Kalau tidak salah dulu Bayu pernah mengatakan kalau suatu saat akan tiba saatnya dimana Wulan juga akan kehilangan energinya. Salah satu resiko jika memutuskan untuk menikah dengan mahkluk seperti Bayu adalah Wulan juga harus kehilangan energinya. Meski waktunya tidak bisa di pastikan. Tapi hal itu pasti akan datang.
Dan Wulan merasa mungkin inilah saatnya dimana dia merasa harus kehilangan energinya.
Memikirkan hal itu, juga masalah-masalah lain yang membuntuti membuat Wulan akhirnya kehilangan kesehatannya. Dan semuanya di perparah karena saat ini Bayu sedang tidak ada di sisinya.
__ADS_1
Senja terdiam, tidak lagi mendesak sang ibu untuk bicara. Gadis itu memahami mungkin ibunya belum mau berbagi dengannya. Atau mungkin saat ini sang ibu masih merasa perlu merahasiakannya.
Wulan sendiri sebenarnya ingin mengatakan hal itu pada Senja. Tapi perempuan itu tak yakin. Ia memutuskan untuk menunggu Bayu dulu sebelum membicarakan nya dengan putrinya.