Pacarku Setengah Manusia

Pacarku Setengah Manusia
Senang melihatmu bahagia, Nak


__ADS_3

Usai meteeng Dirga kembali ke kantornya, menyelesaikan kembali pekerjaan yang tertunda. Meski cukup lelah tapi pria tampan itu tetap profesional dalam bekerja. Terlebih sudah ada sedikit suntikan semangat yang di berikan Senja tadi, membuat penatnya sedikit berkurang.


Dirga berencana sore nanti selepas kerja akan langsung menemui Senja ke pantai. Melenturkan sejenak kinerja otaknya yang sejak kemarin di paksa bekerja terlalu keras. Selain itu tentu saja juga untuk melanjutkan aktifitasnya dengan Senja yang sempat terganggu oleh Queen tadi.


Namun sayangnya rencana Dirga sepertinya harus gagal karena mendadak sang Ayah mengajaknya bertemu.


"Temui Ayah sore nanti di kafe xx, ada yang ingin Ayah bicarakan. " Ucap sang Ayah melalui pesan singkat di salah satu aplikasi ponselnya.


Dirga ingin menolak, tapi merasa tidak enak hati pada Ayahnya. Ya walaupun hubungan mereka sempat kurang baik akhir-akhir ini tapi tentu saja itu tak mengurangi rasa hormatnya pada sang ayah.


Tak punya pilihan lain, Dirga akhirnya menyetujui permintaan Ayahnya. Tentu saja sambil berharap bahwa apapun yang akan di bicarakan ayahnya nanti itu tidak berujung pada perdebatan sengit yang menyebalkan.


***


Waktu begitu cepat bergulir. Tak terasa matahari tahu-tahu sudah condong ke langit bawah. Dirga segera mengemasi berkas-berkasnya. Untung saja semuanya sudah beres sehingga membuatnya bisa datang tepat waktu.


"Sore, Ayah. " Sapa Dirga pada sang Ayah yang telah sampai terlebih dahulu. Pria itu tetap berusaha ramah, meski belakangan ini mereka jarang berinteraksi.


"Hmm, duduklah. " jawab pria berwibawa yang sore ini tampak stylish dengan kaca mata bening yang membingkai mata teduhnya


"Ayah tidak bersama, Ibu? " tanya Dirga karena melihat ayahnya hanya sendiri.


"Ibumu sedang ke salon. Itulah sebabnya Ayah bisa menemuimu diam-diam. Kalau dia tahu pasti akan panjang ceritanya. "


"Ooh, " Dirga manggut-manggut menanggapi.


"Ibumu sudah tahu soal Bayu, Dirga."


"Apa? ayah serius? " Dirga tak dapat menutupi keterkejutan nya. Rahasia besar yang di simpan sang Ayah akhirnya terbongkar juga.


"Ya, Ayah tidak punya pilihan lain selain mengatakan nya. "


"Tapi kenapa, Ayah. Bukankah ayah sudah janji padaku untuk tidak akan memberitahu ibu? " protes Dirga tak habis pikir kenapa ayahnya bisa sampai buka mulut.


"Kau tahu kan sikap ibumu? Dia terus memdesak Ayah, dia mengabaikan Ayah selama berhari-hari dan bahkan mengancam tidak akan pernah mau bicara pada Ayah lagi. Jadi Ayah tidak punya pilihan lain. Lagipula ibumu memang sejak dulu sudah merasa ada yang aneh dengan Bayu, dan pertemuan di pantai kemarin membuatnya jadi semakin yakin kalau ada sesuatu dengan Bayu. "


"Tapi kenapa Ibu bisa tahu kalau Ayah mengetahui siapa Bayu?" tanggap Dirga pada penjelasan panjang lebar ayahnya


"Entahlah Ayah juga tak tahu. Mungkin Ayah ada kelepasan bicara sehingga membuat ibumu curiga. "


Huft.. Hela nafas Dirga terdengar sangat berat, berat sekali. Hal itu bahkan di barengi dengan gerakan tangannya yang langsung menyeka kening dan rambut bagian depannya, pertanda kalau ia benar-benar frustasi.


Melihat reaksi sang putra, Damar tahu betul bagaimana perasaannya. Semakin banyak yang tahu tentang siapa Bayu dan Senja, tentu tidak akan terlalu baik bagi mereka.


Damar kemudian menyodorkan segelas minuman segar yang baru saja ia pesankan, berharap bisa menetralkan sedikit kegundahan putranya.


"Lalu bagaimana tanggapan Ibu? " usai menerima gelas pemberian sang Ayah dan meneguknya dengan cepat, Dirga kembali bertanya.

__ADS_1


"Ibumu sangat terkejut. Dan Ayah pikir kau sudah bisa menebak sendiri bagaimana sikap Ibu selanjutnya terhadap hubunganmu dan Senja. "


Benar, sedangkan sebelum tahu siapa mereka saja Melati sudah sangat membenci Senja, terlebih setelah dia tahu siapa gadis itu sebenarnya.


"Tapi kau tenang saja, Ayah sudah berpesan pada Ibu supaya tidak memberi tahu siapapun soal ini. "


Dirga tersenyum masam tanpa bermaksud meremehkan kalimat Damar.


"Apa menurut Ayah ibu bisa menjaga rahasia? sedangkan Ayah saja tidak bisa apalagi Ibu, " keluh Dirga karena tahu betul kalau wanita adalah tipe makhluk yang sulit menjaga rahasia, terlebih ibunya yang memang punya lisan lumayan aktif.


"Yah memang, Ayah juga sebenarnya cukup was-was, jadi mari sama-sama berharap supaya ibumu tidak buka suara soal itu. "


Dirga tidak berkomentar. Raut wajahnya langsung berubah pias, berulang kali ia juga terlihat menghela nafas beratnya. Dan hal itu di saksikan langsung oleh sang Ayah. Ia yang sejak kemarin mulai berpikir untuk menerima hubungan senja dan putranya menjadi semakin terketuk melihat sang putra yang tampak sangat gundah karena yakin masalah baru pasti akan muncul.


Entah kenapa tiba-tiba Damar merasa iba pada putra semata wayangnya yang harus menghadapi banyak sekali masalah, padahal dia hanya jatuh cinta, dan cintanya pun berbalas indah, lalu apa masalahnya?


"Kau tenang saja, Ayah pasti akan membantumu."


"Hah? " Ucapan Damar membuat Dirga terkejut bukan main


"Ayah bicara apa barusan? "


Sang Ayah tersenyum


"Ayah akan membantu membujuk Ibu untuk menerima Senja. "


"Ayah juga sudah mulai bisa menerima hubungan kalian. "


"Benarkah? " Lagi-lagi Dirga tak percaya. Ini seperti berita yang sangat luar biasa baginya.


"Hmm, " Anggukan dari Damar membuat ekpresi sang putra langsung berubah cerah.


"Akh akhirnya ... terimakasih, Ayah. " pria yang postur tubuhnya tinggi menjulang itu mengangguk penuh hormat pada Ayahnya.


Sementara sang Ayah hanya bisa tersenyum


Senang melihatmu bahagia, Nak


"Tapi Ayah tidak bisa menjajikan apapun. Kau tahu kan kalau ibumu itu keras kepala dan yah, sedikit susah di bujuk."


"Aku tahu, Ayah. Tapi tak apa, setidaknya Ayah sudah berada di pihak ku, " Ya, bagi Dirga itu tentu sudah cukup membantu, setidaknya membantu meringankan sedikit tugasnya karena tidak harus bersusah payah lagi membujuk sang Ayah.


"Ooh ya, Ayah. ngomong-ngomong apa yang membuatmu berubah pikiran? apa karena Ayahnya Senja yang meminta mu? " Sebenarnya tidak terlalu penting juga bagi Dirga mengetahui kenapa ayahnya bisa berubah, tapi pria itu hanya penasaran saja.


"Yah secara tidak langsung," lugas Damar


"Tapi yang benar-benar membuat Ayah berubah pikiran ya kau sendiri. Kau menunjukan pada Ayah apa itu cinta yang sebenarnya."

__ADS_1


Owh cukup dalam ya kalimat Damar, bahkan putranya saja sampai terkesiap di buatnya. Ayahnya bicara soal cinta dengan kalimat segamblang itu, tentu itu adalah hal yang tidak pernah terucap dari lisannya selama ini.


"Kau terlihat begitu nyaman saat bersama Senja, harusnya itu saja sudah cukup bagi Ayah untuk bisa menerima hubungan kalian," lanjut Damar lagi yang kembali membuat binar bahagia tergambar dari wajah sang putra.


"Oh ya, apa Bayu sudah mengatakan apa yang akan kau hadapi nanti jika terus bersama Senja?"


"Maksud, Ayah? "


Sebelum menjawab Damar terlebih dahulu menghela nafasnya seolah apa yang akan ia ucapkan adalah hal yang cukup berat.


"Ayah pernah menyaksikan langsung kisah cinta tak masuk akal antara makhluk astral dan manusia ... Ada banyak sekali rintangan yang harus di hadapi keduanya sampai benar-benar bisa bersama. Dan bahkan setelah bersama pun masih harus menyimpan lara saat salah satu pasangan harus pergi untuk mengisi energi. "


Dirga mengangguk-angguk. Ia paham betul kalau yang di maksud Ayahnya adalah Wulan dan Bayu, sebab orang tua kharismatik nya itu memang pernah terlibat langsung dalam pusaran cinta Bayu dan Wulan.


"Dan Ayah yakin kau dan Senja juga pasti akan menghadapi hal yang sama." Berhenti sejenak lalu menatap Dirga.


"Apa Bayu ada mengatakan apa rintangannya dan bagaimana cara mengatasinya? "


Dirga berpikir sesaat lalu menggeleng.


"Tidak ada, Ayah. Paman Bayu hanya a agar aku siap selalu siap menghadapi segala kemungkinan buruk yang mungkin terjadi. Tapi dia tidak mengatakan secara detail nya, " Jelas Dirga sesuai dengan apa yang di dengarnya dari Bayu samudra.


"Ooh, jadi makhluk itu hanya memberi klu-nya saja? " Damar mencoba mencari kesimpulan.


"Baiklah, itu berarti Bayu ingin kau menyelesaikan nya sendiri, mungkin dia ingin melihat seberapa besar kau menyayangi putrinya dan seberapa sanggup kau berkorban untuknya. "


"Bisa jadi begitu, Ayah, " jawab Dirga atas asumsi Ayahnya.


"Kalau begitu apa kau siap? "


Pertanyaan yang cukup menantang. Namun Dirga dengan cepat langsung mengangguk a.


"Asalkan aku bisa tetap bersama Senja, apapun akan ku hadapi, " jawabnya pasti.


"Baiklah, kalau memang itu sudah menjadi tekadmu, Ayah tidak akan lagi mengganggumu. Tapi pastikan kau tidak gegabah dalam bertindak, pikirkan segala resiko yang mungkin terjadi. "


Meski telah berkata setuju, tapi dari kalimat terakhir Damar, pria itu masih tetap menyimpan kekhawatiran akan nasib putranya.


"Ya, Ayah." Dirga pun dapat merasakan itu, Ayahnya masih sangat khawatir. Tapi demi melihatnya begitu menginginkan Senja, pria setengah tua itu akhirnya mengalah. Dan Dirga sangat mengapresiasi sikap sang Ayah.


Setelah dirasa cukup berbicara, Damar kemudian bangkit dari duduknya.


"Ya sudah, kau lanjutkan urusanmu. Ayah harus menjemput ibu, kalau sampai terlambat kau tahu kan apa yang terjadi? "


Dirga hanya tersenyum. Ia juga tahu betul seperti apa ibu cantiknya.


"Terimakasih, Ayah, " ucapnya sebelum Damar benar-benar melangkah.

__ADS_1


"Hmm, habiskan minuman mu, " sahut Damar seraya menepuk pundak putranya.


__ADS_2