Pacarku Setengah Manusia

Pacarku Setengah Manusia
Usaha yang sia-sia


__ADS_3

Tiga hari semenjak Queen masuk rumah sakit dan Leon masih setia menunggu kabar baik dari gadis itu. Ia masih tetap berharap Queen dan seluruh korban dalam tragedi berdarah tempo hari bisa selamat dan baik-baik saja.


Dan hari ini, kabar baik yang di nantinya datang juga. Queen sudah siuman dan sudah di pindahkan ke ruang perawatan. Leonil bergegas menuju rumah sakit.


Queen yang sedang terbaring lemah dengan wajah masih penuh perban akibat cakaran Bayu terkejut bukan main melihat Leon yang tiba-tiba muncul di hadapannya.


"Leon, kenapa bisa ada disini? " tanyanya heran begitu Leon menyembul dari balik pintu.


"Ingin menjenguk mu, " Pria itu menjawab santai seolah tidak peduli dengan keterkejutan Queenzi.


"Dari mana kau tahu kalau aku di rumah sakit, dan kapan kau datang kesini? "


"Stt baru sadar, tidak boleh banyak bertanya. " Leon memberi isyarat melalui telunjuk yang di tempelkan ke mulut. Pria itu lantas mendekat dan duduk di depan ranjang pasien Queen.


"Kau baik-baik saja? "


"Menurutmu? " Gadis berbelah dagu meminta Leon melihat sendiri kondisinya yang sangat memprihatinkan.


"Tak apa, yang penting kau selamat. "


Queen langsung membuang mukanya. Benar dia selamat. Tapi dokter bilang wajahnya akan rusak karena bekas cakaran yang cukup dalam. Meski tidak permanen, tapi tetap saja butuh waktu yang tidak sebentar untuk membuatnya kembali normal. Dan itu harus melalui beberapa kali oprasi.


Dan terlepas dari semua rasa sakit yang di rasanya. Satu hal yang paling menyakitkan adalah kegagalannya dalam usaha melenyapkan Senja. Gadis itu merasa semua usahanya sia-sia belaka.


"Benar aku selamat. Tapi aku gagal. Semua usahaku sia-sia. Dan wajahku malah sekarang jadi rusak begini. " Gadis itu meratap sambil menundukan kepalanya. Terlihat betul kalau ia sangat frustasi dengan semua yang menimpanya.


"Setidaknya kau sudah berusaha. Queen. Dan mungkin sekarang saatnya kau menyerah. Terima kenyataan kalau---"


"Tidak aku belum menyerah. "


"Apa? " Sontak saja ucapan Queen membuat Leon terheran-heran.


"Setelah semua yang terjadi kau masih belum menyerah? "


Queen mengangguk lemah.


"Aku masih ingin berusaha. "


"Huh, dasar gadis bodoh! " Leon mendengus kesal. Tak habis pikir dengan gadis gila di depannya.


"Apa kau kesini hanya untuk mengejek ku. " Queen berbicara dengan pandangan kosong. Jiwa raga sedang sangat terluka saat ini. Dan kedatangan Leon hanya semakin menambah luka yang ada.


Leon menghela nafasnya. Sadar kalau ucapannya terlalu kasar. Queen sedang berada di titik paling rendah sekarang. Harusnya dia mensupport bukan malah menjudge.

__ADS_1


"Aku kesini untuk menyadarkanmu, Queen. Kau sudah terlalu jauh melangkah. Aku mohon berhentilah. "


Queen memilih diam. Ia sudah tidak tertarik lagi menanggapi ucapan Leon. Namun kesempatan itu justru di jadikan Leon untuk makin bicara. Ia ingin menyadarkan Queen dari kegilaannya. Entahlah kenapa ia merasa harus melakukan itu. Yang jelas ia merasa miris gadis secantik Queen harus melakukan hal serendah itu.


"Terimalah kenyataan. Dirga sudah tidak mencintaimu. Untuk apa kau mati-matian memperjuangkan orang yang sudah tak ingin lagi berada di dekatmu ... Dirga tidak pernah menginginkan mu Queen. Dia sudah mencintai orang lain. Dia bahkan rela mati demi orang itu."


Queen menoleh. Kaliamat panjang Leon mengundang tanya baginya. Queen memang tahu betul kalau usahanya di gagalkan oleh Bayu samudra. Tapi Leon, darimana ia tahu? dia bahkan baru saja berkata kalau Dirga rela mati demi Senja. Memangnya apa yang di lakukan Dirga untuk Senja?


"Dari mana mau tahu?"


Leon tersenyum sebelum menjawab.


"Aku tahu semuanya. Apa perlu aku ceritakan bagaimana heroiknya Dirga saat menyelamatkan Senja? "


Queen menggeleng-gelengkan kepala nya. Ia tidak ingin mendengar apapun. Karena apapun yang di dengar nya itu tetap tidak akan menghentikannya untuk mendapatkan Dirga.


"Aku tidak peduli apapun yang di lakukan Dirga, yang jelas aku akan tetap memperjuangkannya."


Leon kembali mendengaus. Bicara baik-baik dengan gadis ini memang tak ada gunanya. Lihatlah, bahkan dalam keadaan tidak berdaya sekalipun dia tetap saja keras kepala.


"Kau sakit jiwa, Queen." Leon tak lagi bisa menahan diri untuk tidak berkata kasar. Queen benar-benar keterlaluan.


"Berhentilah pura-pura buta. Buka matamu. Lihat kenyataan. Kau benar-benar tidak punya harga diri."


terisak. Keadaan yang tidak berpihak padanya di tambah ocehan Leon membuatnya jadi makin frustasi.


"Tapi Dirga tidak pernah mencintaimu !" Bentak Leon yang tak kalah emosi. Melihat Queen menangis karena Dirga malah membuatnya jadi makin jengah.


"Dan sekarang dia sedang berjuang antara hidup dan mati karena ulahmu. "


Queen tersentak kaget.


"Maksudmu? " ia mengusap air matanya yang terasa sangat perih mengenai luka di pipinya.


"Kalau kau benar mencintainya, harusnya kau membiarkan dia bahagia. Bukan malah menyeretnya dalam bahaya. Kalau Dirga sampai mati, berarti kaulah pembunuhnya. "


Queen makin tidak mengerti. Yang ia inginkan adalah melenyapkan Senja. Dan ia tahu ia sudah gagal untuk itu. Tapi kenapa malah Dirga yang jadi korbannya?


"Apa yang sebenarnya terjadi Leon?" Kali ini gadis itu mulai tertarik untuk mendengarkan.


Leon kembali menghela nafas.Mengontrol emosi nya yang sempat meluap.


"Dengarkan aku baik-baik, " titahnya sebelum bicara. Pria itu berharap semua yang akan di ceritakan nya bisa membuka mata gadis yang tengah pura-pura buta ini.

__ADS_1


"Senja sekarat akibat tususkan belati emas itu dan juga akibat hubungan intim mu dengan Dirga ... Dan satu satunya yang bisa menyelamatkan Senja adalah Dirga. Dia harus memberikan energi dan darahnya untuk Senja."


Dirga berhenti sejenak. Memperhatikan Queen yang masih tertegun tak percaya.


"Dan kau tahu, Dirga dengan senang hati melakukannya. Ia menyalurkan energinya sampai ia lemas dan hampir mati. Lalu dia menyayat nadi nya sendiri untuk menetralkan racun dari belati emas. Dirga juga harus mengeluarkan banyak darahnya untuk di minum oleh Senja karena hanya darah Dirga yang mampu menyelematkan Senja ... Dirga tahu betul resikonya adalah kematian, tapi dia tetap nekat melakukannya. Dia melakukan itu hanya demi Senja. " Lagi, Leon kembali memperhatikan Queen yang tampak semakin syok. Gadis itu bahkan sampai gemetar mendengar kenyataan yang sangat tidak ingin di dengar nya.


"Sekarang Dirga sedang koma di rumah sakit. Aku tidak tahu apakah nyawanya bisa di selamatkan atau tidak. Dan itu semua karenamu Queen. " Terang-terangan Leon mengatakan itu. Ia sudah tidak ingin lagi menjaga perasaan Queen. Percuma, gadis itu bahkan tak bisa menjaga harga diri dan perasaan nya sendiri.


"Kalau kau tidak melakukan rencana gilamu itu, semua pasti tidak akan terjadi ... Sekarang lihat apa yang kau dapat? Kau terluka, wajahmu jadi cacat, Dirga kritis dan ibunya pun sampai sekarang belum sadarkan diri. "


"Bibi Mel? "


"Ya, dia juga ikut terkena amukan Bayu. Dan sempat sekarat seperti mu. "


Queen menahan air matanya yang terus memaksa tumpah. Demi Tuhan dia tidak pernah menduga semuanya akan jadi seperti ini. Ini sungguh di luar ekpektasinya. Meski Rimba pernah mengatakan resikonya akan sangat berbahaya, tapi Queen tidak pernah mengindahkannya.


"Dan gadis yang sangat ingin kau lenyapkan sekarang baik-baik saja. Dia hanya perlu bersemedi untuk kembali mengisi energinya. Pada akhirnya dia akan tetap kembali pada Dirga."


Tangan Queen terkepal mere*as selimut yang menutupi separuh badannya. Sebelah tangannya sibuk menyeka butiran bening yang sudah tak lagi terbendung. Jiwa dan raganya terasa seperti dan hancur leburkan saat ini.


Ia sudah berusaha hingga batas akhir kemampuannya namun tidak ada satupun yang di dapatnya selain rasa sakit. Sakit yang luar biasa.


Melihat Queen seperti itu tak urung membuat Leon iba juga. Ia sadar sudah terlalu banyak bicara sejak tadi. Tapi semua itu dia lakukan supaya Queen bisa membuka matanya dan berdamai dengan kenyataan.


Jujur sempat ada perasaan salut tersendiri melihat orang-orang ini begitu gila dalam memperjuangkan cintanya. Pasalnya Leon merasa tidak pernah melakukan hal itu. Dulu saat kekasihnya pergi dengan pria lain, Leon lebih memilih diam tak tak sedikit pun memperjuangkan. Karena bagi Leon. Tidak perlu memperjuangkan orang yang sudah tidak mau di perjuangkan.


Namun melihat Queen, ada perasaan salut tersendiri. Kendati tetap saja dia tidak bisa membenarkan semua kebodohan yang di lakukan gadis itu.


"Sudahlah, Queen. " Loen mengusap pundak gadis itu sekedar memberi sedikit kekuatan.


"Terimalah semuanya. Kau sudah cukup berjuang, mungkin sekarang waktunya kau menyerah. Kalaupun nanti Dirga selamat, aku yakin dia sudah tak sudi lagi melihatmu."


Sudah terlanjur basah, pikir Leon. Sejak tadi dia memang sudah bicara tak mengenakan pada Queen. Sekalian saja dia beberkan kemungkinan terburuk yang akan di hadapi gadis itu.


Usai mengatakan itu Leon beranjak. Ia merasa tugasnya sudah selesai. Meski ia belum tahu apakah Dirga selamat atau tidak. Tapi Leon merasa sudah tak lagi perlu menunggu kabar itu.


Cukup. Semua yang di lakukannya sudah cukup. Bahkan lebih. Karena selain menolong, ia juga berusaha menyadarkan Queen dari kegilaannya. Meski sampai sekarang usahanya masih sia-sia.


Leon merasa sudah saatnya ia kembali. Mengenai Dirga, biarlah takdir yang akan menentukan nasibnya sendiri.


Pria dengan ketampanan yang khas itu keluar dari rumah sakit dengan perasaan tak menentu. Antara lega karena telah berhasil menyelesaikan tugasnya, namun juga gundah karena usahanya tak sepenuhnya berhasil. Kini ia bermaksud menyudahi semuanya dan kembali ke tanah airnya.


Namun saat baru keluar dari rumah sakit. Leon mendapat pesan yang langsung merubah ekpresi wajahnya.

__ADS_1


"Ini aku, Dirga. Bisakah kau ke rumah sakit sekarang? ada yang ingin ku bicarakan. "


__ADS_2