Pacarku Setengah Manusia

Pacarku Setengah Manusia
Hiburan tersendiri


__ADS_3

Seorang pria berkulit sawo matang dengan postur mirip pemain basket tampak memasuki lobi kantor Dirga. Pria itu kemudian menaiki lift dengan tujuan lantai tertinggi gedung ini.


Penampilannya terlihat santai, tidak se-formal orang-orang yang keluar masuk kantor. Ia hanya mengenakan kaos lengan panjang dan jeans belel.


"Siang, Pak. Ada yang bisa kami bantu?"


Suara ramah Nayra menyambut pria itu di depan ruangan Dirga.


"Dirga ada? " pria itu balik bertanya.


"Ada, apa anda sudah membuat janji? "


Pria itu tersenyum. Sepertinya Nayra sama sekali tidak mengenalnya, padahal mereka pernah bertemu di pantai.


"Belum, " jawabnya singkat


"Baiklah kalau begitu saya akan sampaikan dulu pada pak Dirga ... maaf dengan tuan siapa? "


Nayra menanyakan nama pria itu namun entah kenapa pria itu justru mengulurkan tangannya.


"Ohh kau ingin berkenalan denganku rupanya," ucapnya entah memang karena dia polos atau karena iseng ingin menjahili Nayra.


"Oh bukan begitu, maksud saya---"


"Arya, namaku Arya. " Pria itu menyebutkan namanya dengan tangan masih terulur berharap Nayra mau menyambutnya.


"Kau siapa? "


Entah pertanyaan bodoh macam apa yang di lontarkan oleh Arya, sudah jelas Nayra itu sekertaris Dirga, kenapa pula masih bertanya. Dan kalau soal nama, apa pentingnya dia tau nama gadis itu.


Nayra awalnya bingung, namun karena pria itu terus saja mengulurkan tangannya, mau tak mau akhirnya Nayra menyambut juga.


"Saya Nayra, sekertaris Pak Dirga. " Hanya sesaat Arya sempat berjabat tangan dengan Nayra karena gadis itu langsung menarik kembali tangannya.


"Anda ingin bertemu dengannya, biar saya sampaikan? "


"Tidak perlu, aku akan langsung masuk saja, " tolak Arya.


"Tapi, Tuan. Anda tidak bisa masuk begitu saja, itu melanggar aturan. Pak Dirga bisa marah pada saya. "


Kalimat Nayra yang terdengar cemas membuat Arya tertawa.


"Kau benar-benar tidak mengenalku ya, padahal kita pernah bertemu di pantai. "


"Benarkah? " Nayra tampak berpikir namun ia kesulitan mengingat kapan dan dimana pernah bertemu Arya.


"Sudahlah kalau kau tidak ingat, " Arya mengibaskan tangannya, agak sedikit kecewa.

__ADS_1


"Aku sepupunya Dirga, jadi percayalah Dirga tidak akan marah padamu ... Dan kalaupun nanti dia marah biar aku yang mengurusnya. "


"Oh baiklah, " ucapan Arya yang begitu meyakinkan membuat Nayra akhirnya percaya.


"Oh ya, kita sudah berkenalan kan? " ucap Arya sambil tersenyum menggoda.


"Jadi mulai sekarang kau harus mengingat wajahku, " lanjutnya lagi yang membuat Nayra menaikkan kedua alisnya heran.


Saat Arya mulai melangkah, Nayra memperhatikan punggung pria itu sambil tersenyum dan menggeleng-gelengkan kepalanya. Sepertinya gadis itu sadar kalau sikap Arya di awal tadi hanya modus saja supaya bisa berkenalan dengannya.


"Tok, tok, tok" Ketukan dari tangan Arya mengejutkan Dirga yang tengah fokus bekerja.


"Masuk, " perintahnya tanpa melihat ke arah pintu. Pria itu mengira pasti sekertarisnya yang masuk.


"Sedang sibuk, Tuan? "


Namun saat mendengar suara baroton yang cukup familiar pria itu buru-buru mendongak.


"Kau? Ada apa kemari? " pertanyaan yang terdengar kurang sopan, tapi begitulah Dirga. Dia tidak terlalu pandai berbasa-basi.


"Hey setidaknya persilahkan aku duduk dulu," Pria konyol itu tanpa di suruh langsung mendudukkan badanya di sofa tempat Dirga biasa menerima tamu penting.


"Katakan ada apa? Kau tidak mungkin datang kesini tanpa tujuan kan? " Dirga masih belum mau beranjak dari kursi kebesaranya. Ia tidak atau belum ingin menemani Arya duduk di sofa.


"Memang tidak ada, aku hanya ingin main saja ke kantormu, " jawab Arya santai bahkan sambil menyandarkan punggung dan kepalanya di sofa.


"Main, kau pikir kantorku ini taman bermain? "


"Hay aku ini tamu mu, kenapa kau tidak menyuguhkan apapun untukku, " Lihatlah, tanpa mempedulikan protes Dirga Arya justru meminta sesuatu.


"Setidaknya suruh sekertaris mu itu membuatkan ku kopi. "


"Cih, " Dirga memalingkan wajahnya sambil mencibir. Tamu tak di undang nya ini benar-benar merepotkan


" Kau bukan tamu penting bagiku, jadi tidak perlu di suguhi apapun. Lagipula tidak ada yang mengundangmu kemari kan? "


"Sialan kau. " Arya mengumpat kesal mendengar ucapan mengejek Dirga. Umpatan yang justru membuat Dirga tergelak.


"Hahaha, lucu sekali wajahmu, Arya." ejek nya melihat temannya mulai kesal.


"Eh tapi tunggu dulu, " ujar Dirga sambil terlihat berpikir.


"Ngomong-ngomong soal kopi, kau bukan datang kemari karena ingin di buatkan kopi oleh Nayra kan? " tebak Dirga. Otak cerdasnya mulai berfungsi menyimpulkan maksud kehadiran Arya yang tiba-tiba.


"Eum bukan, bukan karena itu, " Arya menggaruk kepalanya yang sama sekali tak gatal. Ekspresi wajahnya seperti pencuri yang tertangkap basah.


"Benarkah, lalu karena apa? " Dirga semakin tertarik untuk menggoda sepupu konyolnya itu. Dia bahkan beranjak dari kursi kebesarannya menuju sofa tempat Arya bersantai.

__ADS_1


"Eum karena---" tampak berpikir sejenak lalu


"Akh sudahlah, berhenti mengejekku, " ucapnya kesal. Dirga ternyata dengan begitu mudahnya dapat membaca niatnya kemari.


"Hahaha !" Lagi-lagi Dirga tergelak. Kau imut sekali saat sedang kesal begitu.


Di tertawakan tentu membuat Arya jadi semakin kesal. Untung saja yang menertawakan seorang Dirgantara, kalau tidak pasti--


"Baiklah, baiklah ... Berhubung aku kasihan padamu, maka aku akan membantumu, " puas berhasil menggoda sepupunya. Dirga akhirnya menawarkan bantuan. Pria itu lantas menuju meja kerjanya lalu memanggil Nayra melalui panggilan telepon, meminta gadis itu membuatkan dua gelas kopi.


"Sabar ya, gadis incaranmu sedang menuju kemari. " Ledek nya lagi sambil kembali mendekati Arya. Meski awalnya sedikit terganggu namun kedatangan Arya ternyata bisa sedikit menghiburnya karena pria itu jadi menemukan bahan ejekan.


Arya menjawab ledekan Dirga dengan cibiran. Tapi siapa sangka dalam hatinya bersorak senang. Meskipun menyebalkan, ternyata Dirga cukup membantu juga.


"Permisi, Tuan. Ini kopinya. " Saat Nayra sudah datang Dirga gegas menuju mejanya sendiri.


"Yah, letakkan saja disana." sambil menunjuk meja tempat Arya berada.


Arya yang seorang diri disana menjadi gugup melihat Nayra, padahal sebenarnya momen inilah yang ia tunggu. Tapi setelah gadis itu mendekat ia justru jadi agak gugup. Padahal tadi diluar ia bisa bersikap biasa saja, bahkan sempat menggoda gadis itu.


"Terima kasih, Nayra, " ucap Arya begitu sekertaris Dirga meletakkan kopinya.


"Sama-sama, Tuan. Silahkan, " sahut Nayra mempersilahkan.


"Hm, " Arya mengangguk sambil tersenyum. Dan pemandangan dua insan yang baru saling kenal itu terjadi di bawah pengawasan Dirga yang sejak tadi terus memperhatikan. Dirga langsung bisa menangkap sinyal kalau Arya memang tertarik pada sekertarisnya.


Ayolah, Dirgantara itu pernah menjadi pemain wanita paling handal. Ia tentu paham betul gerak-gerik pria yang sudah mulai tertarik pada lawan jenisnya.


Selesai meletakkan kopi Nayra bermaksud langsung kembali ke mejanya, namun Dirga buru-buru mencegah.


"Eum Nayra bisa minta tolong sebentar, " ujarnya yang langsung membuat langkah Nayra terhenti.


"Ya, Tuan. "


"Tolong periksa berkas-berkas ini, periksa apakah ada yang belum ku tanda-tangani."


"Oh baik, Tuan. " Nayra langsung mendekati meja Dirga sedangkan Dirga sendiri langsung beranjak.


"Aku akan cari angin sebentar, Arya akan menemanimu. Kalian sudah saling kenal kan? "


Nayra terlihat biasa-biasa saja dengan ucapan ataupun pertanyaan Dirga , namun berbeda dengan Arya. Pria itu langsung membelalakkan matanya. Tak menyangka Dirga akan melakukan ataupun mengatakan itu.


"Kau mau kemana? " tanyanya heran


Bukannya menjawab, Dirga malah tersenyum penuh arti sambil menepuk pundak Arya dan berbisik


"Cepat lah bergerak. Mumpung aku memberimu kesempatan, " ledek nya yang makin membuat mata Arya membulat sempurna.

__ADS_1


Ia memang merasa tertarik pada Nayra, tapi tidak secepat itu juga kan? mereka bahkan baru sepuluh menit yang lalu berkenalan.


Sementara Dirga tersenyum sambil keluar dari ruangannya. Arya benar-benar memberi hiburan tersendiri baginya di tengah kesibukan yang terkadang cukup melelahkan.


__ADS_2