
Pagi harinya Dirga dengan sungkan menghampiri orang tuanya di meja makan. Ada yang nampak berbeda. Baik Ayah maupun Ibu tidak seramah biasanya. Keduanya nampak pura-pura sibuk dengan kegiatan masing-masing seolah tidak menghiraukan kedatangan putranya.
"Ayah, Ibu, maaf soal tadi malam," Dirga menatap orang tuanya secara bergantian.
Damar yang sedang sibuk dengan ponselnya sedangkan Melati dengan roti panggangnya, keduanya serentak menoleh. Ada getar yang cukup terasa saat putra tunggal mereka mengucapkan maaf.
Melati menghampiri Dirga dengan roti bakar yang baru matang.
"Makanlah dulu, nanti kita bicara lagi. " Tanpa bermaksud mengabaikan permintaan putranya, tapi Melati merasa saat kalau ini sedang enggan membicarakan soal gadis itu. Rasa syok mereka bahkan belum hilang.
"Ibumu benar, Nak. Kita bicarakan soal ini lain waktu saja. " Ayah ikut menambahkan. Sepertinya pasutri itu sudah sekongkol.
"Tapi aku merasa perlu menjelaskan, Ayah. Aku tidak mau kalian berpikir buruk tentang Senja."
Damar menghela nafas lalu memandang istrinya. Mengisyaratkan tanya apakah akan memberi kesempatan Dirga bicara atau tidak. Namun sang istri menunjukan raut jengah sambil membuang nafas kasar. Damar paham maksudnya. Kalau istrinya sudah bersikap begitu maka itu adalah bentuk lain dari kata terserah.
"Baiklah, Dirga. Apa yang ingin kau jelaskan? "
Dirga tersenyum, senang akhirnya Ayahnya memberinya kesempatan bicara.
"Ini soal Senja, Ayah ... Aku ingin memberitahu kalau Senja memang mempunyai kelainan genetik sejak lahir ... itulah kenapa penampakannya terkadang cukup aneh."
Damar mengangguk-angguk. Berpura-pura mendengarkan secara seksama penjelasan putranya.
"Dan soal sikapnya yang menurut sebagian orang mungkin di nilai kasar, itu karena dia memang tidak suka di sentuh orang asing tanpa seizinnya ... Refleks nya pasti akan selalu begitu ... Itu mutlak karena kemampuannya dalam hal membela diri. Senja memang menguasai ilmu bela diri sejak kecil. "
Entah kapan Dirga memikirkan ide tentang kebohongannya itu. Yang jelas dia hanya ingin membela Senja.
Dirga menatap ibunya yang seolah tak tertarik mendengarkan penjelasannya.
"Ibu ingatkan kejadian di pantai tempo hari, waktu Senja menyerang dua orang pria? "
Ibu mengangguk
"Iya ibu ingat, mana mungkin ibu lupa kejadian mengerikan itu. Tadi malam bahkan terulang lagi."
__ADS_1
"Semua itu bukan tanpa alasan, Bu. " Ada terselip rasa kecewa mendengar sarkas ibunya.
"Dua orang pria itu sengaja menabrak Senja dan dengan sengaja pula melakukan tindakan asusila. Mereka memegang bagian sensitif Senja, tentu saja Senja tak terima. Itulah sebabnya dia mengamuk. Kejadian nya sama persis seperti Tadi malam ... Dan seperti yang ku bilang tadi, Senja memang sangat sensitif kalau ada yang bersikap kurang ajar padanya."
"Tapi reaksinya berlebihan, Nak, " tanggap ibu seolah enggan menerima penjelasan putranya.
"Kita ini manusia, bersikaplah layaknya seorang manusia. Meski dalam keadaan marah sekalipun, seharusnya jangan bersikap seperti iblis. "
"Bu.. " Sedih sekali rasanya mendengar sang ibu menyebut kekasihnya iblis, meski kenyataannya memang tidak jauh berbeda.
"Dia membuat semua orang takut dengan sikap temperamennya, termasuk Ibu. Ibu bahkan sekarang membayangkan kalau kau yang di seperti itukan oleh Senja. Tidak boleh ada kesalahan sekecil apapun kau pasti akan langsung di aniyaya olehnya. Mengerikan sekali, Ibu tidak sanggup membayangkannya, " cetus Melati sambil bergidil ngeri.
Tadinya wanita itu tidak ingin berdebat se sengit itu dengan putranya, tapi nampaknya ia tak tahan kalau hanya sekedar mendengarkan. Ia juga ingin menumpahkan segala unek-unek nya. Ia ingin putranya tahu betapa tidak sukanya dia atas hubungan Dirga dengan gadis itu.
"Dia tidak akan melakukan itu padaku, Bu. Dia menyayangiku. "
"Oh ya, siapa yang bisa menjamin? orang dengan temperamen seperti dia tidak akan peduli pada apapun atau siapapun kalau sudah marah. " Melati tetap ngotot tudak mau menerima alasan apapun dari Dirga.
"Tapi aku pengecualian baginya, Bu. Aku bahkan selalu bisa menenangkannya. "
"Tapi, Bu---"
"Dirga sudahlah. " Sanga Ayah yang sejak tadi diam mendengarkan ibu dan anak itu berdebat, kini mulai ambil suara melerai perdebatan.
Sebenarnya dia sendiri juga enggan membahas soal itu sekarang, tapi juga tidak bisa membiarkan anak dan istrinya tetus beradu argumen.
"Jujur saja Ayah juga sangat syok dan ngeri melihat Senja ... Ayah pikir omongan Ibu kemarin hanya omong kosong. Mana ada manusia seperti itu." Ayah bicara sambil menerawang membayangkan wajah seram Senja tadi malam.
"Tapi tadi malam Ayah sudah membuktikannya sendiri. Gadis itu memang sangat mengerikan, dan untuk saat ini jujur kami tidak bisa menerimanya."
Dirga menghela nafasnya. Ayahnya yang biasanya selalu membelanya kini bahkan ikut-ikutan memojokkannya. Dirga mulai kesal di buatnya. Ia mengambil ginseng panas di hadapannya lalu meneguknya hingga tandas.
"Cobalah untuk mengerti nak, dia tidak pantas untukmu, dia terlalu berbahaya. Lagi pula di luar sana ada banyak gadis yang jauh lebih baik dari Senja. Ayah yakin kau bisa memdapatkannya."
Dirga tersenyum masam
__ADS_1
"Tidak semudah itu, Ayah. "
"Kenapa memangnya, bukankah biasanya juga seperti itu, kau bisa mendapatkan gadis manapun yang kau mau kan? "
"Ayah," protes Dirga atas kalimat Ayahnya yang seolah sedang mengingatkannya tentang betapa "royal" nya dia dulu.
"Jangan melihatku di masa-lalu, Ayah. Aku sudah tidak ada disana ... Aku memang bisa mendapat kan gadis manapun yang aku mau, tapi sayangnya, saat ini aku tidak tertarik pada siapapun kecuali Senja. "
Ayah dan Ibu tertegun. Putra nya tidak pernah bicara setegas itu perihal wanita. Dirga seakan ingin menegaskan kalau dia sudah tergila-gila pada Senja.
Di satu sisi Damar dan Melati senang karena itu berarti putranya sudah bisa menghilangkan kebiasana buruknya berganti-ganti wanita, tapi di sisi lain mereka juga sedih karena gadis yang mampu membuatnya berubah baik adalah gadis yang justru sangat tidak baik untuknya.
"Dirga selama ini kami tidak pernah melarang kau berhubungan dengan siapapun kan? tapi kali ini kami mohon jauhi Senja, dia tidak baik untuk mu, Nak. " Melihat putranya yang sudah mulai gusar, Ayah berusaha melembutkan suaranya.
"Ayah bukan lagi bocah ingusan, Ayah. Aku tahu mana yang tetbaik untuk ku. " Perdebatan sengit masih terus berlanjut.
"Tapi kami tidak menyetujui hubunganmu dengan gadis itu, Dirga. "
Dirga menatap perempuan yang baru saja bicara. Dia sudah benar-benar jengah, sejak tadi berusaha menjelaskan tapi sama sekali tak berguna.
"Aku yang menjalani hubungan ini bukan kalian. "
"Dirga !" bentak sang Ayah sambil memukul meja. Putra nya di anggap sudah terlalu lancang. Ia tidak menyangka Dirga berani bicara seperti itu pada orang yang seharusnya sangat ia hormati, Ibunya.
"Jaga bicaramu, Nak. Kau tidak seharusnya bicara selancang itu pada Ibumu !"
Dada Dirga bergemuruh menahan marah. Ayahnya baru saja membentak nya, itu artinya mereka memang sudah tidak se pemikiran lagi. Kalau sudah begitu Dirga tahu apapun yang di ucapakannya tidak akan merubah keadaan.
Ketimbang terus bicara dan hanya akan membuat keduanya semakin emosi. Dirga memilih bangkit, meninggalkan kedua orang tuanya tanpa sepatah katapun. Roti bakar buatan ibunya bahkan tak sempat di sentuh nya.
"Dirga." Sang Ibu berusaha mencegah putranya, tapi tatapan tegas suaminya mengisyaratkan dia untuk diam dan membiarkan putranya pergi.
Melati menghela nafasnya, sedih melihat anak dan suaminya harus bertengkar karena Senja. Setelah ini Melati yakin pasti akan ada perang dingin di antara keduanya.
***
__ADS_1
Jangn lupa dukungannya ya semua.. Tinggalkan jejak kalian setelah singgah