
Dirgantara pulang dari kediaman Senja sekitar pukul sembilan malam. Ia sampai di rumahnya tiga puluh menit kemudian.
Pria itu terkejut bukan main saat sampai di rumahnya ternyata sudah ada dua orang yang menunggu di beranda rumahnya.
"Ayah, ibu..? " ucapnya tak percaya melihat kedua orang tuanya sudah berada di depan rumahnya.
Pemilik senyum maut itu langsung menyambut tamu istimewanya itu.
"Kenapa tidak menelfon dulu? aku kan bisa menjemput kalian di bandara. "
Pria yang di panggil Ayah oleh Dirga tersenyum. Pria berusia paruh baya namun masih terlihat sangat gagah. Sisa ketampanannya masih jelas terlihat meski di usianya yang beranjak Senja. Tatapan teduhnya juga cukup menenangkan bagi siapa pun yang melihat.
Ya, pria itu adalah Damar Sanjaya. Ayahanda dari Dirgantara Noza Sanjaya.
"Ibumu melarang Ayah untuk menghubungimu. Katanya dia ingin membuat kejutan untukmu, " tutur sang Ayah sambil melirik ke arah istrinya yang juga terlihat masih sangat cantik. Dari penampilannya jelas sekali terlihat kalau ia adalah seoarang yang sangat mampu dalam hal finansial.
Penampilannya yang sederhana namun sangat berkelas terlihat jelas dari outfit yang di kenakannya. Dialah Ibunda Damar, Melati Sanjaya.
"Iya, nak. Kami ingin membuatmu terkejut. Tapi sayang kau malah sedang tidak di rumah. "
"Maaf, Bu. Aku tidak tahu kalau kalian akan datang. Aku sedang ada acara di luar tadi ... apa kalian sudah menunggu lama? "
Dirga membuka pintu rumahnya lalu mempersilahkan kedua orang tuanya masuk. Tak lupa ia juga membawakan koper mereka.
"Eum, tidak juga. Kami baru saja sampai. Kalau sudah lama pasti Ibu akan menelfonmu, " Sambil berjalan mengikuti Damar masuk ke dalam rumah.
Ayah dan Ibu Damar melihat-lihat ke sekeliling rumah. Ini untuk pertama kalinya mereka bertandang ke rumah putranya semenjak Damar pindah ke kota ini. Kesibukan mereka yang padat membuat tak ada waktu untuk berkunjung.
"Rumah sebesar ini hanya kau tinggali seoarng diri. Apa kau tidak merasa kesepian, nak? " Komentar sang ibu melihat rumah mewah Damar.
Damar tersenyum
"Tidak, Bu. Bagiku nyaman-nayaman saja. Lagipula aku kan sudah terbiasa hidup sendiri, "
"Benar, tapi di usia mu sekarang harusnya kau sudah tinggal berdua dengan---"
"Ayolah, sayang. Kita baru saja datang, jangan langsung menyudutkannya, " ucapan Melati terpenggal oleh sanggahan dari suaminya. Membuat nyonya besar itu langsung mengerucutkan mulutnya.
"Kau selalu saja membelanya."
Dirgantara hanya tersenyum melihat belum apa orang tuanya sudah berdebat. Dan yang di perdebatkannya apalagi kalau bukan masalah jodohnya yang tak kunjung datang.
"Ohya, Ayah, Ibu. Apa kalian sudah makan malam?" tanyanya setelah mengajak orang taunya beristirahat di ruang tengah.
" Sudah. Kami sudah makan di jalan tadi. Kami tau kau tinggal sendiri, Nak. Jadi kami yakin pasti tidak ada makanan di rumahmu, "
__ADS_1
Dirga meringis mendengar ucapan ibunya. tak berusaha menyangkal karena memang benar adanya. Jarang ada makanan siap saji di rumahnya karena ia lebih sering makan di luar.
"Ya sudah kalau begitu, kalian langsung istirahat saja. Pasti lelahkan habis perjalanan panjang. "
"Kau benar, Nak. Kami lelah sekali. Punggung Ayah rasanya sudah sangat bengkok, butuh segera di luruskan. " Damar menyahut sembari melemaskan otot-ototnya yang terasa kaku semua. Maklumlah perjalanan yang mereka tempuh memang cukup jauh. Meskipun lewat udara, tapi tetap saja butuh waktu lama untuk bisa sampai di kediaman putranya ini.
"Tentu, Ayah. Aku akan siapkan kamar untuk kalian. "
Dirga beranjak dari duduknya. Namun sebelum sempat melangkah, pergerakan nya terhenti oleh pertanyaan sang Ibu.
"Ngomong-ngomong kau tadi darimana, Dirga. Apa dari tempat teman perempuan yang pernah kau kenalkan pada kami dulu ... siapa namanya, Queen? "
Raut wajah Dirga langsung berubah mendengar nama itu. Queensi memang pernah ia kenalkan pada orang tuanya beberapa bulan yang lalu saat ia berkunjung ke rumah mereka. Tanggapan mereka sangat positif terhadap Queen, seolah menunjukan sinyal kalau mereka menyetujui hubungan Dirga dengan gadis itu.
"Tidak ibu, aku tidak dari tempat Queen. "
"Ooh, ibu pikir kau habis berkencan dengan gadis itu ... Tapi kau masih bersamanya kan? "
Salah satu yang terkadang membuat Dirga sedikit kesal pada ibunya adalah perempuan itu terlalu banyak bertanya. Namun meski begitu terkadang ia tidak punya pilihan lain selain menjawab. Sebab mengabaikan pertanyaan ibunya justru akan membuat wanita itu kian intens bertanya.
"Akan ku jelaskan besok, Ibu. Sekarang ibu istirahat saja dulu. " Dirga merasa tidak tepat kalau menjelaskan sakarang. Di samping karena orangtuanya pasti masih lelah, dia sendiri pun belum siap untuk becerita.
***
Pagi harinya saat membuka mata, indra penciuman Dirga sudah langsung mengendus aroma yang cukup sedap. Pria itu tersenyum, pasti ibu cantiknya lah yang sedang menyiapkan sarapan pagi.
Dirga langsung beranjak membersihkan diri. Tak sabar ingin mencicipi masakan ibunya yang sudah cukup lama tak tersentuh oleh indra perasa nya.
"Kau sudah bangun, Nak? "
Melati Sanjaya tersenyum melihat putranya sudah keluar dari kamar dengan pakaian rapi.
"Sudah, Bu. Aku terbangun karena bau sedap masakan Ibu."
"Kau pasti rindu maskaan ibu kan? " Tanpa bermaksud menyombongkan diri. Tapi ucapan Melati memang benar adanya. Putranya memang sangat rindu masakan ibunya.
Ya begitulah biasanya, selama seorang putra belum beristri maka di pastikan belum ada yang mampu menggantikan masakan ibunya.
"Makanlah, " perintahnya sambil menyodorkan sepiring sandwich berisi daging dan sayuran. Dari penampakannya saja sudah sangat menggiurkan. Dirga tak perlu di perintah dua kali untuk mencicipi breakfast buatan ibunya. Ia makan dengan sangat lahap.
"Nah sambil makan, sekarang kau ceritakan pada ibu tentang hubunganmu dan Queen. Ibu sudah tidak sabar ingin segera melamarnya. "
Pria tampan yang sedang mengunyah sandwich langsung menghentikan aktifitas di rongga mulutnya. Ia fikir ibunya sudah lupa maslaah itu, tapi ternyata ia sudah langsung menanyakannya bahkan saat hari baru akan di mulai.
Di sampingnya Sang Ayah yang melihat perubahan wajah putranya berusaha mengingatkan.
__ADS_1
"Setidaknya biarkan dia menyelesaikan makannya terlebih dahulu. Kenapa kau buru-buru sekali bertanya? seperti tidak ada waktu saja. "
"Sayang, aku sudah tidak sabar. Apa kau mau aku mati penasaran,"
"Kau tidak akan mati penasaran karena itu, " Sanggahnya menampik protes istrinya.
"Lanjutkan saja makanmu, Nak. Dan kau tidak perlu bercerita kalau kau memnag tidak mengatakannya. "
"Sayaang.. "
"Mel, sudahlah. Dirga sudah dewasa. Berhentilah memperlakukannya seperti anak kecil. Jangan selalu mau tahu tentang urusannya. Dia juga berhak punya privacy. " Ucapan tegas Damar sontak langsung membuat Melati bungkam. Meski tetap saja dia masih menunjukan wajah kesalnya karena tak mendapat dukungan dari suaminya.
Melihat itu tentu Dirga lah yang menjadi tak enak hati. Dia tidak mau terjadi perang dingin antaran keduanya karena hal itu.
"Aku sudah tidak bersamanya, Bu. " Akhirnya jujur juga meski dengan berat hati.
"..... "
Damar dan Melati melongo tak percaya.
"Maksudmu kau sudah putus dengan Queen? " Melati memperjelas maksud putranya. Dan yang di tanya hanya mengangguk.
"Bagaimana bisa, ibu lihat kau tampak sangat menyayanginya ... atau jangan-jangan kau selingkuh? " Tentu bukan tanpa alasan ibunda Dirga menanyakan itu. Ia tahu putranya bukan tipe pria setia yang tidak mau berbagi hati. Ia faham betul seperti apa putra kesayangnnya itu.
Namun semenjak dengan Queenzi, Melati dapat melihat betapa putranya terlihat bahagia dan nyaman. Meski ia hanya sekali bertemu dengan Queen, tapi wanita highclass itu sudah dapat melihat kecocokan mereka.
"Tidak, Ibu. Aku tidak selingkuh ... tapi aku merasa sudah tidak cocok lagi dengannya. "
"Begitukah? " Sang ibu masih saja tidak percaya.
"Kau sudah dengar sendiri kan sayang apa kata Dirga ... jadi mulai sekarang kurang-kurangilah rasa ingin tahumu itu. " Sekali lagi sang Ayah dengan bijaksananya mengingatkan istrinya. Iba melihat putranya terus terpojok karena rasa ingin tahu sang ibu.
Melati memandang Dirga masih dengan pandangan bertanya-tanya. Seperti masih ada yang mengganjal di hatinya. Namun untungnya sebelum apa yang ada di benaknya tersampaikan. Damar dengan kebijaksanaan nya lagi-lagi menyelamatkan Dirga.
"Sudah siang, Dirga. Pergilah ke kantor. Nanti kau terlambat. "
Dirga mengangguk. Ia faham makaud Ayahnya hanya aingin menyelamatkan putranya dari rasa isngin tahu ibundanya yang terkadang berlebihan.
Rasa kagum nya terhadap sang Ayah menjadi kian bertambah. Namun bersamaan dengan itu ada rasa gundah yang turut membuncah.
Apa orang tuanya mau menerima Senja dengan segela keanehannya?
Pertanyaan itu bergelayut manja di fikirannya .
***
__ADS_1
Bagi yang sudah baca kisah LEMBAYUNG SENJA pasti tau siapa Damar dan Melati, buat yang belum baca, sok atuh di baca dulu. Di jamin bikin nagih deh critanya😁
Jangan lupa dukungan, dukungan dan dukungan (edisi maksa)