
"Senja kau baik-baik saja? "
Sore menjelang malam saat Dirga kembali di kediaman nya ia memdengar kabar bahwa ada seorang bocah yang baru saja tenggelam di pantai. Untungnya bocah itu selamat berkat pertolongan seorang peselancar wanita.
Dirga langsung bisa menebak siapa peselancar yang di maksud. Memangnya siapa lagi peselancar wanita yang ada di pantai itu selain Senja, gadis manis yang baru saja menjadi kekasihnya.
Pria dengan pahatan wajah bak dewa amor itu cemas bukan main, takut sesuatu yang buruk menimpa gadis cantiknya. Karena nya begitu sampai di rumah ia langsung men chat dan menanyakan kabar Senja.
"Ya, aku baik-baik saja."
"Kenapa memangnya? "
Merasa tak ada sesuatu yang buruk menimpanya, Senja merasa aneh di tanya begitu.
"Aku dengar kau baru saja menyelamatkan anak kecil yang tenggelam, aku takut kau kenapa-napa"
Senyum Senja mengembang membaca pesan penuh perhatian dari Dirga.
"Itu bukan masalah, Dirga. Aku baik-baik saja. Kau tak perlu khawatir. "
"Syukurlah kalau begitu," tulis Dirga lalu menghempaskan badanya di ranjang empuk miliknya. Rasa lelahnya lenyap seketika begitu berinteraksi dengan Senja, walaupun hanya lewat aksara.
"Maaf aku tidak sempat ke pantai tadi. Aku lumayan sibuk, dan sekarang aku baru pulang dari kantor. "
"Tidak apa, aku maklum kau pasti sangat sibuk."
"Tak masalah bagiku bermain di pantai sendirian, biasanya juga begitu."
Dirgantara terdiam sejenak. Bingung hendak menulis apa lagi. Namun sejurus kemudian bibirnya nampak tersenyum. Sepertinya pria itu menemukan topik yang pas untuk membalas pesan Senja.
"Baiklah kalau begitu, tapi maslaahnya sekarang ada padaku. "
"Masalah, apa itu? " Membaca kata masalah tentu membuat Senja bertanya-tanya. Sementara di ujung sana pria yang katanya sedang bermasalah tersenyum. Pancingannya berhasil. Ia tahu Senja pasti akan bertanya begitu.
"Masalahnya adalah ... aku rindu. "
Senja langsung tersipu membaca dua kata itu. Ayolah gadis mana yang tidak akan melayang memdapat rayuan seperti itu, terlebih gadis polos seperti Senja yang beru mengenal cinta.
"Apa kau sedang merayuku, " tanya nya tak ingin buru-buru besar kepala.
"Tidak, " Kalaupun benar sedang merayu Dirga tentu tidak akan mengatakan yang sebenarnya. Terlebih ia memang serius dengan kalimatnya.
"Aku tidak sedang merayu, Aku memang benar-benar rindu. "
"Apa boleh aku main ke rumahmu? "
"Apa ! kerumah?"
"Sekarang? "
Senja tak mampu menutupi keterkejutannya.
"Iya, malam ini juga. Kalau kau mengizinkan aku akan langsung bersiap-siap. "
"Tapi kau tahukan siapa ayahku, apa kau tidak takut?" Alih-alih menjawab Senja justru menanyakan sesuatu yang membuat Dirga tersenyum
"Tidak, aku ingin membiasakan diri berbaur dengan keluargamu. "
Sebenarnya ada sedikit rasa takut di hati Dirga mengingat siapa ayahnya Senja, tapi ia takin selama dia tidak membuat masalah maka makhluk itu juga pasti tidak akan marah.
"Ya sudah tunggu sebentar aku akan tanya dulu pada ayah ibu, " Tulis Senja sebelum berlari cepat meminta izin pada pada orang tuanya.
Tak lama berselang gadis itu sudah kembali ke kamarnya dengan wajah sumringah.
"Baiklah, kau boleh datang, " tulisnya pada pesan terakhir Dirga.
Tak perlu di tanya reaksi Dirga. Tentu saja pria itu senang meski tetap saja ada rasa khawatir yang bersarang.
__ADS_1
***
Senja sudah benar-benar berganti malam saat Dirgantara tiba di kediaman keluarga Senja. Untuk sesaat pria dengan ketampanan di atas rata-rata itu sempan tertegun. Tak menyangka kalau rumah Senja ternyata sangat bagus dan mewah.
Rumah besar berlantai dua dengan dominasi warna putih itu tampak sangat megah. Halamannya juga sangat luas. Dirga baru menyadari kalau di balik semua kesederhanaan Senja, ternyata gadis itu berasal dari keluarga kaya raya.
"Dirga kau sudah sampai? "
Dirga terlonjak mendengar sapaan dari Senja. Saking terpukaunya memperhatikan rumah mewah Senja. Pria itu sampai tidak sadar kalau si pemilik rumah ternyata sudah ada di depan pintu.
"Eeh iya, Senja. Aku baru saja datang. " Sambil tersenyum kikuk
"Kalau begitu ayo masuk. Kita makan malam bersama. Ayah ibu dan juga nenek sudah menunggu di dalam. "
"Baiklah."
Tanpa bertanya lagi, Dirga mengekor langkah Senja ke dalam rumah. Dan lagi-lagi pria itu di buat terkejut dengan isi dalam rumah Senja. Sangat mewah dengan berbagai perabotan yang Dirga yakini berharga fantastis.
Dirgantara bukannya tidak pernah melihat rumah mewah seperti rumah Senja. Rumahnya sendiri juga tak kalah mewah. Apalagi rumah kedua orang tuanya di luar sana. Sudah mirip seperti bangunan istana saking megahnya.
Namun yang membuatnya haran adalah, kesederhanaan keluarga Senja. Meskipun mereka punya segalanya tapi tidak terlalu menunjukannya baik melalui penampilan ataupun sikap dan ucapan. Semuanya sangat sederhana.
Tapi Dirga berusaha maklum, mungkin mereka tidak ingin terlalu menunjukan pada dunia tentang siapa mereka. Tentu mereka khawatir kalau akhirnya ada yang kemudian mencurihai identitas kepala keluarganya yang notabene bukan---
"Ayah, Ibu, Nenek, Dirga sudah sampai. "
Suara Senja kembali membuat Dirga terkejut. Ia tak sadar kalau ternyata sudah berada di hadapan keluarga Senja.
"Selamat malam, Paman, Bibi juga Nenek." Dirga berusaha bersikap seramah mungkin pada mereka.
"Selamat malam. " Nenek dan Ibu menjawab secara bersamaan, sementara Ayah hanya memandang sekilas dengan pandangan yang sulit di artikan.
"Oh ini yang namanya Dirga, yang membuat cucuku sering gelisah akhir-akhir ini? "
"Nenek.. "
Rona merah diwajah Senja menjelaskan segalanya.
"Iya, nek. Aku Dirga. Nenek apa kabar? "
'Akkh basa-basi sekali !'
Bathin Dirga menjerit. Sangat jijik dengan sikap sok manisnya. Tapi entah kenapa dia merasa perlu melakukannya. Kesan dingin dan angkuh yang selama ini menjadi ciri khasnya mendadak lenyap di hadapan Keluarga Senja.
Padahal kalau Dirga sadar. Sikap gunung es nya memang sudah mencair semenjak bertemu dengan Senja. Ia menjadi sangat ramah dan sangat pandai berbasa-basi. Tapi itu khusus di hadapan Senja ya, tidak di hadapan yang lain.
"Baik, kami semua baik, " sahut Nenek
"Duduklah, kita makan malam bersama. "
"Iya, Dirga. Ayo duduk, kita makan bersama. "
Nawang Wulan mengulang ucapan Nenek.
Semuanya bersikap ramah. Tapi makhluk tampan di samping Wulan tetap menunjukan ekspresi datarnya. Tak bereaksi sama sekali atas kedatangan tamu spesial putrinya.
Hal itu tentu membuat Dirgantara cukup gugup. Sikap dingin Ayah Wulan lumayan menciutkan nyalinya. Mata merahnya yang selalu menatap tajam membuat Dirga kerap menelan ludahnya sendiri.
Namun meski begitu ia tetap berusaha bersikap tenang.
Pria itu mengikuti arahan Ibu dan nenek Wulan untuk ikut makan bersama. Ia menerima piring yang di sodorkan oleh Wulan.
"Terimakasih, Bibi, " ucapnya sambil menerima piring.
"Eum, makanlah. Pilih saja menu yang kau mau. "
Sikap hangat Nawang Wulan benar-benar membuat Dirga nyaman dan mampu menormalkan suasana gugup yang sejak tadi sulit di kondisikan.
__ADS_1
Senja juga bersikap sangata manis. Wajahnya sangat ramah dan gadis itu bahkan terus tersenyum sejak tadi.
Satu hal yang nampak berbeda hanya seseorang, atau lebih tepatnya sese makhluk yang tak lain adalah Ayahanda Senja. Entahlah apa yang ingin ia tunjukan, tapi sejak tadi makhluk itu bersikap tidak ramah. Mungkin ia hanya ingin menunjukan kalau tidak mudah untuk bisa menjadi bagian dari keluarga ini.
Dirga sebenarnya juga cukup maklum. Sikap Bayu di anggapnya sebagai ancamam supaya dia tidak main-main pada Senja. Tatapan itu juga dia artikan ' kalau kau menyakiti anak ku, maka kau akan berhadapan denganku. '
Yah kurang lebih begitu. Dan Dirgantara sangat paham itu. Ayah manapun pasti tidak ingin ada yng menyakiti anaknya. Meski Dirga kerap merasa sikap Ayah Senja sedikit atau bahkan cukup berlebihan. But its ok. Ia bisa menerima itu.
Dirga mulai menyuapkan makanan ke mulutnya. Pun dengan yang lain. Tapi lagi-lagi sang Ayah menunjukan sikap anehnya. Ia tidak ikut makan. Ia diam sambil sesekali tersenyum memeperhatikan istrinya makan. Cukup romantis sebenarnya, tapi tentu itu nampak aneh di mata Dirga.
"Paman tidak makan? "
Entah karena penasaran atau hanya sekedar berbasa-basi. Dirga memberanikan diri bertanya.
Mendengar pertanyaan Dirga, Nawang Wulan langsung menghentikan aktifitaa makannya. Ia memperhatikan suaminya sejenak seolah sedang meminta saran tentang jawaban apa yang seharusnya dia kemukakan.
Yang di tatap seolah faham dan langsung mengangguk. Mempersilahkan Wulan memberi tahu kebenarannya.
"Dirga pasti sudah tahu kan siapa Ayahnya Wulan?
Deg ! pria itu merasa pertanyaan Wulan mengisyaratkan ketidak nyamanan atas pertanyaannya. padahal dia hanya ingin bertanya. Dirga sungguh tidak tahu kalau makhluk seperti Bayu itu tidak pernah makan ... makanan manusia
" I-iya, Bibi. Aku tahu. " Dirgantara tak bisa lagi berpura-pura tenang. Nyatanya dia memang gugup bertemu dengan keluarga aneh ini.
"Tapi aku sungguh tidak tahu kalau ternyata paman tidak---"
Tidak berani melanjutkan kalimatnya.
"ya, suamiku memang tidak makan ... atau kalau pun makan, bukan ini makanannya. " Sambil menunjuk berbagai makanan yang tersaji di meja.
"Iya, Bibi, Aku faham. Maaf kalau aku terlalu lancang bertanya. "
"Kau tidak salah, Dirga. Hanya belum terbiasa dengan segala keanehan keluarga ini. " Kali ini sang nenek ikut angkat bicara.
"Awalnya juga aku terkejut, tapi lama-lama terbiasa juga, " sambung nenek lagi
"Benar ... kedepannya kami harap kau tidak lagi terkejut dengan semua fakta tentang kami. " Nawang Wulan kembali buka suara. Seolah memberi ultimatum pada Dirga.
"Dan satu hal lagi ... Dan menurutku ini yang paling penting. " Sebelum Dirga sempat menjawab, Ayahanda Senja sudah keburu memotong. Pria yanng sejak tadi bersikap acuh tak acuh kini mulai menunjukan eksistensinya.
"Jangan sampai kau memberitahu pada siapaun tentang siapa Senja dan juga kami orang tuanya ... Kalau sampai kau berani buka suara----"
"Paman tenang saja, aku tidak akan pernah melakukan itu. " Dirga cukup paham maksud Bayu. Itulah kenapa dia buru-biru menyela.
'Aku tahu apa yang akan kau lakukan, paman. aku masih sayang nyawaku. '
"Ayolah Ayah, ibu, Nenek. Jangan membuat Dirga tertekan. Berhentilah menyudutkan nya. " Pembelaan datang dari Senja. Rupanya pemilik mata merah itu keberatan kekasihnya di intimidasi oleh anggota keluarganya.
"Hahaha, " sang Ayah tergelak.
"Tidak ada yang menyudutkannya, Nak. Ayah hanya sedang mengingatkan, " ucapnya yang langsung di iyakan oleh sang istri dengan anggukan kepala.
"Tapi tetap saja itu membuatnya jadi tidak nyaman. Dia kan kesini karena ingin lebih mengenal kalian. Kenapa malah di sudutkan begitu? "
Protes keras Senja yang di ucapkan dengan nada kesal justru membuat Dirga tersenyum. Meskipun suasana berubah menjadi canggung, tapi dia senang karena Senja sudah menunjukan rasa sayangnya dengan membela Dirga.
"Tidak apa, Senja. Benar kata Ayahmu tadi, dia hanya sedang mengingatkanku. "
"Kau lihatkan, Dirga saja tidak masalah. Jadi kau tidak perlu terlalu serius membelanya, " goda sanga Ayah yang membuat Senja langsung mengerucutkan mulutnya sedangkan Nenek dan ibunya hanya tersenyum melihat interaksi Ayah dan anak itu.
Bayu memang terkadang begitu, sudah tahu anaknya gampang tersinggung, tapi dia malah sengaja menggodanya.
Dirgantara juga ikut tersenyum. Senang melihat keakraban keluarga ini. Juga senang karena ia di terima dengan baik, meskipun sempat merasa gugup dan sedikit terintimidasi.
***
Jangan lupa dukungannya ya semua... buat yang sudah mampir author minta tolong banget tinggalin jejaknya.
__ADS_1