Pacarku Setengah Manusia

Pacarku Setengah Manusia
Nostalgia


__ADS_3

"Kau suka?" sarkas Dirga begitu ia dan Queenzi telah berada dalam satu mobil dan memulai perjalanan.


"Tentu, sudah lama kita tidak jalan berdua seperti ini. " Bukannya tersinggung gadis itu malah makin menunjukan rasa sukanya.


"Kau yang merencanakan semua ini kan? "


"Apa? " Queenzi pura-pura tak paham


"Kau yang mengatur alur supaya bisa menumpang mobilku kan?"


"Tidak, aku bahkan tidak tau kau akan datang."


"Jadi menurut mu ibuku yang mengatur semuanya? "


"Bisa jadi, eh itu anu maksudku ya tidak begitu juga. " Queenzi cepat-cepat meralat ucapannya.


"Tidak ada yang mengatur, Dirga. Semuanya mutlak hanya kebetulan saja. "


Dirga membuang nafas sekaligus membuang pandangannya. Jengah dengan omong kosong Queen.


"Lagi pula kenapa memangnya kalau aku menumpang mobilmu? kita pernah saling menyinta dulu, masak sekarang aku mau menumpang mobilmu saja tidak boleh. "


"Berhenti bicara tentang masalalu, Queenzi. Kita sudah tidak ada disana, " tukas Dirga seolah sedang menyadarkan Queen tentang status hubungan mereka sekarang.


"Aku tahu, tapi apa salahnya bernostalgia, siapa tau semuanya bisa terulang lagi. "


"Queen, " Dirga melirik tajam pada gadis berbelah dagu di sampingnya. Benar dia memang pernah sangat menyayangi gadis itu. Tapi seperti yang ia bilang tadi, itu semua masalalu, dan ia tidak berniat sedikitpun merubahnya jadi masa depan.


Tapi yang membuat Dirga heran adalah, gadis berambut kecoklatan ini tetap saja tidak mau mengerti. Padahal di setiap kesempatan Dirga selalau menunjukan sikap antipatinya, tapi Queen tetap saja bersikukuh.


Dari ekor matanya Dirga bisa melihat dengan jelas binar bahagia dari iris bening itu.


'Apa dia se bahagia itu hanya karena bisa menumpang mobilku? apa sebegitunya dia mencintaiku sampai begitu susah untuk move on?'


Ada perasaan aneh yang tiba-tiba bersarang, Tiba-tiba Dirga merasa iba pada Queen.


"Biarkan, Dirga. Biarkan aku berekspektasi, hanya itu yang aku bisa sekarang. "


Oh ya Tuhan, kenapa kalimatnya menyedihkan sekali. Dirga bahkan langsung terdiam di buatnya.


"Kau tidak tau betapa sedihnya aku karena hubungan kita harus berakhir? kau tidak tahu betapa setiap saat aku di hantui rasa sesal karena telah membuatmu pergi dariku? "


Dirga kembali membuang nafasnya. Sepertinya gadis cantik di sampingnya ini memang sedang berusaha mencuci otaknya.


"Cari dan temukan kabahagiaan mu dengan yang lain, Queen. Tidak perlu harus terus menyiksa diri begitu. "


"Kau pikir segampang itu? " protes Queen cepat.


"Mungkin memang tidak gampang, tapi aku yakin kau pasti bisa. " Rasa iba Dirga perlahan berubah jadi rasa simpati, biar bagaimana pun ia tidak mau terus menerus jadi penyebab patah hati Queen. Dirga tidak mau di anggap orang yang bertanggung jawab atas luka gadis yang sebenarnya sangat cantik itu.


"Aku tidak bisa, Dirga. Aku benar-benar tidak bisa. Aku masih sangat mengharap kan mu. " Queen meluapkan emosinya dengan memeluk lengan Dirga yang tentu saja membuat pria itu jadi gugup.


"Queen, apa yang kau lakukan, aku mohon jangan seperti ini. Aku sedang mengemudi."


Tapi sayang ucapan Dirga tak di gubris Queen, gadis itu bahkan semakin mempererat pelukannya.


"Queen, kita hisa celaka! "

__ADS_1


"Biarkan saja, kalau perlu kita mati berdua disini"


"Kau sudah gila, ya?"


"Benar aku memang sudah gila karnamu. "


"Queen !" Bentak Dirga karena Queen tak juga mengerti.


"Lepaskan aku, kita bisa celaka. "


"Kalau begitu kita nerhenti sejenak. Aku ingin bicara serius denganmu. "


Dirga tau permintaan Queen konyol, tapi pria itu tidak punya pilihan lain. Ketimbang Queen terus bergelayut seperti orang hutan begini, itu sangat berbahaya karena membuat kemudinya jadi tidak stabil. Dirga akhirnya menghentikan laju mobilnya, meski sambil mendengus kesal.


Queen tersenyum dan langsung menepati janjinya. Ia melepaskan lengan berotot itu.


"Puas? "


Bukannya merasa bersalah Queen malah meringis.


"Maaf melakukan itu, kalau tidak begitu kau pasti tidak mau bicara padaku, " Suara manja yang dulu pernah membuat Dirga gila kini kembali di perdengarkan.


"Kau sudah bicara sejak tadi, Queen? "


"Iya, tapi kan kau tidak serius mendengarkanku karena sedang mengemudi. "


Dirga hampir tak percaya Queen mengatakan itu. Gadis itu menyuruhnya berhenti hanya karena ingin Dirga menjadi pendengar yang baik.


Huff, kadar kekesalan Dirga sepertinya sudah makin meningkat. Dan kalau menuruti egonya, ingin rasanya saat ini juga dia menarik Queenzi keluar dan meninggalkannya begitu saja di jalanan.


Tapi sisi baik Dirga melarangnya melakukan itu. Benar kata Queen tadi, mereka pernah saling menyinta, tidak mungkin sejarang dirga jadi setega itu.


"Apa lagi yang mau kau bicarakan? apa semua celotehmu tadi belum cukup? "


"Belum ... semuanya tidak akan cukup sampai kau mau kembali menerima ku."


Dirga langsung menoleh, menatap serius pada gadis itu.


"Aku sudah mencintai orang lain, Queen. Mengertilah, " Menurunkan nada bicaranya menjadi selembut mungkin dengan harapan Queen akan mengerti.


Queen balas menatap, ia ingin Dirga bisa menilai kesungguhannya dari sorot matanya.


."Tapi aku yakin kau juga masih mencintaiku."


Lihatlah, gadis itu tetap saja tidak mau mengerti. Percuma saja Dirga bicara baik-baik padanya. Dirga langsung membuang mukanya. Ia benar-benar frustasi sekarang. Tidak habis fikir kenapa ada gadis se keras kepala Queen.


Sebenar nya sudah sejak dulu Dirga tahu kalau Queen memang gadis keras kepala dan sangat manja. Tapi dulu, ia justru menyukai sifat itu. Menurutnya Queen juatru terlihat lebih menggemaskan saat sedang menonjolkan sikap manja dan keras kepalanya.


Namun tentu saja hal itu berbanding terbalik dengan perasaan Dirga saat ini. Melihat Queen seperti itu, ia jadi sangat jengah dan bahkan ingin muntah.


"Apa yang membuatmu se yakin itu? " Dirga bicara tanpa melihat orang di sampingnya.


"Buktinya kau masih mau semobil denganku dan mau mendengarkanku." Kembali bergelayut manja di lengan Dirga, mungkin dengan harapan agar hati Dirga kembali tergerak padanya.


"Jadi kau mau aku menurunkanmu disini? "


"Kau tidak akan melakukan itu, " Yakin sekali Queen kalau Dirga tidak akan setega itu padanya.

__ADS_1


"Kenapa tidak?"


"Karena kau masih peduli padaku. "


Finis, kesabaran Dirga benar-benar habis. Queen benar-benar membuatnya jengkel.


"Lepaskan tanganmu dan duduk dengan baik. Kita akan jalan lagi. Kau sudah sangat membuang-buang waktuku. "


"Dirgaa" Seolah tak tetima dengan ultimatum Dirga, Queen kembali merengek manja.


"Queen, dengarkan aku atau aku akan benar-benar menyeretmu keluar. "


Setelah ucapan tegas bernada ancaman itu Queenzi akhirnya menurut. Ia menarik diri dan kembali duduk di kursinya meski sambil merengut kesal, tapi siapa peduli?


Dirga tersenyum tipis, sepertinya bicara dengan gadis ini memang harus tegas dan mengancam. Tapi ya itulah, terkadang hatinya memang masih lemah kalau gadis itu sudah merengek.


Mobil kembali melaju dengan tenang. Dan agar Queen tidak lagi berceloteh, Dirga sengaja menghidupkan musik dengan volume cukup tinggi.


Dan cara itu berhasil, Queen nampak tenang dan tidak lagi bicara meski pandangannya tak pernah lepas dari supir tampan di sampingnya. Tapi siapa peduli. Selama dia tak bersuara maka itu bukanlah kendala bagi Dirga.


'Lihat saja sepuasmu, siapa tahu setelah ini kau bisa melupakanku, ' Harapan yang sepertinya masih jauh dari kenyataan.


Pada satu kesempatan saat Queen tak lagi menatapnya Dirga justru berusaha mencuri pandang melalui ekor matanya. Ia melihat wajah Queen yang tenang dalam alunan musik yang di putar Dirga.


Senyum setipis tisu tersungging dari bibir pria maskulin itu.


'Kalau diam begitu kau sebenarnya sangat manis Queen. '


Bathinnya tanpa bermaksud merangkai kembali cerita lama. Dirga masih bisa bersikap lembut pada Queen tentu bukan karena dia masih mencintainya.


Dirga terkadang hanya iba melihat Queen yang terus mengejarnya seperti orang gila. Dirga ingin Queen juga bahagia sepertinya. Dirga bahkan berharap Queen segera bertemu dengan penggantinya. Itu saja.


Sekitar limabelas menit setelah mobil melaju, mereka telah sampai di depan bangunan tinggi menjulang yang di ketahui Dirga milik orang tua Queen.


"Kau mau ke kantor Ayahmu kan? " tanyanya setelah mengecilkan volume musik.


Queen tersadar, ia ingat kalau alasan nya menumpang adalah ke kantor Ayahnya. Gadis itu ingin mencari alasan lain supaya bisa tetap semobil dengan Dirga, namun baru otaknya mulai bekerja, Dirga sudah langsung menghentikannya.


"Turun lah, nostalgia sudah selesai Queen. "


Queen menghela nafasnya mendengar sarkas Dirga. Ternyata benar Dirga hanya menganggap bahwa kebersamaan nya kali ini hanya sekedar nostalgia. Tidak lebih.


"Baiklah aku turun, tapi aku ingin minta satu hal darimu. "


"Apa lagi? " Dirga sudah bisa menebak kalau Queen pasti masih ingin menunda waktunya.


"Nostalgia terasa belum lengkap kalau aku belum melakukan ini, "


"Cup." Bibir sensual Queen mendarat di pipi Dirga.


Dirga terkesiap, tak menyangka Queen akan melakukan itu. Tapi meski begitu ia sama sekali tak marah. Apalagi melihat Queen tersenyum ke arahnya dengan tatapan penuh luka seolah hal itu mengingatkannya kalau dulu mereka pernah sangat bahagia.


Queen benar, dulu setiap mau turun dari mobil Dirga, dia memang selalu menghadiahkan satu kecupan. Dan ia juga ingin melakukan itu sekarang sebagai pelengkap nostalgianya-konon.


Sampai gadis itu turun, Dirga masih saja terkesiap. Dia bahkan sampai memegang bekas kecupan Queen. Bukan karena masih cinta, bukan ! Sekali lagi Dirga hanya merasa iba. Gadis secantik dia seharusnya tak perlu terluka sedalam itu karena cinta.


'Setelah ini berbahagialah Queen, jangan membuatku merasa bertanggung jawab atas lukamu. '

__ADS_1


Dirga tak pernah sadar sikap baiknya pada Queen hari ini ternyata dalam pantauan seseorang. Dirga yang tak ingin lagi Queen terluka karenanya, nyatanya justru melukai hati seseorang yang sejak tadi memperhatikannya dengan tatapan mata merah menyala.


__ADS_2