
Persiapan pernikahan Dirga dan Senja sudah berjalan hampir 80 persen. Itu berarti sudah hampir rampung secara keseluruhan. Hanya tinggal melengkapi beberapa hal kecil saja. Namun sayangnya sampai sekarang makhluk yang di tunggu-tunggu untuk mendampingi Senja berjalan di altar belum juga datang.
Sudah hari ke ke seratus dua puluh dan Bayu belum juga pulang. Jangan di tanya bagaimana perasaan Wulan. Ditengah rasa sakit yang terus menggerogoti nya, wanita itu juga harus bisa menahan rindu dengan kondisi tak menentu.
Apa sebenarnya yang menyebabkan Bayu tak kunjung pulang, Wulan sendiri pun tak tahu. Yang bisa ia lakukan saat ini hanyalah menunggu dan terus menunggu. Sampai kapanpun tak tahu.
Efek dari sakit tak kasat mata yang di deritanya dan juga bnyak hal yang membebani membuat berat badan wanita itu turun drastis. Wulan nampak jauh lebih kurus dari biasanya.
Dan wanita itu jadi lebih banyak diam seolah sedang menyembunyikan segala rasa-nya.
Senja sebagai putri tunggalnya tentu saja iba melihat kondisi sang ibu yang makin memprihatinkan. Namun sampai sekarang orang tua perempuannya itu belum juga mau berbagi dengannya.
Tak tahan melihat kondisi ibunya. Akhirnya malam ini Senja mendesak Wulan untuk bicara
"Bu. Katakan padaku sebenarnya ibu kenapa? aku tak tega melihat ibu terus-terusan seperti ini." Senja mengusap pundak ibunya yang sedang terbaring lemah di kamarnya.
"Ibu tidak apa-apa, Senja. " Selalu saja itu jawaban Wulan.
"Berhenti membohongiku, Bu. Ibu sudah cukup lama sakit tapi masih saja bilang tidak apa-apa. Sebenarnya ibu sakit apa, kenapa dokter selalu bilang kalau ibu tidak menderita sakit yang serius?"
Wulan menghela nafas beratnya. Ia kemudian duduk setengah berbaring. Menatap putrinya yang sedang sangat penasaran sekaligus khawatir padanya.
"Baiklah, mungkin sudah saatnya kau harus tahu, Nak."
"Tentu, Bu. Aku satu-satunya anak ibu. Aku harus tahu apapun yang terjadi pada Ibu. Cepat katakan, Bu. " Tak sabar Senja menunggu ibunya bicara.
Wulan kembali menghela nafasnya. Deru nafas yang sangat berat menggambarkan betapa sesaknya ia saat ini.
"Sebenarnya ibu punya resiko tersendiri karena menikah dengan ayahmu. " Wulan memulai ceritanya.
"Ibu tahu itu sejak awal karena ayahmu memang sudah memberi tahu-nya ... Tapi rasa sayang ibu pada Ayahmu membuat ibu rela melakukan apapun asalkan bisa tetap bersamanya."
Senja terdiam menyimak penjelasan ibunya. Tak sedikitpun berusaha menyela dan membiarkan wanita itu menuntaskan ceritanya.
"Kau tahu apa resikonya? "
Senja menggeleng pasti karena memang ia tak tahu sedikitpun soal itu. Ayahnya tak pernah memberitahu-nya.
"Jika Ibu tetap berhubungan dengan Ayahmu, maka cepat atau lambat energi ibu akan tersedot olehnya."
"Maksud ibu? "
Wulan tersenyum masam sebelum melanjutkan ceritanya.
"Ibu menikah dengan makhluk yang tidak semestinya, Nak. Tentu saja ada resiko yang harus ibu hadapi ... Ayahmu bilang pada akhirnya ibu akan kehilangan energi ibu dan kalau sudah begitu maka ibu akan mulai kesakitan dan wajah ibu juga akan kembali seperti seharusnya. Sesuai dengan usia ibu. "
Kalimat terakhir Wulan memantik rasa penasaran Senja untuk memperhatikan wajah ibunya. Dan di situlah gadis itu baru sadar kalau wajah ibunya memang lain dari biasanya. Banyak kerutan di mana-mana.
__ADS_1
Sebenarnya selama ini Senja juga bukannya tidak memperhatikan penampilan ibunya yang kian berubah. Tapi Senja berpikir mungkin karena sang ibu sedang sakit makanya jadi tak sempat melakukan perawatan.
Namun kini Senja sadar kalau semua itu di sebabkan karena energi ibunya yang kian berkurang.
"Lalu bagaimana cara mengobatinya, Bu? pasti ada cara untuk menangkalnya kan? " Kenapa Senja bisa berkata demikian, karena baik ia maupun ayahnya punya cara tersendiri untuk mengatasi energinya saat sudah habis. Mereka harus bersemedi untuk kembali mengumpulkan energinya agar ia bisa bertahan lebih lama di dunia manusia.
Senja berpikir mungkin Wulan bisa melakukan hal yang sama.
"Tidak ada caranya, Nak. Ibu hanya tinggal menunggu sampai---"
"Tidak, Bu. Pasti ada caranya." Potong Senja cepat. Ia tahu apa yang akan di katakan oleh Wulan dan ia bahkan tidak ingin mendengar nya.
"Tidak ada, Senja. Itu memang sudah resiko yang harus ibu tanggung. "
"Lalu kenapa ibu tetap melakukannya. Ibu sudah tahu kalau resikonya akan sebesar itu. Kenapa ibu tetap mau? " Suara Senja mulai meninggi. Ia cukup emosional membayangkan hal buruk akan menimpa ibunya.
"Karena ibu sangat menyayangi Ayahmu. Yang terpenting bagi ibu adalah bisa tetap bersama ayahmu. Dan ibu tidak pernah menyesal dengan keputusan ibu. Karena bagi ibu setiap yang bernyawa pasti akan mengalamai yang namanya kematian. "
"Ibu berhenti bicara soal itu. " Senja mulai terisak. Tak sanggup membayangkan kalau ibunya sampai harus pergi. Di dunia ini Senja merasa hanya ibu lah yang ia punya. Karena ayahnya memang jarang di sisinya. Kalau sampai ibunya pergi kalau bagaimana dengan dirinya?
"Tak apa, Nak. Jika semua memang harus terjadi." Wulan merangkul putrinya dengan tangan lemahnya. Membiarkan gadis itu meluapkan segala emosinya. Dan Senja sepertinya sudah benar-benar tak mampu manahan. Ia sesenggukan dalam pelukan sang ibu.
"Lagipula kan sekarang sudah ada Dirga yang menjaga mu. "
"Ibuuu.. " Tangisan Senja pecah. Ucapan ibunya menegaskan kalau wanita itu memang benar-benar harus pergi.
"Tenanglah, ibu belum akan pergi. Ibu masih akan menunggu ayahmu. Dan menunggu hati pernikahanmu tentunya. " Tangan Wulan bergerak naik turun mengusap punggung putrinya. Dan tanpa sepengetahuan Senja, wanita itu juga ternyata tak sanggup menahan butiran bening yang meleleh di sudut matanya.
"Ibu jangan pergi, Bu. Aku mohon. Tetaplah disini bersamaku. " Ratapan yang terasa sangat menyayat hati. Namun Wulan tidak bisa menjanjikan hal itu karena saat ini ia bahkan merasa kalau kondisinya semakin tidak karuan.
"Tenanglah, ibu masih akan bersamamu. Tapi ibu ingin minta tolong padamu."
"Apapun itu, Bu. Asalkan ibu bisa tetap bersamaku. "
Wulan tersenyum getir. Meski apa yang akan di katakan nya tidak akan bisa merubah keadaan, tapi ia tak ingin membuat putrinya semakin sedih.
"Tolong bicara dengan ayahmu. Tanyakan padanya kenapa ia tak kunjung pulang. "
Senja sontak melepaskan pelukannya dan menatap ibunya.
Benar, dia kan bisa tetap berkomunikasi dengan ayahnya dari jarak jauh tanpa harus menggunakan alat bantu. Kenapa selama ini Senja tak pernah terpikirkan hal itu.
"Baiklah, Bu. Aku akan bicara pada ayah malam ini juga. Ibu yang kuat ya, bertahanlah demi aku dan ayah." Permintaan yang cukup berat dari Senja, tapi Wulan tetap berusaha meng-iyakan
"Tentu, Nak. Ibu akan bertahan sampai titik terendah. " Perempuan itu mengusap lembut kepala putrinya. Iba melihat gadis cantik itu harus sedih memikirkan keadaannya. Itulah kenapa selama ini Wulan enggan untuk bicara. Karena ia tahu itu pasti akan membuat Senja sedih.
Namun karena kondisinya yang makin parah, Wulan tidak punya pilihan lain selain bicara. Karena biar bagaimanpun putrinya tetap harus tahu.
__ADS_1
***
Tepat tengah malam Senja memfokuskan dirinya agar bisa berkomunikasi dengan sang ayah. Gadis itu memejamkan matanya dalam posisi duduk bersila.
"Ayah, ayah. Kau bisa mendengar ku? "
Tak ada jawaban. Tak ada satupun suara yang terdengar kecuali detak jarum jam.
"Ayah. Kalau kau bisa mendengarku tolong jawab aku. "
Tetap tak ada jawaban. Senja sendiri heran kenapa bisa sesulit ini berbicara dengan ayahnya. Padahal biasanya tidak. Apa karena ayahnya sedang bersemedi?
Senja menghela nafasnya sambil semakin memfokuskan pikirannya.
"Ayah, aku mohon jawab lah. " Ucap Senja lagi masih dengan mata terpejam.
"Ya, Senja. Ada apa, Nak. "
Sebuah suara bariton tanpa wujud menggema di ruangan kamar Senja. Namun di pastikan hanya Senja saja yang bisa mendengarnya.
"Ayah, kenapa belum pulang? kami semua sangat menunggumu."
"Tidak bisa, Nak. Ini belum waktunya. "
"Tapi sudah lebih dari seratus hari, bukankah seharusnya Ayah sudah pulang? "
"Yah seharusnya. Tapi tempo hari ketika ayah menolongmu ayah sebenarnya masih dalam energi yang sangat lemah. Tapi ayah memaksakan diri. Itulah sebabnya sekarang ayah harus memperpanjang masa semedi Ayah agar bisa kembali pada kalian. "
"Tapi berapa lama lagi, Yah. Ibu sedang tidak baik-baik saja. Dia sudah sangat menunggumu."
"Ayah tahu itu, tapi Ayah harus bersemedi dua kali lipat lebih lama dari biasanya. Sampaikan itu pada ibumu. Dan katakan juga padanya untuk tetap bertahan menunggu ayah. "
"Baiklah, akan kusampaikan. Dan satu hal lagi, Ayah. Sebentar lagi aku akan menikah dengan Dirga. Aku sangat berharap Ayah bisa datang."
Kali ini tidak ada jawaban. Suara bariton yang tadi menggema mendadak lenyap begitu saja.
"Ayah, kau masih bisa mendengarku? "
"Ayah..?"
"Ayah..?"
"Ayah..? "
Sampai beberapa kali memanggil tapi tetap tidak ada jawaban membuat Senja akhirnya membuka mata dan menyudahi telepati-nya.
Gadis pemilik iris merah itu kemudian menghela nafasnya dalam. Rasa lelah selalu datang setelah selesai ber-telepati dengan ayahnya. Senja merasa seperti habis mendaki gunung atau bepergian dengan jarak jauh yang ia tempuh dengan berlari. Yah seperti itulah rasanya setiap kali habis berkomunikasi tak kasat mata.
__ADS_1
Namun dari semua rasa lelah itu ada satu hal yang membuatnya benar-benar sesak. Ayahnya mengatakan harus bersemedi dua kali lipat lamanya. Itu berarti masih sekitar delapan puluh hari lagi makhluk itu baru akan pulang.
Pernikahannya mungkin bisa saja di undur sampai ayahnya pulang. Tapi ibunya, apa masih bisa menunggu sampai selama itu? Sementara kondisinya sekarang sudah makin memprihatinkan.