Pacarku Setengah Manusia

Pacarku Setengah Manusia
Kepergian Bayu Bamudra


__ADS_3

Pukul satu dini hari, Queen terjaga dari tidurnya. Gadis berambut kecoklatan itu mendadak merasa dingin di bagian tengkuk seolah ada yang sedang meniupnya. Antara sadar dan tidak, ia juga merasa kalau ada yang sedang memperhatikannya.


Queen meraba-raba nakas di samping ranjang bermaksud hendak menyalakan lampu, namun gerak tangannya terhenti saat merasa menyentuh sesuatu yang sangat dingin.


Apa ini?


Bathinya penasaran


Seperti?


Queen tak berani melanjutkan alibinya dan lebih memilih untuk menilik langsung apa yang sebenarnya tertangkap oleh indera peraba-nya.


Dan matanya membulat sempurna begitu pupil beningnya berhasil mendeteksi apa yang baru saja di rabanya.


Sesosok makhluk menyeramkan dengan bola mata merah berkobar dan wajah yang bahkan lebih pucat dari pada kapas sedang duduk santai di atas nakas sambil memperhatikannya dalam-dalam.


Gadis itu langsung beringsut kebelakang. Degup jantungnya yang mendadak bertabuh kencang menandakan kalau ketakutan mulai bersarang.


"Si-siapa kau? " tanyanya terbata sambil mencoba mengenali makhluk menyeramkan di depannya. Makhluk yang tangan dinginnya baru saja teraba olehnya.


Makhluk tampan namun menyeramkan tak menyahut namun justru terus memperhatikan Queen dengan seringai tajam yang seolah siap mencabik-cabik tubuh Queen, seolah meminta gadis itu untuk menjawab pertanyaannya sendiri.


Queen sendiri semakin di cekam ketakutan. Badanya bahkan gemetar menahan takut. Terlebih saat makhluk itu bangkit mendekatinya dan mengulurkan tangannya seperti vampir yang siap mencekik mangsa.


Queen ingin berlari secepat mungkin dan menjauh dari makhluk bermata merah itu, namun kakinya seolah tak bisa di gerakkan, membuatnya hanya mampu diam di tempat dan membiarkan makhluk itu semakin mendekat.


"K-kau, " Saat jarak di antara mereka makin terkikis, barulah Queen dapat melihat dengan jelas makhluk itu. Makhluk yang ternyata adalah Ayahanda Senja. Meski baru melihatnya sekali namun Queen masih sangat hafal wajah itu karena memang dia baru melihatnya tadi siang.


"Jangan mengganggu hubungan Dirga dan putriku ... kalau kau tidak mau celaka !" Suara bariton penuh ancaman menggema di ruangan kamar Queen membuat wajah gadis itu kian memucat.


"Dirga sudah tidak menyukaimu, terima saja kenyataan itu dan jangan pernah lagi mengusik Senja ataupun Dirga atau kau tidak akan bisa lagi tidur nyenyak seperti tadi ! "


Usai mengatakan itu Bayu mendekatkan tangannya ke leher Queen. Kuku-kuku panjang berwarna hitam siap melubangi leher gadis itu


Tubuh Queen beku, terdiam di tempat tanpa bisa melakukan apa-apa, bahkan berucap saja sudah tak kuasa. Ketakutan yang teramat sangat seolah mengunci semua indera nya.


Sementara Bayu sepertinya belum cukup puas menakuti Queen. Setelah tangan dinginnya berhasil menempel di leher gadis itu, Bayu kemudian mendekat kan wajah menyeramkan nya tepat di depan wajah Queen.


Kedua pasang mata itu bersitatap dan Queen bisa melihat dengan sangat jelas bagaiamana bola mata Bayu yang benar-benar menyala seperti bara.


"Aarrrgghhh...! " Bayu berteriak sekencang-kencang nya di hadapan Queen. Suara ny mengerikan persis seperti auman binatang buas yang sedang murka membuat Queenzi menggigil di cekam ketakutan lalu akhirnya terkulai lemas tak sadarkan diri.


Seringai tipis muncul dari wajah Bayu melihat Queenzi kehilangan kesadarannya. Makhluk itu kemudian melesat secepat kilat.


***


Di dalam kamarnya Wulan pun mendadak terjaga karena ada sesuatu yang dingin menempel di keningnya.


Saat wanita itu membuka mata, ia mendapati suami tercintanya sedang mencium mesra keningnya.


Wulan tersenyum lalu mengusap lembut pipi Bayu.


"Hey, ada apa membangunkanku? " tanyanya dengan suara serak khas orang bangun tidur.


"Sepertinya sudah saatnya, Sayang. Aku sudah tidak tahan. " Bayu meringis dengan wajah kesakitan. Ekpresinya sangat berbeda dengan saat dia menakut-nakuti Queen tadi. Rupanya sebelum pergi, makhluk itu berusaha mengumpulkan sisa-sisa tenaganya untuk memberi peringatan pada Queen.


Ucapan Bayu yang lebih mirip rintihan membuat Wulan langsung beranjak.


"Kau akan pergi sekarang?" kecemasan mulai terasa. Meski ia sudah biasa di tinggalkan namun tetap saja ada yang terasa nyeri setiap harus melepas suaminya pergi.


"Hmm, aku sudah semakin lemah. "

__ADS_1


"Kalau begitu aku akan mengantarmu sampai kelaut. "


"Tidak usah," Bayu mencegah Wulan untuk beranjak.


"Kau istirahat saja dirumah, seperti biasa. "


"Tidak, kali ini aku ingin mengantarmu. " Wulan tetap bersikeras. Entah kenapa kali ini dia ingin menyaksikan langsung suaminya perlahan hilang di telan lautan. Padahal biasanya dia hanya melepaskan dari kamarnya saja dan membiarkan Bayu menghilang tanpa ada yang melihat.


"Aku juga tidak tahu kenapa, tapi yang jelas kali ini aku ingin mengantarmu ... jadi ku mohon biarkan aku ikut. "


"Baiklah," angguk Bayu akhirnya


"Tapi jangan pergi sendirian, ajak Senja. "


"Hm, " tanpa menjawab Wulan langsung bergerak menuju kamar Senja yang ternyata juga belum tidur, jadi bisa langsung mendengar saat ibunya memanggil.


"Ada apa, Bu? " tentu saja gadis itu penasaran karena ibunya membangunkannya dini hari begini.


"Temani ibu kelaut, Nak. Ibu ingin mengantar Ayahmu ... dia sudah harus pergi. "


"Ibu mau mengantar Ayah?" tanya Senja heran


"Iya, "


Sebenarnya Senja ingin sekali berkata "tumben? " namun kalimat itu urung terucap demi melihat wajah sendu ibunya.


Mungkin sesekali Ibu ingin melihat kepergian Ayah.


Batin Senja sebelum akhirnya menyetujui permintaan Ibunya.


Gadis itu lalu menutup obrolan malamnya dengan Dirga dan mengatakan kalau ia akan mengantar Ayahnya kelaut.


Ya sebelum ibunya masuk tadi, Senja memang sedang berbalas pesan dengan Dirga, saking asyiknya keduanya sampai tidak sadar kalau sudah dini hari.


***


Suasana laut sudah sangat sunyi karena memang waktu sudah sangat tidak lazim untuk seseorang berada di pantai. Namun justru saat-saat seperti inilah yang paling tepat untuk Bayu pulang kembali ke istananya karena di pastikan tidak akan ada yang melihatnya tenggelam di telan lautan.


Ketiganya berjalan pelan menuju bibir pantai, Wulan dengan setia menggandeng tangan Bayu seolah enggan melepaskannya.


"Kau kenapa sayang? " tanya Bayu karena merasa ada yang aneh dengan istrinya. Biasanya memang dia selalu sedih setiap harus melepas suaminya pergi, tapi tidak sampai berlebihan begini.


"Iya, Ibu. tidak biasanya Ibu ingin mengantar Ayah sampai ke laut? " Senja yang sejak tadi penasaran akhirnya ikut bertanya juga.


"Entahlah, Ibu juga juga tidak tahu, rasanya kali ini berat sekali melepas Ayahmu ... kalau bisa Ibu bahkan ingin ikut. "


"Ibu jangan bicara begitu, kalau Ibu ikut lalu aku bagaimana nanti? aku mana bisa kalau tidak ada Ibu. " Protes Senja langsung karena menurutnya kalimat sang Ibu terlalu mengada-ada.


"Iya, Wulan. Kau mana mungkin ikut, " Bayu ikut menimpali sambil mengusap tangan Wulan yang sedang merangkul lengannya.


"Lagipula aku juga kan pasti kembali. "


"Iya aku tahu, itu hanya sebatas keinginan saja. Aku hanya tidak ingin jauh darimu. "


Tangan Bayu langsung bergerak mengusap puncak kepala Wulan. Ucapannya barusan terasa cukup menyesakkan baginya. Ia tahu betul bagaimana perasaan sang istri. Seandainya bisa dia bahkan tidak ingin meninggalkannya barang sedetikpun.


"Sudahlah, jangan terlalu terbawa suasana, toh ini hanya perpisahan biasa kan? "


Wulan akhirnya hanya bisa mengangguk. Ia sendiri juga sebenarnya tidak ingin terlalu terlihat sedih karena itu pasti akan menunda Bayu untuk pergi, sedang kan Wulan tahu betul bagaimana suami tampannya itu sudah sangat tersiksa oleh rasa sakit. Akhirnya wanita berwajah lembut itu hanya mampu menyembuhkan kesedihannya dalam diam, sambil terus berjalan.


Hamparan lautan maha luas sudah berada di depan mereka saat ini. Bayu melepaskan diri dari dekapan tangan Wulan kemudian menggenggam tangan itu erat.

__ADS_1


"Wulan, aku---"


Suara Bayu terpenggal karena sorot cahaya terang yang tiba-tiba datang dari arah belakang mereka.


"Siapa itu, Jangan-jangan ada yang datang? " Wulan mulai panik karena takut akan ada yang menyaksikan kepergian Bayu selain mereka.


"Entahlah, Bu. belum jelas wajahnya, " jawab Senja sambil menoleh ke belakang, namun karena gelapnya malam membuat netranya tidak bisa menangkap apapun selain cahaya terang.


Saat pendar cahaya semakin mendekat barulah mereka bisa mengenali siapa pembawa cahaya terang itu.


"Dirga?"


Senja menyebutkan nama itu dengan terkejut sekaligus heran. Pasalnya Dirga tidak mengatakan akan ikut ke laut, tapi kenapa tiba-tiba ada disini?


"Matikan lampu sentermu, jangan sampai ada yang melihat kita disini. " perintah Senja karena melihat cahaya dari ponsel Dirga yang masih terus menyala.


"Hm, " Dirga menuruti perintah Senja dan langsung menyimpan ponselnya.


"Kau kenapa kemari? "


" Aku ingin melihat Ayahmu pergi. "


"Hah? " jawaban Dirga sukses menaikkan kedua alis Senja. untuk apa menyaksikan ayah nya Senja pergi, apa pria itu pikir kalau Bayu samudra akan pergi berlibur?


"Tadi saat kau bilang ingin mengantar Ayahmu pergi mendadak aku juga jadi ingin melihat bagaimana cara Ayahmu pergi sekaligus juga ingin ikut mengantarnya ... tidak apa apakan? tidak apa-apa kan Bibi, Paman kalau aku juga ikut menyaksikan? " Dirga menatap Wulan dan Bayu secara bergantian


"Tidak apa-apa, " jawab Bayu seraya tetap memegangi dadanya yang semakin terbakar.


"Kami sudah menganggapmu sebagai bagian dari kami, jadi tidak masalah kalau kau ingin tahu, asalkan kau bisa jaga lisanmu. "


"Terimakasih, Paman. Paman tenang saja, aku pasti akan selalu jaga rahasia. "


"Ya sudah kalau begitu, aku---"


Bayu tersungkur sebelum sempat melanjutkan kalimatnya. Rasa sakit yang maha dasyat sudah benar-benar tak kuasa di tahannya.


"Bayu, " pekik Wulan. Baik ia, Senja ataupun Dirga dibuat terkejut dengan gerakan Bayu yang tiba-tiba terjatuh. terlebih Dirga yang memang belum pernah menyaksikan, pria berahang kokoh itu bahkan sampai ikut meringis iba melihat Bayu yang terlihat sangat kesakitan.


Wulan langsung berinisiatif memeluk Bayu. Ia membenamkan kepala Bayu di dadanya.


"Sakit sekali, Wulan. Aku sudah tidak tahan." rintih Bayu kesakitan


"Pergilah, Bayu. Pergilah. Aku tidak akan memberatkan langkahmu. Aku akan baik-baik saja disini menunggumu. " Meski suaranya makin bergetar, tapi sebisa mungkin Wulan berusaha untuk tidak menangis. Entahlah kenapa kali ini dia begitu sedih melepas suaminya pergi, seolah mereka tidak akan berjumpa lagi.


"Hmm, " Kau harus baik-baik saja. Kalian semua harus baik-baik saja."


Di bantu anak istrinya dan juga Dirga, Bayu kemudian bangkit untuk mulai berjalan menerobos lautan. Makhluk itu berjalan tertatih di antara genangan air yang mulai merendam tubuhnya.


Saat tubuhnya sudah terendam sampai sebatas perut, Bayu menoleh kepada orang-orang yang mengantar kepergian nya. Meski dalam kegelapan malam yang hanya di terangi oleh bulan sabit, tapi ketiga makhluk hidup yang masih berada di tepi laut masih bisa melihat Bayu melambaikan tangannya, mata merah menyala nya juga masih jelas terlihat.


Dan pada saat itulah Wulan baru bisa menumpahkan tangisnya, tangisan yang sejak tadi ia pendam akhirnya pecah juga melihat suaminya perlahan menghilang di telan lautan.


Di sampingnya, sang putri cantik berusaha menguatkan. Ia mengusap usap punggung ibunya menyalurkan kekuatan agar sang ibu tak terlalu larut dalam dukanya.


Sementara di samping Senja, Dirgantara Noza sanjaya pun tak luput dari kesedihan yang di rasa Wulan maupun Senja.


Ia menyaksikan langsung bagaimana tersiksa nya Bayu menjelang saat-saat kepergiannya. dan juga melihat dengan netranya sendiri makhluk itu lenyap di telan lautan. Satu kejadian aneh di luar nalar baru saja di saksikan nya. Kejadian aneh yang baru pertama kali di lihatnya.


Raut kesedihan Wulan dan Senja juga cukup terasa baginya, membuat matanya ikut berkaca-kaca. Se-tersiksa itulah kelak saat Senja harus pergi, dan sesedih itulah saat ia harus di tinggalkannya nanti.


Membayangkan hal-hal menyedihkan itu mendadak membuat Dirga ketakutan. Ia lantas menggapai tangan Senja lalu menggenggamnya se-erat yang ia bisa.

__ADS_1


****


Jangan lupa tinggalkan jejaknya yaa.. Boleh juga di bantu share agar cerita ini makin banyak pebacanya🙏🙏


__ADS_2