Pacarku Setengah Manusia

Pacarku Setengah Manusia
Interogasi yang menyudutkan


__ADS_3

Dirga meringis menahan nyeri di sekujur tubuhnya. Sudah dua hari semenjak ia bercumbu dengan Senja, tapi rasa nyeri nya belum hilang juga


Pria dengan tinggi tubuh proposional itu menyandarkan badannya di kepala ranjang. Ia baru saja bangun tidur dan langsung merasakan rasa tidak nyaman di hampir semua bagian tubuhnya.


"Baru melakukan itu saja rasanya sudah tidak karuan begini, apalagi kalau aku melakukan yang lebih dalam lagi. " Dirga menggeleng-gelengkan kepalanya sendiri.


"Apa aku harus segera menikahinya supaya tidak kesakitan lagi? tapikan hubungan kami belum begitu lama, aku bahkan belum mengenalkannya pada Ayah ibu" Dirga kembali bergumam


"Atau mungkin aku harus menahan diri dulu sampai kami menikah ... akh tapi mana mungkin aku bisa menahan nya. Senja sudah seperti candu buatku. " Dirga sudah sangat mirip dengan orang yang terkena gangguan jiwa. Sejak tadi terus bicara sendiri dan bahkan sesekali tersenyum saat membayangkan adegan intimnya dengan Senja.


Untung saja Ibunya yang cantik datang tepat waktu untuk segera menyadarkan putranya yang terus saja bermonolog tentang Senja.


"Dirga kau sudah bangun, Nak? " teriaknya setelah sebelumnya mengetuk pintu.


Dirga yang sedang asyik berdialog dengan diri sendiri sontak langsung terlonjak. Ia buru-buru melirik jam di samping ranjangnya. Dan di situlah dia baru sadar kalau dia sudah terlambat dari biasanya.


"Dirga ! " seru sang ibu lagi karena pemilik nama tak kunjung menjawab.


"Iya, Bu. Aku sudah bangun. Aku baru mau mandi, " jawab Dirga seraya beranjak kekamar mandi.


"Ya sudah cepat mandi. Ibu tunggu dibawah ya, kita sarapan sama-sama. "


Dirga tak sempat menyahut karena sudah keburu masuk kekamar mandi.


Untung saja pada saat mandi dia tidak membayangkan Senja. Kalau sampai itu terjadi pasti ritual mandinya jadi dia kali lipat lebih lama.


***


"Pagi, Ayah. Ibu? " Dengan wajah yang jauh lebih segar dari sebelumnya, Dirga turun menghampiri kedua orang tuanya. Ayah tengah sibuk dengan ponselnya sedangkan ibu sibuk wara-wiri menyiapkan segala sesuatu.


"Pagi." Sang Ayah yang menjawab sedangkan ibunya malah langsung melayangkan protes pada Dirga.


"Kenapa lama sekali turun, apa kau begadang tadi malam?"


"Tidak, Bu. Aku hanya sedang tidak enak badan"


"Kau sakit? "


"Hm tidak juga, mungkin hanya capek saja, " Dalihnya tak ingin membuat ibu panik.


"Ooh ya sudah, ini sarapanmu, makanlah. " Sambil menyodorkan roti selai dan segelas ginseng hangat kesukaan Dirga.


Saat Dirga tengah makan, Ayah dan ibunya tampak saling pandang seolah ada yang ingin di sampaikan tapi ragu siapa yang harus memulai terlebih dahulu.

__ADS_1


"Eum Dirga. Sambil makan tidak apa kan kalau Ayah bicara. Ada yang ingin kami tanyakan padamu."


Dirga tercengang. Tidak biasanya Ayahnya meminta izin terlebih dahulu saat akan bicara, terlebih raut wajahnya juga sangat serius membuat Dirga penasaran sekaligus heran.


"Ada apa, Yah? " Dirga menatap kedua orang tuanya secara bergantian.


"Sebenarnya sudah dari tadi malam kami ingin bicara padamu, tapi karena kau pulang terlalu larut jadi kami menundanya sampai pagi ini."


Bahkan ibunya yang biasanya lebih santai dari sang Ayah, kali ini pun sama seriusnya.


"Ada apa ini, sepertinya serius sekali? " tanya Dirga sambil tetap mengunyah makanannya.


"Ini tentang Senja. "


"Uhuk-uhuk." Mendengar nama itu disebut membut Dirga langsung tersedak. Ia terkejut bukan main. Darimana orang tuanya tahu tentang Senja?


"Dari mana kalian tahu soal Senja? " tanyanya heran karena merasa dia belum bicara apapun soal gadis itu.


"Apa benar Senja itu kekasihmu? " Alih-alih memjawab, Melati sang Ibu justru semakin membuat Dirga gugup


"Dari mana Ibu tahu? " Dirga mengulang pertanyaannya.


"Jadi benar Senja itu kekasih mu? " kali ini nampak sang Ayah yang menginterogasi.


"Kemarin Ibumu ke laut, dan ibu bilang dia tak sengaja bertemu gadis peselancar bernama Senja. " Damar mengulang ucapan istrinya tadi malam. Sebelum tidur Melati memang sempat menceritakan soal pengalamannya bertemu Senja di pantai. Tak lupa wanita itu juga menceritakan tentang keganasan Senja saat menyerang dua orang pria.


"Dan ada yang bilang pada ibumu kalau Senja itu kekasih mu? "


"Siapa yang bilang? " Dirga merasa Senja tak begitu banyak mengenal orang dan hubungan mereka juga terbulang baru, tapi kenapa sudah ada yang tahu kalau Senja itu kekasihnya, apa mungkin---


"Itu tidak penting, Dirga. Ibu hanya ingin memastikan kalau Senja itu memang benar kekasih mu. "


Tiba-tiba Dirga merasa was-was ibunya berkata begitu, Jangan-jangan ibu melihat keanehan Senja, fikir Dirga


"Iya, Ibu. Aku baru saja menjalin hubungan dengan Senja, jadi maaf belum sempat mengenalkannya pada kalian."


Ayah dan ibu kembali beradu pandang. Sungguh tingkah mereka hari ini membuat putra semata wayangnya heran


"Eum sebelum kau mengenalkannya pada kami, apa tidak sebaiknya kau fikirkan dulu baik-baik tentang hubunganmu? "


"Maksud ibu? " perasaan Dirga semakin tidak enak.


"Mudah-mudahan pendapat ibu salah, tapi menurut ibu Senja itu gadis yang aneh dan temperamen. "

__ADS_1


Dirga tersentak dan langsung menghentikan makannya.


'Apa yang sudah di lakukan Senja sampai ibu bisa berkata begitu'


"Aneh bagaimana maksud ibu? " tanya Dirga berpura-pura tidak paham maksud ibunya.


Melati menatap Damar sebagai isyarat agar suaminya itu mewakili atau melanjutkan dia bicara.


"Kemarin secara tak sengaja ibumu melihat Senja sedang menyerang dua orang pria. Dia menyerang membabi buta seperti orang kesurupan. "


Dirga diam, tak menanggapi ucapan Ayahnya, tapi raut wajahnya menunjukan keterkejutan yang luar biasa.


"Dan parahnya lagi pemicunya hanya karena hal sepele. Hanya karena dua orang itu tidak sengaja menabrak Senja. Padahal mereka sudah minta maaf, tapi Senja tak mau peduli dan malah menghajar mereka habis-habisan. " Damar mengutip semua perkataan istrinya tanpa ada satu kata pun yang tertinggal.


"Eum Senja pasti punya alasan kenapa melakukan itu, Bu. Ibu jangan dulu berpikir buruk tentang Senja. " Dirga berusaha berdalih supaya ibunya tidak berpikir yang bukan-bukan, meski pikirannya sendiri benar-benar tak karuan. Ia benar-benar takut kalau sampai ada orang yang tau tentang siapa kekasihnya.


"Ibu tidak berpikir buruk, Dirga. Ibu hanya mengatakan apa yang ibu lihat. Dan ibu melihat sendiri betapa beringas nya gadis itu, dan satu lagi, wajahnya ... wajah gadis itu sangat mengerikan. Matanya merah seperti---" Melati kembali menatap Damar dan pria berwibawa itu mengangguk menyetujui apa yang akan di sampaikan istrinya.


"Matanya menyala seperti mata iblis, Dirga. "


Dirga memejamkan matanya berusaha menenangkan diri dari bombardir pernyataan ibunya. Otaknya juga tengah bekerja keras mencari alasan yang paling masuk akal yang bisa di terima.


"Begini, Bu." Dirga bicara dengan sangat hati-hati.


"Akan aku jelaskan semuanya tentang Senja, tapi tidak sekarang. Aku sudah sangat terlambat Bu." sambil melirik arlojinya yang sudah menunjukan hampir pukul delapan, itu artinya dia menang sudah sangat terlambat. Tapi bagusnya Keterlambatan nya bisa di jadikan alasan untuk kabur dari interogasi Ibu dan Ayahnya.


"Yang penting sekarang aku minta pada ibu untuk tidak berpikir buruk tentang Senja. Dia tidak se menyeramkan yang ibu lihat. Percayalah."


Entahlah kenapa Dirga bicara seperti itu. Dia belum bisa menjelaskan apapun. Alhasil itulah hanya itulah yang bisa di jabarkan.


"Tapi ibu yakin kalau Senja itu---"


"Sayang, dengarkan putra kita bicara. " Damar menyentuh pundak istrinya memintanya untuk tak lagi bertanya.


"Dia sudah bilang akan menjelaskan, jadi kita tunggu saja, dan seperti katanya tadi. Jangan berpikir buruk dulu. "


Seperti Dewa penyelamat yang datang tepat waktu, Damar benar-benar sudah menyelamatkan putranya agar bisa seger lepas dari suasana yang cukup menyudutkannya.


"Pergilah, Nak. Kalau kau memang sudah terlambat. Kami tidak akan mengganggu pekerjaanku. "


Dirga tersenyum lega lalu langsung beranjak.


"Terimakasih, Ayah, " ucapnya lalu berjalan cepat meninggalkan ruang makan.

__ADS_1


"Kau berhutang penjelasan pada Ibu. " Teriak sang Ibu yang masih tak terima putranya kabur begitu saja. Padahal berjuta pertanyaan masih berjubel di kepalanya.


__ADS_2