
Hari yang di tunggu-tunggu oleh Senja dan Dirga akhirnya datang juga. Keduanya telah bersiap mengucapkan janji suci di hadapan kedua orang tua dan juga tamu undangan.
Di pesisir pantai. Di dekat pohon nyiur paling ujung inilah Senja dan Dirga akan melangsungkan pernikahan mereka. Tempat itu sekarang sudah di sulap menjadi singgasana super mewah bertabur bunga. Pelaminan berlantai kaca dengan hiasan bunga-bunga segar yang baru di petik dari kebun-nya membuat kesan indah tak terbantahkan. Nuansa putih dan sedikit kehijauan mendominasi tempat ini. Siapapun tamu yang datang pasti akan terpukau oleh kemegahan dan keindahannya.
Tak tergambarkan kebahagiaan Senja pagi ini. Raut wajahnya merona menciptakan pahatan wajah bak dewi-dewi dari negri dongeng. Riasan wajah yang tampak berbeda membuat aura kecantikannya semakin paripurna.
Gaun berwarna putih bersih dengan ekor panjang menjuntai ke belakang dengan bagian punggung yang terbuka mencetak tubuh indah tanpa celah. Dan sebuah tiara berwarna putih yang menghiasi kepalanya menyempurnakan penampilannya hari ini.
Dengan langkah gemetar Senja berjalan melewati altar dengan di dampingi oleh Ayah tampannya yang hari ini juga nampak semakin tampan dalam balutan jas hitam nya.
Di ujung altar atau lebih tepatnya di singgasana pelaminan, Dirgantara sudah menunggu pengantin cantiknya. Pria itu juga tampak sangat memukau dengan tuxedo berwarna senada dengan gaun Senja. Pria bermata tajam itu hari ini nampak berkali-kali lipat lebih tampan dari biasanya.
Senyumnya mengembang sempurna melihat pengantinnya berjalan mendekat. Raut kagum akan kecantikan sosok Senja tak bisa di tutupi nya. Dirga bahkan merasa Senja lebih cantik dari dewi kahyangan.
Sementara Senja, meski sudah memeluk erat lengan ayahnya namun tetap saja gadis itu masih merasa gugup. Terlebih melihat Dirga di ujung sana dengan aura bak pangeran tampan putra Kerajaan.
Senja berkali-kali menelan salivanya hanya untuk sekedar menetralkan perasaan gugup yang melanda. Sang ayah yang bisa merasakan kegugupan Senja dari tangannya yang terus bergetar mencoba memberi ketenangan dengan mengusap lembut tangan itu.
"Tenanglah, semuanya akan berjalan lancar," ucapnya sambil berjalan.
Senja mengangguk lalu menghembuskan nafasnya untuk mengusir kegugupan nya. Dan usahanya berhasil. Setidaknya tangannya sudah tak lagi bergetar.
Pengantin wanita kini telah sampai di depan mempelai pria. Tangan Dirga terulur menyambut jemari lentik Senja.
Keduanya kini saling berhadapan dengan tangan yang masih bertaut. Di bimbing oleh seorang pria yang juga memakai pakaian putih, Dirga mengucapkan janji sucinya dan di susul oleh Senja.
Mereka menyudahi ritual pemberkatan dengan ciuman manis.
"Kau cantik sekali, sayang, " ucap Dirga sebelum mendaratkan bibirnya di bibir ranum kemerahan milik Senja. Gadis itu hanya tersenyum karena sudah tak bisa berkata-kata lagi.
Semua yang hadir di situ bertepuk tangan. Tak terkecuali seorang pria dengan perpaduan wajah asia dan timur tengah yang duduk di barisan paling depan. Pria yang merupakan tamu spesial kedua pengantin, selain kedua orang tuanya tentunya.
"Selamat, kawan. " Usai pemberkatan Cakrawala Leonil Aksa sebagai tamu spesial Senja dan Dirga menghampiri keduanya. Dia sengaja datang dari jauh untuk memenuhi undangan Dirga. Dirga yang menelepon langsung dan meminta pria itu datang.
Leon menjabat erat tangan Dirga dan di sambut Dirga dengan pelukan hangat seorang sahabat.
"Terimakasih, sudah datang. " Dirga berkata tulus. Ia memang cukup senang pernikahannya di saksikan oleh orang yang pernah menjadi dewa penolong baginya dan juga Senja.
Tangannya kini beralih menjabat Senja. Tersenyum ramah pada gadis itu sambil mengucapkan kalimat yang sama. Jujur sejak pertama Senja melangkahkan kakinya di altar tadi, Leon sudah di buat ternganga tak percaya.
Penampakan Senja benar-benar berbeda dari yang ia lihat saat gadis itu sekarat. Senja yang ia lihat sekarang berjuta kali lipat lebih cantik dan sangat mempesona. Sekarang ia tahu kenapa Dirga bisa tergila-gila dan bahkan rela mengorbankan nyawanya untuk gadis itu.
Wajah-wajah bahagia benar-benar tergambar pagi ini. Melati yang sebelumnya sangat antipati terhadap Senja pun kini tersenyum sumringah. Ia bahkan sudah meminta maaf secara langsung pada Wulan sesaat sebelum acara di langsungkan. Wulan dengan segala kerendahan hatinya tentu saja memaafkan.
Dan kini ke empat orang tua itu sudah nampak duduk dalam satu meja sambil berbincang. Meski masih sedikit canggung namun semuanya tetap berusaha bersikap hangat. Yah, Anak-anak meraka sudah benar-benar bersatu sekarang, apa lagi yang mau di permasalahkan.
Dari singgasana pengantin. Senja dan Dirga tersenyum melihat orang tua mereka sudah mau bergabung satu sama lain. Hal yang semakin melengkapi kebahagiaan keduanya.
Menjelang malam acara pernikahan sekaligus resepsi barulah usai. Setelah suasana sepi Bayu meminta Dirga dan Senja untuk mengikutinya ke bibir pantai. Makhluk itu bilang akan mengadakan ritual khusus untuk menyempurnakan pernikahan mereka. Jika dulu ia harus membawa Wulan ke alamnya untuk melakukan ritual yang sama, tapi karena Senja setengah manusia maka ritual itu hanya cukup di lakukan di dunia manusia saja.
Senja dan Dirga kembali di hadapkan di satu tempat. Bayu kemudian meminta Dirga menggores ujung jarinya untuk mengambil darahnya.
Dirga yang tidak tahu apa yang akan di lakukan Bayu hanya menurut. Di bantu Wulan ia melukai tangannya sendiri dengan sebuah pisau kecil bermata tajam.
Darah mengalir cukup deras dari bekas luka sayatan. Menciptakan rasa nyeri yang membuat Dirga sedikit meringis.
Wulan menampung darah Dirga dalam sebuah cawan kecil yang terbuat dari tembikar. Di dalam cawan itu sudah terisi sedikit air
Setelah Dirga, Senja pun melakukan hal yang sama. Ia mengeluarkan darahnya dan menampungnya dalam satu wadah yang sama dengan darah Dirga.
Setelah itu Bayu mengguncang wadah kecil itu untuk memastikan darah mereka sudah benar-benar bersatu. Bayu kemudian merapalkan sesuatu tepat di depan cawan.
__ADS_1
"Minum, " Makhluk tampan dari dasar samudra menyerahkan wadah kecil itu kepada Dirga. Untuk sesaat Dirga sempat terkejut. Bagaimana tidak, ia harus meminum darah. Satu hal yang tentu tidak pernah di lakukannya karena dia memang bukan makhluk penghisap darah.
Namun saat menatap Senja untuk meminta kebenaran dan gadis itu mengangguk, barulah Dirga yakin kalau ia memang harus meminum darah itu.
"Sisakan sedikit untuk Senja, " perintah Bayu sebelum Dirga meneguk minuman merahnya.
Dirga mengangguk lalu mulai meneguk minuman segar nya. Ekspresinya menggambarkan kalau minuman itu tentu sangat asing di tenggorokannya. Bau anyir yang menyertai juga membuat pria itu menyipitkan matanya.
Tapi berbeda dengan Senja, gadis itu tanpa ragu meneguk sisa darah di dalam cawan. Meski ia juga bukan penghisap darah tapi ia tahu ritual itu memang lazim di adakan di tempat asal ayahnya.
"Baiklah, sekarang kalian sudah benar-benar sah sebagai suami istri. "
Dirga melongo bingung. Bukankah ia sudah mengikrar janji suci tadi. Apakah itu belum di anggap sah. Ekspresi bingungnya sama persis dengan yang Wulan rasakan dulu.
"Jadi yang tadi itu, Paman? " Pria itu menoleh ke tempat ia dan Senja melakukan pernikahan tadi.
"Yang tadi juga sudah sah, tapi ini hanya untuk menyempurnakan. Sesuai dengan adat leluhurnya Senja. "
"Ooh, " Dirga manggut-manggut seolah baru tersadar kalau ia dan Senja memang berbeda.
"Kalian pasti lelah kan? sekarang pulang dan istirahatlah. Kami juga akan segera pulang" Karena merasa sudah tidak ada lagi yang perlu di lakukan, Wulan akhirnya meminta anak dan menantunya untuk segera pulang. Sebelumnya ia memberikan plaster untuk menutup luka sayatan pada keduanya.
"Dan satu lagi. " Bayu menambahkan
"Jangan membuat Senja terlalu lelah. "
Ucapan yang sontak membuat Senja dan Dirga tercengang, Senja mungkin sedikit bingung, tapi Dirga tentu saja langsung paham kalau itu seperti sebuah peringatan agar Dirga tidak berlebihan malam ini.
"Baik, Paman. " Dirga meringis menutupi rasa malunya. Bayu ternyata pandai bercanda juga, batin pria itu.
Bayu dan Dirga mengambil arah yang berbeda. Bayu dan Wulan pulang ke rumah mereka, sementara Dirga membawa Senja ke. kediamannya. Sedangkan Damar dan Melati memutuskan untuk menginap di hotel.
*****
Rumah mewah berlantai dua yang di dominasi warna putih itu seolah menyambut sepasang pengantin yang tengah berbahagia.
"Masuklah." Dirga membukakan pintu untuk istrinya.
Senja masuk perlahan di ikuti Dirga di belakang nya. Sambil berjalan, pandangan Senja berkeliling mengitari ruangan. Maklum lah. Ini adalah kali pertama ia menginjakan kaki di rumah Dirga. Jadi semua yang ada di situ masih terasa asing baginya. Tapi jujur dia mengagumi design dan interior rumah ini.
"Rumah mu bagus dan megah, aku suka design-nya"
"Rumah kita. " Dirga mengkoreksi pujian Senja yang seketika membuat gadis itu tersenyum. Masing agak aneh dengan kata "kita".
Dirga kemudian mengajak Senja naik ke kamarnya. Kamar pengantin yang telah di hias seindah mungkin. Ada kelopak bunga segar berbentuk hati di atas ranjang berukuran jombo. Bunga-bunga segar juga nampak menghiasi dinding kamar dengan background horden berwarna putih
Senja yang melihat itu bahkan langsung tersipu. Entah kenapa mendadak ada perasaan gugup saat pertama memasuki kamar Dirga.
" Kita bersihkan diri dulu ya, " Dirga bicara sambil meletakkan koper Senja di samping lemari pakaian.
"Kau mau mandi dulu atau kita---"
"Aku mandi dulu. " Cepat sekali Senja memotong. Gadis itu tahu apa yang akan di ucapkan Dirga. pria itu pasti bermaksud mengajak mereka mandi besama. Untuk saat ini jujur Senja belum bisa melakukan itu. Ia masih sangat canggung.
Dirga tersenyum dengan reaksi cepat Senja. Mereka baru saja menikah. Tentu Senja belum terbiasa dengan hal-hal seperti itu. Seperti mandi bersama misalnya.
Usai Senja mandi dia pikir Dirga akan gantian membersihkan diri. Tapi ternyata pria itu sudah siap mandi dan bahkan sudah memakai piyama berwarna gelap.
"Kau sudah mandi? " Tentu saja Senja heran melihatnya.
"Hm, aku mandi di kamar mandi bawah. "
__ADS_1
"Ooh," Senja manggut-manggut. Entah kenapa dia merasa Dirga begitu terburu-buru sampai tak sabar menunggunya mandi dan lebih memilih mandi di kamar lain.
Senja menghela nafasnya. Perasaan gugup yang tadi melanda kini kembali muncul. Membayangkan apa yang akan terjadi malam ini membuat gadis itu kian gugup.
Dengan perasaan tak menentu gadis itu menuju raung ganti dan keluar dari sana dengan memakai piyama yang berwarna senada dengan piyama Dirga.
"Kemarilah, " Dirga meminta Senja duduk di sampingnya. Di atas ranjang king size miliknya. Senja menurut meski dengan langkh malu-malu. Ritme irama jantungnya terasa kian cepat.
Begitu Senja mendudukan badan di sampingnya, Dirga langsung merangkul gadis itu untuk bersandar di pundaknya.
"Kau lelah? " tanya pria itu sambil memainkan surai hitam panjang milik Senja.
"Hm, " Senja hanya mengangguk.
Meski berusaha di sembunyikan, namun Dirga jelas bisa merasakan kegugupan Senja malam ini. Dan Dirga cukup memaklumi itu. Kendati mereka sudah pernah bercumbu, tapi tentu saja malam ini akan lain dari biasanya. Mungkin itulah yang membuat pemilik iris merah menjadi gugup.
Dirga memegang tangan dingin Senja yang kali ini di rasanya menjadi lebih dingin dari biasanya.Tangan itu bahkan sedikit bergetar.
"Tak apa, Senja. Kalau kau memang belum siap. Aku tidak akan memaksamu. Aku akan menunggu." Dengan bijaknya Dirga melontarkan kalimat itu. Padahal tadi dia terlihat begitu terburu-buru sampai tak sabar menunggu Senja mandi. Tapi begitu melihat Senja yang tampak sangat gugup dan seperti belum siap, membuat pria bertubuh indah itu enggan memaksanya.
"Tidak, bukan begitu. " geleng Senja
"Aku hanya merasa gugup. Tapi tentu saja aku sudah siap. Kau boleh mengambil hakmu kapan pun kau mau. "
Senja tahu bagaimana perasaan Dirga. Dia seorang pria. Meski dia berkata tidak akan memaksa. Tapi Senja yakin Dirga pasti kecewa kalau malam ini berakhir begitu saja.
"Kau yakin? "
"Hm, " Anggukan yang di sertai senyum manis itu menuntun Dirga untuk mengecup kening Senja.
"Terimakasih, " Bisiknya tepat di telinga Senja.
Sebelum memulai aksinya, Dirga terlebih dahulu mencium kedua mata Senja. Mata merah yang selama ini membuatnya tergila-gila.
Ciuman Dirga lalu turun ke hidung Senja dan merayap turun ke bibir. Degup jantung Senja yang bahkan bisa terdengar oleh Dirga membuat pria itu melakukannya dengan sangat lembut dan penuh perasan.
Ia menyesap dalam-dalam benda kenyal itu dengan mata terpejam. merasakan sebuah kenikmatan yang lebih dari biasanya.
Senja pun melakukan hal yang sama. Bibir mereka terpaut untuk waktu yang cukup lama.
Saat ciuman Dirga berpindah ke leher. Di luar sana hujan mendadak turun dengan derasnya seolah ingin semakin memberi kehangatan bagi dua insan yang baru saja menyatukan cinta.
Sambil mengecapi leher jenjang Senja, tangan Dirga bergerak melepaskan satu persatu kancing piyama Senja. Gadis itu sendiri memperingan tugas Dirga dengan membantu melepaskan pakaian pria itu.
Pandangan Dirga nanar menatap tubuh indah tanpa celah milik istrinya. Tubuh indah yang ia yakini baru pertama kali di lihat oleh orang lain.
Rasa bangga, bahagia sekaligus haru memenuhi perasaannya saat ini. Tubuh indah yang tidak pernah terjamah itu resmi menjadi miliknya malam ini. Setelah semua hal berat yang harus mereka lalui kini mereka benar-benar bisa bersama dalam sebuah ikatan yang kuat.
Sungguh sebuah perasaan yang sulit di ungkapkan. Bahkan saking emosionalnya pria itu sampai meneteskan bulir bening dari sudut matanya.
"Hey kau kenapa? " Tangan Senja terulur mengusap lelehan itu.
Dirga tak menjawab namun justru langsung memeluk Senja. Tubuh mereka yang tak tertutup busana saling menempel satu sama lain.
Sebenarnya Senja cukup tahu apa yang di rasakan Dirga sebab ia juga merasakan hal yang sama. Bedanya kali ini ia lebih bisa menahan perasaannya.
"Terimakasih, " ucap Dirga sekali lagi yang di tanggapi Senja dengan anggukan.
Senja mengusap lembut kepala Dirga yang tengah memeluknya. Aroma tubuh Senja yang begitu manis membuat pria itu tak ingin lagi menunda waktunya. Ia mencium ceruk leher Senja sampai ke pundak dan terus turun ke bawah. Tak ada satu bagian pun dari tubuh Senja yang terlewatkan.
Gemuruh hujan di luar sana semakin membuat keduanya hanyut dalam irama nafas yang memburu.
__ADS_1