
Melati duduk dengan cemas di ruang tengah rumah mewah putranya. Televisi yang menyala tak di hiraukan nya sama sekali. Berulang kali ia menoleh ke arah ruang tamu berharap putra tercintanya akan segera muncul dari sana. Tapi sampai hampir pukul sebelas malam sang putra belum juga pulang.
Sejak tahu tentang siapa sebenarnya Bayu Samudra, Melati sebenarnya ingin langsung membahas soal itu dengan anak semata wayangnya. Namun sayang, ia belum punya waktu yang tepat untuk menyampaikan itu.
Beberapa hari ini putranya tampak sangat sibuk. Ia pergi pagi-pagi sekali dan pulang larut malam sehingga hampir tidak punya waktu untuk banyak bicara Paling banter Dirga hanya menyapa ibunya saat akan berangkat sambil ia menyeruput ginseng hangatnya. Setelah itu pria rupawan itu akan langsung meluncur ke kantornya.
Namun karena sudah tak tahan ingin bicara, malam ini Melati berniat akan menunggu,.. sampai putranya pulang. Ia akan menyampaikan perkara itu malam ini juga.
"Sudah terlalu larut, Mel. Apa tidak sebaiknya kita bicara lain waktu saja? "
Di sampingnya, sang suami yang ikut menemani tampak sudah mengeluh.
"Kita masih bisa bicara besok pagi atau lain waktu kan? " ucap Damar lagi setelah sebelumnya menguap lebar pertanda kalau kantuk sudah mulai menyerang.
"Tidak bisa, aku harus bicara malam ini juga. Aku sudah terlalu lama menundanya. "
"Tapi ini sudah sangat larut. Lagipula Dirga pasti sudah sangat lelah, biarkan saja dia langsung beristirahat. Kasihan dia ... Akhir-akhir ini aku lihat dia sangat sibuk di kantor. " Damar masih mencoba memberi pengertian pada sang istri, sayang perempuan itu tetap tidak mau mengerti.
"Aku tahu, Sayang. Tapi aku tetap harus bicara malam ini juga, hanya sebentar saja. Setelah itu aku akan membiarkannya beristirahat. " Melati tetap bersikeras dan membuat Damar hanya mampu menghela nafasnya. Istrinya kalau sudah punya kemauan memang sulit di cegah. Alhasil dia hanya bisa menurut sambil terus berusaha menahan kantuk. Untung saja, tak lama orang yang mereka nanti akhirnya pulang.
"Dirga, kau sudah pulang, Nak? " sapa Melati langsung begitu melihat putranya datang.
Dirga yang berjalan tertunduk sambil menahan lelah langsung mendongak begitu mendengar suara ibunya.
"Ibu, Ayah, kalian belum tidur? "
"Belum, kami sengaja menunggumu. Ada yang ingin ibu sampaikan. " Tanpa basa-basi Melati langsung menyampaikan maksudnya.
Raut wajah Dirga langsung berubah. Ibunya rela menunggu sampai selarut ini pasti ada hal penting yang akan di bicarakan. Dan kalau Dirga tidak salah menebak. Ini pasti soal Senja. Yah memangnya apa lagi. Karena hubungannya dengan Senja memang sedang menjadi tranding topik di keluarga kecil ini.
Membayangkan apa yang akan di bahas ibunya, seketika membuat perasaan Dirga menjadi tidak enak.
Ibu pasti akan menyampaikan penolakannya, tebak Dirga lagi.
__ADS_1
"Ada apa, Bu? " Dengan langkah berat Dirga mendekati kedua orang tuanya dan ikut bergabung bersama mereka.
"Kau pasti sudah bisa menebak kan apa yang akan ibu sampaikan?"
"Ya, pasti soal Senja dan Ayahnya kan? " Dirga menyandarkan punggungnya di sofa empuk. Sebenarnya ia sangat lelah malam ini dan ingin langsung meluruskan punggungnya yang di rasanya sudah sangat bengkok akibat terlalu lama duduk. Tapi apalah daya, sang ibu memaksanya bicara
"Tentu saja," jawab Ibu langsung.
"Kau sudah tahu sejak awal kenapa masih tetap bersama nya. Harusnya kau menghindar sejauh mungkin dari makhluk-makhluk itu. "
"Meel, " Damar yang mendengar suara melati mulai meninggi gegas mengingatkan. Ia memegang lembut pundak istrinya sebagai isyarat agar wanita itu menurunkan intonasi suaranya.
Sementara Dirga langsung menghela nafasnya. Belum apa-apa ibunya sudah tancap gas.
"Aku tidak tahu sejak awal, Bu." Dirga berusaha untuk tidak terpancing. Ia tetap bicara selembut mungkin.
"Aku baru tahu soal mereka saat aku sudah berhubungan dengan Senja, dan aku sudah terlanjur cinta mati padanya. Jadi aku sudah tidak bisa menjauh. "
Melati langsung mencibir mendengar putranya bicara segamblang itu. Cinta mati? rasanya menjengkelkan sekali mendengar kalimat itu.
"Bu, jangan bicara soal itu. "
Dirga langsung memenggal ucapan ibunya yang berusaha mengungkit masa lalu nya yang suka berganti wanita.
"Aku tidak seperti itu sekarang. "
"Oh ya, kalau begitu kau kembali saja seperti dulu. Ibu bahkan lebih suka melihatmu seperti dulu ketimbang harus di butakan cinta oleh makhluk jadi-jadian itu. "
"Buu !" Dirga tak bisa menahan diri untuk tidak membentak. Ibunya mengatakan Senja makhluk jadi-jadian, tentu saja ia sangat tidak Terima, meski kenyataannya memang seperti itu.
"Dirga, jangan membentak ibumu ... Kau juga, Mel. Bicara baik-baik, jangan membuat keributan."
Damar Sanjaya yang menyaksikan anak dan istrinya mulai tersulut emosi langsung bertindak sebagai penengah. Demi Tuhan dia tidak ingin melihat ibu dan anak itu terus berdebat. Apalagi tengah malam begini.
__ADS_1
Dirga langsung membuang pandangannya sambil berusaha menenangkan dadanya yang mulai bergemuruh. Selalu saja kalau sudah membahas soal hubungannya dengan Senja pasti suasana jadi menegang.
"Kau lihat kan sayang, dia selalu saja menentangku. Aku ini ibunya, tapi dia sama sekali tidak menghormatiku. " Suara Melati mulai bergetar menahan tangis, rupanya perempuan itu benar-benar terbawa emosinya.
"Aku tahu, " Damar mengusap-usap punggung istrinya.
"Tapi aku yakin dia tidak bermaksud menentangmu. Jadi aku mohon bicaralah baik-baik. "
"Tidak bermaksud bagaimana, jelas-jelas dia menentangku. Dia bahkan membentak ku. Padahal aku hanya ingin yang terbaik untuknya. Ibu mana yang rela anaknya berhubungan dengan---"
Melati menatap Dirga yang memalingkan wajahnya dan lebih memilih ke arah lain. Bukannya tidak mau melihat, tapi Dirga hanya sedang berusaha mengontrol emosinya.
"Kau tidak mau lagi melihat ibu? " kalimat menyayat itu akhirnya membuat Dirga menoleh. Ia menatap ibunya sesaat lalu tertunduk, tak sanggup melihat raut wajah sang ibu yang tampak sangat terluka karena sikapnya.
Demi Tuhan, Dirga sendiri tidak pernah bermaksud menentang ibunya. Sebab dia juga sangat menyayangi orang tua perempuannya itu. Namun dia juga tidak bisa meninggalkan Senja. Dirga teramat sangat menyayangi gadis itu. Sungguh sebuah dilema yang luar biasa menyiksa baginya
"Maaf, Bu. Aku tidak bermaksud begitu, aku hanya---"
Dirga urung melanjutkan kalimat nya karena melihat ibunya yang mulai terisak.
"Bu.. " sungguh rasa bersalah benar-benar merajai hatinya melihat sang ibu menangis karenanya.
Dirga berusaha mendekat namun di cegah oleh ayahnya.
"Dirga sudahlah, " seruan sang ayah langsung membuat pergerakan Dirga terhenti.
"Pergilah istirahat. Kau pasti sangat lelah kan? Kami juga akan segera tidur ... sudah sangat larut, kita bicara lain waktu saja. "
Dirga berpikir sejenak kemudian mengangguk. Ia yakin ayahnya hanya sedang berusaha menengahi pertikaian antara ia dan ibunya.
Pria itu berjalan pelan sambil terus melihat ibunya yang tertunduk sambil terisak. Dirga yakin saat ini pasti ibunya sangat terluka dan anak kandungnya sendiri lah yang telah sangat menciderai perasaannya.
Hati Dirga remuk menyadari hal itu. Dia benar-benar tak tahu harus berbuat apa sekarang. Menuruti kemauan ibunya untuk berpisah dengan Senja atau---akh entahlah.
__ADS_1
Dirga benar-benar tak tahu. Pikirannya kacau balau malam ini, Bahkan sampai menjelang pagi, pria itu tak bisa memejamkan netranya.