
Brak..! Senja membanting pintu dengan sangat kuat. Nenek dan ibunya yang sedang bercengkrama di ruang tengah bahkan terlonjak kaget di buatnya.
"Senja, ada apa?"
Nawang Wulan langsung bangkit dari duduknya dan menghanpiri Senja. Gadis itu baru pulang dari pantai dan langsung mengamuk membanting pintu. Tentu itu membuat seisi rumah khawatir.
Senja tak menjawab tanya Ibunya, tapi dia memperlihatkan raut merah yang masih saja mendominasi wajah cantiknya. Gambaran wajah yang langsung bisa di artikan oleh sang ibu bahwa putrinya pasti sedang meradang.
Nawang Wulan mencoba menenangkan. Ia membimbing putrinya untuk duduk kemudian memberikan segelas air padanya yang langsung di teguk habis oleh Senja. Nenek Fatma bahkan sampai memicingkan mata melihat cucunya minum seperti orang yang sudah tiga hari tiga malam tidak mendapat cairan.
"Ada apa, Nak? " ulangnya lagi setelah melihat putrinya cukup tenang, meski nafasnya masih terengah-engah menahan marah.
"Tadi dipantai ada yang menggangguku, Bu."
"Ohya, siapa? pantas saja kau pulang sambil marah-marah, " tanggap Nenek meski yang di ajak bicara adalah Ibu.
"Iya, Nak. Siapa yang menggangumu? " tanya Nawang Wulan juga.
"Aku tidak kenal siapa mereka. Mereka ada dua orang. Keduanya sepertinya sengaja menabrak ku, lalu---"
Senja tak melanjutkan kalimatnya. Seolah jijik harus mengatakan itu.
"Lalu? " tanya Nenek dan ibu secara bebarengan. Ucapan Senja yang menggantung membuat mereka penasaran.
"Lalu mereka dengan sengaja memegang dadaku, dan yang satu lagi memegang bo*ong ku"
"Apa ! kurang ajar sekali mereka. Itu pelecehan namanya !" Tentu saja sang ibu langsung naik pitam mendengar ada yang berbuat tak senonoh pada putrinya.
"Apa kau masih ingat wajah mereka, biar ibu laporkan mereka pada yang berwajib."
"Tidak perlu, Bu." Senja langsung menolak usulan ibunya.
"Aku sudah memberi pelajaran pada mereka. Aku yakin mereka tidak akan berani macam-macam lagi."
"Benar, Wulan. Menurut Bibi juga tidak harus di laporkan pada yang berwajib. Walaupun itu memang sudah termasuk tidakan asusila, tapi bibi khawatir nantinya orang-orang juatru jadi penasaran pada Senja. "
Wulan mengangguk-angguk membenarkan opini Bibinya. Biar bagaimanapun dia tidak ingin ada yang sampai mencurigai putrinya. Cukup hanya Dirga saja yang tahu.
"Baiklah, Ibu tidak akan membawa kasus ini ke pengadilan. Ibu juga yakin mereka pasti sudah jera ... Ibu tidak pernah meragukanmu dalam hal memberi pelajaran. " Wulan menggerak-gerakan jari tengah dan telunjuknya sebagai tanda kutip dari kata memberi pelajaran.
"Tapi lain kali kau tetap harus hati-hati." imbuh Nawang Wulan yang di tanggapi Senja dengan anggukan kepala. Nafasnya sudah mulai normal dan wajahnya pun sudah tidak kemerahan seperti tadi. Begitulah, sejauh ini, hanya Nenek dan ibunya lah yang bisa meredam amarah Senja.
"Ya sudah jangan marah lagi. Tenangkan dirimu." Suport Wulan lagi sambil mengusap punggung putrinya.
__ADS_1
"Baik, Bu. Aku kekamar dulu, " pamit Senja saat merasa amarahnya sudah cukup mereda.
"Pergilah, bersih kan badanmu. Ibu dan Nenek menunggu di meja makan, kita makan malam bersama. "
Senja menuruti perintah ibunya. Gadis itu mulai beranjak dari ruang tengah. Namun langkahnya langsung terhenti saat menyadari sesuatu.
"Oh ya, Bu. Ayah mana? " Saking marahnya tadi sampai membuat Senja tidak menyadari kalau Ayahnya tidak ada di antara mereka. Biasanya Ayah dan Ibunya selalu bersama sambil menunggu dirinya pulang.
"Ada di taman belakang ... Oh ya, Ayah bilang ingin bicara denganmu. Temui dia nanti setelah makan malam ya, "
"Baik, Bu. " Senja kembali melanjutkan langkah nya dengan sedikit tanda tanya tentang apa kira-kira yang akan di bicarakan Ayahnya nanti.
***
"Ayah, " sapa Senja begitu selesai makan malam. Rasa penasaran membuatnya langsung menemui orang tua tampannya itu begitu selesai makan.
"Hey kau sudah siap makan? " Sang Ayah sumringah menyambut kedatangan putri cantiknya.
"Sudah, Ibu bilang ada yang ingin Ayah sampaikan, apa itu? "
"Benar, tapi sebelum itu ada yang ingin Ayah tanyakan dulu. "
"Silahkan, Ayah mau tanya soal apa?" Senja mendudukan badannya di kursi di samping Ayahnya.
Senja menghela nafasnya. Ia baru saja bisa meredakan amarahnya soal kejadian di pantai tadi, tapi sekarang Ayahnya malah mengingatkannya kembali.
"Ayah tidak mungkin salah dengar. Pendengaran ayah kan cukup baik. " Alih-alih menjawab Senja malah justru meminta Ayahnya menyimpulkannya sendiri. Gadis itu yakin kalau Ayahnya juga sebenarnya sudah tau.
"Ayah turut prihatin untukmu, seandainya tadi Ayah disitu, pasti mereka sudah Ayah buat tidak bernyawa lagi. " Tentu saja, Ayah mana yang rela anaknya di lecehkan seperti itu, terlebih Ayahnya Senja adalah makhluk dengan tingkat kesabaran setipis kulit ari.
"Lupakan, Ayah. " Senja mengibaskan tangannya seolah tidak ingin lagi mengingat kejadian itu.
"Aku sudah memberi pelajaran pada mereka lebih dari cukup. "
"Bagus, kau sudah melakukan yang
sepantasnya," puji Bayu samudra. Bykan bermaksud membenarkan tindak kekerasan Senja, tapi Bayu yakkin putrinya tidak akan melakukan itu kalau tidak di ganggu terlebih dahulu.
"Hanya saja, ada yang masih mengganjal dihati Ayah dan Ayah fikir kau harus tau tentang ini."
Bayu menatap putrinya dengan pandangan sulit dimengerti. Antara ragu dan juga canggung.
.
__ADS_1
"Apa itu, Ayah, katakan Saja. " Senja semakin dibuat penasaran, terlebih melihat ekspreai sang Ayah.
"Eum ini soal Dirga. "
"Dirga, kenapa dengan Dirga? "
"Eum bagaimana mengatakannya ya, " lagi-lagi Bayu tampak ragu. Tapi karena ini memang sesuatu yang sangat penting, jadi makhluk itu memutuskan untuk tetap bicara. Meskipun kedengarannya tabu.
"Begini, Senja. Kau dan Dirga kan sekarang sudah menjadi sepasang kekasih, dan kalian juga sudah sama-sama dewasa" Berhenti sesaat lalu menatap Senja. Gadis itu sepertinya masih menerka-nerka arah pembicaraan Ayahnya.
"Umumnya sepasang kekasih pasti akan melakukan---" Bayu memotong ucapannya lalu memberi isyarat dengan kedua tangannya.
"Kau paham maksud Ayah? "
Senja mengangguk sambil tersipu. Meski Ayahnya hanya memakai bahasa isyarat tapi tetap saja itu membuat Senja malu. Padahal Ayahnya sudah pernah membahas soal ini. Tapi karena waktu itu dia memang belum pernah melakukan yang di maksud sang Ayah, Senja merasa biasa-biasa saja. Tapi sekarang tentu lain ceritanya.
"Dan kau sudah melakukannya? "
"A-aku, aku hanya---"
"Aa baiklah, baiklah, Ayah paham maksudmu. Ayah tidak akan menanyakan itu lagi." Jawaban gugup Senja membuat sang Ayah sudah dapat menafsirkannya, meski Senja belum benar-benar bicara.
"Ayah tidak akan melarangmu untuk itu, Nak. Ayah maklum, Ayah juga petnah seperti kalian dulu ... Ayah hanya berpesan agar baik kau ataupun Dirga jangan sampai melewati batas, sebab itu akan sangat berbahaya bagi kalian berdua."
"Benarkah, Ayah? " Senja mendongakkan kepalanya. Ayahnya yang cukup pengertian membuatnya tak lagi merasa canggung.
"Iya, Nak. Kalau sampai kalian melakukan sebelum waktunya maka kematian adalah resikonya."
Senja mengangguk-angguk mendengarkan penuturan Ayahnya dengan seksama.
"Sekarang mungkin kalian tidak merasakan sakit seperti kami dulu, karena kau setengah manusia ... Tapi tetap saja, sesuai adat leluhur kita di bawah laut sana, barang siapa melakukan sesuatu sebelum waktunya, maka kematian pasti akan menjadi gantinya ... Jadi sekali lagi Ayah peringatkan padamu, jangan melewati batas. Silahkan bercumbu tapi jangan melewati batas. "
Panjang lebar Bayu menjelaskan, karena tidak ingin sesuatu yang buruk menimpa anaknya.
"Kalau memang kalian menginginkannya, maka kalian harus menikah dulu, " imbuhnya lagi.
"Baik, Ayah. Aku mengerti. Ayah tenang saja, aku dan Dirga pasti bisa menjaga diri. "
"Ya Ayah percaya padamu, tapi masih sedikit ragu pada Dirga."
Senja meringis kikuk. Ucapan Ayahnya seolah-olah dia tahu apa yang sudah Dirga lakukan padanya.
"Hehe, Ayah tenang saja, kalaupun Dirga tidak bisa menahan diri, aku yang akan menahannya. " Senja dengan konyolnya mengangkat jari tengah dan telunjuknya.
__ADS_1
"Ya, ya, Baiklah. Ayah percaya kau bisa menanganinya." Bayu samudra beranjak menyudahi obrolannya dengan Senja. Obrolan yang di rasanya cukup canggung. Untung saja dia tetap bisa menyampaikannya dengan baik.