
Hari yang melelahkan bagi Dirga akhirnya berakhir juga. Dirga buru-buru menepati janjinya untuk bertemu Senja.
Meski sudah cukup terlambat , tapi setidaknya hari belum gelap dan itu artinya Senja pasti masih ada di pantai.
"Senja, maaf ya aku terlambat. "
Dengan nafas terengah-engah karena berlari lari kecil menghampiri Senja, Dirgantara menyampaikan permohonan maaf nya.
"Kau pasti sudah menunggu dari tadi kan?"
"Ya lumayan, " jawab Senja ramah. Raut wajahnya tidak sedikit pun menunjukan kalau ia kesal, dan itu tentu membuat pria tampan di depannya bernafas lega. Padahal tadinya ia pikir Senja pasti marah.
"Aku sibuk sekali hari ini, makanya baru bisa sampai disini. Apa kau marah? "
Lagi-lagi Senja tersenyum ramah
"Tadinya aku sempat kesal juga ... tapi setelah ku pikir-pikir walaupun kau tidak jadi datang juga aku tetap akan kesini, karena aku memang setiap hari kesini. Ini kan tempat main-ku. "
Alis Dirga sontak terangkat dengan jawaban Senja. Pria itu merasa hari ini Senja agak sedikit berbeda. Jadi sedikit lebih bijak dari biasanya. Mudah-mudahan dugaan Dirga tidak salah.
"Apa kau baik-baik saja, Senja? "
Ditanya begitu tentu saja Senja jadi heran
"Tentu, apa aku terlihat sedang sakit? "
"Oh, tidak, tidak. " Menggeleng cepat sembari tersenyum penuh arti.
"Aku hanya merasa hari ini kau lebih manis dari biasanya. "
Pria bernama lengkap Dirgantara Noza Sanjaya sudah mulai mengeluarkan rayuan mautnya. Bias wajahnya menggambarkan ia sedang sangat bahagia hari ini. Meski tadi pagi sempat di buat emosi dengan semua yang di hadapinya, namun sore ini semua kesal dan marahnya berganti dengan bahagia yang mendominasi. Gadis yang saat ini tengah duduk dengannya di bawah nyiur paling ujung itu memang menjadi moodbooster paling ampuh bagi Dirga, lebih dari apa pun atau siapapun
Padahal selain karena ia datang terlambat, Dirga juga berfikir kalau pemilik iris merah itu akan meradang karena mengetahui pertemuannya dengan Queen. Tapi sepertinya gadis itu tidak tahu. Namun meski begitu Dirga merasa tetap perlu memberitahunya.
"Oh ya, aku ingin memberi tahu satu hal, tapi kau janji jangan marah ya, " Melihat suasana hati Senja yang sepertinya sedang baik-baik saja, terlebih saat mendapat rayuan maut darinya tadi, rona merah di wajah gadis itu kian nyata terbaca. Membuat Dirga merasa ini saat yang tepat untuk bicara.
"Apa itu? "
"Ini soal Queen. "
Ekspresi Senja tidak berubah, seolah tidak terkejut mendengar nama itu.
__ADS_1
"Apa dia masih mengganggumu? " tanyanya datar
"Hm bisa di bilang ia bisa di juga tidak? "
"....... "
Senja tak menjawab namun ekspresi wajahnya seolah meminta Dirga menjelaskan apa maksud ucapannya.
"Begini, Senja ... perusahaan ku dan perusahaan ayahnya Queen akan mengerjakan proyek bersama, dan Queen menjadi kepala pimpinan proyek tersebut ... jadi mungkin setelah ini aku akan sering bertemu dengannya. " Dirga menjeda ucapannya, menunggu reaksi dari gadis di depannya.
"Kau tidak apa-apa kan? "
"Tidak masalah, selama itu untuk kepentingan pekerjaan, aku pikir aku juga tidak punya hak untuk keberatan. "
Wow, jawaban berkelas dari Senja cukup mampu membuat Dirga terpukau.
"Tentu, ini hanya urusan pekerjaan. Tidak akan lebih dari itu. "
"Hm, " angguk Senja mantap
"Aku percaya padamu ... Lagipula kalau kau memang masih menginginkannya kau pasti tidak akan bersamaku kan sekarang?"
Aarrgghh ! rasanya Dirga ingin berteriak kegirangan. Sejak tadi semua yang keluar dari lisan Senja adalah hal-hal yang positif dan sangat realistis. Entah belajar dari mana, tapi Dirga merasa Senja jadi jauh lebih dewasa hari ini.
"Pemikiran yang sangat bagus," puji pria berahang kokoh itu.
"Kau benar. Queen hanya cerita masalaluku. Yah walaupun aku yakin Queen belum menyerah dan masih akan terus menggangguku, tapi aku yakin aku bisa menanganinya. Kau hanya perlu percaya padaku. "
"Hm, aku juga tahu dia tidak akan menyerah begitu saja, " jawab Senja membenarkan. Keduanya sama-sama tahu, kalau selain orang tua Dirga, Queenzi juga akan menjadi batu sandungan yang tentu tidak akan mudah di lewati.
Namun mereka sangat percaya bahwa selama punya keyakinan yang kuat untuk tetap bersama, jangankan batu sandungan bahkan kerikil tajam dan menyala sekalipun pasti akan terlewati.
Keduanya saling tersenyum dengan damai. Mengekspresikan rasa bahagia karena bisa saling memiliki satu sama lain. Kendati prahara di depan mata selalu siap mengajak mereka bermain-main.
"Oh ya, bagaimana kabar Ayah mu? " tiba-tiba Dirga teringat pada makhluk itu. Meski awalnya merasa seram, tapi makin kesini Dirga merasa kalau Ayahnya Senja sebenarnya tidak se-pasif yang ia kira. Terlebih pria yang umurnya sudah ratusan tahun itu sangat welcome terhadap Dirga.
"Kondisi Ayah semakin melemah, dia hanya berbaring di kamar saja. "
Dirga menghela nafasnya, rasa iba kembali merajai hati. Makhluk yang selama ini di matanya sangat gagah dan tak terkalahkan yang bahkan bisa membuat orang tertekan hanya dengan tatapan tajam, kini sedang berbaring lemah tak berdaya.
"Maaf belum bisa mempertemukan Ayahmu dengan Ayahku. Aku belum sempat bicara dengan Ayahku. Hubungan kami belum begitu baik. "
__ADS_1
"Tak apa, aku paham, " Senja lagi-lagi menunjukan ke bijaksanaannya.
"Pasti sulit berada di dalam posisimu sekarang ... tapi kalau bisa kau harus secepatnya mempertemukan mereka. Ayahku benar-benar ingin bertemu. Sepertinya waktunya memang tak lama lagi. " Ngomong-ngomong soal pertemuan, Senja jadi ingat pesan Ayahnya yang kembali meminta Dirga untuk mempertemukan dengan Damar, ayahnya Dirga.
Makhluk itu sebenarnya bisa menemui Damar secara diam-diam kapanpun ia mau. Tapi Bayu Samudra ingin menggunakan cara se- manusia mungkin untuk berbicara dengan mantan rivalnya itu.
"Baiklah, " angguk Dirga akhirnya menyetujui permintaan Senja dan juga ayahnya.
"Nanti malam aku akan coba bicara pada Ayah. Aku yakin aku pasti bisa mempertemukan
mereka. "
"Hm, " Senja juga tak kalah yakin dari Dirga. Meski belum begitu mengenal Ayah nya Dirga, tapi menurut Senja, calon mertuanya itu bukan pria arogan yang suka menyepelekan sesama.
"Kira-kira apa ya yang akan mereka bicarakan? " Dirga seolah bertanya pada diri sendiri. Pandangannya menerawang membayangkan dua orang yang pernah memperebutkan gadis yang sama kini kembali duduk dalam satu meja.
"Ya siapa lagi kalau bukan kita, " celetuk Senja
"Ya itu sudah pasti, tapi siapa tahu Ayahmu akan melamar kan aku untukmu, " mendadak pikiran konyol itu lewat di benak Dirga membuat pria itu jadi punya ide untuk menggoda Senja. Meski cukup senang karena hari ini Senja berubah jadi gadis bijaksana, tapi melihat gadis itu kesal juga cukup menggemaskan bagi Dirga.
"Harusnya kau yang melamar ku. ! "
"Jadi kau minta dilamar? " jawaban Senja kembali menimbulkan pertanyaan konyol dari Dirga.
"Tidak, siapa bilang? " langsung saja wajah Senja bersemu merah
"Kalau kau memang minta di lamar aku akan melamar mu saat ini juga, "
"Apa sih Dirga? " Senja membulatkan matanya seolah memberi peringatan pada Dirga untuk tidak asal bicara. Mode bijaksana yang tadi di perlihatkan gadis itu ternyata tidak bertahan lama.
"Aku belum ada kepikiran sama sekali untuk menikah, masalah kita masih terlalu rumit, apalagi sebentar lagi Ayahku pergi. " Senja menunduk menyembunyikan wajah murungnya. Gadis itu memang bisa merubah mood nya hanya dalam kedipan mata
"Iya, iya, aku tahu. Aku hanya bercanda tadi, "Dirga meralat kalimatnya sambil tangannya terulur mengusap kepala Senja.
"Meski aku sangat menginginkan mu, tapi jujur aku juga belum siap menikah sekarang. Aku ingin semuanya berjalan dengan baik dulu ... Dan benar katamu tadi, semua masih terasa rumit, " Dirga menarik ujung bibirnya menciptakan lengkung senyum yang cukup indah yang tentu membuat gadis di depannya tidak jadi sedih, apalagi marah.
"Ya, kita bahkan belum mendapat restu dari orang tuamu. " imbuh Senja mengingat kan Dirga akan betapa sulitnya membuat orang tuanya merestui hubungan mereka.
"Sabar ya, suatu saat pasti bisa. "
"Ya, mari terus berusaha ... aku juga tidak ingin membuatmu memilih antara aku dan orang tuamu. "
__ADS_1
Dirga melongo, lagi dan lagi Senja dengan kalimat bijaknya mampu menghionotis Dirga. Meski sesaat tadi sempat kembali ke mode singa, tapi pada akhirnya gadis itu menunjukan kalau ia juga bisa berubah jadi gadis baik nan bijaksana.
Tak tahu lagi harus berkata apa, Dirga lebih memilih menyambar bibir ranum milik Senja. Anggap saja itu sebagai hadiah untuk kebijaksanaan Senja hari ini. Juga untuk Senja yang selalu bisa merubah suasana hatinya.