Pacarku Setengah Manusia

Pacarku Setengah Manusia
Dewa penolong


__ADS_3

"Bayu, cukup. Aku mohon hentikan." Damar menghiba meminta Bayu melepaskan Melati yang masih dalam cekikannya, padahal wanita itu sudah sangat kesakitan dan sulit bernafas.


"Kenapa aku harus berhenti? Istrimu yang memulai semuanya. Jadi biarkan dia yang menghentikannya dengan nyawanya. "


Suara dingin Bayu benar-benar membuat siapapun yang mendengarkannya mengeluarkan keringat dingin. Terlebih Melati yang merasa kalau malaikat maut seolah sudah berada di hadapannya. Tapi sekali lagi, dia tidak bisa berbuat apa-apa. Karena separuh kesadarannya sudah melayang entah kemana.


"Aku tahu dia bersalah, tapi yakin dia juga tidak menginginkan semua berakhir seperti ini, jadi aku mohon maafkan dia ... setidaknya demi Dirga. "


Bayu tak bergeming, dan tak juga berniat melepaskan cekikannya. Selama ini dia diam membiarkan siapapun mengganggu putrinya, tapi sepertinya kali ini dia tidak mau hanya betdiam diri. Putrinya berhak bahagia, dan dia akan melenyapkan siapapun yang merusak kebahagiannya.


"Bayu, lepaskan dia."


Namun keberingasan Bayu meredup mendengar begitu suara dari sosok berwajah lembut yang baru saja hadir di depan mereka.


"Wulan, " Kebahagiaan juga seketika terpancar dari raut merah makhluk itu.


"Lepaskan dia, sayang. Kau bukan pembunuh kan? " ucap Wulan lagi masih dengan suara yang sangat lembut dan bijak.


Sama seperti Damar dan Melati, Wulan juga datang ke tempat itu karena mendapat kabar dari Arya.


Wulan tahu betul kalau Senja memang akan pergi malam ini. Tapi kenapa ada Arya? dan kenapa Arya bilang kalau Dirga tidak ada di sisi Senja, kemana pria itu? Bukankah dia seharusnya menemani Senja di saat terakhir mereka?


Hal-hal aneh itulah yang akhirnya membuat Wulan juga datang ke pantai. Ia merasa pasti ada sesuatu yang tidak beres. Dan saat ia mendapati suaminya sedang mencekik Melati, meski tidak tahu apa penyebabnya, tapi sedikit banyak Wulan sudah bisa mengambil kesimpulan kalau kemungkinan besar Melati lah yang membuat keadaan jadi tidak beres.


"Aku memang bukan pembunuh, dia yang pembunuh. " Sambil mengeluarkan seringai tajam menatap orang yang ada dalam cekikannya.


"Aku tahu dia memang selalu menganggu anak kita, tapi aku yakin setelah ini dia tidak akan berani melakukannya lagi. "


Wulan berjalan mendekati suaminya. Masih dalam usaha merayu sang suami agar melepaskan korban keganasannya.


"Lagipula Senja juga sedang di sembuh kan. Dan Dirga sudah mengorbankan nyawanya untuk putri kita, jadi alangkah baiknya kalau kau melepaskan ibunya, yah setidaknya demi Dirga yang sudah menyelamatkan putri kita. "


Tatapan Bayu meredup. Kalimat Wulan yang cukup mengena membuat makhluk itu menoleh pada putrinya yang baru saja mendapat pertolongan. Bayu tersenyum tipis melihat Senja yang sudah berangsur membaik. Ia kemudian menatap Melati lalu melemparkan wanita itu secara asal namun tetap cukup kuat


Bruk ! Tubuh Melati membentur batang kelapa dan membuatnya pingsan seketika. Sama seperti Queen, di pastikan tulang punggungnya juga patah atau setidaknya mengalami keretakan.


Bersamaan dengan pinsannya Melati, Dirga yang baru saja melakukan ritual penyembuhan juga terkulai lemas kehilangan kesadarannya dan bahkan mungkin nyawanya.


"Mel !" Damar berlari menghampiri istrinya namun baru akan berusaha menolongnya ia sudah keburu di buat panik oleh putranya yang juga kehilangan kesadaran.


"Dirga! " teriaknya panik. Ia benar-benar bingung siapa yang harus di tolong. Dua orang terpenting dalam hidupnya ambruk dalam waktu bersamaan. Tubuh Damar gemetar menahan ketakuatan yang luar biasa. Takut akan kehilangan istri dan anaknya.


"Paman tolong dia saja, Dirga biar aku yang menolong." Leonil menopang tubuh Dirga yang sudah tak sadarkan diri. Kecemasan juga mulai melanda hatinya. Denyut nadi Dirga benar-benar melemah. Bahkan nyaris tak lagi terasa.


"Dirga bertahanlah, Senja sudah selamat. Jangan biarkan usahamu menjadi sia-sia." Leon menepuk-nepuk pipi Dirga. Sumpah Demi apapun kali ini pria itu benar-benar khawatir. Kalau sampai Dirga mati itu berarti semuanya akan jadi sia-sia.


Namun kekhawatiran belum berhenti sampai disitu. Saat Melati dan putranya sedang berjuang melawan maut. Bayu yang baru saja menguras habis seluruh energinya juga mendadak ikut ambruk. Kali ini tenaganya sudah benar-benar habis tak bersisa. Ia harus segera kembali ke lautan.


"Bayu.. " Mengabaikan semua orang yang ada disitu, Wulan tentu lebih memilih menolong suaminya. Ia memeluk erat makhluk itu.


Sementara Arya sebagai pihak yang tidak tahu apa-apa benar-benar di buat bingung sekaligus panik. Bagaimana tidak, dalam waktu yang hampir bersamaan, ia terus melihat beberapa orang tumbang di hadapannya.


"Bagaimana ini, kenapa semua jadi pingsan?" Ia menoleh ke sekeliling, bingung siapa yang harus di tolong.


"Cepat panggil ambulans," Perintah Leon yang langsung tanggap dengan keadaan.


Arya mengangguk. Benar, ambulans adalah hal yang paling si butuhkan saat ini. Mereka semua harus segera mendapat pertolongan.


Arya gegas mengambil ponselnya, namun saat akan menghubungi pihak terkait Leonil justru mencegahnya.


"Tidak, tidak. Akan terlalu lama kalau harus menunggu ambulans. Aku takut Dirga sudah tak tertolong."


"Lalu? "


"Cepat cari mobil. Kita bawa mereka sekarang." Harus di akui kecerdasan Leonil memang cukup tinggi. Ia bahkan mampu mengambil sikap disaat-saat genting. Menunggu ambulans memahg akan memakan waktu cukup lama. Leon tak nyakin Dirga masih bisa menunggu selama itu.


Arya lagi-lagi mengangguk. Ia kembali menyetujui usulan orang yang tak di kenalnya itu.


Pria itu lantas berlari secepat mungkin menuju area parkir. Perasaan seram yang tadi sempat di rasanya kini sudah tak lagi mengganggunya karena yang tersisa adalah perasaan khawatir melihat orang-orang yang tumbang secara bersamaan.


Di bantu Leonil dan Damar, Arya menaikan satu persatu korban ke dalam mobilnya. Namun perasaan aneh kembali menyapa saat Senja dan Bayu yang juga dalam keadaan tak berdaya tidak ikut di bawa menuju rumah sakit.

__ADS_1


"Senja dan Ayahnya? "


"Mereka baik-baik saja. "


Jawaban Leon tentu membuatnya semakin heran. Baik-baik saja bagaimana, jelas-jelas mereka juga hampir mati.


"Tapi mereka--?"


"Mereka juga akan mendapat pertolongan, tapi di tempat lain, " jelas Leon yang makin mengundang tanya bagi Arya, namun sebelum sempat terucap Damar sudah keburu menyela.


"Arya, " Pria itu mengangguk seolah memberi isyarat untuk tak lagi bertanya. Dan itu membuat Arya juga akhirnya mengangguk meski dengan hati bertanya-tanya. Mudah-mudahan setelah ini pria itu tidak mati penasaran karena terlalu banyak tanya yang menggumpal di kepalanya


"Cepatlah, kalian tak punya banyak waktu." Perintah Leon lagi usai Arya dan Damar sudah bersiap pergi.


"Kau tak ikut?" tanyanya karena Leon memang tidak ikut naik ke mobilnya.


"Tidak aku masih ada urusan."


Kali ini Arya mencoba memahami kalau Leon mungkin akan menolong Bayu dan Wulan. Tanpa ingin bertanya lagi, pria itu lantas tancap gas menuju rumah sakit terdekat.


Dan yang tersisa saat ini tinggalah Bayu, Wulan, Leon dan juga Senja yang mulai mendapatkan kembali kesadarannya.


Gadis itu mengerjapkan matanya lalu menatap sekeliling.


"Ayah ibu.. " ucapnya melihat kedua orang tuanya.


"Hmm, kau sudah sadar? "


"Hm, " Senja mengangguk lemah menjawab tanya ibunya. Meskipun sudah sadar tapi tetap saja gadis itu sudah tidak punya energi.


"Apa Ayah yang menolongku? " Senja ingat betul sesaat sebelum ia pingsan Ayahnya datang menolongnya.


"Iya, Nak. Tapi sekarang ayahmu sudah kehabisan energi. Dia harus segera kembali ke laut. Kau juga kan? "


"Benar, Senja.Kau juga harus kembali ke laut?"


Senja menoleh mencari sumber suara yang baru saja membenarkan ucapan ibunya.


"Dia orang yang sudah menolongmu?" Wulan mewakili Leon sementara pria itu hanya tersenyum sambil menghampiri Senja.


"Bukan aku, tapi Dirga yang sudah menolongmu."


"Dirga, dimana dia? " Mendengar nama Dirga tentu langsung membuat Senja jadi teringat pria itu.


"Dia sekarat usai menyelamatkanmu. Sekarang dia sedang di bawa ke rumah sakit."


Sekarat? Mendengar kalimat itu membuat Senja langsung beranjak. Ia ingin menyusul Dirga ke rumah sakit.


Namun baru akan berdiri gadis itu sudah kembali ambruk. Ia tak kuasa menopang badannya sendiri.


"Kau tidak bisa kesana, Nak. Kau harus kembali ke laut, " cegah Wulan yang melihat kondisi putrinya yang memang masih sangat lemah.


"Tapi aku ingin melihat Dirga, Bu."


"Ibumu benar, Senja." Lagi-lagi Leon membenarkan.


"Kau memang sudah selamat. Tapi kau tetap harus bersemedi. Kalau tidak maka kau akan menghilang selamanya. Setidaknya kalau kau pergi sekarang kau masih bisa kembali untuk Dirga."


Senja tertegun menatap Leon.


Siapa gerangan orang ini. Kenapa dia tahu bnyak tentang dirinya. Dan ucapanya benar pula.


"Siapa kau? " Kalimat itu kembali terucap.


"Kau bisa mencari tahu tentang aku besok kalau kau selesai bersemedi. Sekarang lebih baik kalau kau segera kelaut ... Ayahmu juga sudah menunggumu."


Kalimat Leon membuat Senja menatap kembali ayah dan ibunya. Dan benar ucapan Leon, ayahnya sepertinya sudah sangat lemah. Ia bahkan sudah tak mampu bersuara.


"Mari ku bantu berjalan? " Leonil menawarkan diri untuk memapah Senja. Namun tentu saja gadis itu keberatan. Pria asing ini akan menyentuh tubuhnya. Mana mungkin dia mau.


Dengan setitik tenaga yang masih tersisa Senja memaksakan diri untuk berjalan. Nawang Wulan sambil memapah Bayu mengikuti di sampingnya.

__ADS_1


Keduanya lalu secara bersamaan mulai berjalan pelan menerobos lautan.


Saat badan mereka sudah terendam sampai batas perut. Bayu menoleh lalu tersenyum dan melambaikan tangan pada istrinya. Pun dengan Senja. Keduanya lantas tersenyum menatap Leon. Pria asing yang sudah menolong mereka. Keduanya seolah mengucapkan terimakasih meski hanya lewat senyuman.


Leon balas tersenyum dan bahkan mengangguk.


Sebuah kejadian luar biasa baru saja di saksikannya. Ia bahkan terlibat langsung dalam tragedi tak masuk logika tersebut.


Pria itu tidak menyangka. Cinta beda dunia yang sebelumnya hanya ia saksikan di layar kaca kini tergambar nyata di depannya.


Sebuah pengorbanan yang juga tak masuk akal juga baru saja di lihatnya. Seseorang yang rela mati demi orang atau makhluk yang di kasihinya, itu benar-benar luar biasa.


Usai Bayu dan Senja benar-benar menghilang di telan lautan. Leonil mengalihkan pandangannya pada wanita cantik yang berdiri tak jauh dari nya.


"Kau Nawang wulan?" tanyanya yang langsung membuat pemilik nama menoleh.


Wanita itu mengangguk sebagai jawaban.


"Dan kau? kami semua merasa tak mengenalmu. Tapi tiba-tiba kau datang seperti dewa penolong untuk putriku. Siapa kau? "


Leonil tersenyum. Sebelum menjawab terlebih dahulu ia mengagumi kecantikan Wulan yang nyaris sempurna. Bahkan di usahanya yang sudah lebih dari setengah abad.


"Ayahku benar. Ternyata kau masih sangat cantik meski sudah tak lagi muda. "


"Ayahmu? siapa Ayahmu? "


Lagi-lagi Leon tersenyum.


"Kau pasti akan terkejut saat tahu siapa Ayahku."


"Siapa? " Desak Wulan yang kian penasaran


"Ayahku adalah orang yang pernah menyerang suamimu menggunakan belati emas. "


Wulan nampak berpikir mendengar kalimat yang di ucapkan pria asing ini. Tapi tak perlu waktu lama untuk wanita itu berpikir karena ia langsung menemukan jawabannya.


"Rimba? "


"Sudah ku duga kau pasti mengenalnya." Pria itu tersenyum tanpa mempedulikan keterkejutan Wulan yang langsung mundur beberpa langkah. kekhawatiran sontak langsung melandanya mengingat siapa Rimba.


Dan ekspresi cemas Wulan tentu terbaca oleh Leon.


"Tenang saja, Ayahku tidak sejahat dulu. Dia bahkan yang menyuruhku menolong Senja."


"Benarkah?"


"hm." Leon mengangguk mematahkan kekhawatiran Wulan. Dan akhirnya sedikit menghapus keraguan di benak Wulan karena kenyataannya memang putra Rimba inilah yang secara tidak langsung telah menolong putrinya.


"Tapi darimana Ayahmu tahu kalau Senja sedang dalam bahaya. "


Leon mengerutkan keningnya sesaat, lalu--


"Ada seorang gadis yang meminta bantuannya untuk melenyapkan Senja. "


"Gadis? " Leonil mengulang kalimat nya sendiri. Bicara soal gadis ingatannya mendadak tertuju pada Queen. Gadis yang menyebabkan semuanya terjadi.


Apa yang terjadi pada gadis itu sekarang, Jangan-jangan?


Fikiran buruk seketika menguasai ruang pikir Leon. Kalau tadi Bayu berhasil membawa Dirga kemari lalu apa kabar Queen? Apa Bayu melepaskannya begitu saja, atau?


Leon tak sempat melanjutkan teka-teki di kepalanya. Kekhawatiran hebat sudah keburu menghantui nya.


"Maaf aku harus pergi. " Pria itu bergegas meninggalkan Wulan.


"Hey kau mau kemana? "


"Aku ada urusan penting. " Leon berlari cepat meninggalkan Wulan yang masih di liputi penasaran tentang gadis yang menemui Rimba.


"Gadis, apa mungkin Queen? " tebaknya karena sejauh ini memang hanya Queen yang selalu mengganggu hubungan Senja dan Dirga.


Angin malam yang dingin seolah menjawab pertanyaan Nawang Wulan. Membuatnya sadar kalau saat ini tengah berada di tepi pantai seorang diri. Lolongan binatang malam membuat suasana jadi makin seram. Tapi sedikitpun Wulan tak merasa takut.

__ADS_1


Ia berjalan sendirian dalam sepi. Kesepian yang sepertinya juga akan menemaninya untuk beberapa minggu kedepan sebelum anak dan suaminya kembali.


__ADS_2