
Hari ini Dirgantara merasa ada yang aneh dengan badannya. Sejak bangun tidur pagi tadi, Ia merasa sangat lelah dan beberpaa bagian tubuhnya terasa pegal. Padahal ia tidak melakukan aktifitas berat apapun, tapi rasa lelah yang dirasa seolah dia baru saja mendaki gunung dengan puncak tertinggi di dunia.
Sebenarnya ia ingin libur hari ini dan sejenak mengistirahatkan badannya di rumah, tapi pekerjaan yang menumpul membuatnya tak bisa melakukan itu.
Berulang kali dia mencoba meregangkan badannya dengan gerakan sederhana, berharap bisa melaskan ototnya yang terasa kaku semua. Namun usahanya tetap tak berhasil. Ia tetap saja merasa lelah yang berlebihan.
"Mungkin karena aku sudah lama tidak fitnes jadi badanku terasa kaku semua, " gumamnya mencoba mencari jawaban dari rasa tak biasa yang mendera sekujur tubuhnya.
Pria itu melirik penunjuk waktu di pergelangan tangannya. Sudah waktunya pulang dan pekerjaannya pun sudah beres, itu artinya dia tidak harus lembur hari ini dan bisa langsung mewujudkan niatnya untuk pergi ke tempat pembugaran.
"Dirga kau sudah pulang? "
Saat sedang berkemas, Dirga mendapat sebuah pesan dari kekasihnya.
"Aku masih di kantor, Senja. Tapi sudah mau pulang. "
"Ada apa? " tanyanya karena tak biasanya Senja bertanya begitu.
"Eum tidak ada, aku hanya ingin bicara denganmu, ada yang ingin ku tanyakan. "
"Apa kau ada waktu?"
"Aku menunggumu dipantai. "
"Sekarang? " balas Dirga lagi.
"Iya, kalau kau bisa. "
"Tentu, anything for you baby. " Sambil menambahkan bentuk hati, dasar tukang gombal !
"Baiklah, aku tunggu di pantai ya, di pohon nyiur paling ujung. "
Dirga tersnyum membaca tempat yang di maksud Senja. Tempat yang konon merupakan tempat kencan orang tuanya. Dan tebakan Dirga waktu itu benar. Tempat itu juga akhirnya menjadi tempat favorit mereka.
"Baiklah, kau sudah disana? "
"Belum, aku masih di jalan, tapi sebentar lagi sampai. "
"Oke, Aku segera meluncur. " Lagi-lagi menambahkan bentuk hati, membuat penerima pesan tersenyum-senyum sendiri.
***
Seperti biasa pantai berpasir putih dengan ombak laut yang memukau itu selalu ramai. Terlebih sekarang adalah hari libur, banyak orang yang ingin menikmati waktu senggangnya dengan bermain di pantai.
Gadis bermata kemerahan juga sudah ikut meramaikan suasana pantai sore ini, meskipun ia berda di tempat yang jauh dari keramaian. Duduk manis sendirian menunggu kekasihnya dstang dengan wajah yang lebih pucat dari biasanya.
Senyumnya mengembang saat dari kejauhan melihat sosok yang di nantinya menuju kerahnya.
"Kau sudah dari?" Dirga langsung menghampiri dan duduk di samping Senja.
Gadis itu tak menjawab, hanya tersenyum sebagai isyarat bahwa ia memang sudah cukup lama menunggu, atau memang ia yang datang terlalu cepat, entahlah !
"Maaf lama menunggu, aku terjebak macet tadi"
"Tidak apa, maklumlah jam pulang kerja memang biasanya macet. "
Cukup bijak jawaban Senja membuat Dirga tersenyum karena semakin hari Senja semakin menunjukkan sikap lembutnya.
"Kau baik-baik saja," Dirga memperhatikan wajah Senja yang sore ini terlihat berbeda.
__ADS_1
"Kau pucat sekali, apa kau sakit? "
Senja mengernyitkan keningnya. Ia tak menyangka kalau Dirga melihat ada yang tidak biasa dengan wajahnya.
"Aku baru akan bertanya begitu, malah kau duluan yang bertanya, " tukas pemilik iris merah seraya tersenyum.
"Bertanya padaku? " Dirga ikut-ikutan mengernyitkan keningnya.
"Hmm, aku menyuruhmu kesini juga karena ingin menanyakan itu ... apa kau baik-baik saja? "
Pria dengan senyum mematikan itu semakin heran. Ia memang merasa ada yang aneh dengan badannya hari ini, tapi darimana gadis itu tahu?
"Eum aku--"
"Kau merasa tidak enak badan? " potong Senja cepat.
"Kau tahu? " Bukannya menjawab, Dirga malah balik bertanya, ia jadi makin heran.
Senja mengangguk.
"Aku juga merasakannya, " jawabnya lirih
"Benarkah, kenapa bisa begitu?" Dirga semakin tidak mengerti. Senja merasakan hal yang sama dengannya padahal mereka bukan kembar identik yang biasanya akan merasakan sakit secara bersamaan.
Dan kalau alasannya karena mereka saling mencintai, tentu itu jawaban yang sangat tidak masuk akal bagi Dirga.
Memang benar dia sangat mencintai Senja, tapi kalau karena itu mereka jadi sakit bersamaan, tentu itu adalah jawaban terkonyol dan ter-omong kosong yang pernah di dengarnya.
"Kau ingatkan apa yang kita lakukan tadi malam?"
Dirga menautkan alisnya, tentu saja ia ingat. Ia bahkan belum bisa melupakannya sampai sekarang. Sensasi bercumbu dengan Senja sangat luar biasa, rasa nikmatnya bahkan masih terasa.
"Tentu, kenapa, kau mau lagi? " ledeknya di sertai senyum menggoda.
Senyum Dirga makin melebar melihat wajah Senja yang pucat jadi sedikit kemerahan.
"Iya, baiklah, baiklah, aku serius sekarang ... kenapa dengan tadi malam? " Pria maskulin itu memasang wajah tak main-main.
Senja menghela nafasnya sebelum bicara
"Kita, kita sudah bertukar energi? "
"Maksudmu? "
Pemilik iris merah menatap serius kekasihnya, seolah meminta pria itu untuk fokus mendengarkan penjelasanya.
"Kau tahu kan siapa aku? "
Dirgantara mengangguk.
"Kita memiliki emergi yang berbeda. Seperti yang kau tahu, aku memiliki energi yang lebih kuat darimu atau dari manusia biasa."
Senja menatap Dirga yang tengah serius mendengarkan.
"Pada saat aku bersentuhan dengan seseorang, atau katakanlah berciuman. Maka aku sudah berbagi energi dengan orang itu. Dan karena energiku yang lebih besar, maka tubuhmu akan terkejut menerimanya. Itulah kenapa kau merasa tidak enak badan ... Kau merasa lemas dan badanmu sakit-sakit semua kan? "
Dirga mengangguk membenarkan tebakan Senja. Hal aneh dan asing kembali di dapat nya dari gadis itu. Hal yang kembali membuat otaknya berpikir keras.
"Aku sendiri juga merasakan yang sama. Tapi itu hanya berpengaruh pada wajah ku. Itulah kenapa wajahku jadi lebih pucat, karena aku sudah mengeluarkan energiku. Tapi Kalau tubuhku tetap baik-baik saja. "
__ADS_1
Dirge mengangguk-angguk antara paham dan tidak. Sebab apa yang baru di jabarkan Senja memang cukup sulit di terima nalar.
"Apa orang tuamu juga merasakannya?"
"Ya, " jawab Senja cepat.
"Mereka dulu bahkan lebih parah. "
"Oh ya, kenapa? "
"Ayah dan ibu dulu bahkan sampai merasakan sakit yang luar biasa ... Ibu yang manusia biasa sedangkan Ayah yang benar-benar bukan manusia membuat energi mereka saling bertolak ... Mereka akan sangat kesakitan setiap habis bercumbu ... apa kau paham? "
"Eum cukup sulit di pahami, tapi aku akan mencoba memahami. " Dirga terlihat mulai mengerti.
"Apa yang kita rasakan tentu tidak separah mereka karena aku kan hanya keturunan mereka. Aku setengah manusia, dan aku nyata. Jadi tubuh mu dan tubuhku jauh lebih bisa menerima. "
"Apa sampai sekarang mereka masih kesakitan kalau---"
Senja tersenyum, cukup paham maksud Dirga.
"Tidak, mereka kan sudah menikah ... setelah menikah ada ritual khusus supaya keduanya tak lagi kesakitan. "
"Dan kita juga harus menikah dulu supaya aku tidak kesakitan lagi?"
"Bisa jadi, " kali ini jawaban Senja sedikit ambigu sebab ia sendiri belum tahu, Ayahnya belum menjelaskan soal itu.
"Kalau begitu ayo kita menikah? "
"Apa ! "
"Hehe, aku hanya bercanda, Senja. Jangan panik begitu. "
"Kau ini. " Senja mengerucutkan mulutnya. Dirga memang hobi sekali menggodanya.
Durga memang sengaja menggoda gadis itu. Dari tadi obrolan mereka terlalu serius, terlalu rumit dan susah di mengerti. Jadi dia berniat melemaskan kinerja otaknya, juga merubah suasana supaya tidak terlalu serius.
"Apa kau masih merasa tidak enak badan, masih lemah? " Senja entah memdapat keberanian darimana menyentuh pipi Dirga. Sebuah tindakan yang tidak seharusnya di lakukan, karena itu membuat pria di depannya jadi berpikiran lain.
"Sedikit." Menjawab sambil tersenyum. Antara senang dan juga heran karena Senja berani memegang wajahnya, meski tangannya sedikit bergetar.
"Maaf, membuatmu jadi begitu ... tapi kau tenang saja, nanti juga pulih sendiri. "
Dirga menarik pelan tangan Senja yang sedang memegang pipinya, lalu menggenggam tangan itu erat.
"Tidak perlu meminta maaf. aku yang memulainya ... dan jujur saja, walaupun tubuhku terasa sakit, tapi aku sangat menikmati ... kalau boleh aku bahkan ingin memintanya lagi. "
"..... "
Senja menautkan alisnya, pria di depannya benar-benar gila, sudah tau sakit tapi malah---
"Boleh? "
Pemilik iris merah bingung harus menjawab apa. Ia hanya memandang Dirga dengan pandangan gugup. Pandangan yang di artikan Dirga sebagai sebuah persetujuan.
Pria yang hasratnya mudah sekali naik itu mengecup tangan Senja lalu kemudian beralih ke kening. Menyatukan pandangan mereka pada satu titik lalu mulai mengecup benda kenyal yang entah sejak kapan menjadi candu baginya.
Getaran di tubuh Senja tidak sekuat tadi malam, mungkin gadis itu sedang berusaha membiasakan diri. Saat Dirga mulai intens menyesap bibirnya, Senja secara refleks mengalungkan tangannya ke leher pria itu. Persis seperti yang di ajarkan Dirga tadi malam.
Gerakan tangan Senja membuat Dirga kian berkobar. Gerakan bibirnya kian kuat sampai membuat Senja sulit bernafas. Sesekali di melepaskan pa*utannya untuk membiarkan gadis itu mengambil nafas. setelah itu kembali menyesapnya dan bahkan menggelitik rongga mulutnya.
__ADS_1
Entahlah, meski tubuhnya terasa sakit semua setelah bercumbu dengan Senja tadi malam, tapi sumpah demi apapun, Dirga merasakan rasa nikmat yang luar biasa. Yang berkali-kali lipat lebih nikmat dari yang pernah ia rasakan dengan gadis-gadis sebelum Senja.
Itulah kenapa sekarang dia ingin mengulangnya. Pria itu bahkan makin menggila. Tak hanya bibir, ia bahkan mulai berani turun ke leher jenjang Senja. Menyusuri setiap sudut benda itu dengan lidahnya dan sesekali bahkan menggigitnya.