Pacarku Setengah Manusia

Pacarku Setengah Manusia
Serangan mendadak


__ADS_3

Malam harinya, Sampai Dirgantara hampir terlelap, bayangan tentang kejadian siang tadi masih saja menari-nari dengan indah di ruang pikirnya.


Pria berdada bidang itu masih tidak habis pikir dengan semua yang terjadi. Ia bingung bagaimana harus mengambil sikap. Apakah akan tetap melanjutkan hubungan yang bahkan baru di mulainya. Atau memilih menjauhi Senja. Tapi masalahnya, apa ia bisa menjauhi gadis itu?


Sedangkan kenyataannya selama ini ingatannya tak pernah luput dari sosok Senja. Apapun yang sedang ia lakukan atau sesibuk apapun ia, Senja tetap saja bersarang di kepalanya.


Sebuah perasaan yang tak biasa dan tak pernah ia rasakan sebelumnya. Jatuh cinta yang menggila. Sayangnya sosok yang ia cintai ternyata bukan manusia. Satu hal yang tak pernah terpikir olehnya. Hal-hal tak masuk akal seperti itu sebelumnya tidak pernah ada di benaknya.


Namun sekarang, ia di paksa percaya kalau ternyata ada dunia lain selain dunia manusia. Dan kekasihnya adalah salah satu makhluk dari dunia tersebut.


Akkhh pelik sekali. Dirgantaran tetap saja kesulitan menerima kenyataan yang ada. Bahkan sampai ia terlelap. Perasaan itu masih saja hinggap.


Entah sudah berapa jam terlelap, sekitar pukul tiga dini hari pria itu terjaga. Rasa kering di tenggorokan mengganggu tidur nya. Pria itu meraba raba nakas di samping ranjang hendak menghidupkan lampu. Namun gerakan tangannya terhenti karena melihat sosok pria berbadan tegap sedang berdiri di sudut ruangan kamarnya.


Meski di antara keremangan kamar, tapi Dirga masih bisa melihat dengan jelas bagaimana pria itu memperhatikannya dengan tatapan sangat tajam dan matanya yang persis seperti bola api. Merah menyala.


Perlahan pria angker itu mendekati Dirga yang nampak tertegun di tempatnya. Semakin Dekat Dirga semakin mengenali wajah pria itu.


'Itukan Ayahnya Senja'


Bathin Dirga keheranan melihat Ayah nya Senja tiba-tiba sudah berada di kamarnya.


"Paman, sedang apa disini? dan bagaimana paman bisa masuk? bukankah semua pintu terkunci? "


Pikiran aneh mulai menghantui Dirga. Antara heran dan cemas yang mulai bersarang.


Tapi Ayahanda Senja tidak menjawab. Pria itu tetap berjalan pelan mendekati Dirga. Kali ini bahkan sambil mengulurkan tangannya seperti vampir yang hendak mencekik mangsanya.


Dirga mulai ketakutan. Meski yakin kalau itu Bayu samudra Ayahnya Senja, tapi penampakan pria itu malam ini sangat menyeramkan. Wajahnya pucat seperti mayat yang sudah dua hari dua malam belum di makamkan. Matanya merah menyala dan bola api di matanya itu benar-benar terlihat seperti hidup.


"Paman mau apa? " tanya nya lagi dengan suara yang mulai panik. Namun tetap tak ada jawaban.


Alih-alih menjawab, Bayu justru menyeringai tajam sambil menunjukan taring di mulutnya. Dua buah gigi runcing yang cukup panjang dan tajam menyembul dari sudut bibirnya membuat Dirga terlonjak kaget.


'Ya Tuhan, Ayah Senja punya taring. kenapa menyeramkan sekali.'


Belum lepas keterkejutan Dirga, Bayu sudah semakin membuatnya ketakutan. Pria itu bergerak cepat mencekik leher Dirga.


"Akkh"

__ADS_1


Suara Dirga tercekat karena cekikan yang cukup kuat. Pria itu memegang tangan Bayu berusaha menyingkirkan dari lehernya. Tapi tak berhasil. Cekikan tangannya begitu kuat. Meski sekuat tenaga Dirga berusaha berontak, tapi tenaganya seolah tak ada apa-apa nya di banding tenaga Bayu.


Padahal Dirga juga bertubuh cukup atletis, tapi tetap saja tak cukup mampu melepaskan diri dari cekikan Bayu. Terlebih tangan dingin bayu yang nyaris seperti es membuat Dirga tak tahan memegangnya lama-lama.


Dirga sudah merasa seperti di ujung tanduk. Ia sudah tidak bisa bernafas. Sepersekian detik saja kalau Bayu tidak melepaskan tangannya. Dirgantara pasti sudah terkulai lemas tanpa nyawa.


Untung saja saat melihat Dirga sudah benar-benar tak berdaya, Bayu kemudian melepaskan cekikannya.


Dirga pikir Bayu sudah benar-benar melepaskannya, tapi ternyata makhluk itu kini justru mencengkeram kepala Dirga sambil kembali mengeluarkan taringnya.


"Ini akibatnya kalau kau berani menyakiti putriku !"


Suara Bayu menggema di ruangan kamar Dirga. Suara itu sangat mengerikan. Bulu kuduk Dirga yang sejak tadi memang sudah berdiri menjadi semakin meremang. Nyali nya menciut tak terkira.


"Tapi aku tidak melakukan apapun pada Senja, Paman. Aku hanya ingin dekat dengannya. Aku mencintainya, dan aku sama sekali tidak berniat menyakitinya. "


Pembelaan diri dari Dirga tak di gubris oleh Bayu. Makhluk itu justru mendekatkan mulutnya ke laher Dirga masih dengan tangan mencengkeram rambut Dirga dengan sangat kuat. Dirga bahkan merasa kulit keplaa nya nyaris terkelupas saking kencangnya cengkeraman Bayu.


"Akkhh.. !"


Pekikan Dirga tak terbendung saat taring tajam bayu menembus kulit lehernya.


Darah segar langsung mengalir deras karena luka robek akibat gigitan Bayu memang cukup dalam.


"Hahaha..!"


Seolah senang melihat Dirga yang hampir tiada. Bayu samudra terbahak-bahak di depannya. Suaranya masih sama seperti tadi. Menggema dan cukup mengerikan.


Dan suara itu juga masih mampu di dengar Dirga meski pandangannya benar-benar sudah buram. Dan sudah di antara sadar dan tidak.


Rasa sakit yang menyiksa, membuat Dirga tak kuasa lagi menopang badannya. Ia ambruk ke kasur dengan darah yang masih terus mengalir.


Namun sebelum kepalanya benar-benar menyentuh kasur, tangan Bayu sigap menangkapnya. Namun sayang bukan untuk menolong Dirga, melainkan untuk semakin mempercepat Dirgantara menemui ajalnya.


Makhluk itu kembali mencekik leher Dirga kemudia melemparkan ke dinding.


Brug !


Suara tubuh Dirga saat membentur dinding berbaur bersama suara tulangnya yang di pastikan retak akibat benturan yang cukup dahsyat.

__ADS_1


Darah segar kembali menyembur. Kali ini dari mulut Dirga. Kerasnya benturan di kepala membuat pembuluh darah pecah dan langsung menyembur keluar.


Dirgantara sudah benar-benar kehilangan kesadarannya. Entah masih hidup atau tidak tapi yang mata pria itu sudah tertutup sempurna.


***


Beberapa jam kemudian Dirga mulai bisa membuka matanya. Dirga pikir dia pasti sudah mati. Namun ternyata malaikat maut masih enggan mencabut nyawanya.


Saat matanya benar-benar terbuka, Dirga melihat ke sekeliling dan mendapat i dirinya masih berada di dalam kamar, itu artinya dia memang masih berada di dunianya.


Dirga bernafas lega. Meski sakit yang luar biasa masih di rasa tapi setidaknya nyawanya masih berada di dalam raga.


Ptia itu meringis merasakan sakit yang maha dasyat di sekujur tubuhnya. Bayangan kebrutalan Bayu saat menghajarnya kembali berputar di memori otaknya. Dirga masih tak habis pikir kenapa Bayu bisa sampai semarah itu. Padahal dia merasa ridak melakukan apapun. Kalau ini perihal Senja, Dirga bahkan baru menjadi kekasihnya, dan sejujurnya dia tidak pernah berfikir untuk menyakiti, tapi kenapa Bayu bisa semarah itu?.


"Wow kau masih hidup rupanya? "


Saat pikiran Dirga sedang berkecamuk dan berbaur dengan rasa sakit. Sebuah suara bariton mengejutkannya. Suara bariton yang beberapa kali tadi sempat menggema di ruangan ini.


Dirga mendongak. Ia terkejut bukan main mendapati Bayu ternyata masih berada di kamarnya. Padahal tadi dia sudah memeriksa seluruh sudut ruangan dan tidak melihat pria itu. Kenapa sekarang tiba-tiba sudah ada di situ.


"Pa--man? "


ucap Dirga terbata. Terlebih saat malihat tatapan mata Batu yang masih menyala seperti tadi. Seolah masih ingin membakarnya hidup-hidup.


"Hebat juga kau ya, ku pikir kau akan langsung tewas seketika, tapi rupanya kau masih bertahan juga. Sepertinya serangan ku tadi kurang ganas. "


Bayu menyeringai lalu kembali mengeluarkan taringnya membuat Dirgantara yang sudah antara hidup dan mati menjadi gemetar ketakutan.


"Jangan, paman. Aku mohon jangan. " Pria itu berusaha memelas namun sayangnya tak di indahkan oleh Bayu. Makhluk itu mendekati Dirga yang sudah tek berdaya, bersiap melancarkan serangan season kedua.


Dirga ingin bangkit lalu menghindar sejauh mungkin. Tapi sayangnya jangankan untuk menghindar, bergerak saja dia sudah tak mampu.


Sementara Bayu Samudra sudah semakin mendekat. Ia kembali menunjukan taringnya sambil menjulurkan tangan nya. Tangan panjang dengan kuku yang juga cukup panjang dan tajam.


Dan kalau tadi Bayu sudah menggigit leher bagian kiri Dirga, kali ini mahkluk itu bersiap menancapkan taringnya di bagian kanan.


"Jangan, jangaaaann... "


Dirga menjerit keras sebelum benda itu benar-benar menembus lehernya..

__ADS_1


Bersambung


Dukungannya dong, please, please.. Bagi siapapun yang sudah singgah tolong tinggalkan jejaknya, bukan hanya like, tapi juga komen ataupun vote. Bukannya aouthornya maksa, tapi dukungan kalian sangat penting buat cerita ini supaya lebih banyak peminatnya ... jadi sekali lagi tolong dukungannya yaa


__ADS_2