
Damar Sanjaya benar-benar menepati janjinya untuk mau bertemu dengan Bayu. Pria berkarisma itu bahkan datang lebih awal dan rela menunggu.
Di sebuah resort yang sudah di tentukan oleh Senja dan Dirga, kedua pria yang sempet berseteru di masa lalu itu akhirnya bertemu.
"Maaf sudah mengganggu waktumu. " Begitu sampai Bayu langsung mengucapkan kalimat basa-basi itu. Makhluk itu berpenampilan sedikit aneh dengan kacamata hitam yang membingkai iris merahnya. Wajah pucat pasi nya juga semakin melengkapi keanehan itu.
"Katakan." Sapaan basa-basi Bayu di sambut Damar dengan to the point
"Aku tahu kau bukan orang, eum maksudku makhluk yang pandai ber basa-basi. "
Bayu langsung tersenyum sambil memalingkan wajahnya. Sepertinya Damar sedang mencoba memancing emosinya dengan menyebutnya 'makhluk' kendati memang benar kenyataannya memang begitu, tapi Bayu tahu pria di depan nya ini entah sengaja atau tidak sedang menguji sikap temperamen Bayu.
Untung saja, makhluk itu tidak terpancing. Sebelumnya iya memang sudah di wanti-wanti oleh Wulan, Senja agar sebisa mungkin mengendalikan amarah. Niatnya kesini memang ingin bicara baik-baik.
"Baiklah, aku akan langsung pada tujuanku. " Makhluk itu memperbaiki posisi duduknya sekedar untuk mempersiapkan diri sebelum bicara.
"Kau pasti tahu kan kalau ini soal anak-anak kita?"
"Hmm, " angguk Damar
"Dan kau juga pasti nya sudah tahu kan apa jawabanku? "
"Damar, mengertilah, mereka saling jatuh cinta. Kau pasti bisa melihatnya kan? " ucap Bayu meminta pengertian Damar karena belum apa-apa pria itu sudah menyampaikan penolakannya.
"Ya, aku tahu. Itu pasti karena anakmu yang lebih dulu menjerat putraku."
Sungguh tuduhan yang sangat menyebalkan, namun makhluk pemilik mata merah terus berusaha untuk tidak terprovokasi.
"Itu tidak benar, " sahutnya dengan nada yang tetap rendah
"Putramu yang lebih dulu mengejar Senja. Ia bahkan mengejarnya seperti orang gila. "
"Ck yang benar saja, " putra semata wayangnya di cap seperti orang gila, tentu saja Damar langsung mencibir. Padahal seandainya dia tahu kalau putra nya memang mengejar Senja melebihi orang gila.
"Aku tahu betul siapa putraku, " dalihnya tegas
"Dia bukan tipikal pria setia yang akan tergila-gila pada wanita. Setiap wanita yang singgah dalam hidupnya hanya di anggap nya mainan saja. "
__ADS_1
Dada Bayu mulai bergemuruh mendengar celoteh Damar. Entahlah kenapa pria yang biasanya lembut itu jadi sekasar itu dalam bicara. Mungkinkah ke-tidak sukaan terhadap Bayu dan putrinya sudah merubah sikap dan gaya bicaranya? Meskipun sedikit bisa di maklumi, Ayah mana yang rela anaknya berhubungan dengan makhluk antah barantah yang entah keturunan jenis apa.
"Dan kalau sekarang Damar bisa benar-benar jatuh cinta pada putrimu, itu pasti karena dia yang sudah menjebak dan menjerat nya." Memandang tajam Bayu dengan tatapan menghakimi.
"Sama persis seperti kau menjerat Wulan dulu."
Kalimat terakhir Damar sukses membuat Bayu mengepalkan tangannya penuh emosi. Wajahnya yang tadi sepucat mayat kini perlahan memerah di bakar amarah. Namun, lagi dan lagi makhluk itu tetap berusaha meredamnya. Kendati harus sekuat tenaga melakukan itu.
"Damar, ayolah, aku kesini bukan untuk membicarakan masa lalu, " tukasnya dengan tangan masih terkepal. Untng saja Damar tidak bisa melihat itu karena Bayu menaruh tangannya di atas pangkuanya.
"Tapi kenyataannya memang begitu kan, kau memang menjebak---"
"Iya, baiklah-baiklah, " ptong Bayu menjegal kalimat Damar sebelum makin melebar kemana-mana dan sebelum membuat amarahnya jadi benar-benar pecah.
"Kalau memang menurutmu begitu, aku terima semua tuduhanmu. " Oh lihatlah, makhluk itu dengan kegala kerendahan mengakui semua tuduhan menyakitkan Damar. Sepertinya Bayu sadar, kalau saat ini memang dia yang harus banyak mengalah. Yah setidaknya demi putrinya.
"Tapi satu hal yang harus kau tahu," jelas Bayu seperti sedang berusaha mengingat kan Damar akan sesuatu.
"Meski siapapun yang memulai nya terlebih dulu, tapi yang jelas putra putri kita sekarang sudah sangat mencintai satu sama lain. Mereka bahkan tak terpisahkan. "
"Lalu kau memintaku untuk menyetujuinya? " tanya Damar dengan intonasi mulai meninggi.
Mata Bayu terpejam. Sungguh Damar Sanjaya benar-benar menguji kesabarannya.
"Aku tahu itu, " lirihnya sambil menahan rasa terbakar di dadanya. Makhluk yang sudah sangat kesakitan itu masih harus menahan sakit karena ucapan Damar.
"Tapi mereka saling menyinta, apa kau tidak kasihan memisahkan mereka? "
"Aku lebih kasihan kalau putaku tetap berhubungan dengan anakmu? "
"Damar? "
"Aku juga tidak mau putraku sampai harus meregang nyawa karena cintanya pada putrimu, " lanjut Damar lagi mengabaikan panggilan Bayu.
"Sama seperti Wulan yang hampir mati karenamu. " Lagi-lagi Damar mengungkit masa lalu. Tapi ta sudahlah biarkan saja, sepertinya Bayu juga sudah cukup mampu menguasai diri, terlihat dari wajahnya yang tak lagi memerah.
"Benar, tapi nyatanya semua bisa terlewati kan? dan bahkan sampai sekarang kami masih bersama. "
__ADS_1
"Ck," Damar kembali mencibir bahkan kali ini menganggap remeh ucapan Bayu.
"Ya benar, kalian memang tetap bersama, tapi aku yakin Wulan pasti sangat menderita, apalagi setiap kau harus pergi ... Itulah kenapa aku tidak mau anakku jadi seperti Wulan. Aku tidak mau dia menderita." Mata Damar menerawang membayangkan hal buruk yang mungkin terjadi kalau Dirga tetap bersama Senja.
Sementara Bayu nampak tersenyum. Ia paham kekhawatiran Damar, itulah kanapa sejak tadi ia berusaha untuk tidak terprovokasi oleh semua ucapannya. Karena biar bagaimana pun itu hanya bentuk kekhawatiran dan kasih sayangnya sebagai Ayah.
"Wulan tidak se-menderita yang kau bayangkan, Damar ... Istriku melakukannya dengan suka rela dan menganggap semua penantian nya selama ini adalah pengorbanan. " tutur Bayu dengan begitu bijaknya. Sepertinya sikap lembut dan bijaksana sangat istri sudah sedikit menular kepadanya.
"Kalau kau pernah benar-benar jatuh cinta, kau pasti tahu apa itu pengorbanan. "
Jleb ! Seperti belati tajam yang menghunus dada Damar, pria itu langsung tersentak oleh ucapan Bayu dan membuatnya hanya terdiam, tak mampu lagi menyangkal.
Damar membenarkan ucapan Bayu. Saat kita benar-benar tulus mencintai kita pasti akan rela melakukan apapun demi yang di cinta.
"Kalau memang Dirga dan Senja benar-benar saling menicintai, mereka pasti akan menemukan jalan untuk bersama. Walaupun mungkin tidak akan mudah, tapi aku yakin mereka pasti bisa melewatinya. " Bayu bicara sambil memegangi dadanya, menahan rasa sakit dan juga terbakar yang kian berkobar.
"Waktuku sudah tidak banyak, Damar. Aku sudah harus pergi, " ucap Bayu lagi sambil meringis menahan sakit.
Damar tak bergeming, ia hanya menatap sekilas wajah Bayu yang kian memucat dan juga ekspresi kesakitan makhluk itu. Sepertinya Damar sedang berusaha mencerna kalimat Bayu tadi.
"Aku kesini hanya untuk meminta restu darimu untuk putriku. Aku mohon restui lah mereka. " Bayu menangkup kan kedua tangannya. Sungguh hal yang tidak terbayangkan sebelumnya. Makhluk temperamen yang lebih mirip monster pembunuh itu rela melakukan itu. Seandainya Wulan dan Senja melihatnya, mereka pasti akan melarang Bayu merendahkan diri begitu.
"Aku rela merendahkan diri begini hanya untuk putriku. Aku sangat menyayanginya, dan aku hanya ingin dia bahagia dangan orang yang di sayanginya. "
Untuk kedua kalinya dada Damar seperti tertancap belati tajam. Seorang makhluk yang ia pikir sangat ganas dan kejam nyatanya rela menghina di depannya hanya untuk kebahagian putrinya. Sementara dia terus saja melarang putranya tanpa pernah mau membuka mata berapa putranya sangat menyayangi Senja dan hanya bahagia bila bersama gadis itu.
Benarkah aku ini ayahnya?
Pertanyaan itu tiba-tiba muncul di benaknya. Kekhawatiran yang berlebihan membuatnya lupa pada kebenaran.
"Putramu sendiri pernah bilang padaku kalau ia akan terus berusaha meminta restu darimu karena dia sangat menghormatimu ... tapi kalau pada akhirnya kau tetap tidak setuju, maka dia tetap akan tetap memilih bersama Senja dengan atau tanpa restu darimu. " Bayu menjeda ucapannya sambil menatap reaksi Damar dan juga sambil menahan sakit yang kian menggigit.
"Kalau kau benar menyayangi putramu, kau pasti tidak akan menghalanginya. "
Usai mengucapkan kalimat itu Bayu bangkit dengan wajah yang kian pucat dan lemah menahan sakit. Ekspresi yang jelas terbaca oleh Damar, membuat pria itu yakin kalau Bayu memang sedang benar-benar kesakitan
"Maaf aku harus pergi, terimakasih untuk waktumu, " ujarnya lagi kemudian beranjak meninggalkan Damar yang sejak tadi hanya mampu terdiam dengan perasaan berkecamuk tak karuan.
__ADS_1
Keduanya tak menyadari kalau di sudut ruangan ada sesosok gadis berambut kecoklatan dangan dagu terbelah sedang tersenyum sinis menatap keduanya.