
Gubrakk !
Queen dan Dirga yang sudah hampir sampai di puncak terlonjak kaget mendengar bunyi benda jatuh yang cukup memekakkan. Keduanya spontan menyudahi aksinya dan melihat ke sumber suara.
"K-kau.. " Bola mata Queen hampir meloncat keluar melihat penampakan makhluk yang berdiri di ambang pintu kamarnya. Makhluk menyeramkan berwajah merah dan kedua bola mata menyala seperti kobaran api yang siap membakar siapa saja yang ada di dekatnya.
Makhluk itulah yang baru saja memdobrak pintu kamar Queen.
"Paman? " Tidak berbeda dengan Queen, Dirga pun terkejut bukan main melihat Bayu tahu-tahu sudah ada di depan mereka.
Namun Bayu Samudra tidak memberi kesempatan untuk keduanya bicara lebih banyak. Makhluk itu segara mendekati kedua anak manusia itu lalu menyingkirkan Dirga yang masih berada di atas Queen.
"Dasar bodoh, " makinya pada Dirga lalu kemudian menampar pria itu. Tidak cukup keras memang, tapi tetap saja membuat sudut bibir pria itu pecah dan mengucurkan darah segar.
Dirga tersentak. Tamparan Bayu yang terasa cukup menyakitkan seolah membuatnya tersadar dengan apa yang sedang terjadi.
"Kenapa aku disini? "
"Kenapa aku bersama mu, Queen? "
"Dan apa yang sudah terjadi, kenapa---?" Dirga tak berani melanjutkan ucapannya. Ia menatap dirinya sendiri yang sudah nyaris tanpa busana dan demikian pula dengan Queen.
"Oh ya Tuhan, apa yang ku lakukan? " tanyanya sekali lagi. Dirga tak percaya pada apa yang baru saja di lakukannya. Kenapa ia malah di sini bersama Queen, bukankah seharusnya ia bersama Senja?
Namun pertanyaan Dirga tak sempat di jawab oleh siapapun. Bayu juga sepertinya tak tertarik untuk memberi penjelasan pada Dirga. Ia membiarkan pria itu memikirkan sendiri kebodohannya.
Ketimbang menjelaskan, Bayu lebih memilih mendekati Queen. Melilit tubuh gadis itu dengan selimut kemudian mencekiknya dan mengangkatnya ke udara. Lihatlah, meski dalam keadaan semarah apapun Bayu tetap tidak ingin mengotori pandangannya dengan tubuh tanpa busana Queen. Baginya satu-satunya wanita yang boleh ia lihat tanpa busana adalah Nawang Wulan, istri tercintanya.
"Akkh, " Queen memekik merasakan sakit di bagian lehernya yang membuat nya kesulitan bernafas. Ia berusaha menyingkirkan tangan Bayu tapi tentu saja usahanya sia-sia. Tenaganya bahkan tidak ada satu per sen pun jika di banding dengan tenaga makhluk itu.
Tak peduli dengan pekik kesakitan Queen, tangan kanan Bayu kini bergerak menampar kedua pipi Queen segera berkala.
Plak-plak-plak..
Darah yang mengucur deras dari kedua sudut bibir Queen menjadi simbol betapa menyakitkan nya tamparan Bayu.
Makhluk itu geram bukan kepalang. Gadis bren*sek ini yang sudah menyebabkan putrinya hampir saja tewas. Jadi mana mungkin dia akan membiarkan gadis itu lolos begitu saja, meskipun harus membuang-buang waktunya karena nyawa Senja yang sudah di ujung tanduk sedang menantinya.
Sementara Bayu melampiaskan kemarahan nya, Dirga menggunakan kesempatan itu untuk memakai kembali pakaiannya. Meski tidak tahu persis apa yang terjadi, tapi pria itu yakin kalau Queen yang sudah menjebaknya.
"Paman, dimana Senja? "
Bayu yang sedang menghakimi Queen reflek menghentikan gerakannya. Ia menoleh pada Dirga yang sudah berpakaian sempurna. Dan seketika makhluk itu tersadar kalau Senja sedang menunggunya. Amarah yang membahana membuatnya lupa akan tujuan utamanya. Persis seperti saat ia mengajar dua orang suruhan Queen tadi.
Bayu tak menjawab, ia kembali mengalihkan pandangannya pada gadis yang sedang dalam cekikannya, yang sudah antara sadar dan tidak.
Tangan kanan Bayu kembali bergerak, namun kali ini bukan menampar, melainkan mencakar kedua pipi mulus Queen, menciptakan luka bekas cakaran yang cukup dalam dan langsung mengalirkan darah segar yang cukup deras. Persis seperti air terjun bertingkat. Ya, air terjun berwarna merah.
Setelahnya Bayu kemudian melemparkan Queen ataupun menghempaskan gadis itu ke dinding kamar.
"Akh." Suara pekikan Queen berbaur dengan suara "krek" Khas bunyi tulang patah. Detik berikutnya gadis itu terkulai lemas kehilangan kesadarannya.
Rupanya sebelum membawa Dirga, Bayu ingin terlebih dahulu menghabisi Queen. Entah benar-benar tewas atau tidak, Bayu sudah tak lagi peduli karena yang terpenting sekarang adalah membawa Dirga secepatnya. Dan dia sudah sangat membuang-buang waktu tadi.
Usai melemparkan Queen, Bayu beralih pada Dirga ia mendekap pria itu dan membawanya melesat secepat kedipan mata.
__ADS_1
Dirga yang tak tahu kemana Bayu akan membawanya hanya bisa pasrah. Ia memejamkan matanya merasakan sensasi aneh yang demi Tuhan baru pertama kali di rasanya. Ia seperti melayang dengan kecepatan super. Persis seperti film animasi yang pernah di tonton nya.
Begitu kakinya terasa menginjak tanah, Dirga baru membuka matanya. Dan tahu-tahu ia sudah berada di pesisir pantai. Tepat di hadapan Senja.
Leonil yang sedang panik menjaga senja pun di buat terkejut dengan kemunculan Bayu dan Dirga yang tiba-tiba. Dan sekali lagi membuatnya percaya kalau mistis itu memang ada.
"Senja, " Meski masih saja bingung dengan apa yang terjadi, namun kondisi memprihatinkan Senja membuat pria rupawan itu langsung bisa mengambil kesimpulan kalau Senja tidak baik-baik saja.
"Ada apa dengannya? " tanyanya pada Bayu dan juga pria asing di dekat Senja.
"Siapa kau? " Dirga merasa tak sedikitpun mengenal pria ini, tapi kenapa dia bisa ada di dekat Senja.
"Jangan banyak tanya, cepat tolong Senja. Dia sudah hampir menghilang, lihatlah. "
Leonil menunjuk sebelah kaki Senja yang sudah menghilang sampai sebatas lutut.
Dirga terkejut bukan main. Ketakutan akan kehilangan Senja seketika menghantuinya. Ia lantas memeluk gadis yang sudah tak berdaya itu.
"Katakan apa yang harus ku lakukan?" Tak peduli siapa pun orang disamping nya, tapi kalau dia memang bisa membantu Senja, kenapa tidak, fikir Dirga yang sudah terlanjur kalut melihat Senja yang sudah sekarat.
"Energimu, kau harus menyalurkan energimu untuknya. "
"Caranya? "
"Lewat mulut, berikan nafasmu untuknya ... tapi---"
"Tapi apa? " tanya Dirga panik, waktunya sudah semakin dekat, kenapa harus ada tapi?
"Kalau kau tidak kuat kau bisa kehilangan nyawamu. "
Tanpa pikir panjang Dirgantara langsung mendekat kan mulutnya ke mulut Senja.
"Jangan !" Namun sebuah teriakan menghentikan pergerakannya.
Melati, Damar dan Arya datang bersama menghampiri mereka. Karena tidak berhasil menemukan Dirga, Arya akhirnya membawa kedua orang tua Dirga, entah tindakannya benar ataupun salah yang jelas Arya merasa perlu melakukan itu.
"Jangan lakukan itu, Nak. Ibu mohon. Itu sangat berbahaya untukmu, " Ratap Melati meminta Dirga menghentikan niatnya. Di sampingnya Damar terdiam tak tahu harus berkata apa. Di satu sisi ia tak ingin Senja pergi namun lebih tak ingin lagi kalau putranya yang harus pergi.
"Iya, Nak. Pikirkan dulu baik-baik. Ini menyangkut keselamatanmu." Damar akhirnya bersuara juga karena biar bagaimana pun dia tentu lebih memilih keselamatan putra nya.
Dirga menatap keduanya sesaat.
"Aku tidak punya waktu untuk berpikir. Yang aku pikirkan sekarang adalah keselamatan Senja. Aku sangat mencintainya, Bu. "
"Tapi, Dirga---"
"Dirga cepatlah, waktunya sudah semakin habis." Leon berusaha mengingatkan, mengingat tubuh Senja yang sudah makin hilang di gerogoti sesuatu yang tak nampak.
Dirga mengangguk dan kembali melanjutkan niatnya. Tak peduli pada larangan Ibunya. Dan wanita itu akhirnya hanya bisa menatap putra semata wayangnya mengorbankan diri untuk gadis yang sangat di cintainya.
"Dirga.. " lirih nya sambil mulai terisak. Ada perasaan sesal tersendiri karena secara tidak langsung telah membuat keadaan jadi seperti ini.
Damar refleks mengusap pundak istrinya, memberi kekuatan pada wanita itu untuk mengikhlaskan putranya. Ia tentu paham betul bagaimana Melati. Tapi ia juga cukup bisa menghargai keputusan Dirga. Damar hanya berharap semuanya akan baik-baik saja.
Di samping mereka, Arya yang bingung dengan apa yang sebenarnya menimpa Senja hanya mampu melihat dengan tatapan tidak mengerti. Ia ingin sekali bertanya tapi cukup bisa melihat keadaan kalau ini bukanlah waktu yang tepat untuk banyak tanya.
__ADS_1
Sementara Bayu, setelah membawa Dirga tadi, makhluk itu langsung terduduk lemas. Ia bersandar di kaki kursi tempat Senja terbaring. Ia yang memang belum seharusnya muncul ke permukaan menjadi semakin lemah usai meluapkan amarahnya pada Queen dan dua orang suruhannya. Kini Bayu merasa sangat lemah dan mulai kesakitan. Tapi ia belum ingin kembali. Ia ingin memastikan kalau putrinya benar-benar selamat.
Kembali pada Dirga yang baru saja selesai menyalurkan energinya. Namun sayangnya itu belum mampu membuat kondisi Senja kembali seperti semula. Gadis itu masih saja sekarat meski sudah tidak ada lagi yang menggerogoti bagian tubuhnya, namun bagian tubuh yang sudah terlanjur hilang belum kembali lagi.
Padahal Dirga sudah menyalurkan semua energinya. Ia bahkan merasa sudah sangat lemas saat ini. Ia merasa sudah tidak punya tenaga meski hanya untuk menopang badannya sendiri. Pria itu kini terduduk di depan Senja. Tak hanya itu Dirga juga merasakan sakit di beberapa bagian tubuhnya. Sakit yang entah berasal dari mana.
"Ini belum usai Dirga, masih ada yang harus kau lakukan. "
Dirga menatap Leon yang baru saja memberi interupsi. Ia bingung, ia pikir setelah menyalurkan energinya Senja akan langsung selamat, tapi ternyata tidak.
"Katakan, " tanya Dirga di antara sisa-sia tenaganya.
"Kau harus mengalirkan darahmu di bekas luka tusukannya dan paksa senja untuk meminumnya. Hanya darahmu yang bisa mencuci bersih racun dari belati emas itu ... tapi sekali lagi ini sangat berbahaya untukmu. Terlebih kau sudah sangat lemah begitu ... Kau, bisa langsung mati. " Leon menjelaskan segera terperinci. Jujur ada perasaan ragu saat harus menjabarkannya. Ia takut kalau Dirga akan keberatan.
Dirgantara menatap Bayu, meminta pendapat dari makhluk itu.Bukan karena Surga takut, tapi dia tidak yakin cara yang akan di tempuhnya akan berhasil mengingat dia tidak mengenali sosok yang saat ini menjadi tutor-nya. Namun anggukan lemah dari Bayu mematahkan keraguannya. Entah siapapun pria yang saat ini membantunya tapi yang jelas, apa yang di katakan olehnya memang benar adanya. Dan Bayu mengakui itu.
Dirga pun akhirnya mengangguk. Peduli setan dengan resikonya, yang penting Senja bisa tergolong, fikirnya.
Dan demi melihat anggukan Dirga, Leon pun segera mengeluarkan sebilah pisau kecil namun terlihat cukup tajam.
"Kau sendiri yang harus melakukannya. " Leon memberikan pisau itu pada Dirga.
"Dirga, jangaan, Nak. "
Dari tempatnya berdiri, Melati kembali berteriak. Demi Tuhan ia tak rela melihat putranya harus berkorban sampai sejauh itu.
"Dirga, apa harus sampai sejauh itu, Nak?" Kalau tadi Damar berusaha iklas menerima keputusan putranya, namun sekarang ia juga ikutan miris melihat putranya harus melakukan hal segila itu demi cintanya.
Dirga tak menyahut. Bahkan menoleh pun tidak. Ia benar-benar sudah tidak peduli pada apapun. Yang penting Senja selamat, itu saja.
"Dirgaaa! " Pekikan Melati tak terbendung saat Dirga sudah menaruh lengannya tepat di dada Senja dan sudah siap memotong nadinya sendiri.
Tak bisa hanya diam, Melati bergerak ingin mencegah Dirga, namun pergerakan nya di hadang oleh Bayu samudra. Makhluk itu dengan sisa tenaganya mencoba menghadang siapapun yang berusaha mengganggu ritual penyembuhan Senja. Ia bahkan mencekik leher wanita itu meski tidak sampai mengangkatnya ke udara.
"Jangan menghalangi nya. Atau kau akan ku lenyapkan sekarang juga. " Ancaman yang terdengar sangat menakutkan bagi Melati, Damar maupun Arya.
Arya yang tidak pernah melihat hal-hal seperti itu bahkan gemetar di buatnya. Sementara Damar tidak tahu harus berbuat apa.
"Kau yang sudah menyebabkan putriku jadi seperti itu. Kau juga yang sudah menyeret putramu dalam bahaya. Jadi sekarang biarkan dia yang menanggungnya. Atau kalian semua akan mati !"
Mendengar kata mati membuat ketiganya di cekam ketakutan. Terlebih Damar yang memang pernah merasakan ganasnya amukan Bayu. Namun terlepas dari ketakutan nya ada satu hal yang cukup mengejutkan tentang ucapan Bayu tadi. Melati yang sudah menyebabkan Senja begitu, apa maksudnya?
"Cepat, Dirga. " Mumpung para pengganggu sedang di tangani oleh Bayu, Leon mengambil kesempatan itu untuk mempercepat penyembuhan.
Dirga mengangguk pasti dan tanpa berpikir lagi langsung menyayat nadinya.
Sret ! pisau bermata tajam itu sukses merobek kulit pergelangan tangan Dirga dan bahkan sampai ke urat nadi nya. Namun tidak sampai putus.
Dirga meringis menahan sakit yang teramat sangat. Darah segar mengucur deras mengaliri bekas luka tusukan di dada Senja. Setelah di rasa cukup kemudian beralih ke mulut Senja. Leonil membantu Senja membuka mulutnya dan langsung di aliri tetesan darah dari dari pergelangan tangan Dirga
Cukup banyak darah yang di keluarkan pria itu. Sampai bagian tubuh Senja yang menghilang kembali muncul dan Senja terbatuk setelah meminum darah Dirga, barulah Leon meminta Dirga menghentikan proses penyembuhan.
"Cukup, Dirga. Senja sudah mulai pulih. " Perintahnya sambil mengambil tangan Dirga lalu mengikat bagian yang tersayat tadi menggunakan sehelai kain. Ini bertujuan untuk menghentikan pendarahan. Rupanya Leonil Aksa memang sudah mempersiapkan semuanya. Dan tentu saja atas petunjuk ayahnya.
Namun bersamaan dengan itu Dirgantara yang sudah berkorban mati-matian akhirnya benar-benar menunjukan tanda-tanda kematian. Pria malang itu terkulai lemas kehilangan kesadarannya dan bahkan mungkin nyawanya.
__ADS_1