
Seperti dejavu, pukul sepuluh malam saat Dirga baru pulang, ia kembali melihat Ayahnya tengah duduk diruang tengah. Dirga menghentikan langkahnya saat melihat orang tua laki-laki nya itu.
Dirga ingin menyapa, tapi hubungan dengan Ayahnya beberapa hari ini sedang kurang baik. Mereka sedang perang dingin. Pasca perdebatan sengit tempo hari, Ayah dan Dirga belum ada bicara. Keduanya memilih diam dengan suasana hati masing-masing.
"Kau sudah pulang? "
Tanpa di duga, ternyata Damar menyapa terlebih dulu. Ya begitulah, orang tua memang selalu bisa menurunkan ego demi anak. Kendati anaknya bukan lagi anak-anak.
"Eh, i--iya, Ayah. " Tergagap menjawab karena tidak menyangka Ayahnya mau menyapanya.
Ayah yang tadinya bicara tanpa melihat, kali ini mencoba menoleh. Pria berwajah tegas itu bahkan tersenyum.
"Duduklah, ada yang mau Ayah sampaikan. "
Dirga berpikir sejenak, ia tahu Ayahnya pasti akan membicarakan perihal kemarin. Sebenarnya ia enggan membicarakan itu lagi jika Ayahnya hanya akan menentang, Namun demi menghargai Ayahnya yang sudah mau menyapaanya duluan, Dirga akhirnya berjalan mendekat.
"Kalau Ayah hanya akan menyampaikan penolakan Ayah pada hibunganku dan Senja, sepertinya aku tidak punya waktu untuk mendengarkan. "
Di mata keluarga, Dirga memang di akui sebagai sosok keras kepala, jadi Ayahnya tidak heran saat putranya terang-terangan mengatakan itu.
"Lebih dari itu. "
"...... "
Dirga mendongak
Lebih dari itu maksudnya?
"Duduklah, " titahnya sekali lagi melihat Dirga yang masih berdiri ragu di depannya.
Setelah putra semata wayangnya duduk, Damar langsung menoleh ke belakang, ke arah kamarnya dan Melati di lantai Atas. Pria itu ingin memastikan kalau Melati tidak mendengar obrolan nya dan Dirga.
"Apa yang akan kita bicarakan ini masalah penting, jadi pastikan tidak ada yang mendengarnya selain kita, " jelas Damar saat putranya mengajukan tanya lewat ekspresi wajah.
"Tidak boleh ada yang mendengar, bahkan ibu? "
"Hm, " Damar mengangguk pasti.
"Ini soal Ayahnya Senja, " Damar mulai bicara setelah sebelumnya menghirup nafas banyak-banyak.
Ayahnya Senja, Dirga memicingkan matanya. Ada perasaan aneh menyergap saat ini.
Ayah kan kenal Ayahnya Senja, apa mungkin dia juga tahu kalau----
"Apa kau tahu siapa dia? "
"Ma--maksud Ayah? " Pertanyaan Damar benar-benar membuat Dirga semakin gugup.
__ADS_1
"Apa kau tahu kalau ayahnya Senja itu bukan---"
"Ayah juga tahu? " potong Dirga cepat, raut wajahnya juga langsung berubah pucat.
"Dan kau juga sudah tahu? " Keduanya jadi saling bertanya. Dan saling terkejut pastinya
Huft, Dirga membuang nafas sambil mengusap wajah. Sungguh berita yang sangat mengejutkan. Ia pikir hanya ia satu-satunya orang luar yang mengetahui perihal Senja, tapi ternayata Ayahnya juga tahu.
"Aku pikir hanya aku saja yang tahu, " gumamnya pelan namun masih sangat bisa di dengar olah sang Ayah.
"Jadi benar kau sudah tahu? " Damar pun tak kalah kaget dari putranya. Suaranya barusan bahkan cukup keras pertanda kalau dia memang benar-benar terkejut. Untung saja dia langsung tersadar dan menengok ke belakang, sekali lagi memastikan kalau Melati sudah tertidur pulas.
"Lalu kenapa kau masih berada di dekatnya? "
"Karna, karna aku menyayanginya Ayah, aku tidak bisa jauh darinya. "
"Ya Tuhan, Dirga," Damar ikut-ikutan mengusap wajahnya. Sebenarnya alasan Dirga cukup masuk akal, tapi mengingat kalau Dirga dulunya adalah pemain cinta. Sang Ayah sepertinya belum begitu yakin kalau putranya sudah berubah.
"Kenapa kau jadi lemah begini, buka matamu, Nak. Lihat kenyataan. Senja tidak baik untukmu. Dia bahkan berbahaya buat kita semua."
"Tidak Ayah, Senja tidak se menakutlan itu. Dia tidak akan menyakiti orang-orang yang di sayanginya."
"Huh, " Damar mendengus kesal. Lagi-lagi sang putra menunjukan keras kepala-nya.
"Tidak ada yang bisa menjamin, Nak. Amarah nya monster itu sulit di kendalikan. "
"Lalu kita harus menyebutnya apa? "
Dirga menoleh, menatap kecewa ayahnya yang akhir-akhir ini tidak bisa di ajak kerjasama.
"Seperti yang ku bilang tadi, kalau Ayah hanya akan menentang hubunganku dengan Senja, aku tak ingin lagi mendengarkan. " Dirga beranjak, ia merasa diskusi nya kali ini pun hanya akan berakhir sia-sia. Ketimbang hanya membuat keduanya emosi, Dirga memilih menghindar dan pergi.
Namun sayangnya, kali ini Damar tidak membiarkan putranya kabur begitu saja.
"Duduk ! Ayah belum selesai bicara. " tangan Damar terkepal, emosinya membuncah melihat putranya yang sudah benar-benar jadi pembangkang sekarang.
"Apa lagi, Ayaah. "
"Duduk !" Bentak Damar sekali lagi yang akhirnya membuat Dirga menurut. Ia kembali duduk namun sedikit menjauh dari ayahnya.
"Kau tahu, bukan tanpa alasan Ayah menyuruhmu menjauhi Senja. "
Dirga tak menyahut. Ia sudah memutuskan hanya akan memdengarkan apapun celoteh ayahnya, ia tidak akan menjawab, karena itu dia anggapnya percuma.
"Ayah pernah hampir mati di tangan Ayahnya Senja. "
Mata Dirga membulat sempurna saking terkejutnya mendengar penuturan sang Ayah. Ia yang tadinya berniat hanya akan memdengarkan menjadi tidak bisa menahan diri untukbertanya.
__ADS_1
"Benarkah, Ayah? "
"Hmm, nyawa Ayah sudah di ujung tanduk waktu itu. Dan meski akhirnya bisa di selamatkan, tapi tulang kaki dan tangan Ayah patah. Butuh waktu Berbulan-bulan sampai Ayah benar-benar sembuh"
Dirga percaya cerita Ayahnya pasti bukan omong kosong, pasalnya ia pernah melihat sendiri bagaimana amukan Senja. Itu Senja, bukan Ayahnya, Dan kalau amukan Senja saja sudah cukup mengerikan lalu bagaimana dengan Ayahnya?
Tapi yang jadi pertanyaan sekarang adalah--
"Kenapa Ayah bisa di serang oleh Bayu? " Sebab setahu Dirga kedua makhluk itu pasti tidak akan menyerang tanpa alasan.
Damar menghela nafas sambil menatap serius putranya. Sebenarnya ia enggan menceritakan soal itu. Cerita itu sudah ia kubur dalam-dalam, tapi mengingat putranya ada hubungannya dengan masalalu nya, Damar akhirnya menguak nya kembali.
"Ayah pernah sangat mencintai Nawang Wulan"
"Hah ! Nawang Wulan ibunya Senja? " Lagi, mata Dirga membulat sempurna. Kali ini bahkan jantung nya pun nyaris meloncat keluar. Bertubi-tubi ia di hantam badai terkejut.
"Iya, Ibunya Senja ... Ayah dulu pernah memperjuangkannya mati-matian. Tapi akhirnya kalah oleh Bayu samudra. " Damar menerawang mengumpulkan kembali ingatan yang sudah dia lupakan puluhan tahun lamanya.
"Bayu memang benar-benar monster, dia menghancurkan siapapun yang coba mendekati Wulan. Dan bukan hanya Ayah, salah satu teman Ayah juga pernah hampir mati di tangannya. "
Seperti sebuah pelajaran pra sejarah yang sangat berharga, Dirga mendengarkan dengan seksama. Meski jantungnya terus saja di buat berdegup kencang.
"Dan terlepas dari itu semua, satu hal yang paling Ayah takutkan adalah kalau kau harus mengorbankan dirimu demi gadis itu. "
"Maksud Ayah? " tanya Damar tak paham. Kalau hanya soal pengorbanan, bukankah cinta memang butuh pengorbanan?
"Nawang Wulan dulu harus mengorbankan nyawanya agar Bayu tetap bisa berada di sisi nya."
Kengerian seketika terpancar dari wajah tampan Dirga. Mengorbankan nyawa itu apa berarti mati. Pikir Dirga.
"Saking cintanya pada Bayu, Wulan rela mati demi makhluk itu. Dan itu hanya puncak dari semuanya. Jauh sebelum itu, sudah ada banyak pengorbanan yang harus di lalui Wulan ... Ayah tidak mau kalau kau harus melakukan itu. Iya kalau kau selamat, kalau tidak? "
"Akh," Damar mengibaskan tangannya berusaha membuang jauh-jauh pikiran buruknya. Sementara putra tampan nya hanya bisa terpaku, tercengang dan tak tau harus berkata apa. Semua yang di dengarnya hari ini benar-benar mengejutkan, mengerikan dan sekaligus membingungkan. Ia tak tahu harus bagaimana sekarang.
"Kau sudah tahu semuanya kan? setelah ini Ayah benar-benar memohon padamu agar meninggalkan gadis itu. Ikut Ayah dan ibu pulang ke luar negri. Kita akan benar-benar pindah dari sini dan tidak akan kembali lagi. "
Dirga mendongak. Jujur ia memang sangat ngeri dengan semuanya, tapi untuk memutuskan pergi, pria itu belum ada pikuran sampai ke situ. Meski tetap saja kemauan orang taunya itu harus tetap di pertimbangkan.
Karena di dera perasaan bingung, Dirga akhirnya memilih diam. Tidak menolak ataupun menerima permintaan Ayahnya.
"Kalian belum tidur?"
Di antara kengerian Damar dan kebimbangan putranya, suara Melati tiba-tiba terdengar.
Keduanya langsung menoleh dan mendapati perempuan cantik itu tengah berdiri di anak tangga. Jaraknya cukup jauh dari ruang tengah, Damar dan Dirga yakin Melati tak bisa mendengar apa yang mereka bicarakan, lagipula Keduanya sepakat mengecilkan volume suara tadi.
"Iya, Sayang. Kami sedang berbincang ringan. Tapi sudah selesai, aku bahkan baru berencana naik." Tak ingin Melati curiga, Damar buru-buru beranjak.
__ADS_1
"Tentang siapa Bayu dan Senja, jaga rahasia itu, jangan sampai ibumu tau, " pesan Damar sebelum benar-benar pergi dan langsung di tanggapi dengan anggukan kepala oleh Dirga.