
Usai Damar dan Melati meninggalkan gazebo yang di duduki keluarga Wulan, mereka yang masih berada di situ kompak menghela nafas, kecuali makhluk tampan bermata merah.
Baik Wulan, Senja ataupun Dirga merasa lega karena sudah terlepas dari suasana menegangkan usai bertemu dengan orang tua Dirga. Tapi lain dengan Bayu, makhluk itu justru memasang wajah semakin tegang.
"Sayang, kenapa dengan wajahmu? apa kau masih gugup karena kedatangan tamu tadi? " Wulan bertanya sambil memperhatikan wajah suaminya.
"Iya, Ayah. Mereka kan sudah pergi. Kenapa masih tegang begitu?" Senja menimpali
Bayu menatap anak dan istrinya secara bergantian, kemudian tersenyum samar.
"Mereka memang sudah pergi, tapi masalah baru justru akan datang. "
"Maksud Ayah? "
"Kau tidak paham? " Sang Ayah justru balik bertanya yang langsung di jawab Senja dengan gelengan kepala.
"Tanya pada Dirga, " lanjutnya lagi sambil menatap ke arah calon menantunya. Tentu bukan tanpa alasan Bayu meminta Dirga yang menjelaskan. Makhluk itu yakin Dirga cukup paham pada apa yang di ucapkannya tadi, sebab saat ia mengatakan 'masalah baru akan datang' Dirga langsung mengangguk membenarkan, pertanda dia memang paham apa maksud Bayu.
Ucapan sang Ayah langsung menuntun gadis pemilik iris merah memutar kepalanya menoleh pada Dirga.
"Kau tahu? "
Yang di tanya langsung tersenyum.
"Aku tak pasti, tapi kalau aku boleh menebak ini pasti tentang orang tuaku. " jawaban Dirga yang tidak langsung pada titik masalah tentu membuat Senja makin bingung. Sekali lagi, itu bukan karena Senja bodoh, tapi lebih karena gadis itu memang sangat polos. Nalarnya sulit mencerna segala sesuatu yang tidak langsung pada intinya.
"Kau lihat kan tadi mereka sangat syok saat melihat orang tuamu? " Dengan sabar Dirga mulai menjelaskan dan Senja dengan tingkat kepolisannya yang cukup tinggi hanya mengangguk.
"Itu karena mereka heran melihat orang tuamu yang masih terlihat sangat muda, padahal kan mereka seumuran."
"Lalu? " si gadis polos belum juga paham.
"Ayahku memang sudah tau siapa Ayahmu ... tapi ibuku sepertinya belum.. dan setelah ini dia pasti akan sangat penasaran dan mencari tahu kenapa Ayah ibumu bisa tetap awet muda. "
"Dirga benar. " penjelasan Dirga langsung di benarkan oleh Bayu karena memang itulah maksud ucapannya tadi.
"Jadi setelah ini berdoalah supaya Ayahnya Damar bisa menahan diri untuk tidak memberi tahu istrinya tentang siapa Ayah ... karena kalau sampai ibunya juga tahu, maka Ayah pastikan hubungan kalian akan jadi makin sulit. "
Senja langsung terdiam dalam ketakutan yang mendadak muncul. Ayahnya benar, sedangkan belum tahu saja ibunya Dirga sudah sangat membencinya, apalagi setelah tahu? Dan kalau ibunya Damar tahu, bukan tidak mungkin orang lain juga tahu.
Wajah Senja langsung memucat membayangkan itu. Kerikil tajam siap kembali menghalangi hubungannya dengan Dirga, dan kali ini bukan hanya tajam, tapi sepertinya juga menyala seperti lautan api.
"Ayah tidak bermaksud menakutimu, Senja. " Melihat raut khawatir putrinya Bayu samudra langsung meralat ucapannya.
"Ayah hanya mengatakan kemungkinan terburuk yang sepertinya akan segera terjadi. Ayah ingin kau selalu waspada. "
"Lalu apa yang harus aku lakukan sekarang, Ayah? " Senja menatap Ayahnya lalu kemudian ibunya seolah ingin menunjukan betapa khawatirnya ia saat ini. Sang ibu yang sejak tadi hanya diam kini berinisiatif menepuk-nepuk pundak putrinya. Ia paham saat ini Senja pasti butuh suport nya.
"Kau tidak harus melakukan apapun, Nak. Dalam hal ini Dirga lah yang harus berusaha." Wulan membantu suaminya memberi penjelasan.
"Benar, Dirga harus bisa meyakinkan orang tuanya kalau memang dia tulus menyayangimu ... mari kita lihat seberapa besar rasa sayangnya," Entah itu sebuah tantangan ataupun sindiran, yang jelas Bayu mengatakan itu sambil melirik tajam kearah Dirga.
Namun anehnya kali ini Dirga tidak merasa gentar . Padahal biasanya kalau Bayu sudah menunjukan tatapan tajamnya nyali Dirga pasti akan seketika menciut. Tak jarang ia bahkan akan langsung menelan ludahnya. Tapi kali ini alih-alih terintimidasi, pria rupawan itu justru tersenyum tenang, seolah tak lagi terganggu dengan tatapan maut milik Bayu.
"Aku tahu, Paman. Aku pasti akan berusaha membuat mereka menerima Senja. Dan kalaupun aku gagal, aku akan tetap memilih bersama Senja, dengan atau tanpa restu mereka. " Cukup tegas dan tanpa keraguan Dirga mengatakan itu, seolah menggambarkan perasaannya yang memang cukup dalam pada Senja.
__ADS_1
"Bagus, aku pegang kata-kata mu. Kalau kau sampai ingkar maka aku sendiri yang akan melenyapkan mu. "
"Bayu sudahlah, jangan mengintimidasi Dirga terus, dia pasti tahu apa yang harus di lakukannya. Kau tak perlu harus mendikte-nya sampai sedetail itu. " komentar Wulan berusaha mengingatkan suaminya yang di nilainya terlalu otoriter.
"Aku tidak sedang mendikte-nya, Sayang." Bantah Bayu
"Aku hanya ingin memastikan dia bisa menjaga Senja saat aku pergi nanti. "
Dirgantara terkesiap. Bukan karena tersinggung oleh ucapan Bayu, melainkan kan karena tak tahu kalau Bayu akan pergi.
"Paman mau pergi, kemana? " tanyanya heran. Sepertinya pria itu lupa akan satu hal.
"Ayah memang harus pergi setiap seratus hari sekali. " Pertanyaan Dirga mendapatkan jawaban dari gadis berkata merah.
"Kau ingat kan aku pernah bilang kalau aku dan Ayah bisa sewaktu-waktu meninggalkan dunia ini ... atau Ayahku akan kembali ke tempat asal muasal kami saat kondisi kami mulai
melemah? "
"Oh iya, iya aku ingat, " jawab Dirga setelah berusaha mengingat.
"Kondisi Ayahku mulai melemah sekarang, "
"Apa itu berarti Paman akan segera pergi? "
"Tidak sekarang, Ayah bilang masih sanggup bertahan beberapa hari lagi, " Sambil menjawab Senja menatap Ayahnya seperti meminta pembenaran atas ucapannya.
"Benar, aku masih bisa bertahan sebentar lagi, " Bayu membenarkan ucapan putrinya. Ia kemudian menatap serius Dirga
"Itulah sebabnya sebelum pergi, aku ingin menitipkan Senja padamu ... kalau benar kau menyayanginya, tolong jaga dan perjuangkan dia. Jangan biarkan dunia mengetahui siapa dia."
"Baik, Paman. Aku pasti akan menjaganya," jawab Dirga mantap. Ia Seperti mendapat penghormatan besar dari Ayahnya Senja karena makhluk yang di matanya dingin dan angker itu kini mempercayakan penjagaan putrinya kepadanya.
"Baguslah, aku merasa lebih lega sekarang" Bayu tersenyum memandang putrinya. Meski tidak tahu apa yang akan terjadi kedepannya, tapi entah kenapa Bayu merasa kalau Dirga adalah orang yang tepat untuk Senja. Di matanya pria itu terlihat sangat menyayangi putrinya. Bahasa tubuhnya saat bersama Senja sangat jelas menggambarkan betapa ia sangat mengaisihi gadis bermata merah itu.
"Oh ya, kalau boleh aku juga ingin meminta tolong satu hal lagi," ucap Bayu lagi
"Katakan paman, selama aku bisa aku pasti akan menolong. "
"Pertemukan aku dengan Ayah mu."
"Untuk apa, Bayu. Ada perlu apa kau ingin menemuinya? " Sebelum Dirga sempat menjawab, Wulan buru-buru menyela. Ia merasa aneh dengan permintaan Bayu, selain itu Wulan juga merasa kalau hari ini suaminya cukup banyak bicara.
"Ada yang ingin ku bicarakan dengannya," jawabnya membuat sang istri makin merasa heran. Bayu dan Damar adalah rival di masa lalu. Apa mungkin sekarang keduanya bisa bicara baik-baik? apalagi mengingat kesabaran Bayu yang setipis kulit ari.
"Bagaimana, Damar. Kau bisa kan?" Seolah tak mempedulikan keheranan Wulan, Bayu kembali bertanya.
"Baik, Paman. Akan aku usahakan."
Bayu mengangguk pelan. Ia kemudian mengajak istrinya pulang. Ia merasa badannya semakin melemah.
"Ayo, Sayang kita pulang. Dadaku rasanya seperti terbakar. "
Wulan yang paham kondisi Bayu di saat-saat menjelang seratus hari, langsung mengiyakan. Ia mengikuti suaminya beranjak. Tak lupa ia pamit terlebih dahulu pada Senja dan Dirga.
"Kami pulang dulu ya, kalian lanjutkan acara kalian. "
__ADS_1
"Baik, Bibi. Hati-hati," Pesan Dirga yang di jawab anggukan oleh Wulan. Keduanya kemudian mulai melangkah pergi. Sambil berjalan, Bayu memegangi dadanya sambil meringis menahan sakit yang cukup menggigit. Dan hal itu terlihat jelas oleh Dirga, bagaimana Bayu seperti sedang sekuat tenaga menahan sakit.
"Apa seperti itu Ayahmu kalau menjelang
pergi? " tanyanya setelah orang yang di maksud kian menjauh.
"Hmm, sebelum pergi kami memang harus merasakan sakit dulu, kalau belum sakit berarti belum ada tanda-akan pergi, " jelas Senja dengan pandangan masih tertuju pada kedua orang tuanya.
"Ayahmu terlihat sangat kesakitan tadi, kasihan sekali. "
"Ya begitulah, " jawab Senja singkat
"Apa kau juga sama seperti itu kalau mau
pergi?"
"Ya, " angguk Senja
"Sebelum pergi kami pasti akan merasa lemah dan panas hebat seperti terbakar, kami juga akan merasa sakit di sekujur tubuh ... kalau sudah begitu berarti kami harus segera menenggelamkan diri ke dasar samudra dan bersemedi disana selama beberapa waktu."
Mendengar itu Dirga langsung memeluk Senja dan mendekap gadis itu se-erat yang ia bisa. Ada sesak di dadanya yang tiba-tiba melanda.
"Kasihan sekali kau, Senja. Aku tidak bisa membayangkan rasa sakit yang harus kau tanggung, "
"Kau tenang saja, aku sudah biasa seperti
itu, " hibur Senja tak ingin membuat Dirga khawatir,
Dirga melepaskan pelukannya lalu menatap lembut pemilik manik merah
"Berapa lama kau biasanya bersemedi? "
"Satu purnama atau lebih, biasanya bisa sampai empat puluh hari. "
"Se-lama itu? " ucapnya pilu membayangkan harus berpisah dari gadis yang setiap saat memenuhi ruang pikirnya. Yang membuatnya merasa ada yang hilang kalau sehari saja tak melihat mata merahnya.
"Ayahku lebih lama, Dirga. Bisa sampai seratus hari. "
Dirga menghela nafasnya, empat puluh hari saja terasa begitu lama baginya, apalagi kalau sampai seratus hari.
Sesak yang di rasanya kian menyeruak saat harus membayangkan akan berpisah dengan gadis itu.
"Tapi kau belum akan pergi kan? " Entah kenapa suara Dirga tiba-tiba bergetar.
Senja menggeleng sambil tersenyum
"Belum, aku masih baik-baik saja. "
Mendengar itu Dirga kembali memeluk Senja. Membenamkan kepala Senja di dada bidangnya kemudian mengecupnya lembut.
"Semoga kau akan selalu baik-baik saja, " ucapnya lirih namun terdengar sangat menyayat. Senja bahkan tak berani mengamini doa itu karena ia tahu itu adalah hal yang mustahil. Pada akhirnya ia tetap harus meninggalkan Dirga.
***
Jangan lupa mampir di karya aku yang lain ya, judulnya AKU BUKAN PEMBUNUH, Ceritanya gk kalah seru dari yang ini
__ADS_1