
Usai perdebatan season kedua dengan sang ayah, Damar enggan rasanya pulang kerumah. Bukan tidak mau bertemu dengan orang tuanya, hanya saja enggan kalau harus membicarakan atau bahkan bersitegang lagi karena hal yang sama. Toh ujung-ujungnya juga tidak menemui jalan damai.
Dirga sendiri juga bingung, ia tak menyangka hubungannya dengan orang tuanya jadi renggang begini. Membuat mereka mau menerima Senja ternyata tak semudah yang ia bayangkan. Terlebih ada fakta-fakta baru seputar orang tua Senja dan juga orang tuanya, yang tentunya membuat situasi jadi makin tak kondusif. Dan fakta bahwa Ayahnya Senja bukan manusia, adalah hal yang memberatkan saat ini.
Sebenar nya Dirga cukup maklum, orang tua mana yang ingin anaknya berhubungan dengan makhluk antah-barantah yang entah keturunan jenis apa. Orang tua manapun pasti ingin yang terbaik untuk anaknya.
Dirga bukannya ingin menentang kemauan orang tuanya, tapi dia sendiri benar-benar tak bisa menentang kata hatinya. Sudah berkali-kali ia coba mengabaikan dan menjauhi Senja. Tapi pada akhirnya gadis itu juga yang tetap singgah di hatinya.
Sekarang ini pria yang wajahnya bak titisan dewa itu benar-benar tak tahu harus berbuat apa. Ia tak tahu lagi bagaimana meyakinkan kedua orang tuanya kalau Senja adalah yang terbaik baginya. Tidak tahu apa yang akan di hadapinya nanti bersama Senja, tapi yang jelas saat ini dia tak bisa berpisah dengan gadis itu.
Menenangkan hatinya yang sedang kacau balau, Dirga pergi ke suatu tempat, tempat yang di anggap nya bisa memberi ketenangan baginya saat ini, meskipun hanya sesaat.
Namun anehnya, Dirga tidak memilih hotel, vila, kafe atau tempat-tempat mewah lainnya. Tempat yang di pilihnya justru cukup sederhana. Sebuah gazebo kecil di pinggir pantai. Ya, gazebo mungil itu tentu terlalu sederhana untuk ukuran Dirga yang punya segalanya.
Tapi ya begitulah, nyatanya kemewahan tak bisa selalu memberi ketenangan. Nyatanya berbaring di gazebo ini jauh lebih menenangkan di banding tempat mewah manapun. Semilir angin dan gemuruh ombak pun turut andil dalam memberi kenyamanan bagi Dirga. Bahkan saking nyamannya, pria itu sampai tertidur.
Dengan menggunakan lengan sebagai bantalan kepala, Dirga terlena dalam tidurnya. Ia memang sengaja memilih tempat ini untuk melepas segala lelahnya. Lelah jiwa dan raga yang akhir-akhir ini kerap menderanya. Lelah yang pada akhirnya membuatnya sulit memejamkan mata. Dan kalaupun akhirnya bisa terpejam, tapi tetap saja tidurnya tak lena, seperti di hantui mimpi buruk yang memaksanya untuk terus terjaga.
Tapi di tempat ini, pria itu nampak nyaman dalam tidurnya. Seolah menemukan kembali ketenangan yang akhir-akhir ini sulit di dapatnya.
Saking tenangnya, Dirga bahkan sampai tak sadar kalau ada orang yang mendekatinya. Untung orang itu atau gadis itu tak berniat jahat padanya, ia hanya heran melihat Dirga yang terlelap di tempat terbuka seperti ini, persis seperti tuna wisma yang kehilangan tempat tinggalnya.
"Dirga, kenapa bisa tertidur disini? " orang yang mendekati Dirga yang tak lain adalah gadis berkata kemerahan bergumam heran.
Dia memperhatikan sekujur tubuh Dirga. Masih berpakaian formal, itu artinya dia belum pang ke rumah.
"Apa dia ingin bertemu denganku? tapi dia tidak bilang kalau sudah di pantai ... atau ingin memberi kejutan, tapi kenapa dia malah tertidur?"
Senja kembali bergumam. Tangannya terulur hendak membangun kan Dirga, namun urung terlaksana karena melihat wajah Dirga yang nampak tenang dalam tidurnya. Senja jadi tak tega mau membangunkan.
"Mungkin dia kelelahan sampai tertidur pulas begitu ... Ya sudahlah, aku tidak akan menganggunya". Senja beranjak hendak meninggalkan Dirga, namun geraknya langsung terhenti karena pria yang tadi tertidur pulas mendadak memegang tangannya.
Senja yang terkejut langsung menoleh
"Mau kemana?" tanya pria yang masih dalam posisi berbaring, matanya pun masih terpejam.
"Eh, kau sudah bangun? ku pikir masih tidur. "
"Kau sudah membangunkan ku dan sekarang mau pergi begitu saja? "
Seusai berkata begitu Dirga kemudian membuka matanya. Dan yang pertama kali di lihat tentu saja wajah cantik dengan iris merah.
__ADS_1
"Hehehe, aku tidak bermaksud membangunkanmu, aku hanya heran tadi kenapa kau bisa tertidur disini? " Karena Dirga sudah terlanjur bangun, Senja mengurungkan niatnya untuk pergi. Ia kembali duduk, lagipula Dirga juga tidak akan membiarkannya pergi, kan?
"Bahkan di alam bawah sadarku, aku masih bisa merasakan kehadiranmu. " Entahlah itu sebuah rayuan atau bukan, tapi yang jelas saat tengah terlelap tadi Dirga merasa seperti mendengar suara Senja.
Menanggapi ucapan Dirga yang lebih mirip rayuan gombal, Senja hanya tersenyum.
"Kenapa bisa tidur disini? "
Dirga bangkit dari tidurnya lalu duduk bersandar pada dinding gazebo.
"Aku tidak bisa tidur nyenyak dari kemarin, jadi aku memutuskan tidur disini sambil menunggumu. "
"Tapi kau tidak memberitahuku kalau mau ke pantai. "
"Hehe, kejutan. Aku tau kau pasti datang dan melewati gazebo ini. "
Sebenarnya alasan Dirga cukup masuk akal tapi tetap saja ada yang aneh menurut Senja.
"Kenapa? " tanyanya memastikan, melihat tingkah Dirga yang agak aneh hari ini.
"Kenapa apanya? "
"Kau bilang tadi tidak bisa tidur, kenapa tidak bisa tidur, pasti ada yang mengganggu pikiran mu kan?"
"Berhentilah merayuku, aku serius ... pasti ada yang sedang menganggu pikiranmu kan, apa ini tentang orang tuamu? "
"Tidak, " Dirga menggeleng cepat.
"Aku hanya lelah saja, akhir-akhir ini aku cukup sibuk di kantor, jadi mungkin kurang istirahat. "
"Benarkah? " Senja tetap saja tidak yakin kalau itu alasannya. Senja merasa kalau hanya soal pekerjaan tidak mungkin membuat Dirga menjadi se-lelah itu. Lihatlah, pria itu bahkan sampai tak sadar tidur di tempat umum begini, jelas ada yang sedang mengganggu hati dan pikirannya
"Benar, kau tenang saja. " Tersenyum sambil mengusap puncak kepala Senja. Dirga bukan tidak mau menceritakan yang sebenarnya, dia hanya tidak ingin membuat Senja ikut terbebani.
"Baiklah kalau begitu, tapi kalau ada sesuatu yang membuatmu tidak nyaman kau harus memberitahu ku, yah siapa tahu aku bisa membantu. "
Dirga menarik ujung bibirnya menciptakan lengkung senyum yang cukup indah.
"Asalkan kau tetap di dekat ku, aku yakin itu sudah cukup membantu. " Sambil berkata begitu, tangan Dirga bergerak merangkul Senja memaksa gadis itu bersandar di dada bidangnya.
"Jangan begitu, ini di tempat umum," Senja yang merasa risih berusaha melepaskan diri, tapi Dirga malah justru mendekap nya semakin kuat.
__ADS_1
"Biarkan saja, aku tidak peduli. " Akh pria itu selalu saja tidak bisa melihat tempat dan situasi.
"Dirga.. "
"Sebentar saja, Senja. Biarkan seperti ini sebentar saja. Ini cukup menenangkan. "
Mendengar itu barulah Senja tak lagi berontak. Kalimat Dirga seolah-olah menegaskan kalau dia memang sedang tidak baik-baik saja. Meski belum mau berbagi dengannya, tapi kalau Senja boleh menebak ini pasti tentang orang tuanya, mereka pasti tidak mengizinkan Dirga dekat dengannya.
"Baiklah, " ucap Senja akhirnya, jika itu bisa memeberi energi positif untuk Dirga, maka itu pasti di lakukannya. Senja bahkan mengusap dada bidang Dirga sebagai bentuk suport nya untuk pria itu.
Dirga cukup merasa tenang dengan gerak tangan Senja, tapi sayang ada bagian lain yang sepertinya tidak tenang dan ingin menyeruak keluar.
Gerakan tangan Senja menuntun bibir Dirga untuk menghadiahkan sebuah kecupan di puncak kepala gadis itu.
Dan seperti biasa, Dirga tak kan cukup puas hanya dengan mengecup, ia menuntut lebih dengan memegang leher Senja hendak menyesap bibir kemerahan itu.
Untungnya sebelum bibir mereka benar-benar bertaut, ponsel Senja berbunyi dan otomatis membuat gadis itu refleks menghindar dari serangan mulut Dirga.
Dirga yang kesal aksinya harus terhenti hanya bisa menghela nafasnya. Namun meski begitu ia tetap memberi kesempatan Senja mengangkat telefon nya terlebih dahulu.
"Ya, Ibu. Ada apa? " tanya Senja usai menggeser tombol hijau.
"Aku di pantai, Bu. Kenapa memangnya? "
"Apa ibu di pantai juga? " Senja dan Dirga sama-sama terkejut mendengar ibunya ternyata juga berada di pantai. Keduanya saling pandang tanpa bicara.
"Iya, Bu. Aku sedang bersama Dirga. Aku di gazebo nomor dua dari ujung, "
"Baiklah, kami tunggu disini. "
Setelah berkata begitu Senja mematikan panggilannya kemudia menatap Dirga.
"Ibumu disini? " tanya Dirga langsung.
"Hmm Ibu dan Ayah dia ini sekarang, mereka ingin bergabung dengan kita. "
"Hah, bergabung? " Ekspresi wajah Dirga langsung berubah.
"Iya, tidak apa kan? "
"Oh tentu, suruh saja mereka kemari. "
__ADS_1
"Iya, mereka sedang berjalan kemari. " Jawaban terakhir Senja membuat ekspresi Dirga kian berubah. Bukan tidak ingin bergabung dengan keluarga Senja, hanya saja, Dirga sering merasa tidak nyaman dengan mereka, terlebih Ayahnya Senja yang gestur tubuhnya saja sudah selalu mampu mengintimidasi Dirga.