
Dirga memasuki kantor nya dengan perasaan aneh. Pasalnya sejak turun dari mobil tadi, dua merasa ada yang sedang memperhatikannya. Namun saat di cari kesegala arah, pria itu tak menemukan siapa pun yang terlihat sedang memperhatikannya.
Sambil memegangi leher belakangnya yang tiba-tiba terasa dingin, pria itu melanjutkan langkahnya menuju ruang kerjanya di lantai tertinggi gedung ini.
Untungnya saat telah memasuki ruang kerjanya, Dirga langsung di sambut dengan banyaknya tugas yang harus di selesaikan. Agenda meteeng dan pertemuan-pertemuan lainnya membuat pria itu larut dalam kegiatannya dan melupakan kejadian yang sempat membuat bulu kuduk nya merinding tadi.
Namun sore hari menjelang waktu pulang tiba, fokus Dirga kembali terusik oleh pesan dari seseorang.
"Kau masih menyukainya? "
Pesan tanpa basa-basi dari Senja sukses membuat kening nya berkerut.
"Menyukai siapa? " balasnya
"Menurutmu? "
Dirga semakin di buat heran dengan pesan aneh Senja. Dari dialognya Dirga dapat menduga kalau gadis itu sedang tidak dalam mode normal.
"Entahlah, aku tidak tau, aku merasa tidak menyukai siapa pun selain kau. "
"Oh ya? "
Lagi-lagi jawaban Senja membuat Dirga bingung. Pria itu lantas memfokuskan pikir nya untuk bisa menebak kemana alur cerita Senja.
Dan saat otak nya berhasil menemukan jawaban dari kegabutan Senja sore ini, pria itu langsung menarik ujung bibir seksi nya.
"Queen, ini pasti soal Queen ... Senja pasti mengira aku masih menyukai Queen," gumam Dirga sangat yakin d ngan jawaban nya.
"Atau jangan-jangan dia tadi melihatku bersama Queen? pantas saja aku merasa ada yang memperhatikan tadi. "
Dirga lalu kembali meraih ponselnya dan membalas pesan Senja.
"Bisa kita bertemu sore ini? "
"Untuk apa? " Jawaban Senja masih saja ketus, namun itu justru membuat Dirga tersenyum geli.
Fix gadis ini pasti sedang cemburu.
"Aku rindu. "
"Rindu pada siapa? "
"Pada, Senja Wulan Samudra. " Ayolah, kemampuan Dirga dalam soal merayu itu sudah tidak di ragukan lagi. Meski tidak bisa melihat langsung, tapi Dirga yakin kalau saat ini Senja pasti sedang tersenyum membaca pesannya.
"Kita ketemu dipantai ya? "
"Aku sudah di pantai sekarang?" tulis Senja beberapa detik kemudian.
"Baiklah, aku langsung meluncur sekarang."
"Hmm, tapi jangan memberi tumpangan pada siapapun. "
Hihihi, Dirga tidak dapat menahan diri untuk tidak tertawa. Senja benar-benar lucu saat sedang cemburu begini. Belum bertemu saja Dirga sudah gemas duluan.
***
Tiba Di pantai sebenarnya Dirga ingin buru-buru bertemu Senja, tapi saat melewati salah satu gazebo, dia di sapa oleh Arya, yang otomatis menunda waktunya untuk segera bertemu Senja.
__ADS_1
"Dirga, " Pria itu sedang duduk menyendiri sambil menikmati kelapa muda.
"Arya, kau di sini juga? "
Mau tidak mau Dirga mendekat menghampiri sepupunya itu.
"Mencari Senja? "
"Tentu saja, apa kau melihatnya? " tanya Dirga sembari netranya berputar mencari sosok gadis bermata merah.
"Hmm, dia baru saja selesai berselancar. Mungkin sedang ganti baju. Tunggu saja disini. "
Tanpa menjawab Dirgantara menuruti usulan Arya. Dia mendudukan badannya di depan pria berkulit sawo matang itu.
"Kau datang sendiri? "
Dirgantara menoleh, sepertinya ada yang aneh dengan pertanyaan Arya. Memang sejak kapan dia membawa teman saat ingin menemui Senja.
"Memang biasanya aku dengan siapa? "
Arya meringis menyadari pertanyaan bodohnya barusan.
"Eum maksud ku apa sekertaris mu tidak ikut? "
"Hah?" Alis mata Dirga bertaut.
"Sekertaris, aku sedang tidak bekerja, untuk apa membawanya?" Dia memperhatikan Arya dengan pandangan menyelidik
"Tunggu, tunggu ... jangan bilang kalau kau---"
"Akh tidak ada, aku hanya asal bertanya tadi." cepat-cepat Arya mengkoreksi kalimatnya karena tidak mau Dirga berpikir macam-macam. Dia sendiri pun tidak tau kenapa tiba-tiba menanyakan itu.
"Sial ! pergilah sana. Itu Senja sudah siap. " untung saja di saat bersamaan Arya melihat Senja berjalan ke arah tumpukan batu-batu besar di tepi pantai. sepertinya gadis itu sudah selesai berganti pakaian.
Dirga ikut melihat ke arah yang di tunjuk Arya, lalu setelah mendapat objek yang di cari oleh netranya pria itu langsung beranjak tanpa mempedulikan Arya.
"Senja, "
Gadis bermata merah tang tengah duduk di atas batu beberapa meter dari bibir pantai itu menoleh.
Namun dia langsung membalikkan wajahnya begitu melihat kalau pemilik suara adalah Dirgantara.
"Hey, kau sedang apa? " Dirga ikut mendudukkan badannya. Kebetulan batu yang di duduki Senja berukuran cukup besar sehingga muat untuk menampung dua orang, bahkan lebih.
"Duduk."
Dirga mengernyit sambil tersenyum tipis. Jawaban singkat dan padat Senja membuat Dirga yakin kalau gadis itu pasti masih kesal.
"Marah? "
"Tidak."
"Kesal? "
"Sedikit."
"Eum baiklah, coba jelaskan apa yang membuatmu kesal? " Meski sebenarnya sudah tau tapi Dirga ingin gadis itu mengatakannya sendiri.
__ADS_1
"Kau sudah tau jawabannya, "
"Soal Queenzi? "
Senja tak menyahut, juga tak mau menatap Dirga membuat Dirga hanya bisa menghela nafasnya. Perempuan di mana pun tempatnya kalau sudah cemburu memang menyebalkan dan juga menguji kesabaran tentunya, Eh tapi cukup menggemaskan juga sih, setidaknya bagi Dirga.
"Akan ku jelaskan, tapi kau harus melihatku dulu. Menyedihkan sekali bicara pada orang yang tidak mau melihat kita. "
Mendengar itu barulah Senja menoleh. Tapi diwaktu yang sama Dirga justru terlonjak dan bahkan hampir jatuh melihat penampakan Senja.
Gadis itu mengeluarkan seringainya dengan pupil merah yang kian menyala. Kalau ada yang melihatnya pasti sudah lari katakuatan. Untung ditempat ini hanya ada mereka.
"Tenang lah, jangan menunjukan wajah cantikmu itu, nanti orang takut melihatnya. " Dirga berusaha mengusap kepala Senja namun langsung di tepis oleh si empunya kepala.
"Kau masih menyukainya kan? " tanya Senja dengan nada tinggi.
"Tidak, dia hanya menumpang mobilku. Itupun secara tak sengaja. "
"Tapi dia mencium mu tadi, dan kau diam saja."
Aduh bagaimana menjelaskannya ya? Dirga memutar bola matanya berpikir cepat mencari alasan yang tepat.
"Aku hanya iba padanya ... Dia mengejarku seperti orang gila, padahal aku sudah terang-terangan menolaknya ... Dan soal ciuman itu, aku memberinya kesempatan terakhir untuk menciumku, setelah itu aku akan benar-benar tegas menolaknya. Aku bahkan tidak akan memberinya kesempatan lagi untuk mendekati ku."
Diam. Tak ada tanggapan dari Senja, hatinya masih saja sulit menerima penjelasan Dirga.
"Cobalah pikir, Senja. Kalau aku masih menyukainya, apa mungkin sekarang aku bersamamu? "
"Tapi kau terlalu memberinya harapan, " Nada bicara Senja turun beberapa oktaf, menjadi lebih datar, datar ya bukan lembut.
"Aku berjanji itu adalah harapan terakhir yang aku beri untuknya, aku janji, " tegas Dirga dengan cukup meyakinkan membuat mata merah yang tadi membelalak liar perlahan mulai meredup.
"Sudah ya, jangan marah lagi," Sekali lagi berusaha mengusap kepala Senja, dan kali ini berhasil, gadis itu tidak menolaknya.
"Kalau tiba-tiba ada orang yang menciumku kau marah tidak?"
"Tentu saja marah, " sahut Dirga langsung, tak sadar kalau pertanyaan Senja adalah jebakan.
"Lalu, kenapa aku tidak boleh marah saat ada yang mencium mu, bukankah itu tidak adil?"
"Hah? "
Pria yang ketampanannya tidak masuk akal itu meringis, bingung harus menjawab apa.
"Eum soalnya kalau kau marah itu sangat mengerikan? "
"Apa !"
"Eh tidak, tidak, "Mendengar bentakan keras Senja, Dirga buru-buru meralat ucapannya.
"Eum begini saja, Senja. kalau kau memang marah karena Queen menciumku, bagaiamana kalau kau juga menciumku, biar adil. " Dengan konyolnya Dirga mendekatkan pipinya ke wajah Senja.
Tentu saja hal itu membuat gadis itu jadi salah tingkah tak terkira. Suasana hatinya yang tadi sempat membara kini seolah berganti dengan semilir angin yang menyejukkan. Dan itulah salah satu keahlian Dirga. Merubah mood Senja .
"Apa sih Dirga, " Senja menolak wajah Dirga dengan telapak tangannya.
"Kenapa, kau tidak mau? ... padahal aku berharap akan dapat ciuman manis darimu, tapi kalau kau memang tidak mau ya sudahlah. " Sambil berpura-pura kesal Dirga menarik kembali wajahnya, namun tanpa di duga disaat yang sama Senja mendekatkan bibirnya lalu mengecup lembut pipi Dirga.
__ADS_1
Dirga membelalakan matanya. Padahal ia tadi tidak serius meminta karena yakin kalau Senja juga pasti menolaknya. Tapi di luar dugaan gadis itu---
Pria pemilik rahang kokoh girang buka kepalang, pasalnya ini adalah kali pertama Senja berani menciumnya. Meskipun setelah itu gadis itu langsung membuang mukanya karena malu.