
Aakkhh...! Lolongan Senja terdengar semakin mengerikan. Tak hanya itu gadis itu juga menggelepar seperti ikan yang sudah terlalu lama di daratan. Nyawa Senja benar-benar sudah di ujung tanduk sekarang.
Penampakan wajahnya kini berubah merah menyala dan matanya yang biasanya merah kini justru berubah putih sepenuhnya. Sungguh sebuah sebuah wujud yang sangat mengerikan. Dua pria yang sedang bertugas melenyapkannya pun nampak gemetar ketakutan.
"Cepat tikam, bodoh !" Hardik salah satunya pada pria berjaket hitam. Sebelumnya dia sudah mengingatkan namun karena ketakutan pria berjaket justru mematung di tempatnya sambil gemetar melihat wajah Senja.
Akhirnya dengan mengumpulkan seluruh nyalinya, pria berjaket yang memegang belati emas kembali menghunus kan senjatanya. Apapun yang terjadi, dia harus melenyapkan gadis ini. Atau dia tidak akan dapat apa-apa sama sekali.
"Ayaaah," Di antara rintih kesakitan nya, Senja terdengar memanggil sang ayah. Meski tahu betul kalau sang Ayah sedang tak ada di dekatnya, tapi entah kenapa lisannya tergerak untuk memanggilnya seolah meminta pertolongan dari makhluk itu.
"Ayaah, tolong aku, " Suara Senja kian lirih terdengar. Terlebih melihat pria berjaket kembali bersiap menikam nya, Senja merasa kalau ini akan jadi akhir dari cerita hidupnya sebagai setengah manusia. Setelah ini ia akan benar-benar menjadi 'bukan manusia'.
Dengan tangan gemetar, pria berjaket mengayunkan tangannya tepat di dada Senja dan gadis itu hanya mampu pasrah sambil memejamkan mata menanti ajal menjemputnya.
"Aakkhh !" Senja yang sudah terpejam pasrah mendadak membuka kembali matanya karena mendengar teriakan dari pria berjaket.
Dan meski di antara kesakitan nya gadis itu masih mampu tersenyum samar melihat sang Ayah yang ternyata sudah ada di depannya. Makhluk itu datang tepat di saat pria berjaket mengayunkan tangannya ke dada Senja. Dia mencekal tangan pria itu sehingga senjatanya terlempar dan tak sempat mengenai Senja untuk kedua kalinya.
Bayu kemudian mencekik kedua pria itu dan mengangkatnya ke udara. Bola matanya berkobar-kobar menahan amarah melihat putrinya di sakiti oleh dua pria itu.
Keduanya tak sempat bersuara karena Bayu sudah keburu mencekiknya. Dan tak hanya itu, makhluk itu kini membanting keduanya di hentakan yang cukup kuat.
Tubuh mereka membentur tanah atau pasir secara secara berulang-ulang. Darah segar mengalir dari mana-mana. Dari hidung telinga dan juga mulut mereka. Di pastikan tulang mereka juga retak di beberapa bagian.
Keduanya tak mampu berbuat apa-apa, persis seperti boneka yang sedang di rusak oleh pemiliknya. Kalau tadi Senja yang merasa nyawanya sudah di ujung tanduk, kini giliran kedua pria itu yang merasa kalau hidupnya sudah tak lagi lama.
Tak puas hanya sampai disitu, Bayu lalu mengadu dua kepala pria itu tak ubahnya keduanya hanya mainan belaka.
Jedug ! Jedug! Benturan yang cukup keras menciptakan suara yang juga begitu keras. Bahkan saking kerasnya kemungkinan besar tulang kepala atau tengkorak kedua pria itu pecah tak kuasa menahan benturan.
Bayu terlihat begitu beringas dan marah. Bagaimana tidak, putrinya hampir mati di tangan pria itu. Rintih kesakitan sang putri saat memanggilnya tadi membuatnya terbangun dari semedi dan langsung melesat kembali ke daratan untuk menolong sang putri.
Kendati waktu semedi nya belum usai dan belum saatnya ia kembali, tapi demi sang putri yang sedang dalam bahaya, makhluk itu memaksakan diri untuk keluar dari semedi-nya.
__ADS_1
Meski ia sendiri masih harus menahan sakit karena energinya yang belum sepenuhnya terisi, tapi Bayu tak peduli, yang penting ia bisa menyelamatkan putrinya dan melenyapkan siapapun yang berusaha mengganggunya.
"Kau harus membayar mahal karena berani menyakiti putriku!" ucapnya dengan suara yang menggema seiring amarahnya yang kian menyala.
Dan kini tangannya sudah kembali terayun siap membenturkan kembali kedua kepala itu, namun---
"Cukup !" Teriakan dari seseorang menghentikan pergerakannya.
Makhluk itu menoleh dan mendapati pria dengan perpaduan wajah asia dan timur tengah sedang berlari ke arahnya.
"Siapa kau ! jangan mencampuri urusanku atau kau juga akan sama seperti mereka." Suara bariton Bayu terdengar begitu mengerikan memberi peringatan pada pria yang baru saja datang. Pria yang tak lain adalah Cakrawala Leonil Aksa.
Meski cukup merasa gentar melihat penampakan Bayu, namun Leon tetap memberanikan diri mendekat. Jujur, ini pertama kalinya ia melihat penampakan makhluk sejenis Bayu.
"Tenanglah, " ucapnya sambil mengangkat kedua tangannya seperti memberi isyarat untuk berdamai.
"Aku tidak akan mengganggumu. Aku berada di pihakmu."
"Aku bahkan tidak mengenalmu, kenapa tiba-tiba kau berada di pihakku? "
Tanpa mempedulikan Leon, Bayu kembali mengayunkan tangannya bersiap melanjutkan aksinya yang tertunda. Namun lagi-lagi Leonil mencegah.
"Sudah cukup. Kau tidak perlu menyiksa mereka lagi. Putrimu sedang sekarat. Dia butuh pertolonganmu! "
Ucapan Leon membuat Bayu tersentak. Ia baru tersadar kalau putrinya sedang benar-benar membutuhkan bantuannya saat ini. Sejak tadi ia sibuk menyiksa kedua pria itu sampai lupa pada keselamatan Senja. Padahal niatnya kembali adalah untuk menyelamatkan gadis itu.
Bayu menoleh memperhatikan Senja yang sedang berjuang melawan maut. Rintihan gadis itu semakin lirih terdengar pertanda nyawanya yang juga semakin di ambang batas. Energinya yang semakin terkuras, racun dari belati emas yang baru saja merobek dadanya dan juga Dirga yang sedang bercumbu dengan gadis lain membuat Senja harus menanggung sakit yang maha dahsyat. Gadis itu bahkan sudah tak kuasa menanggungnya. Matanya sudah terpejam sempurna pertanda nyawanya yang sudah hampir melayang.
"Cepat cari Dirga ! hanya dia yang bisa menolong Senja. "
Teriakan Leon kembali menyadarkan Bayu yang sedang tergugu melihat kondisi putrinya. Makhluk itu langsung mengangguk mengiyakan. Meski tak mengenal Leon tapi Bayu membenarkan kalau hanya Dirga lah yang mampu menolong Senja saat ini.
"Tolong jaga dia, " pesannya pada Leon sebelum pergi. Sekali lagi meski belum saling mengenal tapi entah kenapa Bayu merasa kalau Leon bukanlah orang yang akan mempersulit urusannya.
__ADS_1
Leon mengangguk menyanggupi permintaan Bayu. Lalu kemudian dengan tangan masih mencekik leher kedua pria yang sudah tak sadarkan diri itu, Bayu melesat mencari Dirga. Ia juga membawa serta kedua pria itu bersamanya. Ia ingin membuang mereka jauh dari sekitar pantai. Jadi seandainya pun mereka mati (meski kemungkinan besar memang mati karena berbagai benturan yang cukup hebat) setidaknya tidak ada yang harus bertanggung jawab atas kematian mereka. Pihak yang berwajib tidak akan mencurigai siapapun. Salut untuk Bayu Samudra yang masih memikirkan soal itu meski dalam keadaan terdesak.
Sepeninggal Bayu, Leon langsung mendekati Senja dan memperhatikan kondisi gadis itu. Ia kemudian mengambil sesuatu dari balik saku jaketnya lalu memberikannya pada Senja.
Sebuah botol berisi cairan merah pekat seperti darah.
"Minumlah, ini akan membuatmu bertahan lebih lama, setidaknya sampai kekasihmu datang, " ucap Leon meski Senja entah bisa mendengarnya atau tidak mengingat kondisinya yang sudah antara hidup dan mati.
Entah cairan apa yang di berikan oleh Leon, tapi beberapa detik berikutnya Senja terlihat mulai membuka matanya. Gadis itu mentap Leon yang berjongkok di dekatnya. Kondisinya yang lemah membuatnya tak mampu lagi bicara meski hanya sekedar berkata 'siapa kau'
Sementara Leonil langsung tersenyum sangat tipis begitu matanya beradu dengan mata putih sempurna milik Senja.
Pria itu terkejut melihat penampakan Senja. Meski di antara keremangan malam tapi Leon masih bisa melihat dengan jelas wajah mengerikan Senja. Sinar bulan membantunya mengenali wajah itu. Ketahuilah bahwa Senja dan Bayu memang biasanya kembali ke dasar laut tepat saat bulan purnama.
Ada sedikit heran yang menyergap. Gadis se-menyeramkan ini bisa membuat seseorang tergila-gila? Sungguh Leon tidak tahu betapa cantiknya wajah Senja saat dia sedang baik-baik saja.
Apa yang di lihatnya saat ini sama persis seperti yang di ceritakan oleh Ayahnya. Ciri-ciri makhluk yang akan segera menghilang tergambar nyata di depannya. Pun dengan Bayu Samudra, gambarannya sangat serupa dengan kriteria yang di jabarkan oleh Rimba.
Leonil yang awalnya menolak untuk percaya dan bahkan menolak mentah-mentah permintaan sanga Ayah, akhirnya setelah berpikir panjang memutuskan untuk menyanggupinya. Di samping karena ia juga ingin membuktikan semua cerita yang menurutnya omong kosong itu.
Dan kini netranya membuktikan sendiri bahwa cerita mistis itu memang ada. Dan kian percaya begitu melihat penampakan Bayu dan juga Senja. Terlebih saat Bayu melesat seperti kilat tadi. Leonil bahkan sampai melongo melihatnya. Makhluk itu benar-benar ada, bathinya.
Leonil bisa sampai ke tempat ini atas petunjuk dari Ayahnya. Rimba yang selalu memberi interupsi kemana saja Leon hari pergi. Meskipun sedikit terlambat akhirnya pria tampan itu bisa menemukan Senja. Untuk saja dia belum benar-benar terlambat karena Senja belum benar-benar pergi.
Dia sudah melakukan tugas pertamanya dengan memberi ramuan merah yang bisa sedikit menunda waktu Senja. Ayanya bilang ramuan itu hanya berfungsi selama empat puluh menit. Kalau dalam empat puluh menit Bayu tidak datang bersama Dirga, maka sudah bisa di pastikan kalau Senja akan benar-benar lenyap tak bersisa.
Jadi sekarang, mari sama-sama berharap Bayu akan membawa Dirga secepatnya. Dan semoga saja dia tidak membuang-buang waktunya dengan menyiksa Queen terlebih dahulu.
"Uuh, " Rintihan Senja kembali terdengar. Bahkan kini badannya sudah mulai kejang seperti tadi.
"Tenanglah, bertahanlah sebentar lagi. " Leon mengusap usap pundak Dirga.
Sudah tiga puluh menit berlalu dan Bayu belum juga kembali. Leon mulai gusar, terlebih melihat sebelah kaki Senja yang mulai hilang seperti di gerogoti oleh sesuatu yang tak nampak.
__ADS_1