
"Apa kabar, Paman? " Queenzi tersenyum menyapa orang yang baru saja di temui nya. Orang yang di anggapnya bisa menolong dan sangat berpengaruh bagi kelanjutan hubungannya dengan Dirga.
Orang itu tengah berdiri memandangi beberapa karya seni yang ada di galeri pribadinya. Karya seni yang hampir sebagian berupa barang antik. Cukup menarik memang. Queen bahkan sempat berdecak kagum meski tujuannya kemari bukan untuk mengagumi benda-benda itu.
"Tentu, kabar ku baik. Kau sendiri bagaimana Queen? " Orang yang di panggil paman menoleh. Pria setengah tua itu tersenyum ramah
"Aku tidak menyangka ternyata kau sudah sebesar ini. Terakhir kali aku melihatmu kalau tidak salah kau masih sekolah dasar. "
"Iya, paman. Itu sudah lama sekali, " Queen mensejajari si paman. Ada rasa senang tak terkira bertemu dengan pria setengah tua itu. Kendati ia harus menempuh perjalanan cukup jauh untuk bisa berjumpa dengannya, tapi bagi Queen itu tak masalah. Terlebih paman itu sangat welcome terhadapnya.
Saat sebelumnya Queen meminta waktu Rimba untuk bertemu, pria berwajah oriental itu langsung mengiyakan begitu tahu kalau yang ingin menemuinya adalah putri dari teman lamanya.
"Oh ya, bagaimana kabar ayahmu? Apa dia masih sibuk bekerja? " Paman setengah tua ini memang dulunya merupakan teman dekat Ayahanda Queen. Itulah sebabnya dia sedikit banyak tahu tentang pria yang juga sudah beranjak tua itu.
"Hehe, iya, Paman. Ayah masih sangat aktif di perusahaan. Dan sepertinya belum ada niat untuk pensiun. " Queen dengan cukup sabar meladeni obrolan basi-basi tersebut sebelum akhirnya dia sampai pada tujuan utamanya.
"Dasar penggila kerja, " Si paman tersenyum tipis.
"Bilang pada Ayahmu untuk beristirahat dan nikmati masa tua, jangan sibuk bekerja terus."
"Paman seperti tidak tahu Ayah saja. Dia itu kan pekerja keras, mana mau dia bersantai-santai di rumah ... Oh ya ayah titip salam untuk Paman Rimba. "
Rimba? Ya ! Pria setengah tua yang di temui Queenzi adalah zhang Rimba, orang yang pernah berseteru hebat dengan Bayu samudra. Sebelum jauh meninggalkan kota yang di tempati Queen sekarang, Rimba pernah berteman dekat dengan ayah gadis cantik itu. Dan dari situlah Queen tahu kalau Rimba punya ketertarikan yang cukup kuat terhadap hal-hal mistis yang tidak logis.
Tempo hari saat sedang mencari-cari siapa orang yang kira-kira bisa membantunya, nama Rimba terlintas di ingatan Queen. Gadis itu teringat akan cerita Ayahnya kalau teman ayahnya itu pernah menjadi pakar supranatural.
Mengingat itu, Queen langsung mencari tahu di mana keberadaan Rimba. Untung saja di jaman yang serba canggih ini tak begitu sulit bagi kita untuk menemukan keberadaan seseorang.
"Tentu, salam kembali untuknya." Lelah sejak tadi berdiri terus Rimba mulai berjalan pelan mengelilingi galeri nya yang cukup luas. Tak ketinggalan Queen pun mengekor langkah pria itu.
"Oh ya ngomong-ngomong apa yang membawanu kemari, kau tidak mungkin jauh-jauh kesini hanya untuk melihat galeri ku kan?"
Queen tersenyum kikuk, niatnya sepertinya sudah terbaca oleh pria berwajah oriental di sampingnya.
"Hehe, paman tau saja. Aku memang ada perlu dengan paman. "
"Kalau begitu kita bicara sambil makan siang saja. Kau pasti lelah kan setelah perjalanan jauh."
Rimba membawa Queen ke dalam rumah mewahnya. Rumah mewah yang hanya ia tempati bersama putra tunggalnya. Setelah istrinya meninggal beberapa tahun lalu Rimba memang memutusukan untuk tidak menikah lagi. Ia lebih memilih menghabiskan masa tuanya seorang diri atau hanya bersama putranya.
"Baiklah, sekarang katakan apa tujuan mu kemari? " Entah karena di rundung penasaran atau karena tak ingin lagi berbasa-basi, Rimba langsung menyakan itu sambil mulutnya beraktifitas mengunyah makanan.
"Eum begini, Paman, " Ucap Queen hati-hati. Entah kenapa dia jadi sangat gugup sekarang.
__ADS_1
"Ayahku dulu bilang kalau paman menyukai dunia mistis, apa itu benar? "
Rimba langsung menoleh. Ada sedikit heran yang menyergap gadis secantik Queen yang hidup di era milenial seperti ini kenapa bertanya soal mistis. Putra tunggalnya yang seumuran Queen bahkan sangat tidak mempercayai hal-hal tidak masuk akal itu.
"Yah, tapi itu dulu. Tapi sekarang paman sudah tidak begitu mendalami hal-hal semacam itu. "
Queen menelan ludahnya. Gugupnya kian bertambah,. Jawaban rimba mengisyaratkan kalau dia tidak tertarik lagi dengan hal-hal mistis.
"Tapi setidaknya paman masih ingat kan cara menghancurkan makhluk asral?" Kembali Queen bicara dengan cukup hati-hati.
Rimba memperhatikan Queen sesaat.
"Makhluk astral? " Mengulang kalimat itu sambil menautkan kedua alisnya.
"Kau sedang bermasalah dengan makhluk astral? bagaimana bisa? "
Queen meringis sembari berpikir bagaimana caranya menyampaikan maksud dan tujuannya yang sebenarnya.
"Eum jadi begini sebenarnya, Paman ... Aku punya seorang kekasih dan kekasihku itu punya hubungan dengan makhluk astral. "
"Maksudmu dia berselingkuh dengan makhluk itu? " Rimba semakin di buat heran.
"Ya, bisa di bilang begitu. Tapi sebenarnya makhluk itulah yang mengganggu kekasihku sehingga dia jadi berpaling dariku. " Tak canggung lagi, Queen menceritakan yang sesungguhnya menurut versinya sendiri.
"Dari mana kekasihmu itu bisa mengenal makhluk itu, apa dia berbaur layaknya manusia biasa? "
"Ya begitulah, Paman. Dia bahkan mempunyai anak, dan anaknya inilah yang mengganggu kekasihku ... jadi sebenarnya yang merebut kekasihku itu adalah putri dari si makhluk itu. "
"Hah ? " Kening rimba semakin berkerut. Meski ia terbiasa berinteraksi dengan dunia mistis. Namun tetap saja penjabaran Queen membuatnya terheran-heran.
Memang menurut legenda ada beberapa orang yang memutuskan menikah dengan makhluk astral, namun sepanjang pengalaman hidup pria bermata sipit itu, satu-satunya orang yang ia tahu menikah dengan makhluk astral adalah---
Rimba membuang jauh-jauh apa yang sempat terlintas di kepalanya. Namun mengingat kota tempat Queen berasal adalah kota yang sama dengan kejadian tak masuk akal itu, membuat Rimba semakin penasaran untuk mengetahui siapa sebenarnya orang yang di ceritakan Queen.
"Apa orang itu adalah, Wulan dan Bayu? " Hati-hati sekali Rimba menyebut nama itu, berharap tebakannya salah.
"Paman tahu? " Namun jawaban atau pertanyaan Queen membuat Rimba menghembuekan nafas kasarnya karena ternyata tebakannya benar.
"Ternyata mereka bisa punya anak? " lirihnya seolah hal itu adalah hal yang sangat tidak ingin di tanyakan nya.
"Iya, Paman. Anaknya bahkan sangat cantik. " Meski Queen sangat membenci Senja, tapi gadis itu tak memungkiri kalau Senja memang memiliki kecantikan di atas rata-rata.
"Tentu saja, ibunya juga cantik, " Celetuk Rimba yang semakin mengundang tanya dari Queen.
__ADS_1
"Jadi Paman benar-benar mengenal mereka? " Sebersit harapan besar muncul di hati Queen. Kalau Rimba mengenal mereka pasti dia juga tahu bagaimana caranya menaklukkan mereka, begitu pikir Queen. Dan meski belum terlaksana tapi Queen yakin usahanya mencari bantuan takkan sia-sia.
Rimba tak menjawab. Ingatannya langsung kembali pada masa-masa tak mengenakkan itu, dimana ia harus kalah dari Bayu samudra dan harus iklas merelakan gadis itu jadi miliknya.
Sama seperti Damar, meski awalnya sulit tapi akhirnya Rimba bisa berdamai dengan takdir dan mengikhlaskan semuanya. Terlebih setelah iya menemukan pengganti Wulan dan kemudian menikah. Pria oriental itu benar-benar sudah membuka lembaran baru dalam hidupnya.
Sayangnya beberapa tahun setelah ia menikah atau saat putra mereka berumur sepuluh tahun, istri Rimba meninggal dan itu membuat kesedihan yang cukup mendalam di hatinya.
Sejak saat itu Rimba memutuskan untuk hijrah ke luar negri dan mengubur semua kenangan manis dan pahitnya di kota itu. Termasuk tentang kesukaan nya terhadap dunia mistis. Rimba memutuskan untuk tak lagi berkecimpung di dalamnya.
Namun setelah terkubur puluhan tahun lamanya, hari ini gadis bernama Queenzi kembali memgingatkannya soal salah satu kejadian paling pahit dalam hidupnya.
"Paman---? " Panggil Queen melihat Rimba yang jadi termenung.
Rimba menoleh dengan dengan raut wajah yang berubah sendu.
"Paman baik-baik saja? "
"Ya, aku hanya sedang mengingat kejadian itu."
"Kejadian? "
"Kejadian tentang Bayu dan Wulan. Aku pernah jadi bagian dari cerita mereka? "
Queen membelakkan matanya. Rupanya tak Hanya menganal, Paman Rimba bahkan pernah jadi bagian dari cerita Bayu dan Wulan.
"Kalau boleh tahu, bagaiaman ceritanya, Paman?" Lagi-lagi Queen bertanya dengan cukup hati-hati takut Rimba tidak berkenan menceritakan nya.
Rimba sendiri sebenarnya memang enggan mengulit lagi kenangan pahit itu. Tapi melihat ada orang yang ceritanya hampir sama dengan kisahnya dulu membuat hatinya tetgerak untuk berbagi cerita.
Namun sayang sebelum pria berwajah oriental itu memulai ceritanya, putranya keburu datang sehingga menahannya untuk mulai bicara.
"Leon, kau sudah pulang, Nak?" sapanya melihat putranya muncul di hadapannya dan Queen. Pemuda itu memang terbiasa pulang saat makan siang. Kalau sedang tidak sibuk ia pasti akan meluangkan waktu untuk menemani Ayahnya makan siang. Hubungannya dengan sang Ayah memang terbilang cukup baik.
Putra Rimba yang bernama Cakrawala Leonil Aksa hanya tersenyum tipis menjawab pertanyaan Ayahnya. Namun pandangan penuh tanda tanya memenuhi aura wajahnya melihat gadis yang sedang menemani Ayahnya makan siang.
Rimba tersenyum, dia paham putranya pasti penasaran tentang Queen.
"Oya, Leon. Kenalkan ini Queen. Anak dari teman lama Ayah. Kira-kira kau masih ingat tidak?"
Queenzi langsung tersenyum manis dan mengangguk pada Leon namun Leonil tidak menampilkan ekspresi yang sama. Pria tampan perpaduan wajah oriental dan wajah-wajah khas timur tengah itu hanya melirik sekilas pada Queen sambil menarik sedikit ujung bibirnya.
Queen, seperti pernah mendengar nama itu
__ADS_1